Ngendat

Malam tak lagi purnama. Angin pesisir pun hijrah dari kota. Aku duduk seorang diri di sebuah bangku peron. Pengeras suara stasiun mempermaklumkan keterlambatan datangnya kereta apiku. Dalam keadaan demikian telingaku menyimak senandung radio:

Telah putus cinta kini patah hati ♪
Mau bunuh diri di rel kereta api ♫

\Haha! Ha yo kok bisa pas begitu, ya? Lagi nyawang rel, eladalah lagunya beginian.\

Itulah Rabu malam kemarin, Saudara, kelakuanku ketika hendak beranjak dari tanah kelahiran kembali ke Jakarta.

Kalau disimak-simak, ternyata nada lagunya Jaja Miharja berjudul Putus Cinta tadi mirip dengan lagu zaman kanak-kanakku dulu:

Aduh duh, aduh duh, sakit sekali ♪
Kesandung, kesandung, kesandung batu ♫

Kalian tahu lagu itu?

Ngendat. Artinya bunuh diri, Saudara. Pertama kali tahu kata ini ketika masih SMP, kalau tak salah ingat. “Ngendat” waktu itu adalah judul sebuah cerpen di Majalah Krida. Barangkali karena anggota KORPRI, Bapakku berlangganan majalah ini. Tiap kali beliau pulang kantor bawa majalah ini, langsung kubaca-baca. Pas itu kan lagi zaman-zamannya krismon. Jadi semua isinya hampir bersinggungan dengan krisis moneter itu. Ya beritanya, ya komik Kang Dakri-nya, ya cerpennya. Lanjutkan membaca “Ngendat”