Holol Tanpa R

Hujan deras sekali sejak sore. Gubuk ini pun seakan hampir runtuh.

“Brug! Brug! Brugg!”

Aku tidak bisa tidur. Hatiku gelisah. Oleh suara-suara gemuruh hujan. Oleh suara-suara gaduh dari gesekan pohon-pohon bambu di kebun belakang. Angin bertiup kencang sekali, wahai engkau.

Bodoh sekali. Seharusnya aku tidak langsung kabur. Seharusnya aku sarapan dulu banyak-banyak. Mama baru saja masak nasi goreng tadi. Seharusnya aku menahan diri dulu, makan setidaknya tiga piring nasi goreng dan lima potong telur dadar, minum dua gelas susu, baru kemudian kabur.

Salah Mama juga mengapa tadi aku diajaknya bertengkar sebelum sempat ia menghidangkan masakannya ke meja makan.

Aku kelaparan.

Oh, betapa lagi aku bodoh sekali. Seharusnya aku kabur ke pasar atau warteg, bukannya ke hutan macam begini. Di hutan ini rumput pun tak enak rasanya.

Aku menyesal.

Oh, Mamaku si jahat buruk rupa. Betapa engkau kejam melarangku memakai rokmu. Bukankah engkau punya rok dua lemari? Kalau tidak ingin aku memakai rokmu, setidaknya belikanlah aku satu atau tiga potong saja. Warna merah, warna ungu, dan warna krem. Aku rasa aku takkan menuntutmu lebih daripada itu.

“Kreuuuk! Kreuuuukk!”

Aduh, suara menyeramkan apa pula itu? Aku tidak siap menghadapi hantu dalam keadaan perut lapar begini.

Orang-orang kampung punya cerita menyeramkan tentang gubuk di tepi hutan ini. Dulu pas zaman Jepang, anak gadis pak lurah waktu itu meregang nyawa dengan tragis di sini. Waktu itu, begitu ceritanya, si Mirah baru saja dilamar oleh pemuda tanggung bernama Pola. Lamaran itu ditolak mentah-mentah oleh Pak Lurah karena orang tua Pola adalah musuh bebuyutannya. Padahal si Mirah dan Pola adalah dua sejoli terikat asmara. Maka mereka berdua pun memutuskan hendak mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di gubuk ini. Lanjutkan membaca “Holol Tanpa R”

Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 4

Iseng melihat-lihat Draft Posts. Eh nemu tulisan ini. Tak terasa, sudah lebih dari tiga tahun. Revisi terakhir tulisan ini kulihat tanggal 10 Juli 2008 pukul 16:58.

Sebenarnya dulu sudah punya ide jalan cerita dan pengkhataman kisahnya. Akan tetapi… Ya sudahlah. Berikut ini adalah sebuah tulisan tak-terselesaikan dari rangkaian kisah garing nan lapuk (langsung dari kotak draft tanpa disunting):

===

Ini adalah episode terakhir dari tetralogi kisah “Perjalanan The-Penampakanz Band”. Setelah dua bulan lebih beberapa hari akhirnya penulis menyelesaikannya juga. Untuk itu pertama-tama penulis ingin mengucapkan puji syukur Alhamdulillâh kepada Allâh Subhânahu wata’âla. Tak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, adik-adik, handai taulan. Juga kepada para guru yang telah berhasil mengantarkan penulis hinga menjadi gak-genah writer seperti sekarang ini. Dan yang lebih penting, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pembaca sekalian, para fans The-Penampakanz Band, atas segala cacian dan makiannya yang sungguh menusuk kalbu serta segala sambitan yang ditujukan kepada penulis. Thank you very much. Ateng ngguyu makan tomat. Syukran jiddan. Ahlan wa sahlan. Ilal-liqa’. (^_^)v

