Agustusan

Agustusan di kantorku:

Diawali dengan senam pagi…

Rentangkan kedua kaki!
Rentangkan kedua kaki!

… karena di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat!

Setelah itu sarapan pagi…

Makan! Makan! Makan!
Makan! Makan! Makan!

… karena sarapan itu penting bagi kecerdasan otak.

Alih-alih memukul gong, memukul periuk menjadi tanda start

Pukul! Pukul! Pukul!
Pukul! Pukul! Pukul!

… menandakan babak-babak kehidupan baru dimulai.

Bahu-membahu meraih kemenangan…

Tarik! Tarik! Tarik!
Tarik! Tarik! Tarik!

… karena banyak tangan akan lebih berjaya.

Bekerja sama demi satu tujuan…

Panjat! Panjat! Panjat!
Panjat! Panjat! Panjat!

… karena bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!

Berjuang ikhlas sekuat tenaga…

Berkibarlah merah putih!
Berkibarlah merah putih!

… demi Indonesia Raya!

Merdeka!

HUT RI Ke-63

Tujuh belas Agustus tahun Empat Lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Mer-de-ka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap sedia
Membela negara kita

Assalâmu’alaykum, selamat siang, para pendengar yang berbahagia. Jumpa lagi dengan penyiar kesayangan Anda, Farijs Manijs van Java. Masih di gelombang 100.20.2.1 FM, Radio PEDANSA, Penjaga Kedaulatan Bangsa, dalam acara kesayangan kita semua: NOSTALGILA.

Sebuah lagu telah kami dendangkan untuk Anda para pendengar setia Radio PEDANSA. Lagu yang semarak di hari kemerdekaan negara kita ini. HARI MERDEKA, judul lagu gubahan H. Mutahar tadi. Cocok sekali dengan nuansa siang yang cukup terik namun hikmat ini, saudara-saudara.

Bagaimana, saudara-saudara? Apakah lagu tadi mempertajam rasa nasionalisme Anda? Perbesarlah rasa cinta tanah air Anda kepada bangsa dan negara ini. Karena dengan kita mencintai negara, negara akan balik mencintai Anda. Hwehe. Agaknya semboyan ini tidaklah pantas buat para koruptor yang masih merajalela di negeri ini. Bukan begitu, saudara-saudara? Hoho.

17-an di Pekalongan terasa begitu indah, saudara-saudara. Suasana begitu hikmat, begitu semarak. Dari tadi pagi, setelah anak-anak sekolah dan para pegawai negeri melaksanakan upacara bendera, dimulailah beragam acara perlombaan di kampung-kampung. Ada lomba makan kerupuk, lomba balap kelereng, lomba gigit koin, lomba balap karung, lomba balap becak, lomba bulu tangkis, lomba dayung sampan, dan beranekaragam perlombaan lainnya hingga puncaknya adalah lomba panjat pinang nanti sore.

Tadi malam juga di beberapa daerah di Pekalongan ada semacam pasar jajan gratis. Ini mah kesukaan penyiar kesayangan Anda ini, saudara-saudara. Hwehe. Di setiap rumah dijajakan dihidangkan beranekaragam makanan untuk dibagikan secara gratis kepada para pengunjung.

Nanti malam giliran beberapa daerah lain di Pekalongan yang mengadakan pasar jajan gratis tersebut. Welehweleh™…. Ramai dan meriah sekali pokoknya, saudara-saudara. Di pinggir-pinggir jalan diadakan beranekaragam permainan berhadiah. Misalnya permainan memancing ikan dari gabus, memasukkan bola basket ke keranjang, melempar panah, karaoke!, memasukkan bola ke dalam gawang, dan lain sebagainya.

Nah, saudara-saudara pendengar sekalian. Di hari yang berbahagia ini marilah kita merayakan kemerdekaan negara kita tercinta. Kita patut bersyukur karena sudah 63 tahun lamanya bangsa Indonesia terlepas dari kolonialisme. Ya, meski sampai sekarang bangsa ini masih dijajah oleh kemiskinan dan kebodohan.

