Nasi Telah Pun Menjadi Bubur (Incomplete)

Berikut ini adalah naskah postingan. Kubuat kemarin sore. Memang belum tidak lengkap. Sebagaimana aku. Tetapi sudahlah, aku terbitkan saja. Karena dalam hidup ini aku belajar bahwa tidak semua baik disimpan seorang diri.

Nasi telah menjadi bubur. Barangkali dalam kehidupanku sering sekali hal ini terjadi.

Apabila penyesalan datang terlambat, maka kesedihan datang lebih terlambat lagi.

Bahkan apabila nasi telah berubah menjadi bubur pun aku akan menjadikannya sebagai bubur sop. Yaitu bubur lezat karena memakai kuah tauco sebagai bumbunya. Yaitu bubur lezat karena terdapat suwiran daging ayam. Yaitu bubur lezat karena terdapat potongan tomat dan kentangnya.
..

Terakhir kali ini aku merasa tidak terima karena nasiku telah dibuat menjadi bubur. Aku marah sekaligus menyesal. Apa hal bisa menyebabkannya demikian. Apalagi aku merasa kesalahpahamanlah penyebabnya. Maka aku pun semakin marah dan semakin tidak terima nasiku dibuat bubur.

Kemudian aku pun tersadar bahwa ada salahku dalam kesalahpahaman itu. Ada salahku dalam menjadikan nasiku sehingga membubur. Barangkali aku terlalu banyak memberinya air. Barangkali aku meninggalkan apinya cukup lama. Maka buburlah ia.

Bubur takkan pernah bisa kembali menjadi nasi. Aku tahu hukum alam ini, Saudara. Tentu saja. Akan tetapi aku tetap ingin memakan nasi-jadi-bubur ini. Aku tak ingin menanak nasi baru, bukan karena membuang waktu, tetapi terlebih karena aku sudah sedemikian cintanya dengan nasiku dulu, nasi-jadi-bubur ini.

Aku rela melakukan apa saja demi bisa menikmati nasi-jadi-bubur ini. Aku rela mengerahkan upaya ekstra dengan membuat kuah kaldu, kuah opor, suwiran daging ayam, kerupuk, dan segala macamnya agar nasi-jadi-bubur ini merasa rela untuk kumakan.


Apapun akan kulakukan, bahkan membawakan kecap Pulau Djawa sekalipun. Aku ingin nasiku, nasi-jadi-buburku, tahu bahwa aku takkan menyia-nyiakannya lagi. Aku takkan menjadikannya nasi-jadi-bubur-jadi-basi.

Barangkali demi lebih terlengkapi kutambahkan sedikit:

Andaikan nasi-jadi-buburku ini tidak sudi kumakan karena telah pun menjadi sedemikian marahnya akibat kekhilafanku, apa dapat kuperbuat. Segalanya terasa benar apabila ia menginginkan demikian. Dengan berat hati aku pun terpaksa memenuhi tuntutannya. Tetapi aku tidak akan tega meninggalkannya sedemikian. Hatinya telah kubawa selalu.

Aku ingin meninggalkannya dalam keadaan terbungkus rapi dan cantik. Aku ingin meninggalkannya di lingkungan baik-baik. Agar kelak nasi-jadi-buburku diambil oleh orang baik-baik pula. Agar nasi-jadi-bubur pun berkenan diambil dan disantap oleh orang baik-baik itu.

Bagaimana aku harus membungkusnya, dan kemanakah aku harus meletakkan nasi-jadi-bubur ini, Saudara?

I’ll banter. I’ll brag. I’ll gawk.

Kutuliskan postingan ini dalam keadaan selangkangan menahan beban air kecil. Sementara di luar sana hujan turun tak berkesudahan seperti kasih ibu kepada beta, karena tak terhingga sepanjang siang ini. Telingaku tidak saja khusyuk mendengarkan orkestra alam ini melainkan juga Simfoni Nomor 7-nya Beethoven (Beethoven’s Symphony No. 7, Opus 92 opening). Adapun teh tubruk di gelas sudah pada masanya mendekati satu tegukan terakhir.

Di hadapanku tergeletak satu buah salak sehingga aroma segarnya terhidu dengan sedapnya. Di sampingnya terdapat buku catatan tempatku mencatatkan kata-kata arkais dan segala hal mengenai Org Mode dan LaTeX. Itulah sejatinya rencanaku dari semula. Sehingga apabila di lain hari buku catatan itu tiada lagi mencatat hal-hal tersebut melainkan hal-hal lain, maka jangan salahkan anjing menggonggong.

