Purnama Ramadan

Kalian tahu kan kalau malam ini sudah mulai masuk purnama? Itu pertanda apa, Saudara? Pertanda Ramadan sudah hampir setengah jalan. Yah, tak terasa kan? Berasa kurang saja rasanya.

Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, apabila malam ‘lah purnama, kusempatkan memandang ke langit kalau tidak mendung apalagi hujan. Kupuaskan menatap indahnya bulan yang merupakan ratu malam, sambil menanti-nanti jadwal turunnya para bidadari khayangan turun ke bumi untuk sekadar mandi.

Kalau kita cermati betul-betul, bulan tidaklah memancarkan cahayanya sendiri. Ia mengambil sedikit saja sinar matari untuk kemudiannya dipendarkannya demi menerangi bumi. Barangkali Sang Pencipta sengaja menciptakan malam di bumi agar manusia mengambil contoh darinya: bahwa bermanfaat tidaklah harus dengan berkreasi melainkan apabila tak mampu dapat pula dengan hanya meneruskan kreasi yang dibuat oleh makhluk lainnya kepada sesama.

Barangkali contoh ini pula yang ditiru oleh para penyalur berita baik itu pembangun orang sahur hingga penyiar berita di radio. Meskipun barangkali banyak orang yang lantas latah menjadi bulan yang memantulkan sinar penyebab gosong badan, antara lain dengan secara sembarangan meneruskan berita hoax yang kurang dapat dipercaya tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Dengan mengambil contoh bulan ini, aku kemudian berkeinginan membuat rambu-rambu petunjuk jalan ke arah danau atau sendang berada agar para bidadari khayangan ini tidak kesasar untuk ke sana dalam rangka mandi. Ayo, siapa yang ikut ke dalam barisanku? 😀

Rindu Itu Lindu Pakai R

Tidakkah kalian memesonakan cahaya purnama di langit sana?

Aku rindu pada ketertarikan-ketertarikanku dulu. Terlalu banyak rasa ingin tahuku dahulu hingga menyebabkan aku tak sempat memikirkan hal-hal remeh seperti ‘mengapa aku masih saja mengompol bahkan ketika sudah masuk SD’. Yang aku pikirkan adalah ‘mengapa langit kadang berwarna biru, kadang kala merah, dan kadang kala hitam’, ‘mengapa bulan bisa purnama padahal dahulu kala ia pernah terbelah’, ‘apakah kita sewujudnya benar-benar diciptakan di dunia’, dan lain sebagainya.

Sekarang, dalam terpaan angin jalanan, paparan polusi malam, dan ketakjuban akan indahnya cahaya bulan, aku hanya bisa bertanya ‘mengapa produk minyak anginnya Agnes Monica tak ada layanan konsumennya’. Duhai si cantik Agnes Monica, yang gelas minumnya sedang ramai diperbincangkan dan dibenci orang banyak, mengapakah produk yang engkai bintangi itu tidak mencantumkan nomor telepon atau alamat email sebagai sarana berkomunikasi dengan pengguna? Aku yang konsumen ini ingin berkeluh kesah tentang betapa mudah lepasnya bola roll-on itu terlepas dari sarangnya. Mengapa oh mengapa?

Ketertarikan itu menyesuaikan zaman. Rasa ingin tahu dapat bergeser mengikuti bertambahnya usia seseorang. Kan begitu?

ttd
Farijsvanjava, Ahad malam, duduk di sebelah hydrant di emperan jalan, menghadap persis ke arah purnama, menantikan bidadari-bidadari khayangan turun ke bumi untuk mandi.

Superstition

Superstition itu takhayul. Kucing hitam adalah simbol superstition. Mengapa kucing hitam? Tidak bisakah kucing telon saja? Karena kucing telon terlalu unyu. Kan begitu?

Superstition (Photoshop CS6 Beta - About)
Superstition (Photoshop CS6 Beta - About)

Jadi, Saudara. Aku sudah mengunduh Adobe Photoshop CS6 beta untuk kucoba. Lumayan, gratis.

Bagi yang ingin mencoba, silakan kalian bisa unduh di sini:

Lanjutkan membaca “Superstition”

Awecek

Beberapa jam yang lalu aku sempat berujar begini:

Semoga ayam goreng ini dapat mengusir rasa laparku, juga rasa kecewaku atas tertutupnya purnama oleh mega mendung sehingga bidadari khayangan tidak jadi turun untuk mandi.

Sekarang, aku hanya ingin memutakhirkannya sedikit ujaran tadi menjadi begini:

Semoga kopi tubruk ini dapat mengusir rasa kantukku, juga rasa kecewaku atas tertutupnya purnama oleh mega mendung sehingga bidadari khayangan tidak jadi turun untuk mandi.

Ah, entahlah. Sepertinya perjodohanku dengan para bidadari khayangan tidak ada di bulan ini. Selain ketiduran seperti yang terjadi kemarin malam, selalu saja purnama tertutupi oleh awan mendung. Apa yang sejatinya sedang terjadi di negeri atas langit sana, Saudara?

Ambilkan Bulan

Teruntuk Saudara Itik Kecil yang sedang menjalani hari-hari liburnya, berikut ini kupersembahkan sebuah foto purnama yang telah lama dirindukannya. Halah.

Purnama Bulan Rabiul Awwal
Purnama Bulan Rabiul Awwal

Aku gagal mengintip para bidadari khayangan, Saudara. Rupa-rupanya mereka telah pindah tempat mandi. Lain dari biasanya. Sepertinya sih pindah ke Danau Sunter sebelah timur sana. Ah, ya sudahlah. Doakan semoga purnama depan aksiku sukses.

