Fobia

Ada orang fobia terhadap badut. Lantas kalian menyebutnya Coulrophobia. Sedang aku menyebutnya Saya**** atau Aku*****. Ada lagi orang fobia terhadap laba-laba. Lantas kalian menyebutnya Arachnophobia. Sedang aku menyebutnya Bukan Saya.

Manusia adalah termasuk jenis makhluk aneh. Maka aneh-aneh pula tingkah lakunya. Ada yang takut terhadap barang sepele semisal biji salak, ada yang takut terhadap air \macam kucing saja\, ada yang takut terhadap bulan, ada yang takut terhadap warna putih, ada yang takut terhadap manusia selainnya, dan bahkan ada yang takut terhadap ketakutan itu sendiri (Phobophobia).

Kali ini aku akan menjawab satu pertanyaan dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Mbak Nur (yang baru-baru ini pindah “rumah” ke ummutsabita.wordpress.com), yakni pertanyaan sebagai berikut:

8. Apakah kamu punya phobia?

Barangkali tidak memiliki apa yang sampai disebut sebagai fobia, akan tetapi aku takut sekali menjadi botak. Itulah salah satu alasannya mengapa belakangan ini aku terobsesi berambut gondrong. Maka pakailah aku sampo bayam, cemceman, dan semacamnya. Akan tetapi tidaklah sampai yang berlebihan kukira.

Ada pula dahulu aku takut akan ketinggian. Maka ketika beberapa tahun yang lalu ketika hendak Belajar Terbang, banyak kawan bahagia sekali menakut-nakutiku. Akan tetapi tidaklah aku merasa takut karena yang kutakutkan sejatinya bukanlah berada di tempat yang tinggi melainkan perasaan tiba-tiba kehilangan akal sehat untuk kemudian meloncat dari tempat yang tinggi itu. Sampai sekarang aku masih sedikit merasa takut ketika melihat ke arah bawah dari tempat tinggi yang terbuka.

Begitulah kiranya jawabanku. Semoga mendapatkan nilai sempurna. Bagaimana?

Jawab Cahaya – Bahagia Sederhana

Menindaklanjuti pertanyaan-pertanyaan dari Mbak Nur, kali ini aku akan jawab satu pertanyaan berikutnya. Secara acak, tentu saja. Kena apa? Karena aku suka acak. 😀

Pertanyaan nomor 9 adalah pertanyaan yang akan kujawab pada kesempatan siang yang dingin \karena AC dua-duanya disetel pada suhu 16 derajat dan kaos kakiku basah kena tumpahan air minum\ ini.

9. Apa 3 hal sederhana yang bikin kamu bahagia?

Sesungguhnya sangatlah mudah bagiku menjawab pertanyaan ini. Karena pertanyaannya sederhana, maka jawabanku pun menjadi sederhana:

  1. Menghidu aroma \darah\ rumput sehabis dipangkas.
  2. Menghirup segarnya aroma debu tatkala hujan tiba-tiba mengguyur terik jalanan.
  3. Menatap purnama.

Maka bukanlah aku yang baik hati ini berlaku apabila tidak memberi bonus. Adapun bonusnya adalah:

3,5. Sebagaimana yang pernah kutuliskan dalam postingan “Bahagia Sederhana”.

Itulah bahagia sederhanaku. Bagaimana dengan kalian?

Jawab Cahaya – Tempat Berkesan

Tak ada petir tak ada badai, tiba-tiba aku diharuskan menjawab beberapa pertanyaan dari Mbak Nur) sebagai berikut:

  1. Apa arti nama lengkap kamu?
  2. Apa yang paling ingin kau makan tapi sampe sekarang belum keturutan?
  3. Siapa penulis favoritmu dan apa bukunya yang paling kau sukai?
  4. Adakah buku, film, atau lagu yang pernah merubah hidupmu? Cerita donk…
  5. Selain dompet dan HP, benda apakah yang selalu ada di dalam tasmu?
  6. Apa pendapatmu tentang cinta pertama? 😀
  7. Pernahkah kamu trauma? Cerita ya…
  8. Apakah kamu punya phobia?
  9. Apa 3 hal sederhana yang bikin kamu bahagia?
  10. Sebutkan 3 tempat/kota yang paling berkesan buatmu dan kenapa?
  11. Pernahkah kamu stalking blog orang? Apa pendapatmu terhadap stalker? (oiya, stalking disini bukan silent reader ya… stalking yang kumaksud misal “ini blog istrinya temen” atau “pacarnya temen” dan yang semacamnya

Berhubung karena aku adalah aku dan aku suka acak acak acak acak, maka aku akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara acak satu per satu. Untuk sekarang, barangkali aku akan menjawab pertanyaan nomor 10.

