Asing

Sekitar dua hari lalu aku pernah berkicau demikian:

غرباء و لغير الله لا نحني الجباه
غرباء و ارتضيناها شعارا في الحياة

Lagu ini barangkali terinspirasi oleh sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang seingatku mengatakan bahwa Islam pada mulanya datang sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali menjadi asing seperti kedatangannya itu.

Entah hadis ini ada kaitannya dengan paham anti-mainstream yang belakangan ini sering digalakkan oleh para generasi muda ataukah tidak ada kaitannya sama sekali. Yang jelas aku tidak ingin membicarakan dua hal itu, Saudara. Sudah cukuplah para pakar di bidangnya mengupasnya secara tuntas.

Aku hanya ingin berujar bahwa pada mulanya apabila dua orang insan bertemu, keduanya sama-sama dalam keadaan asing. Kemudian mereka mengenal satu dengan lainnya sehingga sirnalah keasingan di antara mereka. Apabila keduanya kemudian berpisah, tidaklah keduanya akan menjadi asing sebagaimana mulanya. Karena sesungguhnya manusia adalah makhluk pengenang dan makhluk perasa.

Tentu saja semua itu akan berbeda hukumnya manakala satu atau keduanya menderita insomnia amnesia. 😀

Kesegaran Pertama

Kalian tahu keuntungan apa saja jikalau kita menjadi salah satu dari golongan pendatang pertama di masjid?

Musim hujan memang sudah datang. Akan tetapi dua hari belakangan ketika siang maka cuaca bukanlah mendung melainkan terik. Maka apabila datang pertama ke masjid, kita datang pertama pula ke tempat wudu. Maka jika terik demikian terjadi, air wudu menjadi hangat karena tandon air terjemur seharian.

Akan tetapi, Saudara, apakah kalian memperhitungkan bahwa air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah? Apakah kalian juga memikirkan bahwa dari tandon air untuk sampai kepada keran di tempat wudu air harus melewati beberapa tempat melalui pipa?

Beberapa pipa tersebut berbahan polyvinyl chlorite dan tertanam di dalam tembok. Kalian tahu apa artinya hal itu, Saudara? Jika jawaban kalian atas pertanyan di atas adalah ‘iya’, maka gerangan kalian pun tahu jawaban pertanyaan di awal tulisan ini.

Jika kita pertama datang ke masjid, kita akan bebas memilih keran di tempat wudu. Kita pun akan mendapatkan tetesan air pertama dari keran tersebut. Dan tetesan air tersebut adalah dingin hingga menyegarkan, Saudara.

Dua hari ini aku telah mencobanya. Sekarang giliran kalian! 😀

Memaafkan Keadilan

Adil menurut Islam adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Membuang sampah di trotoar termasuk perbuatan tidak adil. Memakai kaos kaki di lengan juga termasuk perbuatan tidak adil.

Berdasarkan konsep ini, tadi pagi aku mengalami sebuah ketidakadilan, Saudara. Bagaimana tidak? Aku datang menghampirinya lebih dahulu, tetapi si Bapak Tukang Bubur Ayam melayani seseorang yang datang setelahku. Okelah orang tersebut adalah pelanggan tetap si Bapak Tukang Bubur Ayam. Dia pula memesan bubur ayam lebih banyak. Tetapi, hei!, aku datang lebih dahulu daripadanya. Mengapakah aku tidak dilayaninya terlebih dahulu?

Beberapa waktu yang lalu, aku mendapatkan pengalaman yang serupa. Adalah si Abang Tukang Nasi Goreng yang menempatkan aku tidak pada tempatnya. Aku datang ketika si Abang Tukang Nasi Goreng itu membuatkan dua porsi nasi goreng kepada seorang lelaki. Aku memesan satu bungkus nasi goreng dengan kepedasan pada tingkat satu, dan langsung duduk di kursi plastiknya. Aku ingat benar waktu itu memilih kursi yang berwarna merah, bukan yang hijau. Lanjutkan membaca “Memaafkan Keadilan”

Belajar Islam dari Jepang vs Hubungan Indonesia-Korut

Selamat pagi, Saudara. Bagaimana kabar kalian? Semoga senantiasa dilimpahkan kesehatan dan kesejahteraan.

Pagi ini aku menemukan dua tautan yang dibagikan oleh kawan di Facebook. Sangat menarik. Berikut akan kubagikan kembali kepada kalian:

Pertama: Kalau Arab Belajar Islam Ke Jepang – Junanto Herdiawan

Di situ diceritakan bahwa beberapa waktu lalu terdapat serial dokumenter televisi yang populer di Arab Saudi, diproduseri oleh seorang ulama dan reporter Arab Saudi. Serial dokumenter tersebut membahas mengenai kehidupan masyarakat Jepang, bagaimana orang-orang Jepang menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan, meskipun bukan muslim. Lanjutkan membaca “Belajar Islam dari Jepang vs Hubungan Indonesia-Korut”

Libur Iduladha

Apakah kalian setuju denganku?

Menurutku, Hari Tasyrik seperti hari ini seharusnya menjadi hari libur nasional. Bolehlah ada ritual mudik dua kali dalam satu tahun. 😀

Kalau pun sudah terlalu banyak hari libur nasional, bisa minta tukar dengan libur seperti maulid nabi, dsb.

Bagaimana?

Takbir Kemenangan

Adalah suara takbir yang bertalu-talu lagi menggema yang menyadarkanku bahwa jiwaku masih terkandung di dalam ragaku, dan ragaku masihlah pula menginjakkan kaki di bumi Indonesia.

Perlahan tetapi pasti, pasar swalayan ini akan dipenuhi oleh ibu-ibu yang berbelanja bahan-bahan kebutuhan sehari-hari. Salah satu alasannya adalah karena takut besok segala warung makanan tidak melayani pembeli maupun tukang sayur yang meliburkan diri. Sementara itu, bapak-bapak akan pula menyesaki tempat ini demi mengantarkan sang koki rumah berbelanja bahan makanan.

Takbir ini adalah takbir yang sama yang dikumandangkan oleh para orang-orang yang kelak akan dipanggil Bu Haji dan Pak Haji manakala telah pulang ke kampung halamannya dengan selamat. Mereka yang seharian tadi berkumpul di Padang Arafah adalah termasuk pula ayah dan ibu dari kawannya kawanku. Entah kapan aku akan seperti mereka, berkumpul di tempat paling bersejarah di dunia itu. Maka aku bertekad bahwa suatu hari aku pasti akan ke sana.

Aku pun mengambil susu sapi dalam kemasannya yang kotak. Semoga bisa menjadi penurun demam dan penghilang pegalku. Atas izin Allah, Insya Allah. Lanjutkan membaca “Takbir Kemenangan”