Dua Purnama

Aku lihat dua purnama
Satu di timur satu di utara
Keduanya besarnya sama
Sama-sama merah pula

Aku bimbang memilih
Purnama manakah yang asli
Keduanya kelihatan sejati
Sama-sama bocel di sana-sini

Tak bisakah keduanya milikku
Hatiku sering merasa sendu
Terang bulan bisa pengobat rindu
Barangkali saja begitu

Malam Purnama, Mari Berdendang

Terima kasih kepada siapa saja yang telah mengingatkanku untuk menyanyikan lagunya Evie Tamala yang berjudul Rembulan Malam. Beberapa waktu lalu aku memang sengaja memosting sebuah tulisan agar siapa saja mengingatkanku untuk demikian.

Tak disangka ternyata malam ini purnama sudah nyaris bundar sempurna. Perhitunganku salah, Saudara. Aku pikir Sabtu malam besok barulah purnama sempurna akan terjadi. Sekarang aku belum bersiap apa-apa dalam menanti datangnya bidadari-bidadari khayangan yang turun ke bumi hendak mandi.

Dan tidaklah disengaja bahwa malam ini ada serombongan pengamen perempuan yang berkeliling kompleks mendendangkan lagu sendu tersebut. Turutlah aku terhanyut dalam musik yang mereka mainkan dan bersama-sama menyanyikan lagu ini:

Dirimu bagaikan rembulan
Di malam yang sepi
Purnama bersinar menerangi hati

Aku damba engkau bersemayam di hati
Walau dalam mimpi
Tetapi mungkinkah rembulan malam
Berpijak di bumi berdebu

Sungguh diriku tak kuasa
Menahan gejolak di hatiku
Yang semakin lama
Semakin menjadi

Begitu ingin kusampaikan
Rasa cinta ini yang mendalam
Tetapi tak mampu bibirku berkata
Mengharap kasih yang tak sampai

Dirimu bagaikan rembulan
Di malam yang sepi
Purnama bersinar menerangi hati

Bagaimana? Kalian bisa turut menyanyikannya?

Bulan Penuh Bikin Hati Penuh

Seharian ini aku merasa kosong. Bahkan di tengah keramaian. Barangkali bukan bahkan kata tepatnya. Karena, Saudara, keramaian membuat suatu kekosongan terasa lebih kosong. Bukankah noda hitam jauh lebih terlihat kotor jika terkena di pakaian putih?

Maka aku pun mencoba sendiri. Agar kekosongan tak terasa sebegitu kosongnya. Hingga kemudian aku pun melangkah keluar untuk mengangkat jemuran. Terlihatlah ia, duhai purnama cantikku.

Sekian.

Rindu Itu Lindu Pakai R

Tidakkah kalian memesonakan cahaya purnama di langit sana?

Aku rindu pada ketertarikan-ketertarikanku dulu. Terlalu banyak rasa ingin tahuku dahulu hingga menyebabkan aku tak sempat memikirkan hal-hal remeh seperti ‘mengapa aku masih saja mengompol bahkan ketika sudah masuk SD’. Yang aku pikirkan adalah ‘mengapa langit kadang berwarna biru, kadang kala merah, dan kadang kala hitam’, ‘mengapa bulan bisa purnama padahal dahulu kala ia pernah terbelah’, ‘apakah kita sewujudnya benar-benar diciptakan di dunia’, dan lain sebagainya.

Sekarang, dalam terpaan angin jalanan, paparan polusi malam, dan ketakjuban akan indahnya cahaya bulan, aku hanya bisa bertanya ‘mengapa produk minyak anginnya Agnes Monica tak ada layanan konsumennya’. Duhai si cantik Agnes Monica, yang gelas minumnya sedang ramai diperbincangkan dan dibenci orang banyak, mengapakah produk yang engkai bintangi itu tidak mencantumkan nomor telepon atau alamat email sebagai sarana berkomunikasi dengan pengguna? Aku yang konsumen ini ingin berkeluh kesah tentang betapa mudah lepasnya bola roll-on itu terlepas dari sarangnya. Mengapa oh mengapa?

Ketertarikan itu menyesuaikan zaman. Rasa ingin tahu dapat bergeser mengikuti bertambahnya usia seseorang. Kan begitu?

ttd
Farijsvanjava, Ahad malam, duduk di sebelah hydrant di emperan jalan, menghadap persis ke arah purnama, menantikan bidadari-bidadari khayangan turun ke bumi untuk mandi.

Ambilkan Bulan

Teruntuk Saudara Itik Kecil yang sedang menjalani hari-hari liburnya, berikut ini kupersembahkan sebuah foto purnama yang telah lama dirindukannya. Halah.

Purnama Bulan Rabiul Awwal
Purnama Bulan Rabiul Awwal

Aku gagal mengintip para bidadari khayangan, Saudara. Rupa-rupanya mereka telah pindah tempat mandi. Lain dari biasanya. Sepertinya sih pindah ke Danau Sunter sebelah timur sana. Ah, ya sudahlah. Doakan semoga purnama depan aksiku sukses.

Memang purnama malam ini terang sekali. Ah, jadi ingin berdendang sekadar menghibur hati:

Ambilkan bulan, Bu ♪
Ambilkan bulan, Bu ♪
Yang selalu bersinar di langit ♫

Di langit bulan benderang ♪
Cahayanya sampai ke bintang ♫

Ambilkan bulan, Bu ♪
Untuk menerangi ♪
Tidurku yang lelap ♪
Di malam gelap ♫

♯ Gubahan AT Mahmud ♯

Padam Bulan

Malam ini senang sekali. Purnama muncul kembali!

Mungkin sedikit jahat, tapi tadi aku berharap seluruh Jakarta padam listriknya. Haha. Agar kita semua bisa menikmati indahnya purnama.

Rugi, Saudara, kalau kalian hanya berdiam diri di rumah. Keluarlah. Berkumpullah di halaman. Bulan begitu terang benderang. Banyak pula bintang bertebaran.

Entah bagaimana langit di bumi kalian. Tapi di sini, di Rawamangun sini, langit nyaris tanpa awan. Bintang-bintang berkerlip besar-besar. Purnama ada di timur, besar pula. Beruntunglah kami di sini.

Sudah dulu ya, Saudara. Mau bersiap-siap dulu, mengepak perlengkapan. Seperti biasa, hendak mengintip bidadari-bidadari khayangan yang sebentar lagi akan turun ke bumi untuk mandi. 😀

Merindu Purnama

Hai, Sabit. Apa kabar? Makin cantik aja, nih. Apa rahasianya? Bagi-bagi, dong. 😀

Di Khayangan lagi musim apa? Di sini lagi musim rambutan, nih. Banyak banget tukang jualan rambutan. Ampe di depan kantor juga ada. Sabit suka rambutan? Kalo mau, ntar aku beliin, deh.

Sabit, temen kamu si Purnama kemana? Kok udah lama gak nongol? Apa dia sakit? Sakit apa? Udah dibawa ke tabib? Jadi ikut prihatin kalo Purnama kenapa-napa. 😦

Kalo ketemu ama dia, tolong sampein salam dari aku ya, Sabit. Tolong sampein juga ke Purnama kalo aku kangen banget ama dia. Hampa banget malamku tanpanya.

Makasih ya, Sabit. Sekarang aku mau tidur dulu. Mana tau ketemu Purnama di alam mimpi. Kamu jaga kesehatan ya. Jangan lupa pake jaket. Angin malemnya dingin. Bye bye… 🙂