Bersyukurlah, karena bangsa ini sudah berdaulat, bisa mengatur negaranya sendiri tanpa campur tangan bangsa lain. Ya tentunya terlepas dari masih adanya beberapa oknum tak bertanggung jawab yang tega menjual kedaulatan bangsanya sendiri ini. Berdoalah saudara, agar kemerdekaan ini tidak tergadaikan sampai kapan pun!

Saudara pendengar, karena hari sudah beranjak siang, kita cukupkan saja acara NOSTALGILA kali ini. Penyiar dan para kru Radio PEDANSA akan ikut memeriahkan perayaan HUT RI ke-63 ini dengan mengadakan beragam lomba. Nah, pabila ada dari saudara-saudara sekalian yang hendak bergabung bersama kami, segeralah mendaftar melalui kolom komentar di bawah ini. Atau langsung saja datang ke studio kami di Jl. Jalanke Malioboro No. 76.

Akhir kata, terima kasih atas partisipasi Anda. Dirgahayu Indonesia! Merdeka!!

Cinta Tanah Air: Indonesia Tanah Air Beta

Assalâmu’alaykum. Bagaimana kabar iman saudara-saudara? Semoga masih tetap Alhamdulillâh-Luar Biasa-Allâhu Akbar!

Hubbul wathân minal îmân. Cinta tanah air sebagian dari iman. Entah hadits tersebut itu hadits palsu atau bagaimana, saya tidak tahu. Yang jelas, mencintai tanah air itu suatu kebaikan. Islam mengajarkan kita untuk patuh kepada pemimpin kita. Bisa pemimpin suatu perkumpulan, bisa pemimpin negara. Dan Islam memang melampaui batas negara. Seiman berarti saudara. Jadi… Jadi apa, ya? Kok malah tidak nyambung.

Yah, yang jelas bulan ini adalah bulan Agustus. Itu artinya? Bulan Kemerdekaan. So? So…so apa? Soto betawi? Itu artinya kita akan merayakan Dirgahayu Republik Indonesia! Ya, bulan ini genap bangsa kita merdeka selama 63 tahun. Yah, kalau Nabi Muhammad SAW usia segitu meninggal dunia tuh. Tapi Indonesia? Sedang tumbuh-tumbuhnya. Hoho. Ya, meski tumbuhnya tidak atau belum teratur. Tapi kita harus optimis, dong. Bahwa bangsa ini nantinya akan menjadi bangsa yang besar dan disegani di seantero jagad ini. Semangat!

===

Saudara pendengar, masih di 100.20.2.1 FM, Radio PEDANSA, Penjaga Kedaulatan Bangsa, bersama penyiar kesayangan Anda, Farijs van Java. Senin siang ini rupa-rupanya cuaca di Rawamangun City dan sekitarnya adem-adem saja. Tidak seterik sebagaimana hari-hari belakangan ini. Dan nampaknya lagu berikut ini sesuai dengan suasana pada siang hari ini. Sebuah lagu gubahan dari Ismail Marzuki yang menggambarkan betapa kita cinta akan tanah air Indonesia ini. Sesuai juga dengan perasaan kebangsaan yang begitu menggelora di dada pada bulan Agustus ini. Langsung saja mari kita simak bersama lagu bertajuk “Indonesia Pusaka” berikut ini….

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
S’lalu dipuja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Indonesiaku yang tercinta. Tempat ‘ku dilahirkan dan dibesarkan. Sejak dahulu kala telah menjadi pesohor di dunia. Oh, Indonesia tumpah darahku….

Saudara pendengar sekalian, cintailah tanah air kita ini. Pertaruhkan segenap jiwa dan raga kita untuk mempertahankan kemerdekaannya. Ayo kita simak kembali lanjutan dari lagu “Indonesia Pusaka” berikut ini….

Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya

Indonesia Ibu Pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi

Oh, Indonesiaku. Segenap kepulauan nan indah permai ini adalah mahakarya sang Pencipta. Tiada bandingnya di dunia. Oh, Indonesiaku. Kucintai dirimu dengan segenap jiwaku. ‘Ku akan berbakti-setia kepadamu. Indonesiaku…merdeka!