Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 4

Iseng melihat-lihat Draft Posts. Eh nemu tulisan ini. Tak terasa, sudah lebih dari tiga tahun. Revisi terakhir tulisan ini kulihat tanggal 10 Juli 2008 pukul 16:58.

Sebenarnya dulu sudah punya ide jalan cerita dan pengkhataman kisahnya. Akan tetapi… Ya sudahlah. Berikut ini adalah sebuah tulisan tak-terselesaikan dari rangkaian kisah garing nan lapuk (langsung dari kotak draft tanpa disunting):

===

Ini adalah episode terakhir dari tetralogi kisah “Perjalanan The-Penampakanz Band”. Setelah dua bulan lebih beberapa hari akhirnya penulis menyelesaikannya juga. Untuk itu pertama-tama penulis ingin mengucapkan puji syukur Alhamdulillâh kepada Allâh Subhânahu wata’âla. Tak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, adik-adik, handai taulan. Juga kepada para guru yang telah berhasil mengantarkan penulis hinga menjadi gak-genah writer seperti sekarang ini. Dan yang lebih penting, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pembaca sekalian, para fans The-Penampakanz Band, atas segala cacian dan makiannya yang sungguh menusuk kalbu serta segala sambitan yang ditujukan kepada penulis. Thank you very much. Ateng ngguyu makan tomat. Syukran jiddan. Ahlan wa sahlan. Ilal-liqa’. (^_^)v

Seperti telah dijanjikan dalam ¼ episode sebelumnya, pada episode terakhir ini nantinya akan diceritakan kehidupan pribadi masing-masing personil The-Penampakanz Band, mulai bagaimana karier copetnya FARIJS, kisah cintanya AANK, KRISNAAA dengan sepeda kesayangannya, IRRR dan para babysitter-nya, serta BNGKY dan gitar tuanya. Pada episode ini juga akan dikisahkan awal mula The-Penampakanz Band menampakkan diri di tengah gegap gempita panggung hiburan dunia demitz, bagaimana mereka mulai memasuki dapur rekaman hingga dapur warteg, dst. Jadi tunggu apa lagi, anak muda serta kaum perempuan kudu gabung dan kudu menang! //Yah, kek kampanye salah satu parpol baru bikinan Mister Sys Ente aja. Buru atu Bang Penulis, segera ceritakan kepada kami!// Lanjutkan membaca “Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 4”

Libur Panjang Hari Kedua (dan Pertama)

Berniat menghabiskan mengisi hari kedua libur panjang ini dengan menjenguk mengunjungi toko buku yang katanya terbesar se-Asia Tenggara. Menaiki bus TransJakarta. Tibalah di halte transitan. Menunggu dan terus menunggu. Menanti dan masih menanti kedatangan bus warna kelabu itu. Tiada kunjung datang juga. Sudah nyaris satu jam padahal!

Ya sudah. Balik kanan, grak!

Akhirnya aku temangsang alias kecantol mampir di toko donat yang itu-itu pagi. Ya itu, toko donat di seberang toko swalayan tempat bekerjanya Mbakasircakep yang sekarang sedang hamil tua.

Di lantai dua sepi sekali. Deretan sofa kosong tanpa penghuni! Wah, alamat bisa sekalian tidur-tiduran di sini, nih. Hoho.

Kalau seperti ini, rasanya jadi ingin beli notebook atau sekadar netbook agar kegiatan menyeruput kopi hitam semacam ini menjadi lebih khusyuk dan produktif. Bisa sembari mengetik panjang, mencari data-data dari internet, atau sekadar belajar ngoding.

Tidak mau pulang kampung. Biarlah. Di sini saja. Di Jakarta lebih ramai. Lebih tenang. \*Kelihatan seperti kontradiksi, yak? *\

Kuceritakan saja bagaimana hari pertama libur panjangku yang tak lain tak bukan adalah hari kemarin. Aku berencana mengunjungi Markas Power Rangers perpustakaan Universitas Indonesia yang konon katanya perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara. \*Hobi banget aku yak mengunjungi tumpukan-tumpukan buku masing-masing terbesar se-Asia Tenggara.*\

Eh, tutup. Apa belum dibuka? Tapi konon katanya sudah dibuka, kok. Beberapa kawannya kawan bahkan sudah mejeng di dalam perpustakaan itu dan mengunggah foto-foto narsisnya itu di laman Bukumuka.

