Demam Bertemu Pengeblog

Katanya, setiap bagian dari tubuh kita itu saling bereaksi antara satu dengan lainnya.

Bagi kalian yang penasaran, silakan melakukan sedikit riset ke perpustakaan terdekat dan mencari buku-buku yang mengulas tentang perihal ini. Akan tetapi aku ingin menjelaskan sedikit dari apa yang kuingat saat kulakukan riset sendiri di Perpustakaan Kota Pekalongan sekitar sepuluh tahun lalu. Bahwa katanya, berdasarkan beragam penelitian oleh para ilmuwan \dan orang iseng lainnya\, apabila satu bagian dari tubuh kita terluka–sebut saja misalnya dengkul kita lecet akibat terjatuh dari sepeda motor–maka sensor saraf di sekitar dengkul itu akan langsung melaporkan hal tersebut ke semacam call center di otak \hipotalamus kali, yak?\.

Setelah dilapori hal tersebut, tentu saja pusat sensoris atau apalah namanya akan otomatis menyebarkan berita ini ke bagian-bagian tubuh lainnya agar bereaksi. Misalnya segera saja mulut diperintahkan untuk mengaduh sampai gaduh. Barangkali diperbolehkan pula untuk sedikit berteriak kesakitan. Kemudian jantung pun akan mendramatisasi kejadian ini dengan berdetak lebih kencang dan cepat sehingga oleh sebagian orang luar negeri disebutlah istilah “lap-lapan”.

Kabar pun dengan cepat tersebar, yaitu bahwa si dengkul membutuhkan pertolongan. Maka peredaran darah pun kemudian difokuskan untuk lebih cepat mengenai si dengkul ini. Tentu kalian pun tahu bahwa darah memiliki pula zat-zat penyembuh luka \kecuali tentu saja luka akibat hati yang patah\ semisal antibodi dan selainnya. Lanjutkan membaca “Demam Bertemu Pengeblog”

Mengudara: Bukan Cinta Berbalas

Hai sayang, jangan takut jangan resah
Bila lampu kamar mulai dipadamkan
Ku kan selalu menyanyikan lagu ini
Hingga nanti kau tidur berselimut mimpi

Jangan lupa esok kita punya janji
Semakin cepat kita tidur
Semakin cepat kita bertemu Dorami

Berdoalah sebelum kita tidur
Jangan lupa cuci ketek-ketekmu
Jangan lupa doakan mama papa kita

Jangan takut akan gelap
Karena gelap melindungi diri kita
Dari Om Drakula

Selamat malam, Saudara pendengar sekalian. Jumpa lagi dengan penyiar kesayangan Anda, Farijs Manijs. Masih mengudara di gelombang 303058 FM Radio Masibalita “Memainkan musik terbalik di Jakarta”, dalam acara yang pasti dinanti-nanti: “Bangbangtur, Tembang-tembang Pengantar Tidur”.

Bagaimana kabar pendengar di rumah? Semoga kabar Anda sekalian baik-baik saja.

Saudara pendengar, malam Jumat ini udara terasa dingin. Untuk itu, kami himbau agar jangan lupa menutup pintu dan jendela dan juga mengenakan baju hangat atau suwiter.

Baiklah, untuk mengusir angin agar kita semua tidak masuk angin, akan kami putarkan sebuah nomor manis dari Dewa 19 berikut ini. Pupus.

Aku tak mengerti apa yang kurasa
Rindu yang tak pernah begitu hebatnya
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu

Aku persembahkan hidupku untukmu
Telah kurelakan hatiku padamu
Namun kau masih bisu diam seribu bahasa
Dan hati kecilku bicara

Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku

Semoga waktu akan mengilhami sisi hatimu yang galau
Semoga akan datang keajaiban hingga akhirnya ibu mau
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Tentu kau sudah pernah tahu

Cinta memang anugerah yang indah yang diberikan untuk manusia di dunia. Namun apa daya, cinta dapat pula menjadi prahara. Lanjutkan membaca “Mengudara: Bukan Cinta Berbalas”

Nasi Telah Pun Menjadi Bubur (Incomplete)

Berikut ini adalah naskah postingan. Kubuat kemarin sore. Memang belum tidak lengkap. Sebagaimana aku. Tetapi sudahlah, aku terbitkan saja. Karena dalam hidup ini aku belajar bahwa tidak semua baik disimpan seorang diri.

Nasi telah menjadi bubur. Barangkali dalam kehidupanku sering sekali hal ini terjadi.

