Terang Bulan

Jadi, Saudara, Daily Prompt WordPress.com hari ini menampilkan sebuah tema sebagai berikut:

When the full moon happens, you turn into a person who’s the opposite of who you normally are. Describe this new you.

Photographers, artists, poets: show us NIGHTTIME.

Malam ini di Malang angin bertiup cukup kencang sehingga hawa-nya dingin. Maka wajar saja kiranya bulan purnama di sini sering berkemul awan mendung.

Aku yang baru adalah aku yang tidak suka purnama, tidak suka bidadari khayangan, dan tidak suka Doraemon. Maka aku akan doyan sekali keju, bahkan akan mencemil keju setiap ada kesempatan.

\Ah, tadinya mau nulis soal teori relativitas, malah nulis ginian.\

Jadi, Saudara, baru saja aku jalan-jalan seorang diri di jalanan kota Malang. Capek rupanya. Di jalanan yang kulalui tadi ternyata di bagian sisinya ada trotoar sementara di sisi lainnya tidak ada. Bisa kalian bayangkan betapa berbahayanya aku tadi berjalan sementara pikiran takut kalau-kalau ketemu singa gila, tangan memegang ponsel, mata sedikit-sedikit melirik ke atas ke arah purnama sedikit-sedikit ke arah layar ponsel. Untuk tidak terserempet atau keserimbet.

Atas rekomendasi seorang kawan, singgahlah aku ke sebuah warung bakso bakar. Makanlah aku di situ hingga menjadi wajar kalau sekembalinya aku di hotel perutku pun sudah terasa lapar kembali. Jadi nama warungnya itu Bakso Bakar Pak Man. Warungnya sederhana saja. Aku kurang suka karena di situ tidak sedia teh panas. Hanya minuman botolan saja. Tetapi mohon maaf, susu dot tidak tersedia.

Dimintanya aku mampir ke rumah kawanku itu. Harus naik angkot. Aku pun menanti angkot yang bersangkutan di sebuah persimpangan tiga. Setelah berkali-kali memberhentikan angkot yang salah dan melirik dua mbak-mbak yang lewat di seberang, angkot yang kutunggu pun gagal datang.

Bersamaan dengan peringatan kehabisan energinya ponselku, aku pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Era layar jawil begini rasa-rasanya jauh lebih takut kehabisan tenaga baterai ponsel daripada kehabisan uang ketika di jalan. Kan begitu?

Tetapi cukuplah. Besok-besok jalan kaki lagi. Toh masih sampai Sabtu aku di sini. Toh sudah diberi arahan bagaimana pergi ke toko alat-alat tulis besar di sini. Toh sudah tahu arah untuk ke toko buku juga. Haha. Sekarang tidurlah saja dulu. Relativitasnya besok-besok saja juga. Sekian.

Ngendat

Malam tak lagi purnama. Angin pesisir pun hijrah dari kota. Aku duduk seorang diri di sebuah bangku peron. Pengeras suara stasiun mempermaklumkan keterlambatan datangnya kereta apiku. Dalam keadaan demikian telingaku menyimak senandung radio:

Telah putus cinta kini patah hati ♪
Mau bunuh diri di rel kereta api ♫

\Haha! Ha yo kok bisa pas begitu, ya? Lagi nyawang rel, eladalah lagunya beginian.\

Itulah Rabu malam kemarin, Saudara, kelakuanku ketika hendak beranjak dari tanah kelahiran kembali ke Jakarta.

Kalau disimak-simak, ternyata nada lagunya Jaja Miharja berjudul Putus Cinta tadi mirip dengan lagu zaman kanak-kanakku dulu:

Aduh duh, aduh duh, sakit sekali ♪
Kesandung, kesandung, kesandung batu ♫

Kalian tahu lagu itu?

Ngendat. Artinya bunuh diri, Saudara. Pertama kali tahu kata ini ketika masih SMP, kalau tak salah ingat. “Ngendat” waktu itu adalah judul sebuah cerpen di Majalah Krida. Barangkali karena anggota KORPRI, Bapakku berlangganan majalah ini. Tiap kali beliau pulang kantor bawa majalah ini, langsung kubaca-baca. Pas itu kan lagi zaman-zamannya krismon. Jadi semua isinya hampir bersinggungan dengan krisis moneter itu. Ya beritanya, ya komik Kang Dakri-nya, ya cerpennya. Lanjutkan membaca “Ngendat”