Tapi mengapa? Mengapa ketika aku ingin mengikuti jejak mereka perpustakaan itu malah tutup? Apakah karena niatku yang sungguh tidak terpuji itu? Mengapa, Saudara?

Kukunjungi pula masjid di situ. Berniat meramaikan toilet masjid di situ. Apakah ini juga termasuk sunah? (doh)

Sehabis salat, eh hujan turun. Kasihan masjid itu, diserang rintik-rintik hujan bertubi-tubi.

Maka akan kuceritakan sebuah kisah di depan sebuah masjid di tepi danau. Hujan turun dengan lebatnya, jauh lebih lebat daripada jenggotku. Kilat datang menyambar, sahut-sahutan dengan si petir. Mereka berlomba saling mendahului. Namun apa daya, pemenangnya selalu saja si kilat. Itulah mengapa Gundala kita selalu kalah dengan Flash kemenakan Paman Sam.

Aku berlindung di dalam gerbang masuk masjid. Gerbang itu berbentuk semacam ruangan berukuran 8×8 meter dengan sudut-sudutnya terdiri atas susunan batu bata berlubang-lubang. Bersama banyak orang lainnya yang sebagian besar adalah pedagang. Ada pedagang gorengan, siomay, otak-otak, air mineral, kopi, sekuteng, dan soto mi bogor.

Kuamati sekeliling. Para pedagang masing-masing mendiami keempat sudut ruangan gerbang itu. Hujan turun dengan deras. Sesekali angin kencang mencoba membubarkan rinai hujan yang malah membuat kami basah terkena cipratan hujan. Kutatap langit. Warnanya kelabu, sama seperti warna kerudung perempuan berkacamata itu. Oh, entah mengapa bajunya jingga, sama seperti warna baju yang kupakai hari itu.

Entah karena kesamaan warna baju atau entah karena dia naksir karena kegantenganku, dia menraktirku semangkuk kecil wedang sekuteng. Oh, hangatlah badanku jadinya, meski pant*tku sudah basah terkena guyuran air hujan.

Di gerbang sebuah masjid tepi danau, kunikmati kehangatan sekuteng itu bersama seorang perempuan berkerudung kelabu. Berdua kami nikmati pula ricuh ramai para pedagang yang bergosip ditingkah atau diiringi oleh suara hantaman hujan kepada bumi, juga sesekali suara petir berusaha membalap kilat yang selalu berada di depannya.

Saudara sekalian, bagaimana libur panjang kalian?

Bintaro-Blok M vs Blok M-Pulogadung vs Pulogadung-Rawamangun

Setelah reunian itu kusegera pulang, kembali ke Rawamangun. Memakai rute yang biasa. Naik angkot C05, menyambung pakai metromini 71 ke Blok M. Terus dari Blok M naik busway arah Kota, transit di Dukuh Atas untuk kemudian naik busway koridor 4 arah Pulogadung, turun di Sunan Giri. Ya, begitulah rencanaku semula.

Sesuai rencana, aku naik angkot C05. Dari Ceger. Duduk di kursi depan, samping supir. Berencana turun sebelum perlintasan kereta api untuk kemudian naik metromini 71 ke Blok M. Capek sekali. Badan pegal terasa. Yah, tidur deh. //Ketiduran, sih.// Bangun-bangun…. Ulujami, Cipulir. Oh, tidak! //Sekali lagi, ah.// Oh, tidak…! Kebablasan aku. Kejadian terulang kembali. Kebablasan jauh pula.

“Kiri, bang….” teriakku. Sontak abang supir terkejutz. Abang supir banting setir //bukan banting setir alih profesi!//. Sempat pula menyerempet bajaj dan ojek sepeda. Diremnya angkot dengan mendadak. “Ciiiiiiiiiit….” Segera kubayar ongkos angkot, terus nyelonong pergi.

