Selesai Sudah…

Hari ini selesai sudah jadi instruktur. Duh, capek banget. Gosong. Mana hidung meler, lagi. Makannya nasi kotak mulu, pula. Waduhaduh…

(^_^)v

Tapi dari kesemuanya aku merasa bangga dengan diriku sendiri. Soalnya di sini aku bisa menjadi penyemangat bagi para peserta tes. Peserta yang loyo kusemangati sampai beringas larinya. Peserta yang mau pingsan kusemangati sampai tertawa puas setelah berhasil menyelesaikan shuttle run. Peserta yang hamil kusemangati sampai…sampai apa ya? Yah, yang jelas tak sampai mbrojol, lah. Hwehe.

Senang rasanya bisa menjadi penyemangat. Seakan-akan menyemangati diri sendiri untuk terus berjuang menggapai mimpi. Ya, semangat. Bersemangatlah!

(^_^)v

Kemarin ketemu lagi dengan bidadari-bidadari. Keknya turun malam harinya, deh. Kan kemarin malam purnama sempurna, tuh. Iya, kemarin ada dua ibu hamil. Cantik-cantik, jelita-jelita, anggun-anggun. Usia kehamilan masing-masing 6 dan 7 bulan! Busyet! Dengan perut membuncit, mereka masih punya tekad kuat mengikuti tes. Salut aku. Memang sungguh mulia perjuangan seorang ibu.

Benar tidak ya, mitos bahwa seorang perempuan akan terlihat semakin cantik ketika mengandung bayi perempuan? Ah, kalau itu benar sepertinya tahun depan akan banyak bayi perempuan lahir ke dunia ini, Saudara-saudara. Hwehe.

(^_^)v

Kalau hari ini ada ibu-ibu hamil pula. Baru 1,5 bulan. Itu pun baru tahu hari ini setelah menjalani tes kesehatan di poliklinik sini. Panitia sudah mewanti-wanti agar dia tak perlu lari, cukup berjalan. Namun ia bersikeras untuk lari. Lari menggapai mimpi. Lari demi anak yang dikandungnya sekarang. Lari…. Ya lari, namanya aja tes kebugaran. Hwehe.

Sudah, ah. Sekian reportase hari ini. Hidung dah meler-meler, nih. Nggak enak banget.

Antara Gosong, PNS, dan Bidadari

Saudara-saudara, maafkan aku. Tak lagi bisa sering-sering ngeblog. Tak bisa terus-terusan blogwalking //jalan-jalan di atas blog//. Internet kantor sedang ditutup aksesnya untuk sementara waktu. Hanya bisa internetan memakai ponsel. Itupun tak bisa sering-sering. Tak bisa gencar-gencar. Kena apa? Karena…koneksi GPRS operator selularku yang masih ngos-ngosan. Kembang kempis bikin hati bagai teriris dan mata menangis. Yah, padahal katanya nggak usah mikir. Tapi kok…kok aku disamain ama monyet??!

Oh ya! Saudara-saudara pasti akan merasa pangling melihatku sekarang. Kena apa? Karena aku sekarang gosong! TT

Bagaimana tidak gosong? Selama empat hari ini aku serasa digoreng di penggorengan. Penggorengan Jakarta! Jakarta demikian terik selama empat hari ini. Dan selama empat hari ini pula aku harus berjemur di bawah siraman hujan ultraungu yang sedang deras-derasnya. Betapa tidak gosong badanku? Hah?! Masih ada esok dan lusa pula diriku ini harus digosongkan! Buhuhu….

Selama empat hari ini aku menjadi instruktur atau penguji tes kebugaran penerimaan CPNS Departemen Keuangan RI. Seharian harus berada di lapangan sepak bola, di bawah naungan awan-awan pengkhianat yang bersebaran menghindari matahari. Uh, mengapa tak ada awan yang berusaha melindungiku dari tikaman sinar UV? Apakah mereka takut dirobek sang UV sebagaimana lapisan ozon dirobek hingga menjadi compang-camping seperti sekarang itu? Ah, tak tahulah aku.

Aku tak tahu
Kau sudah punya kekasih
Mana kutahu
Kau yang tak jujur padaku

(Ari Lasso – Mana Kutahu)

Sebagian besar peserta tes adalah perempuan. Kena apa? Ya, selain karena saat ini lebih banyak perempuan yang sanggup bertahan hidup di dunia dibandingkan laki-laki, mungkin pula karena para perempuan memiliki hoki berlebih. Duh, mengapa para lelaki hanya memiliki keringat berlebih??

Yang menarik lainnya adalah bahwa hampir semua peserta tes telah bekerja. Beberapa ada yang malah sudah bekerja di bank sentral negeri ini, perusahaan minyak internasional, perusahaan telekomunikasi, hingga atlet sepak bola. Lantas mengapa mereka masih saja mencari pekerjaan? Bukankah gaji sebagian dari mereka sekarang masih lebih tinggi dibandingkan gaji yang akan mereka dapatkan nanti ketika sudah menjadi pegawai negeri? Meski setelah remunerasi Departemen Keuangan, gaji mereka sekarang toh masih lebih tinggi. Kena apa? Fenomenal! Ya, selalu fenomenal apa yang sedang terjadi di negeri ini. Para sarjana berebut kerja. Para buruh takut PHK. Para pejabat takut KPK. Para muda hilang perjaka. Para syekh menikahi gadis belia. Hwahaha!

PNS, PNS…. Riwayatmu kini. Hwehe. (^_^)v

Saudara-saudara, bukankah malam ini purnama? Purnama sempurnakah? Tapi mengapa kemarin siang aku sudah berjumpa dengan seorang bidadari nan rupawan, cantik jelita, mengikuti tes? Bukankah hal yang aneh seorang bidadari keluyuran di tengah siang bolong? Bukankah bidadari turunnya ketika purnama tiba? Anehnya lagi, bidadari itu sedang hamil besar pula. Empat setengah bulan! Kok bidadari hamil? Siapa yang menghamili? Jaka Tarub-kah? Tidak…! Ah, andai aku lebih cepat daripada Jaka Tarub dalam mencuri selendang malam kala itu.

Aduhai, betapa elok bidadari kemarin siang ini. Sungguh. Andaikan aku menjadi awan, pasti takkan kukhianati ia. ‘Kan kunaungi dia ketika harus berjalan mengelilingi lapangan sepak bola sepanjang 387 meter selama 12 menit tadi. Atau, andaikan aku menjadi payung. ‘Kan selalu kukembangkan badanku di atasnya. Biarlah aku yang melindunginya dari amukan sang mentari. Biarkan aku yang tertusuk UV-nya. Biarlah.

Biarlah…
Kurela melepasmu
Meninggalkan aku
Berikanlah aku kekuatan
Untuk melupakanmu

(Nidji – Biarlah)

Dan rasa-rasanya oedipus complex-ku takkan pernah sembuh, nih. Bagaimana ini, Saudara-saudara?

(^_^)v

Notabene:
Sayang nih, Saudara-saudara. Tak bisa memperlihatkan foto di sini. Padahal banyak foto-foto bagus dan seru untuk diperlihatkan. Oh ya, nggak jadi berpartisipasi dalam Pesta Blogger Photo Contest juga, dong. Waduhaduhâ„¢…. Padahal pengen banget ngikut.