Semenjak hari pertama aku memiliki buku catatan itu, semenjak itu pula aku kecewa. Buku catatan semahal itu seharusnya menyenangkan untuk ditulisi, bukan? Akan tetapi kenyataan telah berkata lain, Saudara. Buku catatan tersebut tidak menyenangkan apalagi mengasyikkan karena kertasnya gampang berdarah (bleed-through) alias tertembusi oleh tinta merahku. Haruskah aku menderita karenanya? Oh, tentu saja tidak perlu.

Kertas Tertembus Tinta
Kertas Tertembus Tinta

Lanjutkan membaca “I’ll banter. I’ll brag. I’ll gawk.”

Dian Tak Kunjung Padam

Sementara itu hari bertambah lama bertambah terang jua. Pada beberapa tempat kelihatan tangan y*ng putih mengulurkan timba ke air dari dalam rumah. Pagi-pagi serupa itu ialah waktu perawan-perawan Palembang mandi. Menurut adat mereka tidak boleh memperlihatkan dirinya, tak boleh keluar rumah. Dan kalau mereka mesti keluar rumah misalnya hendak pergi ziarah ke kubur atau mengunjungi sanak-saudara, maka gadis itupun seolah-olah dibungkus dengan bermacam-macam kain y*ng indah-indah sampai ke kepalanya. Hanya kakinya dan ujung tangannyalah y*ng kelihatan.

Sutan Takdir Alisjahbana, dalam “Dian y*ng Tak Kunjung Padam”

\Mohon maaf, Saudara, penyebutan kata ‘y*ng’ tiadalah dapat kuhindarkan. Demi tegaknya cerita, berpura-puralah bahwa aku tidak mengetikkan sama sekali kata ‘y*ng’ tersebut. Terima kasih.\

Kalian tahu, bukan, bahwa ketika SMP aku pernah didaulat untuk mewakili sekolah dalam perlombaan menulis resensi novel lawas ini? Pada waktu itu aku tidak tahu kata-kata, terlebih kata-kata kemelayuan. Maka aku pun tak tahu harus bagaimana, harus berbuat apa, demi menuliskan resensinya. Apabila sekarang, tentunya akan lebih mudah bagiku melakukannya karena aku punya akses untuk menemukan arti kata per kata.

Beruntunglah, karena Sabtu kemarin aku membeli buku ini demi mengutipkan satu paragraf di atas khusus untuk kalian, para pembaca budiman.

Buku "Dian y*ng Tak Kunjung Padam"
Buku “Dian y*ng Tak Kunjung Padam”

Lanjutkan membaca “Dian Tak Kunjung Padam”

Limabelas Mei Tigabelas

Allâhu Akbar! Allâhu Akbar! Lâ ilâha illallâh!

Samar-samar kudengar suara itu. Iqamat.

“Hah? Mengapa aku ada di sini? Aku ini siapa? Apa hal terjadi dengan diriku?”
Seperti itulah barangkali kalau aku hidup di dalam sinetron.

Sepertinya ada sesuatu di kakiku dan sesuatu itu bergerak-gerak. Apakah?
Kugerakkan kakiku. Oh, ternyata masih bisa.
Tiba-tiba mak srantal, sesosok makhluk menjauhiku;
seperti kaget bahwa ternyata aku masih bernyawa.
Betul, Saudara. Makhluk itu ternyata adalah sesuatu bergerak-gerak di kakiku tadi.
Rupa-rupanya tikus. Sudah hitam, dekil, besar pula.

Tanpa perlu pendahuluan “kurasakan”, kaki sakit. Perutku jauh lebih sakit.
Apalagi kepalaku: pening dan pusing menyatu.
Aku hanya punya dua tangan. Maka tangan kiriku kupegangkan ke kepala.
Sementara itu lengan kananku tak bisa kugerakkan.
Pantaslah, Saudara, karena ia tergencet gajah badanku.
Lengan kananku lecet.

Tanganku lecet. Entah bagaimana.
Tanganku lecet. Entah bagaimana.

Kalian masih belum mengerti? Lanjutkan membaca “Limabelas Mei Tigabelas”

Miliaria Bukan Malaria Apalagi Miliarder!

Ketika aku melakukan pencarian dengan kata kunci biang keringat dan musim kemarau, muncullah hasil sebagai berikut:

Hasil Pencarian "biang keringat dan musim kemarau"
Hasil Pencarian “biang keringat dan musim kemarau”

Dari sekian situs web hasil pencarian tersebut, ternyata memang biang keringat itu penyakit untuk bayi dan anak-anak. Maka aku adalah salah seorang dari segelintir dewasa dengan tubuh penuh biang keringat. T~T

Sejatinya April masihlah termasuk ke dalam musim kemarau. Maka wajarlah jikalau ruam-ruam masih menjalari kulitku. Menjadi tidak wajar karena hujan turun dalam beberapa hari ini. Termasuk pada saat sekarang ini ketika aku sedang mengetikkan tulisan ini. Lihat saja gambar di atas, terlihat layar komputerku terkena titik-titik air hujan, bukan? Lanjutkan membaca “Miliaria Bukan Malaria Apalagi Miliarder!”