Yah, bingung dah mo naik apa. Bingung juga arah Blok M ke mana. Nekad kunaik metromini 69 jurusan Ciledug-Blok M. Alhamdulillâh, itu yang menuju Blok M. Beberapa menit kemudian sampailah aku di Blok M dengan selamat sentosa sejahtera nan bahagia. //Halah!//

Lansung bergegas aku ke tempat beli tiket busway. Rp3.500,00. Segera naik menuju halte. Wuih, ramai sekali! Antrean sampai keluar dari halte. Dengan sangat terpaksa aku menjadi salah satu anggota antrean yang tidak teratur itu. Lama sekali aku mengantre. Akhirnya giliranku naik busway tiba juga. Alhamdulillâh bisa ngadem di dalam bus full-AC meski tak kebagian tempat duduk.

Sampailah bus di halte Dukuh Atas. Bergegas aku keluar dari bus, berjalan pelan menaiki jembatan menuju halte Dukuh Atas 2 untuk transit. Naik busway jurusan Dukuh Atas 2 – Pulogadung untuk kemudian turun di halte Sunan Giri. Alhamdulillâh tak banyak antrean. Dapat tempat duduk di pojok kanan bus bagian belakang. Posisi yang sungguh sangat wueeeenak tenan itu aku manfaatkan untuk tidur sejenak. Ya, aku berniat tidur sejenak. Hanya sejenak.

Sungguh enak tidur di busway, saudara-saudara. Bagi yang belum pernah, silakan mencoba. Tapi aku tidak menganjurkannya apabila saudara-saudara tidak kebagian tempat duduk. Bisa-bisa saudara-saudara terjatuh.

“Mas, Mas. Turun di sini, Mas. Biar cepet,” kata seorang penumpang busway yang lain membangunkanku. Kulihat di sekeliling. Oh, tidak! //Sekali lagi, ah.// Oh, tidak…! Kebablasan aku. Kejadian terulang kembali. Kebablasan jauh pula. //Hehe, mengulang script.// Ternyata aku sudah hampir sampai di terminal Pulogadung, saudara-saudara! Karena macet, seperti biasa, para penumpang dipersilakan turun di jalan meski belum sampai di halte. Entah mengapa setiap siang hari pasti begitu di sekitar terminal Pulogadung, jalanan serasa sempit. Mungkin ini gara-gara banyak lapak-lapak pedagang di emperan jalan. Atau mungkin karena banyaknya angkot yang mangkal di situ. Atau mungkin juga karena jalannya memang benar-benar sempit. Hehe. Whatever, lah. Yang jelas, aku kebablasan! Gara-gara ketiduran lagi!

Dengan masih menguap aku turun dari bus. Bingung. Lagi-lagi bingung. Aku harus berjalan ke terminal untuk kemudian naik busway ke arah sebaliknya, atau naik bus R57 untuk bisa pulang. Tapi kemudian aku melihat banyak angkot bertuliskan 02 jurusan Pulogadung – Kampung Melayu yang sering kulihat di sekitar kosku. “Wah, jangan-jangan aku bisa pulang naik ini,” batinku. Aku pun nekad mencegat sebuah angkot 02. Naiklah aku di kursi favoritku: samping supir. Dan sekarang, aku sudah berpengalaman. Takkan lagi aku tertidur!

Beberapa menit, aku sudah sampai di terminal Rawamangun. Beberapa menit kemudian, angkot 02 yang kunaiki tersebut mengantarku di sebuah pertigaan di daerah sekitar kos. Aku pun turun dengan penat penuh terbayang di wajahku. //Halah!//

Hari itu aku mendapat pelajaran. Jangan tidur di dalam kendaraan umum kalau bepergian seorang diri. Jangan, kalau tak yakin akan tersadar sendiri ketika hampir sampai di tempat tujuan. Sekali lagi jangan, saudara-saudara. //Tapi mungkin alangkah baiknya untuk berdoa sebelum saudara-saudara ketiduran, agar nanti para malaikat membangunkan saudara-saudara ketika hampir sampai di tempat tujuan.//

Meski waktuku terbuang banyak gara-gara dua kali ketiduran, tapi aku menjadi tahu kalau ternyata ada angkutan umum alternatif untukku menuju terminal Pulogadung ataupun sebaliknya. Sebelumnya kalau akan ke terminal Pulogadung aku lebih nyaman naik busway. Yah, jadi pengen pulang ke Pekalongan nih, ngomongin terminal Pulogadung. Semangat!

