Imajinasi Acak Pun Liar

Baiklah, Saudara, akan kumulai menceritakan apa yang terjadi dengan pikiranku hari kemarin itu.

Pertama-tama, kemarin aku melihat banyak sekali perempuan mengenakan sepatu hak tinggi. Mulai dari yang runcing sampai yang menyerupai turunan jalan. Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiranku tentang sebuah model sepatu yang bentuknya menyerupai sarang burung. Ya, mirip-miriplah dengan Beijing National Stadium.

Beijing National Stadium (@Wikipedia)
Beijing National Stadium (@Wikipedia)

Susah memang menggambarkan imajinasiku dengan kata-kata yang dapat dipahami oleh kalian, Saudara. Agar lebih mudah, bayangkan saja kalau gambar stadium di atas adalah sol/hak sepatu. Terbuat dari material kuat nan ringan, sehingga memang bolong-bolong. Dengan begitu teranglah sudah bahwa sepatu imajinasiku ini tidak cocok untuk dipakai berjalan di permukaan lembek semisal kebun. Lanjutkan membaca “Imajinasi Acak Pun Liar”

Obrolan Pekan Ini: Bule Afrika

Kejadian ini berlangsung pada suatu Ahad siang di sebuah jalan raya kawasan Jakarta Timur. Pada saat itu udara cukup sejuk karena baru saja hujan berhenti turun. Seorang pemuda berjalan di trotoar sambil menelepon. Entah siapa pula yang diajaknya berbicara lewat telepon genggamnya itu. Sesekali sang pemuda melihat hilir mudik arus lalu lintas di sebelahnya. Sebuah angkot yang sedang melaju kencang pun tak luput dari lirikannya.

Maka kejadian ini pun pindah tempat di dalam angkot. Angkot ini ternyata sudah penuh. Di depan ada dua orang dewasa dan satu anak kecil di depan. Itu sudah termasuk supirnya. Sementara itu di bagian belakang terdapat dua belas orang dewasa dan satu anak kecil. Anak kecil yang terakhir ini dipangku oleh ayahnya yang duduk berhadap-hadapan dengan ibunya. Sementara itu, di samping ibunya duduklah seorang pria yang sepertinya adalah paman dari si anak kecil tadi.

Terjadilah percakapan berikut ini:

Anak Kecil: “Gerah nih, Yah.”

Ayah: “Gerah, ya?”

Ibu: “Sini Ibu lap.” \Mengeluarkan tisu dari dalam tasnya, lantas mengelap muka si anak yang bercucuran keringat.\

Paman: “Ah, lu adem-adem gini, gerah. Dulunya tinggal di Afrika, yak?”

Kejadian di angkot ini kusaksikan langsung dengan kedua belah telingaku sendiri yang lantas membuat gatal telinga kananku dan menjadikan panas telinga kiriku. Karena apa? Karena ada kejanggalan dari percakapan di atas. Kan begitu? 😀

Obrolan Pekan Ini: Bayarlah Memakai Kartu

Seorang lelaki eksekutif muda berpenampilan trendi memasuki sebuah kafe pada suatu siang yang terik. Setelah duduk, memesanlah ia kepada pelayan kafe akan beberapa hidangan yang tertera dalam buku menu.

“Mbak, saya pesan nasi goreng spesial pakai telur dadar, ya.”

“Minumnya, Pak?”

“Minumnya… es teh manis gak pakai gelas, Mbak.”

“Baiklah, Pak. Mohon tunggu sebentar. Hidangan akan segera kami sajikan.”

Bagaimana kelanjutan kisahnya? Silakan klik di sini untuk mengetahui kelanjutannya.

Obrolan Pekan Ini: Lebih Djadoel Mana?

Dua orang remaja paruh baya berdebat mengenai perangkat elektronik siapa yang lebih canggih.

Satu dari mereka yang adalah juga pemilik sebuah tablet (bukan sejenis obat) mengejek satu orang lainnya yang hanya memiliki sebuah netbook:

“Ah, kuno banget sik pake gituan? Udah kagak jaman, coy. Sekarang tuh jamannya pake tablet…”

Yang diejek itu rupa-rupanya dapat berkelit dengan melontarkan kata-kata:

“Ah, kunoan mana, coba? Tablet kamu itu tuh diciptain jauh sebelum ditemukannya keyboard. Produk djadoel banget berarti.”

