Berpisah dengan Berat

Ketika itu, kupikir tidak ada yang lebih berat untuk berpisah selain dengan orang tua. Ketika itu adalah ketika akan berangkat menuntut ilmu ke kota lain.

Setelah menikah dan terpaksa untuk sementara tinggal di dua kota berbeda, kupikir berpisah dengan istrilah yang paling berat.

Sekarang, tak perlu aku berpikir panjang untuk menyatakan bahwa saat inilah saat berpisah yang paling berat. Karena saat ini aku harus berpisah untuk sementara waktu dengan anakku.

Tak Punya Kehendak Perbaiki Kesalahan

Purnama indah malam ini membuatku merenung. Bahwa ada banyak hal sepele yang bisa dengan mudah membuatku naik darah.

Salah satunya adalah ketika ada seseorang yang tidak punya kehendak untuk memperbaiki kesalahan ucapnya dan malah menyuruhku untuk melupakannya, lantas dia meminta untuk membicarakan perihal lain sedangkan ia sendiri tidak punya perihal lain itu dan lagi-lagi malah memintaku untuk menyediakannya.

Menceritakan Non-fiksi: Istri Tertawa, Suami Merana

Hari saat itu cerah dengan sedikit berawan hingga tibalah bagiku untuk naik pesawat. Aku duduk dengan bagian depanku terasa lapang hingga kusadari aku mendapatkan bangku di deretan jendela darurat. Tak lama setelah itu datanglah sepasang suami-istri kawakan yang ternyata adalah kawan sebangkuku.

Sang suami mulai memasukkan beberapa tas ke dalam kompartemen bagasi di atas kepalaku sementara si istri sudah melewatiku untuk kemudian duduk di sebelah jendela. Si istri lantas meminta suaminya untuk menyerahkan satu buah tas tangan yang cukup besar dan satu buah tas plastik yang lebih besar lagi. Sembari melewatiku dan duduk di antara aku dan istrinya, sang suami melakukan apa yang diperintahkan si istri.

Adalah sang suami yang terkejut tentang betapa luasnya ruang di hadapan kami yang dengan ramah kujelaskan bahwa kami duduk di samping jendela darurat dan ruang yang cukup lapang memang diperlukan dalam keadaan darurat. Aku pun juga menjelaskan betapa dilarangnya meletakkan benda semisal tas tangan dan tas plastik pada ruang yang dikhususkan untuk dilewati orang-orang pada keadaan darurat itu, karena akan mengganggu penyelamatan, sekali lagi, dalam keadaan darurat. Lanjutkan membaca “Menceritakan Non-fiksi: Istri Tertawa, Suami Merana”

Kartu Utang dan Semangatisme

Jadi, Saudara, kemarin itu aku mendapat kiriman kartu kredit dari bank. Singkat cerita, langsung aku aktifkan dan langsung aku gunakan untuk meningkatkan akun (upgrade) blog ini menjadi premium. 😀

Jadi sekarang blog ini resmi beralamatkan di http://semangatis.me. Sedangkan alamat yang lama, https://drjt.wordpress.com, masih juga berlaku.

image

Sudah lama aku ingin memiliki kartu kredit. Alasannya miris sebenarnya, yaitu karena ada beberapa transaksi (belanja) yang ingin kulakukan dan cara pembayarannya hanya bisa menggunakan kartu kredit (atau PayPal). Salah satu transaksi itu, ya, yaitu meng-upgrade blog ini. Dan sekarang mimpi sudah menjadi nyata…\berkat kantong ajaib\. Haha!

Sungguh, kartu ini hanya akan kugunakan sebagai media pembayaran, bukan media berutang. Jadi, punyakah Saudara kartu kredit? Kalau punya, untuk apa gerangan kartu kredit Saudara?

Oh ya, sedikit kabar. Kemarin hari ketika meriset perihal kartu kredit kutemui bahwa sekarang sudah ada kartu kredit yang konon kabarnya sesuai syariah (Islam)! Hasanah Card namanya. Menarik sekali, bukan, Saudara? Kalau memang dibutuhkan, barangkali suatu hari nanti aku bisa mendaftar untuk mendapatkan kartu itu agar bisa kugunakan sebagai media berutang. Hahai!