(^_^)v

Antara Buku, Piano, dan Musik Klasik

Ahad kemarin aku telah berencana pergi melihat pertunjukan konser piano. //Halah, sok pake tenses!// Kabar dari kawanku, si Gendut, ada konser piano gratis yang akan diselenggarakan di GoetheHaus mulai pukul 16 pada Ahad tersebut. Karena tak tahu lokasinya, berkali-kali aku konsultasi dengan si Gendut perihal bagaimana aku bisa sampai di tempat yang dimaksud dengan selamat. Dari hasil pemikirannya olahan otaknya, didapatkan bahwa untuk sampai ke sana aku bisa naik busway, turun di daerah Kuningan, kemudian naik kopaja P20, minta diturunkan di depan GoetheHaus, Pusat Kebudayaan Jerman, Jalan Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat.

Time: Ahad pagi.
Weather report: Matahari mulai terik.
Activities: Berbaring sambil ber-SMS-an dengan seorang mbak-mbak yang tidak mau disebutkan namanya //mbak-mbak yang nanya nama bayi// perihal memberikan usulan nama-nama untuk calon keponakannya.
Situation: Tenang, tenteram, gemah ripah loh jinawi.
Condition: Kenyang (abis sarapan), masih pegal-pegal (gara-gara senam).

Time: Ahad siang, sehabis dzuhur.
Weather report: Matahari begitu terik.
Activities: Berbaring sambil ngadem sekaligus SMS-an dengan si Gendut perihal masih menanyakan hal-ihwal bagaimana aku sampai di GoetheHaus.
Situation: Mulai ramai, tapi masih gemah ripah loh jinawi.
Condition: Kenyang (abis makan siang), kepanasan.

Sebagai dampak SMS-an dengan si Gendut, aku langsung bergegas cabut dari kos menuju tempat dimana ia berada, Gramedia Matraman. Sewaktu aku mengajaknya untuk mampir ke GM dulu sebelum ke GH, ternyata ia sudah ada di GM sedari pagi. Dasar gebleg! Pergi ke sana nggak bilang-bilang.

Sesampainya di halte busway Matraman: bingung, “GM-nya di sebelah mana, yak?” Segera ku-SMS si Gendut. Balasnya, GM ada di depan halte Tegalan, nyambung busway arah Ancol-Kampung Melayu. OK. Setibanya di halte busway Matraman I //tempat transfer kalau ingin naik busway Ancol-Kampung Melayu//, terlihat berjubel antrean tak teratur //biasa, orang Endonesiya// orang-orang yang akan naik busway tersebut.

“Yah, bakalan lama nih,” batinku. Ternyata halte busway Tegalan itu setelah Matraman I kalau dari arah Ancol ke Kampung Melayu. Itu artinya, jarak Matraman I ke Tegalan tak seberapa jauh. Yah, terpaksa jalan kaki, deh. Nekad. Dan ternyata memang dekat, saudara-saudara. Beberapa menit saja aku sudah sampai di toko buku yang katanya terbesar se-Asia Tenggara itu. //Waduhaduh™….//

Sebelum mencari si Gendut aku mampir di bagian stationery dulu, di level G. Ah, my favorite place. Entah mengapa aku paling betah berlama-lama di bagian stationery. Setiap kali ke tokok buku, pasti mampir di bagian yang memajang beragam alat tulis dan alat kantor ini. Cukup lengkap ternyata di sana. Binder yang seperti kemarin itu pun ada di sini. Harganya tak terpaut jauh.

