Surat Kotak Teruntuk Adinda: Apa Kabar, Usia?

Dear Amela di Kota Semerbak,

Setelah menyimak apa yang dikau katakan di sini, aku pun lantas meninjau ulang apa yang sudah menjadi patokanku, yaitu ‘nilailah buku dari sampulnya’.

Bahwasanya seseorang berpenampilan sebagaimana penampilannya terwujud adalah dengan penuh harap agar orang lain menilai dia sesuai dengan penampilannya tersebut. Maka beginilah aku, seorang lelaki yang sering disebut ‘si manusia akar’ atau ‘lelaki kambing’ hanya karena terdapat segumpal jenggot pada daguku.

Sejatinya aku hanyalah ingin dihargai dan dinilai lebih dewasa daripada yang sebenarnya, Amela. Tak ingin aku disebut sebagaimana kedua sebutan di atas. Karena bagaimanapun sebutan yang terakhir tersebut membuatku tiada merasa aman berkelana pada saat-saat menjelang Idulkurban seperti sekarang ini. Lanjutkan membaca “Surat Kotak Teruntuk Adinda: Apa Kabar, Usia?”

Cerita Terinspirasi Kisah

Baiklah, Saudara. Apa yang hendak kusampaikan di sini adalah terinspirasi dari penuturan seorang kawan yang berkisah tentang sepotong kue hidupnya tempo hari kemarin. Gaya bahasanya dalam menceritakan sebuah tutur dan menuturkan sebuah kisah sedikit banyak akan memengaruhi gaya penyampaianku di sini.

Langsung saja. Beberapa hari kemarin yang mana aku terundang untuk menghadiri sebuah pesta Unduh Mantu keluarga Pak Bambang aku memiliki sebuah fragmen kecil dalam hidupku yang mengharukan sekaligus membahagiakan. Begini ceritanya… Lanjutkan membaca “Cerita Terinspirasi Kisah”

Terbawa dari Kota Gudeg

Sungguh kenangan yang istimewa bepergian ke Yogyakarta tempo hari kemarin.

Berikut ini adalah beberapa kepingan kenangan tersebut. Tentu saja yang ingin kutunjukkan kepada kalian di sini adalah yang aneh-aneh atau yang absurd. 😛

Bencong Pengamen Ewer-Ewer
Bencong Pengamen Ewer-Ewer

Sudah banyak kudengar dari rekan-rekan kantor tentang legenda hidup Bencong Pengamen Ewer-Ewer yang seringkali muncul di kereta api ekonomi tujuan ke Yogyakarta. Katanya sosok itu akan muncul saat pagi tatkala kereta melintas di daerah Wates. Lanjutkan membaca “Terbawa dari Kota Gudeg”

Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 4

Iseng melihat-lihat Draft Posts. Eh nemu tulisan ini. Tak terasa, sudah lebih dari tiga tahun. Revisi terakhir tulisan ini kulihat tanggal 10 Juli 2008 pukul 16:58.

Sebenarnya dulu sudah punya ide jalan cerita dan pengkhataman kisahnya. Akan tetapi… Ya sudahlah. Berikut ini adalah sebuah tulisan tak-terselesaikan dari rangkaian kisah garing nan lapuk (langsung dari kotak draft tanpa disunting):

===

Ini adalah episode terakhir dari tetralogi kisah “Perjalanan The-Penampakanz Band”. Setelah dua bulan lebih beberapa hari akhirnya penulis menyelesaikannya juga. Untuk itu pertama-tama penulis ingin mengucapkan puji syukur Alhamdulillâh kepada Allâh Subhânahu wata’âla. Tak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, adik-adik, handai taulan. Juga kepada para guru yang telah berhasil mengantarkan penulis hinga menjadi gak-genah writer seperti sekarang ini. Dan yang lebih penting, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pembaca sekalian, para fans The-Penampakanz Band, atas segala cacian dan makiannya yang sungguh menusuk kalbu serta segala sambitan yang ditujukan kepada penulis. Thank you very much. Ateng ngguyu makan tomat. Syukran jiddan. Ahlan wa sahlan. Ilal-liqa’. (^_^)v

Seperti telah dijanjikan dalam ¼ episode sebelumnya, pada episode terakhir ini nantinya akan diceritakan kehidupan pribadi masing-masing personil The-Penampakanz Band, mulai bagaimana karier copetnya FARIJS, kisah cintanya AANK, KRISNAAA dengan sepeda kesayangannya, IRRR dan para babysitter-nya, serta BNGKY dan gitar tuanya. Pada episode ini juga akan dikisahkan awal mula The-Penampakanz Band menampakkan diri di tengah gegap gempita panggung hiburan dunia demitz, bagaimana mereka mulai memasuki dapur rekaman hingga dapur warteg, dst. Jadi tunggu apa lagi, anak muda serta kaum perempuan kudu gabung dan kudu menang! //Yah, kek kampanye salah satu parpol baru bikinan Mister Sys Ente aja. Buru atu Bang Penulis, segera ceritakan kepada kami!// Lanjutkan membaca “Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 4”

Yang Tua Yang ‘Cool’, di Jogja

Berikut ini adalah beberapa pose keren yang berhasil kupotret dari beberapa orang yang sudah sepuh di Yogyakarta:

Bagaimana, Saudara? Mereka keren-keren, bukan?

Nah, kalau yang di bawah ini keren juga, tidak? (ninja) Lanjutkan membaca “Yang Tua Yang ‘Cool’, di Jogja”

Menikah!

Diawali dengan pernikahan pasangan Pengkhianats Bangsa Penampakanz ini, terciptalah pasangan-pasangan dari lingkaran perkawanan kami. Kemarin, Ahad, tanggal 18 September 2011 menjadi resmilah ikatan sepasang muda-mudi yang keduanya adalah kawan-kawan kami di sebuah masjid kampus di Yogyakarta.

Maka berbahagialah kami semua karena keluarga besar kami bertambah semakin besar dan erat.

Resepsi Pernikahan Pak Bambang dan Bu Bambang
Resepsi Pernikahan Pak Bambang dan Bu Bambang

Selamat menikah kepada Bambang Hartomo Ramadhan dan Alphine Ristina Puri. Semoga kalian senantiasa diberikan barakah oleh Allah SWT, jalinan keluarga yang sudah kalian ikat kemarin semoga menjadi sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Kutipan Pekan Ini: Jejak

Tak ada jejak yang tak bisa ditelusuri, tak ada kabar yang tak bisa didapatkan jika kau meyakininya.

Masari Satire

NB.
Sebenarnya hari ini ingin memosting foto-foto ketika mining tour di Sorowako. Berhubung sedang sibuk, maka sudilah kiranya kalian memaklumi dan harap sabar menanti. 😀