1. Pondok Laras

Tempat pertama yang paling berkesan bagiku adalah ini. Yaitu nama kosan tempat aku tinggal selama tiga tahun “mengotori” pikiran dengan ilmu tentang keuangan negara. Tempat dimana aku secara iseng mencoret-coret dinding kamar dengan kaligrafi arab untuk kemudian tersadar bahwa kemungkinan besar aku akan dimarahi oleh ibu kos. Tempat dimana aku dijuluki “Mbah DJ” saking berisiknya aku menyenandungkan lagu asal-asalan atau sekadar memukul-mukuli tepian ranjang di kamar hingga mengganggu seisi kosan.

Salah satu tempat dimana aku pernah merasakan sangat kesepian untuk kemudian tiba-tiba merasa sangat berkeramaian. Tempat pertama kali aku merasa merantau dan merindukan kampung halaman. Tempat pertama kali aku mencuci pakaian sendiri, menjahit celana robek sendiri, dan memiliki cermin besar sendiri. Tempat dimana pertama kali aku menyadari bahwa cinta sejati tak harus memiliki melainkan cukup saling merindui. Lanjutkan membaca “Jawab Cahaya – Tempat Berkesan”

Kutip Mengutip

Terkadang, kalau hatiku sedang resah, aku membuka-buka Plurk lama yang berisi bagian-bagian masa lalu. Seringkali dengan membaca-baca kalimat-kalimat terdahulu, jiwaku menjadi tenang dan berkurang kegelisahan hati. Bahkan, tak jarang aku menemukan kalimat-kalimat dahsyat yang bisa kukutip sebagian di antaranya:

“women LOOOOVESSSS knowing a MAN would FIGHT or even DIE 4 her! In case he died, meski tu CW lalu menikah dgn yg lain, kau sllu dikenang”

“gw yakin bgt dia mau sama elu, tapi elu kan kadang nyebelin, ngeselin, ngebetein, gak peka, sok cuek, sok gak peduli, sok kambing”

kita kan udah keluarga, jadi gak perlu dikenal2in lagi”

“Dari seberang telepon sana, saudara jauh berkata, ‘Ya sudah, kalo gitu, mau nggak kalo kamu dikawinin sama orang tua?’ Aku pun menjawab, ‘Maaf, Mas. Saya ga mau dikawinin sama orang tua. Saya masih doyan orang muda.'”

Sampai ada pula yang begini:

“mencabut bulu ketiak itu wajib hukumnya…”

Ah, masa lalu yang menyenangkan ini memang patut dikenang.

Bermain dengan Sugesti #2

< Bermain dengan Sugesti #1

Permainan sugesti itu ada bermacam rupa, Saudara. Salah satunya adalah mengenai rindu.

Pada tulisan “Merindu Pulang” aku mengeluarkan sebuah pernyataan begini:

“… barangkali karena aku tak punya sesuatu atau sesiapa yang kurindukan di sini, atau barangkali sesuatu atau sesiapa itu tidak pagi atau tidak bisa segera aku jumpai, maka wajarlah jikalau ternyata sesampainya aku di Jakarta sini hatiku hampa.”

Kemudian aku pun bermain dengan sugesti. Aku pengaruhi hatiku sendiri untuk rindu bukan kepada sesuatu atau sesiapa yang senyatanya kurindukan, melainkan kepada sesuatu atau sesiapa yang ada dalam jangkauanku. Aku pikir pengalihan kerinduan semacam ini terbukti efektif.

Hari ini aku berencana akan berkumpul kembali dengan kawan-kawan setelah sekian lama tidak berjumpa. Kerinduanku akan mereka dan suasana kebersamaan bersama mereka tentulah sudah lama kupendam. Barangkali satu atau beberapa orang dari mereka membatalkan kepergiannya ke tempat berkumpul secara mendadak. Tentu hal ini akan sangat disesalkan. Daripada menyesal tak berguna, aku pun sudah bersiasat. Akan kulakukan permainan sugesti: rinduku akan kualihkan kepada makanan. Beres sudah! 😀

< Bermain dengan Sugesti #1

I’m Lost Without You

Sekitar 3-4 tahun lalu kami menciptakan lagu ini. Oleh The Penampakanz. Jadi ceritanya lagu ini tercipta terinspirasi sedikit akan kisahku. Dulu. Anggap saja begitu. Waktu itu kami berkumpul, bertukar-otak, tercipta beberapa baris dan beberapa nada, lantas aku rehat untuk mandi. Begitu aku selesai mandi, sempurnalah sudah lagu ini: “I’m lost without you”.

