We Have Never Been Too Close or Too Far to the Future

Tinta,
Tumpah ruah di meja
Meja kosong tanpa kertas
Yang ada hanya gelas

Kopi,
Tumpah ruah di kepala
Kepala kosong tanpa utas
Yang ada hanya getas

Menulis. Sudah lama tidak menulis. Maksudku … menuliskan isi kepala menggunakan bahasa manusia. Sudah hampir setahun ini belajar menuliskan isi kepala menggunakan bahasa perantara untuk memerintah mesin. Sebab itu, untuk berbahasa manusia kembali kemungkinan sedikit sulit.

Barangkali tidak akan seperti kemampuan naik sepeda, yang apabila kita sudah lama tidak melakukannya maka kemampuan itu tiba-tiba saja datang kembali ketika kita mencoba naik sepeda lagi; seolah-olah segala macam lecet di lutut dan robek di celana ketika belajar naik sepeda dulu … menjadi nyata kembali. Lanjutkan membaca “We Have Never Been Too Close or Too Far to the Future”

Analogi Manis

Dalam beberapa kasus, kekerasan dapat diperlunak dengan kelembutan. Akan tetapi dalam kasus-kasus khusus kekerasan dapat diperlunak hanya dengan kemanisan.

Apabila kekerasan hati atau kepala tidak dapat diluluhkan menggunakan kelembutan perasaan, itulah tanda bagi kita untuk menggunakan senjata alternatif yaitu kemanisan senyum dan sikap.

Kalian tak percaya dengan teoriku ini? Bagaimana bisa kalian tidak memercayainya padahal gigi-gigi kerasku telah dapat dilubangi oleh manis senyumnya dan gula-gula pemberiannya!?

Posted from WordPress for BlackBerry.

Kaki Kanan Istri vs Kaki Kiri Suami

Pincang. Kaki kiriku terkilir atau bagaimana, sakit sekali tepat di belakang lutut. Maka sepanjang perjalanan pulang tadi aku berjalan dengan sebagian besar waktu berat badan kutumpu pada kaki kanan. Sesampainya di rumah, giliran kaki kananku yang pegal.

Sepertinya aku harus giat berlatih, dan minum *ilo setiap hari! 😛

Suami dan istri seperti kaki kiri dan kaki kananku. Jika istri sakit, maka suamilah yang ‘merampas’ semua pekerjaan rumah tangga. Mulai dari mencuci pakaian hingga menyetrika. Mulai menyapu latar hingga mengepel rumah. Mulai memasak hingga menghabiskan makanan. #eh

Apabila itu berlangsung lama, suami ikut-ikutan sakit.

Itulah gunanya sinergi dan saling melengkapi. Sebisa mungkin jangan saling menggantikan, karena betapapun apabila kelamaan maka kedua pihak akan sama-sama patah tulang.

Salinglah berbagi tugas. Semisal istri yang mencuci pakaian, suami yang menyetrika. Istri menyapu latar, suami mengepel rumah. Istri memasak, suami yang menghabiskannya. 😀