Setelah bertemu si Gendut di level 3, kami turun di level 2, melihat-lihat buku. Banyak sekali buku. Buku-buku. Sepertinya memang lengkap meski belum semua ruangan di toko buku tersebut termanfaatkan. Yah, whatever lah. Setelah puas menonton sampul-sampul buku berbicara //halah, bahasanya…// kami pun meluncur ke GH. Naik taksi BB, karena informasi yang didapatkan mata-mata si Gendut mengenai jurusan kopaja yang melewati Sam Ratulangi itu salah. Tapi enak sih, naik taksi. Nyaman, meski cepat mengeringkan saku //ga nyimpen duit di dompet, tapi di saku celana dan saku baju//.

Sesampainya di GH. Masih lumayan lengang. Panitia baru bersiap-siap. Ternyata kami datang over-ontime, saudara-saudara. Tak apalah, daripada datang lewat-waktu alias telat. Malu lah sebagai generasi muda penerus bangsa ini. Di sana sudah hadir pianis yang akan konser. Sang pianis cilik itu, Stephanie Onggowinoto, mengenakan gaun putih yang cantik. Ya, hari itu adalah resital pianonya Stephanie, siswi Program Seniman Muda di Konservatorium Musik Jakarta. Dia yang baru berusia 13 tahun itu sudah lulus grade 8 ABRSM dengan predikat distinction. Nah, untuk masuk ke jenjang selanjutnya, diploma, dia harus menggelar tiga konser tunggal. Dan konser Ahad kemarin itu adalah konser tunggal pertamanya.

Waktu ashar tiba, aku dan si Gendut sholat dulu. Di mushola di GH. Di sudut. Mushola yang mengenaskan. Kecil sekali. Amat jauh berbeda dengan mushola yang ada di Erasmus Huis (baca: erasmus dahaga, eh, haus), Pusat Kebudayaan Belanda, Kuningan, Jakarta Pusat. Di EH, terdapat mushola yang meski tidak besar namun lumayan bagus; mewah. Entah mengapa Jerman kalah dengan Belanda. Whatever, lah. Yang penting sholat, khusyu’.

Pukul 16.00. Kami dan para pengunjung lainnya sudah memasuki tempat konser. Kami duduk di balkon, barisan pertama. Lumayan strategis. Di sinilah aku mulai kecewa. Bukan pada si pianis kecilnya. Tapi pada para pengunjungnya. Yah, aku maklumin sih. Orang-orang Indonesia. Berbudaya terlalu permisif. Over-permisif. Saat sang pianis sudah berada di panggung, masih saja orang telat diperbolehkan masuk. Ya sudah, tak apa. Tapi mereka menghalangi penonton lain…. Mereka melewati penonton lain yang sedang khusyuk melihat jari-jari lentik Stephanie menari di atas tuts piano sembari mendengarkan lantunan nada-nada lembut yang berasal dari bunyi getaran dawai-dawai piano. Gimana? Ya sudah, biarkan saja. //Yo wis….//

Pada resital sore itu Stephanie memainkan tujuh buah lagu, mulai dari zaman Barok, Klasik, Romantik, Impresionis, hingga lagu bernuansa Indonesia (gubahan gurunya). Pertama, ia memainkan Partita No. 1 karya Johann Sebastian Bach. Salah satu Partita dari enam Partita yang digubah oleh Bach sewaktu tinggal di Leipzig. Dengan apik Stephanie memainkan Partita tersebut. Dari Prelude, Allemande, Courante, Sarabande, Minuet, sampai Gigue dimainkan dengan sangat harmonis. //Halah, sok ngerti musik!//

Selesai satu lagu, Stephanie meninggalkan panggung. //Padahal baru bentar mainnya, eh dia masuk. Minum kali, yak. Tapi mungkin itu etika musik kek gitu kali….// Beberapa penonton yang terlambat diperbolehkan masuk ke auditorium. //Kan penonton baru boleh masuk dan keluar pada saat jeda ganti lagu seperti ini. Tapi yang ga habis pikir, dari jeda pertama sampai terakhir, tetap aja ada yang datang terlambat. Endonesiya banget, dah.//

Stephanie kembali ke panggung. Tepuk tangan hadirin. Stephanie duduk di depan pianonya. Diam sejenak, kemudian mulai memencet-mencet tuts piano. Lagu kedua dimulai. Sebuah lagu gubahan gurunya, Dr. Johannes Sebastian Nugroho, bertajuk Citra. Benar-benar apik lagu tersebut. Ada nuansa-nuansa gending Jawanya. Mantap! Mengalunlah nada-nada merdu yang lembut namun tegas. Dari awal sampai akhir terasa Indonesia sekali.