Sekarang beberapa tahun telah pun lewat. Kembali aku merasakan betapa “I’m lost without you.” Buhuhu. Menyedihkan sekali ternyata.

I made you cry ♪
You made me cry ♫
You made us cry ♪
And the rain’s never stop since ♫

I’m lost without you ♪
I’m so lost without you ♫
I can’t see the future ♪
I’m so blind without you near me ♫

Show me the light to move on ♪
Give me a sign ♫
Show me the path to walk on ♪
Wanna be with you ♫

Now that we’re apart ♪
Still bring you in my heart ♫
But there’s something missing ♪
Incomplete without you ♫

Terkadang aku terserang rasa rindu. Rindu akan berkumpul beramai-ramai dengan kalian. Tetapi rasa rinduku teramat besar untuknya.

Tepat setahun lalu, ternyata aku lupa mandi. Pengharapanku pun sama seperti setahun lalu itu.

Baiklah, Saudara. Penyemangat hariku sekarang hanya satu:

Kemarin adalah ini:

Doraemon berjumpa Doraemon
Doraemon berjumpa Doraemon

What’s in a name…

Salah satu inti kalimatku sewaktu berbincang-bincang dengan seorang kawan adalah begini, Saudara: memangnya jikalau dia mempunyai anak dia akan merelakan aku menjadi pemilih nama untuk anaknya itu.

Beberapa kawan sering menggantungkan keputusannya menggunakan sesuatu pada preferensiku. Misalnya ketika hendak menamai kucing-baru-lahir-nya, si kawan menanyakan apa warna kesukaanku. Maka apabila jawabanku adalah merah jambu, si kawan tadi akan menamakan kucing-baru-lahirnya dengan Pinky.

Misalnya lagi ketika hendak membuat blog pada layanan WordPress.com, si kawan menanyakan apa makanan kesukaanku. Ketika kujawab dengan kebab, aku pikir dia akan membelikanku seporsi besar kebab atau paling tidak membuatkannya. Maka aku pun kecewa ketika kemudian dia melanjutkan dengan memintaku memilihkan tema untuk blog-baru-akan-dibuat-nya.

Tulisan ini sejatinya bukan untuk mengabarkan bahwa aku menyukai warna merah jambu dan makanan kebab, akan tetapi mengenai penyandaran preferensiku dalam menentukan pilihan seseorang. Sejujurnya aku tidak berkeberatan terhadap hal tersebut \toh karena badanku sendiri sudah sedemikian berat\.

Aku hanya sedikit terbebani manakala preferensiku akan menjadi pengaruh besar bagi kehidupan seseorang. Lagi pula, bukanlah seseorang akan merasa lebih puas bilamana keputusannya dalam hal tertentu tidak dipengaruhi oleh preferensi apalagi tekanan dari luar dirinya?

Kepada si kawan sebagaimana kusebutkan di alinea awal, aku menekankan bahwa membuat blog di WordPress.com jauh lebih keren daripada sekadar membuat tulisan-tulisan aneh di titik-titik lain. Sekian.

Pada akhirnya…

Pada akhirnya aku pun tahu perasaan-perasaannya terhadapku selama ini. Sesungguhnya memang benar, segala ketersembunyian adalah kesia-siaan mana kala keterbukaan adalah jalan keluarnya. Kan?

Aku hanya ingin mengatakan bahwa ketidaksukaan atau ketidakenakan barangkali lebih berharga untuk diucapkan daripada disimpan di dalam hati untuk kemudian menjadi penyakit. Kan?

Marhaban Sayonara

Tadi malam barangkali sebagian besar umat Islam di negeri kita ini berharap-harap cemas menunggu keputusan kapan tanggal 1 Ramadan pada tahun ini. Sedangkan aku, utamanya, berharap-harap cemas menunggu kabar salah satu kawan terbaikku selama ini yang waktu itu sedang kritis di rawat di rumah sakit.

Maka beberapa saat berselang setelah Kementerian Agama secara resmi menetapkan awal Ramadan itu, kuterima kabar pula bahwa kawanku itu telah pergi dari dunia yang fana ini.

Selamat datang, Ramadan. Selamat jalan, kawan.