Begitulah, akhirnya remaja paruh baya pemilik tablet tersebut membungkam mulutnya dan tiada lagi menyombongkan barang kepunyaannya.

Obrolan Pekan Ini: Bulan Sesuatu

Purnama Memudar
Purnama Sesuatu Banget

Seorang bapak pelanggan sebuah bank swasta nasional marah-marah di meja customer service. Ia mengajukan komplain kepada seorang perempuan pegawai bank yang dinilainya lamban dan tidak becus bekerja.

“Mbak ini gimana sih? Baru ya di sini? Ngurus gitu aja lama!”

Dengan tenang pegawai bank yang dipanggil “Mbak” itu pun menjawab dengan logat Sundanya yang ramah sembari tersenyum. Lanjutkan membaca “Obrolan Pekan Ini: Bulan Sesuatu”

Obrolan Pekan Ini: Lahiran

Alkisah pada suatu zaman yang bolehlah dikata sudah teramatlah maju. Hatta seorang bujang nan lapuak berjumpalah dengan seorang perempuan yang dikenalnya kemarin dahulu telah pun bunting tua dan dikiranya sekarang sudah melahirkan. Adapun perjumpaan bolehlah jadi mengambil tempat di dunia maya dalam sebuah papan rumpi yang disebut chatting.

BNL = Bujang Nan Lapuak
PBT = Perempuan Bunting Tua yang konon bernama Dewi Pelangi

BNL: “Hai. Dewi udah lahir?”

PBT: “Udah 22 tahun yang lalu.”

BNL: (Berkatalah ia dalam hati) “Duh, salah strategi!”

Maka begitulah kisah pelipur lara ini telah pun sampai kepada tempatnya yang penghabisan.

Obrolan Pekan Ini: Ramadan Bulan Penuh Ampunan

Sebuah angkot melaju dengan kencang di sebuah tikungan yang cukup ramai.

Penumpang Angkot: “Bang, Bang, ada yang mau naik, tuh.”

Begitulah, supir angkot pun menghentikan laju angkotnya.

Dari arah belakang seorang perempuan paruh baya tergopoh-gopoh menghampiri angkot, lantas naik ke dalamnya sembari mengomel.

Perempuan Paruh Baya: “Ih, Abang gimana sik? Tadi kan udah bilang ikut.”

Supir angkot pun menyambuti perkataan seorang perempuan paruh baya yang kini menjadi penumpangnya tersebut dengan santai sembari melajukan angkot kembali.

Supir Angkot: “Saya gak denger tadi, Bu. Ya maap.”

Perempuan Paruh Baya: “Eh, gimana sik si Abang? Capek nih jadinya. bla bla bla…

Supir Angkot: “Iya, khilaf saya, Bu. Maap. :D”

Perempuan Paruh Baya: “Oh, jadi khilaf ya? Iya deh, bulan puasa… Dimaapin deh.”

Apakah ini berarti kalau bulan sedang tidak puasa, perempuan paruh baya tersebut tidak akan memaafkan?

Obrolan Pekan Ini: Salad Or Salat

Tersebutlah pada suatu siang seorang laki-laki duduk di kursi di dalam sebuah rumah makan sembari memegang buku menu. Di sampingnya berdiri seorang perempuan pramuniaga rumah makan tersebut dengan buku catatan kecil dan pulpen di tangannya. Setelah laki-laki itu memesan menu makan utama, tibalah saatnya ia memesan hidangan pencuci mulut.

Laki-laki Pelanggan:
“Ada salad buah nggak, Mbak?”

Perempuan Pramuniaga:
“Wah, maaf, Mas. Salad buahnya lagi kosong, tuh.”

Laki-laki Pelanggan:
“Kalau salad asar, Mbak?”

Perempuan Pramuniaga:
\Diam membisu karena terkejut, sembari tersenyum kecut.\

Terinspirasi dari obrolan yang terjadi pada hari Ahad lalu.