Memang purnama malam ini terang sekali. Ah, jadi ingin berdendang sekadar menghibur hati:

Ambilkan bulan, Bu ♪
Ambilkan bulan, Bu ♪
Yang selalu bersinar di langit ♫

Di langit bulan benderang ♪
Cahayanya sampai ke bintang ♫

Ambilkan bulan, Bu ♪
Untuk menerangi ♪
Tidurku yang lelap ♪
Di malam gelap ♫

♯ Gubahan AT Mahmud ♯

Padam Bulan

Malam ini senang sekali. Purnama muncul kembali!

Mungkin sedikit jahat, tapi tadi aku berharap seluruh Jakarta padam listriknya. Haha. Agar kita semua bisa menikmati indahnya purnama.

Rugi, Saudara, kalau kalian hanya berdiam diri di rumah. Keluarlah. Berkumpullah di halaman. Bulan begitu terang benderang. Banyak pula bintang bertebaran.

Entah bagaimana langit di bumi kalian. Tapi di sini, di Rawamangun sini, langit nyaris tanpa awan. Bintang-bintang berkerlip besar-besar. Purnama ada di timur, besar pula. Beruntunglah kami di sini.

Sudah dulu ya, Saudara. Mau bersiap-siap dulu, mengepak perlengkapan. Seperti biasa, hendak mengintip bidadari-bidadari khayangan yang sebentar lagi akan turun ke bumi untuk mandi. 😀

Lately Forgotten

Belakangan ini… duh, lupa.

Belakangan ini… aku….

Belakangan ini sebenarnya banyak sekali yang ingin kuutarakan di sini. Agar kalian mengerti dan mafhum bagaimana kehidupanku berjalan sebagaimana biasa. Akan tetapi….

Ingin sekali aku mengatakan serindu apa aku dengan bidadari khayangan, yang hanya demi menghemat persediaan air bersih di bumi membuatku kecewa karena dengan begitu ia jarang mandi. Sudah lama aku menanti munculnya purnama sebagaimana malam ini, namun kemudian aku kecewa karena mendung pekat menjadikan pandanganku terhalangi.

Ingin pula aku menjabarkan tanggapanku mengenai isu-isu yang berkembang belakangan ini. Semisal saja tentang polantas yang berakrobat laiknya badut gila di jalan raya, yang membuatku kecewa hanya bahkan dengan tertawa bapak polisi itu meminta maaf. Ada pula Ayu Tingting yang sememangnya ayu, yang membuatku kecewa karena bahkan ia tidak mengenalku. Ada pula rumor-rumor mengenai reshuffle, yang membuatku kecewa karena bahkan ponselku sampai sekarang tidak berdering demi panggilan dari istana.

Terlalu banyak peristiwa yang terjadi begitu cepat belakangan ini. Membuatku lupa, bahwa aku adalah anak lelaki pertama ibuku yang paling tampang sedunia. 😀

Binary Digit Moon

111011

Lima puluh sembilan.

Maka tulisan ini pun tertintakan warna #111011.

Purnama Ngeblur
Purnama Ngeblur

#111011 adalah setingkat pertama kengebluran hitam. Maka malam ini hatiku adalah #111011 di malam kelam ini. Aku kesepian. Rindu purnama sirna meski bahkan bayangan sang bidadari khayangan tak menampakkan diri. Karena purnama telah pun ngeblur.

Rasa ini adalah keniscayaan semu karena jiwaku galau. Apa mungkin sekarang aku mengigau?

Mandi di Bawah Bulan Purnama

Menoto
Di bawah bulan purnama
Datanglah
Sekuning yang kukira
Janganlah
Sekali kau melalaikan
E*kmu
Yang telah engkau buang

Bila kasih tak ingat padanya
Lihatlah sang bulan purnama
Di langit kita lihat sinarnya

Menoto
Di bawah bulan purnama
Cah’yanya
Luar biasa terangnya

(Modifikasi lagu “Menanti di Bawah Pohon Kamboja”)

Selamat malam, Saudara. Malam ini dikabarkan terjadi fenomena supermoon yang luar biasa dan terjadi selama 18 tahun sekali. Konon katanya sang rembulan berada pada jarak yang paling dekat dengan bumi.

Maka hasilnya seperti yang sudah kuposting kemarin malam: bulan purnama terlihat sedikit lebih besar dan cahayanya sedikit lebih terang dari purnama biasanya.

Bagi aku yang sangat mengagumi ciptaan Tuhan yang satu ini, tentu hal ini adalah berita yang sangat menggembirakan. Namun sangat disayangkan, Saudara, wilayah bumi tempatku berpijak saat ini sedang dilanda langit mendung tak berkesudahan.

Konon katanya ketika fenomena supermoon ini terjadi dalam tahun 1993 yang lalu, eksodus bidadari turun ke bumi terjadi secara besar-besaran. Ratusan bahkan ribuan makhluk indah penghuni khayangan itu dikabarkan waktu itu melakukan pesta mandi beramai-ramai di sebuah danau di wilayah yang sampai saat ini masih misteri.

Rumor yang beredar sekarang adalah eksodus besar-besaran para bidadari itu akan terjadi pada malam hari ini. Kami mendapatkan kabar bahwa kemarin para hulu balang Kerajaan Khayangan sedang menyiapkan sebuah danau untuk pesta mandi besar-besaran itu.

Kepada para pencuri selendang bidadari kami menghimbau agar berhati-hati dalam bertugas malam ini. Hal ini dikarenakan ketatnya penjagaan yang dilakukan pada situs pemandian tersebut mengingat para hulu balang tidak mau lagi kecolongan seperti purnama yang sudah-sudah.

Demikian laporan dari kami. Sukses untuk Anda!