Apabila penyesalan datang terlambat, maka kesedihan datang lebih terlambat lagi.

Bahkan apabila nasi telah berubah menjadi bubur pun aku akan menjadikannya sebagai bubur sop. Yaitu bubur lezat karena memakai kuah tauco sebagai bumbunya. Yaitu bubur lezat karena terdapat suwiran daging ayam. Yaitu bubur lezat karena terdapat potongan tomat dan kentangnya.
..

Terakhir kali ini aku merasa tidak terima karena nasiku telah dibuat menjadi bubur. Aku marah sekaligus menyesal. Apa hal bisa menyebabkannya demikian. Apalagi aku merasa kesalahpahamanlah penyebabnya. Maka aku pun semakin marah dan semakin tidak terima nasiku dibuat bubur.

Kemudian aku pun tersadar bahwa ada salahku dalam kesalahpahaman itu. Ada salahku dalam menjadikan nasiku sehingga membubur. Barangkali aku terlalu banyak memberinya air. Barangkali aku meninggalkan apinya cukup lama. Maka buburlah ia.

Bubur takkan pernah bisa kembali menjadi nasi. Aku tahu hukum alam ini, Saudara. Tentu saja. Akan tetapi aku tetap ingin memakan nasi-jadi-bubur ini. Aku tak ingin menanak nasi baru, bukan karena membuang waktu, tetapi terlebih karena aku sudah sedemikian cintanya dengan nasiku dulu, nasi-jadi-bubur ini.

Aku rela melakukan apa saja demi bisa menikmati nasi-jadi-bubur ini. Aku rela mengerahkan upaya ekstra dengan membuat kuah kaldu, kuah opor, suwiran daging ayam, kerupuk, dan segala macamnya agar nasi-jadi-bubur ini merasa rela untuk kumakan.


Apapun akan kulakukan, bahkan membawakan kecap Pulau Djawa sekalipun. Aku ingin nasiku, nasi-jadi-buburku, tahu bahwa aku takkan menyia-nyiakannya lagi. Aku takkan menjadikannya nasi-jadi-bubur-jadi-basi.

Barangkali demi lebih terlengkapi kutambahkan sedikit:

Andaikan nasi-jadi-buburku ini tidak sudi kumakan karena telah pun menjadi sedemikian marahnya akibat kekhilafanku, apa dapat kuperbuat. Segalanya terasa benar apabila ia menginginkan demikian. Dengan berat hati aku pun terpaksa memenuhi tuntutannya. Tetapi aku tidak akan tega meninggalkannya sedemikian. Hatinya telah kubawa selalu.

Aku ingin meninggalkannya dalam keadaan terbungkus rapi dan cantik. Aku ingin meninggalkannya di lingkungan baik-baik. Agar kelak nasi-jadi-buburku diambil oleh orang baik-baik pula. Agar nasi-jadi-bubur pun berkenan diambil dan disantap oleh orang baik-baik itu.

Bagaimana aku harus membungkusnya, dan kemanakah aku harus meletakkan nasi-jadi-bubur ini, Saudara?

Warung Pinggir Jalan dan Setahun Sayangku Untukmu

Ternyata sudah diputuskan bahwa Senin besok itu menjadi cuti yang dipaksakan bersama alias libur resmi. Entah mengapa keputusan meliburkan ini tergolong mendadak alias seperti terburu-buru kalau tidak boleh dikatakan darurat.

Sebagai seorang pegawai rendahan sudah pasti aku harus menurut dan rela seikhlas-ikhlasnya manakala jatah cuti yang tersisa menjadi terenggut oleh adanya cuti bersama tambahan ini.

Waktu yang tepat untuk pulang kampung sebenarnya. Sudah rindu pula aku berkumpul dengan keluarga besar di sana. Terlebih-lebih masakan ibunda. Pun seorang saudara muda perempuanku di sana sedang sangat membutuhkan bantuanku untuk memilihkan kira-kira kandidat mana yang tepat untuk dijadikan suaminya.

Bagaimana bisa aku memutuskan? Lha wong aku sendiri saja belum menikah, belum punya pengamalan. Tapi kehadiranku sepertinya akan semakin membuatnya tegar dan tidak lagi tenggelam dalam kolam kegalauan.

Sekarang aku sedang menjalankan ritual makan siang di sebuah warung pinggir jalan. Di hadapanku terdapat belasan anak kecil bermain perosotan dan berlari-lari riang. Tampak beberapa ibu yang cantik (mmm) sedang menyuapi anaknya masing-masing dan sesekali berteriak agar anaknya itu tidak berlarian.