Setelah Citra, Stephanie memainkan dua buah lagu gubahan Claude Debussy. Dua buah prelude yang terdapat dalam buku kedua kumpulan prelude Debussy: La Puerta Del Vino (The Wine Gate) dan Feux d’Artificie (Fireworks). Keduanya dimainkan Stephanie dengan bagus. Salute. Setelah kedua lagu dimainkan, tibalah waktu istirahat selama 20 menit.

Musik klasik, aku kenal jenis musik ini ketika SMA. Tepatnya kelas satu SMA, ketika aku pertama kali memiliki PC. Di dalam PC Pentium II itu terdapat beberapa file musik klasik (bawaan Windows Gallery). Pertama kali mendengarkan memang terasa asing. Lagu tanpa vokal, hanya instrumen. Tapi mengasyikkan untuk terus didengar. Ada peralihan ritme dari lembut ke keras, lambat ke cepat, atau sebaliknya. Itu yang menurutku asyik. Dan kesukaanku akan musik klasik ini pun berlanjut sampai masa kuliah. Malah semakin bertambah suka setelah ada film Korea My Sassy Girl dimana di situ terdapat Canon-nya Johann Pachelbel yang divariasi oleh George Winston. Ditambah lagi setelah aku menemukan Canon versi rock-nya Jerry Chan. Apalagi setelah kutemukan kawan-kawan yang juga suka musik klasik, gara-gara dorama Jepang Nodame Cantabile. Bravo! //Gyabo…!// Makin kenal aku dengan musik klasik.

Setelah 20 menit, pertunjukan pun dimulai. Kali ini Stephanie memainkan lagunya Wolfgang Amadeus Mozart. Sebuah Piano Sonata No. 18, in D Major, KV 576 yang terdiri dari tiga gerakan: Allegro, Adagio, dan Allegretto. Seperti Mozart yang biasa. Musik yang hidup. Dengan apik Stephanie menyelesaikannya. Tepuk riuh para hadirin. //Nah, setelah inilah kekecewaan selanjutnya. Panitia membuat kesalahan. Padahal kan masih ada dua lagu lagi yang akan dimainkan, tetapi sang provokator moderator memberikan ucapan penutupan. Halah, ga profesional banget!//

Lagu berikutnya adalah gubahan Franz Liszt, Etude de concert No. 2 “La leggierezza” dan Hungarian Rhapsody No. 11. Mantap lah pokoknya. Ga nyesel dateng, dah. //Sori ye buat Gandhi…. ^_^)v//

Satu yang kuperhatikan dari pertunjukan tersebut. Adalah gaun yang dipakai oleh Stephanie. Gaun berwarna hitam dengan sentuhan sedikit warna biru menyala. Sangat anggun dikenakan Stephanie yang masih centil itu. Jadi teringat oleh adik perempuanku. Ingin sekali aku melihat adikku mengenakan gaun seperti itu. Jadi kangen Pekalongan….