What’s in a name…

Salah satu inti kalimatku sewaktu berbincang-bincang dengan seorang kawan adalah begini, Saudara: memangnya jikalau dia mempunyai anak dia akan merelakan aku menjadi pemilih nama untuk anaknya itu.

Beberapa kawan sering menggantungkan keputusannya menggunakan sesuatu pada preferensiku. Misalnya ketika hendak menamai kucing-baru-lahir-nya, si kawan menanyakan apa warna kesukaanku. Maka apabila jawabanku adalah merah jambu, si kawan tadi akan menamakan kucing-baru-lahirnya dengan Pinky.

Misalnya lagi ketika hendak membuat blog pada layanan WordPress.com, si kawan menanyakan apa makanan kesukaanku. Ketika kujawab dengan kebab, aku pikir dia akan membelikanku seporsi besar kebab atau paling tidak membuatkannya. Maka aku pun kecewa ketika kemudian dia melanjutkan dengan memintaku memilihkan tema untuk blog-baru-akan-dibuat-nya.

Tulisan ini sejatinya bukan untuk mengabarkan bahwa aku menyukai warna merah jambu dan makanan kebab, akan tetapi mengenai penyandaran preferensiku dalam menentukan pilihan seseorang. Sejujurnya aku tidak berkeberatan terhadap hal tersebut \toh karena badanku sendiri sudah sedemikian berat\.

Aku hanya sedikit terbebani manakala preferensiku akan menjadi pengaruh besar bagi kehidupan seseorang. Lagi pula, bukanlah seseorang akan merasa lebih puas bilamana keputusannya dalam hal tertentu tidak dipengaruhi oleh preferensi apalagi tekanan dari luar dirinya?

Kepada si kawan sebagaimana kusebutkan di alinea awal, aku menekankan bahwa membuat blog di WordPress.com jauh lebih keren daripada sekadar membuat tulisan-tulisan aneh di titik-titik lain. Sekian.

Kondisi Titik-Titik

Baiklah. Akhir-akhir ini aku dilanda lesu.

Bukan karena sedang puasa atau bagaimana. Bukan pula karena sedang marah atau berduka.

Lalu aku analisis.
Aku malas menulis.
Malas pula mandi.
Malas makan nasi.

Malas menulis ini bisa jadi ada pengaruh dari karena aku malas membaca. Tatkala itu aku membeli beberapa novel selain juga komik Doraemon. Pun malas kusentuh. Pun malas kubuka. Pun malas kusantap.

Maka beginilah aku memulai. Sore ini akan kusantap buku novel itu sebagai hidangan berbuka puasa. Boleh, kan?

Semangat!

Sudah hampir dua bulan ini tergila-gila dengan Pupus-nya Dewa.

Aku tak mengerti ♪ apa yang kurasa ♫
Rindu yang tak pernah ♪ begitu hebatnya ♫
Aku mencintaimu ♪ lebih dari yang kau tahu ♫
Meski kau takkan pernah tahu ♫

Aku persembahkan ♪ hidupku untukmu ♫
Telah kurelakan ♪ hatiku padamu ♫
Namun kau masih bisu ♪ diam seribu bahasa ♫
Dan hati kecilku bicara ♫

Baru kusadari ♪ cintaku bertepuk sebelah tangan ♫
Kau buat remuk ♪ seluruh hatiku ♫

Jadi?

Jadi hari ini terik sekali, ya kan~
Jadi tadi pagi aku ke Bekasi, ya kan~
Jadi siangnya kena sedikit macet, ya kan~
Jadi ditraktir makan siang soto kudus, ya kan~
Jadi lalu di kantor dikasih jenang kudus, ya kan~
Jadi besok mulai libur akhir pekan panjang, ya kan~
Jadi kerjaan mundur sehari sehingga menumpuk, ya kan~
Jadi berat hati aku tidak bisa cuti pekan depan, ya kan~
Jadi sedih sekali tidak jadi pulang ke Pekalongan, ya kan~
Jadi makin lama saja waktu aku tidak pulang kampung, ya kan~
Jadi pada sore hari ini aku menggalau begini indahnya, ya kan~

Jadi akan bagaimana akhir pekan kalian?