Meski belum tentu tergolong sebagai pasangan homoseksual, dua orang pemuda di samping kiriku kelihatan mesra. Pemuda yang satu dengan lembutnya menyeka tepian mulut pemuda yang lain sehingga sebutir nasi yang tadinya menempel di situ lantas berpindah menempel di selampai.

Aduh! Tiba-tiba saja seorang bocah kecil laki-laki yang botak kepalanya masuk ke dalam kolong mejaku. Rupanya sedang bermain petak umpet dia dengan ayahnya. Ayahnya yang mengenakan arloji asli buatan Swis itu lantas menangkapnya untuk kemudian menggendongnya, membawanya kepada ibunya yang sedang memegang sendok dan piring.

Tadi malam kudengarkan radio di gelombang yang sama seperti dua pekan lalu. Mereka memutarkan lagu-lagunya Koes Plus dan Koes Bersaudara yang judulnya berawalan dengan huruf S. Maka alangkah gembiranya hatiku tatkala dari earphone Kak Ria kudengarkan irama-irama melagukan sebuah lagu dari album Koes Bersaudara 1986, persis seperti album yang dimiliki ayahku.

Koes Bersaudara
Sayangku Untukmu

Betapa bunga indah tersenyum manja padaku
Tapi cintamu terlebih anggun dalam jiwaku

Walaupun bintang bersinar terang di langit tinggi
Tak akan mungkin mengganti dirimu, oh
Sayangku untukmu

Andaikan nanti badai menerjang kejam dan keji
Melanda sedih taman dan bunga berkali-kali

Tak urung nanti reda menjelang damai dan tenang
Kembali pasti cintaku cintamu, oh
Bersemi abadi

Lagu ini lantas menginspirasiku. Ketika kuketikkan tulisan ini, tak henti-hentinya aku menyenandungkan lagu ini:

Setahun Untukmu

Purnama indah di langit malam datang dan pergi
Sudah kemarau musim penghujan kemarau lagi

Walaupun hujan turun di langit kemarau ini
Bunga kamboja ‘kan tetap bersemi, oh
Di dalam hatiku

Setahun ini kau t’lah mengisi hari yang sepi
Kasih sayangmu bagaikan harum bunga melati

Andaikan nanti kita melangkah ke jenjang tinggi
Tak ada sesal kau di sampingku, oh
Sayangku untukmu

Kamu

Kamu adalah aroma kopi arabika yang terhidang di meja kayu. Kamu adalah sofa ekisehir pada vestibula kantor yang berwarna kelabu. Kamu adalah kipas angin biru yang mengusir kepengapan dalam kamarku. Kamu adalah telur mata sapi dalam menu sarapan di hari Sabtu.

Kamu adalah sonata dalam Canon yang merdu. Kamu adalah pulpen 5-in-1 yang bertengger di saku kemeja kantorku selalu. Kamu adalah purnama penanda para bidadari turun dari kayangan untuk mandi beramai-ramai di situ. Kamu adalah mi goreng aceh apabila takaran kecap manisnya cukup bagiku.

Kamu adalah pengganggu pikiran dan pengacau debar jantungku. Maka kamu adalah hantu. 😀

===

Topik Post a Day hari ini adalah:

What was the last time you did a random act of kindness?

Bonus: If you’ve never done a random act of kindness, do you think you should? why or why not?

Sedang berada dalam pusaran kemarahan imbas dari kemarahan seseorang kepada seseorang yang lain.

Rasa Bulan

Bulan purnama, sedang hatiku mati rasa. Telah tercipta sebuah rasa yang untuk pertama kalinya kurasa. Aku jatuh cinta pada jumpa pertama! Cinta oh cinta. Janganlah tebar pesonamu. Jangan berikan aku hanya sisa!

Bulan pernah terbelah, dan hatiku pernah patah. Ketakacuhan menciptakan sebuah dilema. Aku takkan pernah bisa mengikatnya, meski aku mampu. Haruskah kuambil kayu baru untuk mengikatkan taliku?

Cahaya bulan yang indah, seindah itulah rasa baru. Namun siklus bulanan menjadikan cahaya itu hilang ditelan gelap, sedang aku benci kegelapan. Masih pantaskah aku merindukan bulan?

Siap Menikahi Mental?

Kira-kira apa yang membuat kita siap mental untuk menikah, ya?

Niat. Apa niatmu?