(^_^)v

//Dah ah, kuposting aja. Dah ngendap di “Naskah” sedari kemarin.//

Weather Report, SMS, and A Friend

//Ceile…. sekarang judulnya sok english. Emang bisa ngartiinnya, penulis?//

Dulu sewaktu masih kuliah, aku sering ber-SMS seperti ini //Seperti ini apa?// dengan salah seorang kawanku se-SMA yang ini. //Yang ini mana?? Seperti biasa nih, penulis lagi nggak jelas!// Tak hanya sekadar iseng sih, tapi sebagai bentuk sapaan karena tak bisa bertatap muka untuk sekian lama. Berikut salah satu SMS yang sering kukirim kepadanya:

Weather report: langit cerah, secerah hatiku.
Activity: beli ayam bakar, biasa.
Situation: rame lancar, aman trkendali.
Condition: lg mo flu, laper.
(^_^)v

Delivered to:
Indah, nama malam
+628CCCCCCCC

Date and time:
XX-Xxx-2007
18:20:11

Jawaban SMS pun beragam. Kadang ia memakai format yang sama seperti SMS-ku itu, kadang langsung menceritakan keadaan dirinya dan Kota Pekalongan. Seterusnya kami ngobrol ngalor-ngidul barat laut-tenggara. Yah, sebuah perkawanan yang sangat manis. Alhamdulillâh.

Namun sekarang sudah tak lagi kami berkirim SMS seperti itu. Segala kontak pun sudah tak lagi terjadi. Entah mengapa, sejak kululus kuliah dia mulai jarang menghubungiku atau membalas SMS-ku. Terakhir ku-SMS dia pada Ahad malam kemarin.

Weather report: ujan.
Activity: nunggu busway dateng.
Location: halte busway kuningan madya utara aini.
Situation: sepi, serem!
Condition: laper (dr td pg lom mkn).

Delivered to:
Indah, nama malam
+628CCCCCCCC

Date and time:
06-Apr-2008
19:55:27

Sama sekali tak ada respon dari dirinya. Sedih.

Yah, semoga engkau baik-baik saja, kawan. Semoga engkau selalu dalam perlindungan Allâh. Semoga engkau senantiasa dalam daftar orang-orang yang Ia beri rahmat. Serta semoga engkau cepat menikah. //Halah! Lagi-lagi nikah. Forget ’bout marriage!//

Antara Wanita, Busway, dan “Secara”

Menarik sekali apa yang diberitakan dalam salah satu kolom di koran Republika edisi hari ini, Jumat, 4 April 2008. Pada halaman 16 tertulis judul “90 Persen Perempuan Setuju Busway Khusus Wanita.” Menarik sekali, karena dari judul tersebut terdapat dua kata yang mengacu kepada objek yang hampir sama: perempuan dan wanita.

Menurut KBBI Daring, perempuan mempunyai arti pertama orang (manusia) yg mempunyai p*k* //wah, nggak bener juga nih kamus//, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita. Sedangkan wanita berarti perempuan dewasa: kaum — , kaum putri (dewasa). Sedikit yang dapat kutangkap adalah bahwa kata “perempuan” digunakan sebagai jenis gender, lawan dari jenis kelamin laki-laki. Sedangkan wanita merujuk pada kaum. Jadi menurutku, judul tadi tersebut agak gimanaaa geto. //Hehe, sok pinter aja nih.//

Whatever, lah. Yang jelas, aku setuju dengan rencana pengadaan busway khusus untuk kaum perempuan tersebut. Alasan pertama adalah aku sudah capek untuk berdiri di busway. //Hehe, dasar egois.// Sesuai etika yang berlaku umum di masyarakat //ga juga gitu, deh// sebagai anggota kaum adam, aku harus mengikhlaskan diri untuk mempersilakan kaum hawa duduk sementara aku harus berdiri //dalam keadaan dimana busway penuh sesak orang di dalamnya//. Jadi dengan adanya busway khusus ini, diharapkan kesempatan bagi diriku duduk nyaman di dalam bus menjadi semakin besar. //Hehe. Sekalian aja diadakan busway khusus manula.//

Yang paling menarik dari artikel tersebut adalah tulisan pada paragraf kedelapan. Di situ ditulis:

“Pasalnya, penerapan ini membutuhkan pertimbangan yang matang dan baik. Misalnya pada busway koridor I (Blok M-Kota), secara jumlah penumpang merupakan yang paling tinggi.”

Coba cermati kalimat kedua. Bagaimana itu editornya? Secara ini ada di dalam koran nasional, gitu loh.

(^_^)v

Dah, ah. Dah sore. Pulang dulu. Have a nice weekend….