Target Ramadan

Barangkali memang benar bahwa waktu adalah besaran relatif. Terkadang waktu terasa begitu lama berlalu, yaitu ketika kita sedang melakukan pekerjaan paling membosankan sedunia yang tak lain adalah menunggu. Waktu terkadang terasa begitu cepat berlalu bagi sebagian orang dan terasa begitu lama berlalu bagi sebagian yang lain, yaitu ketika seorang anak tumbuh besar.

Maka bagiku Ramadan kali ini membuatku merasakan bahwa waktu seolah-olah mundur ke masa tiga tahun yang lalu atau bahkan tiga belas tahun lalu.

Aku teringat akan masa kurang lebih tiga belas tahunan yang lalu. Pada masa itu sudah menjadi lumrah bagi anak-anak seusiaku waktu itu untuk memperdalam ilmu agamanya di majelis taklim. Tentu kalian tahu bahwa huruf “k” di situ seharusnya adalah huruf “ع”. Di majelis taklim tempat aku menuntut ilmu setiap akhir tahunnya selalu diadakan beraneka rupa perlombaan menyambut datangnya tahun baru Hijriah. Salah satunya adalah lomba berpuisi.

Adalah seorang seniorku membuat puisi ini dan mendeklamasikannya di hadapan khalayak dan para dewan juri. Aku ingat sekali bunyi bait pertama puisinya karena secara diam-diam aku menyalinnya untuk kumasukkan dalam kotak memorabiliaku. Aku pun berkali-kali mendendangkan bait puisi ini dalam alunan nada dari sebuah lagu berbahasa Arab. Seingatku lagunya mengenai sebuah penyambutan karena terdapat kata “marhaban”. Besar kemungkinan bahwa lagu itu tentang penyambutan kedatangan bulan Ramadan.

Sebait puisi dimaksud adalah sebagai berikut:

Belum sempat aku istirahat
Kau sudah datang menyapa
Lewat detik-detik yang suci
Yang tak seorang pun mampu melebihi

Lanjutkan membaca “Target Ramadan”