{Menuntaskan segala keraguan.}

Kalau begitu, lakukan. Atau dirimu akan begitu seterusnya.

Keinginan kuat dan niat tulus untuk menyempurnakan ibadah kepada Allâh SWT.

Orang bakal tahu deh kapan mereka siap ato gak. Kalo ditanya siap ato gak, keknya orang bakal bilang gak. Dan sebagian harus nekad juga. Kalo nunggu siap keknya susah. Yang penting kan nemu orang yang mau diajak nikah dulu. 

{Berarti nikah yang dipaksakan, dong?}

Nekad bukan berarti terpaksa, tapi maksudnya membulatkan tekad. Beda itu. Kalo misalnya ada cewek yang mau diajak nikah, beres kan?

{Masalah awalnya kan bukan itu. Kitanya sudah siap atau belum? Itu dulu.}

Lah, kalo kau siap, si ceweknya gak, gimana hayo?

{ ? }

{Ya cari aja cewek yang siap, lah. Kan masih banyak yang lain.}

Huex!

Bercanda. Mana ada kesiapan mental buat nikah? Yang ada mah kesadaran.

{Lantas kemarin itu gak siap?}

Kagak, lah. Tapi orang mau nikah rizqinya banyak. Makanya akhirnya kejadian juga. Rizqi kan macem-macem. Bisa berupa support dari orang lain supaya niat makin mantap.

{Support? Yang ada sekarang tuh orang-orang malah dorong-dorong, bukannya nyokong!}

Itu artinya pikiranmu belum terbuka, makanya berasa kayak didorong. Kalo belum siap mental artinya belum dewasa.

Percaya pada-Nya, berani bertanggung jawab atas apa yang kita putuskan.

Kalo dah siap mah enjoy2 aja. Ntar kalo dah ketemu jodohnya juga siap sendiri. Rasa sayang bakalan jadi sugesti untuk siap.

{Loh, seharusnya kan prosesnya dibalik? Kita siap dulu, baru cari jodoh.}

Seorang calon (suami) yang “tepat” dan dia bisa meyakinkanku bahwa aku layak untuk menjadi (istri)nya.

Kalo sudah siap lahir batin, apalagi materi, itu sudah membantu kok. Tapi yang paling utama adalah menggenapkan separuh agama, beribadah karena Allâh. Istikharah saja. InsyâAllâh membantu.

Pada dasarnya apapun bentuk hubungan antara pria dan wanita, terdapat aturannya sendiri dalam Islam. Islam mengatur bahwa hubungan pria dan wanita diikat dalam pernikahan, dimana di dalamnya iman dan takwa adalah standar utama. Bukan usia, materi, penampilan, atau bahkan prestise. Selama iman dan takwa dijadikan sebagai patokan dan Allâh sebagai tujuan, maka perjalanan hubungan pernikahan akan menuju pada akhir yang bahagia, karena masing-masing pihak memahami hak dan kewajiban masing-masing.

{Lantas kapan dikau menikah?}

Seandainya Allâh menghendaki aku menikah sebelum mati, aku akan menikah tepat pada waktunya. Yaitu waktu yang terbaik yang diberikan Allâh, dan dengan (laki-laki) terbaik yang dianugerahkan Allâh untukku.

Pertanyaan selanjutnya: kira-kira apa yang membuat seorang gadis {bujang} menerima pinangan {meminang} kita, ya?

Aku Adalah Pria?

Sebuah artikel baru saja kubaca. Menggelitik.

Mengapa Pria Hanya Senang Saat Mengejar Wanita?” Itulah judul artikelnya. Mengapa ya kira-kira, Saudara-saudara?

Sebenarnya topik ini pernah dinasihatkan oleh KAKAK MANIS beberapa hari yang lalu. Bahwa secara umum seorang pria menyukai tantangan dan perburuan. 

Dan entah mengapa sekarang aku berharap menjadi seorang pria pada umumnya….

Ah, entah mengapa pula malam ini aku jadi teringat lagu semasa kecil: “Abang Tukang Bakso”

Abang tukang bakpao
Mari-mari sini
Aku mau beli

Abang tukang bakpao
Cepat dong kemari
Sudah tak tahan lagi

Satu potong saja
Lima ribu perak
Yang tembam bakpaonya

Tidak pakai sambal
Tidak pakai saos
Juga tidak pakai lama

Bakpao bulat seperti bola pimpong
Kalau lewat membuat perut kosong
Jadi bakpao janganlah suka sombong
Kalau sombong digigit Farijs ompong