Edja Meng-edja Ejaan

Ternyata perkara eja-mengeja itu begitu pelik, Saudara.

Kalau boleh menilik sejarah masa lampau, dapatlah kita tengok bahwa asal-usul ejaan bahasa Indonesia yang sekarang diawali dari Ejaan Van Ophuijsen kemudian menjelma menjadi Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi lantas menjelma lagi menjadi Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

Menyadari bahwa diri bukanlah seorang ahli bahasa, saya di sini hanya ingin memberikan bahan-bahan untuk direnungkan perihal ejaan.

Ejaan bahasa linggis adalah bisa jadi yang terkacau. Sejarahnya menunjukkan bahwa kesalahkaprahan akan terus abadi dan berwujud di dunia fana ini. Para warga berbahasa linggis inilah yang awal mula menemukan sistem pengecek ejaan. Mereka pulalah yang menyelenggarakan lomba aneh semacam Lomba Mengeja.

Lain ladang lain belalang. Lain bahasa linggis, lain pula bahasa Jawa. Banyak orang Jawa yang tidak tahu mengenai aturan transliterasi bahasanya ke dalam huruf-huruf latin. Banyak pula orang Jawa yang tidak sependapat dengan pakem yang telah menjadi hasil konsensus dalam Kongres Bahasa Jawa III. Kalau sudah demikian, apa boleh buat?

Bahan renungan:

Kesimpulanku hanyalah satu: ejaan itu penting untuk diperkarakan!

😀

Antara Indonesia Melawan Qatar [Reblog + Komentar]

Seperti ini nih yang sering kali membingungkan. Kata ini seharusnya diikuti dengan kata itu, bukan inu.

Jadi kesimpulannya, kata ‘antara’ pasangannya adalah ‘dan’ bukan ‘melawan’ atau ‘dengan’.

Kemudian kata ‘baik’ pasangannya adalah ‘maupun’ bukan ‘ataupun’. Ada juga kata ‘tidak’ pasangannya adalah ‘tetapi’ sedangkan kata ‘bukan’ pasangannya adalah ‘melainkan’.

Sekian.

Rubrik Bahasa

Lampung Post, 21 Mar 2012. Kiki Zakiah Nur, S.S.

Menonton pertandingan sepak bola sebenarnya bukan kegemaran saya. Tetapi, demi menemani suami yang menggemari sepak bola, saya ikut menyaksikan pertandingan sepakbola kesebelasan Indonesia melawan Qatar yang disiarkan secara langsung oleh sebuah stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Pertandingan babak pertama berakhir seri dengan kedudukan masing-masing 2.

Sebelum diselingi jeda iklan, reporter olahraga mengatakan kalimat yang bunyinya begini, “Baik, pemirsa. Jangan ke mana-mana. Kita saksikan pertandingan berikutnya antara Indonesia melawan Qatar setelah iklan yang berikut.”

Pemakaian pasangan antara…, melawan…, dengan contoh kalimat seperti itu sangat sering digunakan oleh reporter atau wartawan olahraga pada acara pertandingan sepak bola. Secara sepintas memang sepertinya tidak ada yang salah pada kalimat tersebut.

Lihat pos aslinya 367 kata lagi

Jadi Nonton Juga (The Hunger Games)

Akhirnya kemarin malam jadi pula aku menonton The Hunger Games di bioskop \kesayangan Anda\.

The Hunger Games (Film Poster)
The Hunger Games (Movie Poster)

Tentu saja aku tidak akan mengulas film ini secara pantas, Saudara. Bagi kalian yang ingin membaca ulasan yang lebih bagus, silakan saja membaca ulasan di blognya Saudara Arman.

Aku nilai film ini bagus: banyak pemandangan pohon dan hutan yang indah, pemandangan kota khayalan yang indah, kostum-kostum yang keren, dan dandan secara gay yang memukau. Lanjutkan membaca “Jadi Nonton Juga (The Hunger Games)”

Kritik Diri Sendiri

Karena tidak mendapatkan banyak tanggapan dari tulisan Bahasa Semua Bangsa yang terdahulu, ada baiknya aku kritiki sendiri.

Ada sedikit perubahan pemikiran atau sudut pandang dalam diriku yang menjadikan aku menerima mereka yang latah berbahasa asing. Aku kemudian memahami bahwa sebagian dari mereka itu menggunakan bahasa asing di dalam negeri adalah dalam rangka belajar dan memperdalam keahlian berbahasa asingnya. Sebagian dari mereka memiliki alasan agar pengetahuannya akan bahasa asing tidak menurun atau bahkan hilang begitu saja karena lupa dan tidak terbiasa.

Alah bisa karena biasa, bukan? Practice makes perfect, kan begitu? 😀

Bahasa Semua Bangsa

Akhirnya kulanjutkan kembali membaca Anak Semua Bangsa buah karya Pramoedya Ananta Toer. Setelah kubaca halaman demi halaman, kubalik lembar demi lembar, otakku terpancang pada perkara bahasa.

Kubaca di situ betapa Jean Marais sangat menganjurkan Minke untuk menulis dalam bahasa Melayu, yang dikatakannya sebagai bahasa bangsa Minke sendiri. Kemudian datang pula Kommer kepada Minke yang juga menganjurkan hal yang sama. Mereka sama-sama berdalih betapa bahasa Belanda hanya dimengerti oleh kelompok tertentu, tetapi bahasa Melayu dimengerti oleh bangsa Pribumi. Minke, bagaimanapun, haruslah berbicara kepada bangsanya sendiri yang tentu saja menggunakan bahasa yang dimengerti khalayak ramai. Dalam lain kesempatan, Bunda malah menyuruh Minke menulis dalam bahasa Jawa, bahasa leluhurnya sendiri yang harus pula dilestarikan dan dijunjung tinggi.

Perkara berbahasa ini telah lama menggelitik pikiranku. Betapa telah lama kusaksikan banyak orang Indonesia lebih dapat mencurahkan perasaan dan mencetuskan pikirannya dengan bahasa asing. Bukan dengan bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerahnya. Untuk sekadar menyerapah saja misalnya, alih-alih menggunakan kata ‘*ucing’ atau ‘*angsat’, sekarang orang-orang menggunakan kata ‘*hit’ atau ‘*uck’. Banyak pula yang masih latah menggunakan kata ‘*erdomme’. Lanjutkan membaca “Bahasa Semua Bangsa”

Awalapar

Jikalau ada awakutu dan awahama, adakah awalapar?

Bahkan dalam masa lebaran seperti sekarang ini, masih ada saja orang yang meminta-minta makanan. Seperti aku, misalnya, meminta makanan kepada ibu karena sudah lama tidak makan sehingga lapar. Yaitu yang karena aku terakhir makan adalah pada pagi hari tadi.

Maka kegiatan pengawalaparan ini dilakukan ibu dengan menyediakan seporsi nasi panas berikut sayur-mayur yang disiram dengan sambal kacang hingga menjadikannya pecel. Tak lupa ditaburinya di atas piringku dengan remukan kerupuk mi warna-warni hingga menjadikannya terlihat lezat dan menarik untuk disantap.

Betapapun ibuku telah seperti programmer yang mengawakutu program komputer yang sarat akan kutu. Telah pun ia menjadi seperti pembasmi hama yang mengawahama tanaman padi di sawah yang sememangnya profesi ini sudah semakin langka karena lahan yang untuk dijadikan sawah pun telah semakin berkurang.