Seperti telah dijanjikan dalam ¼ episode sebelumnya, pada episode terakhir ini nantinya akan diceritakan kehidupan pribadi masing-masing personil The-Penampakanz Band, mulai bagaimana karier copetnya FARIJS, kisah cintanya AANK, KRISNAAA dengan sepeda kesayangannya, IRRR dan para babysitter-nya, serta BNGKY dan gitar tuanya. Pada episode ini juga akan dikisahkan awal mula The-Penampakanz Band menampakkan diri di tengah gegap gempita panggung hiburan dunia demitz, bagaimana mereka mulai memasuki dapur rekaman hingga dapur warteg, dst. Jadi tunggu apa lagi, anak muda serta kaum perempuan kudu gabung dan kudu menang! //Yah, kek kampanye salah satu parpol baru bikinan Mister Sys Ente aja. Buru atu Bang Penulis, segera ceritakan kepada kami!// Lanjutkan membaca “Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 4”

Terkecoh Fabel

Fabel adalah cerita atau dongeng yang tokoh utamanya berupa binatang. Apabila cerita fabel kemudian diangkat ke layar lebar, maka tokoh utamanya tersebut dapat disebut sebagai binatang film.

Ketika kecil, banyak sekali kubaca cerita fabel ini. Entah dari majalah anak-anak milik perpustakaan sekolah, sobekan majalah lawas bekas bungkus kacang, maupun dari buku-buku lawas kepunyaan kakak-kakak sepupu. Ada pula dari dongengan ayahku yang memang pintar mendongeng dan suka mengarang dongeng sendiri itu.

Nah, salah satu yang paling favorit adalah kisah Kelinci Cilik yang kubaca dari buku lawas Pelajaran Berbahasa Indonesia milik kakak sepupu. Judulnya adalah Akal Si Kelinci Cilik, yang diambil oleh buku itu dari Majalah Bobo 12/XIII.

Akal Si Kelinci Cilik
Akal Si Kelinci Cilik

Klik untuk melihat kelanjutan kisahnya…

Gadis vs Pemuda: Kado Koi

Alkisah di sebuah negeri antah berantah yang tanahnya gemah ripah loh jinawi namun masih banyak musibah, hiduplah seorang pemuda yang seganteng pangeran. Si Pemuda tidaklah hidup sendirian di negeri itu, karena selain dia hiduplah pula seorang gadis nan elok rupawan bagai tuan puteri di negeri dongeng. Selain mereka, hidup pula para tukang bakso, tukang kerupuk, tukang mi ayam, tukang nasi goreng, tukang sate, dan pengamen jalanan, sehingga mereka berdua tidak pernah kesepian dan kelaparan.

Hatta pada suatu pagi yang cerah, duduklah Sang Gadis sejarak satu meter di samping kanan Si Pemuda pada sebuah bangku di taman. Mereka berdua sedang terhanyut dalam perbincangan mengenai persiapan pesta ulang tahun ibu Sang Gadis.

Sang Gadis: “Udah, beliin itu aja buat kadonya.”

Si Pemuda: “Emangnya ikan koi bisa dipitain gitu ya, Neng?”

Sang Gadis: “Bungkusnya kan bisa, Mas.”

Si Pemuda: “Iya juga, yak. Trus enaknya ntar kertas kadonya yang motif apaan, dong?”

Sang Gadis: “Motifnya sih terserah Mas. Tapi koinya yang warna putih, ya. Ibu pasti heboh tuh.”

Demikianlah sebuah kisah di negeri antah berantah pada pagi hari. Di sini gunung, di sana gunung. Di tengah-tengahnya Pulau Jawa. Yang baca bingung, yang nulis juga bingung. Yang paling ganteng Farijs van Java.

Farijs van Java Gaat Naar de Dierentuin (Deel Twee)

<< Kisah Sebelumnya (Deel Een)

Sekarang mari kita lanjutkan kisah perjalanan Semandadumitz melakukan penampakan di dunia binatang Ragunan.

Pada saat kumpul-kumpul sebelum memasuki “Pusat Primata Schmutzer” itu, tiba-tiba terhidang banyak makanan di antara mereka. Wuih, benar-benar ajaib!

Makanan

(Itadakimasu…)

Ya sudah, Semandadumitz akhirnya memakan makanan tersebut dengan biadab. Sembari makan dan ngumpul-ngumpul, mereka tertawa-tawa tanpa sebab. Biasalah, tabiat para Semandadumitz yang melakukan penampakan.

Tertawa

(Tertawa secara serentak)

Lanjutkan membaca “Farijs van Java Gaat Naar de Dierentuin (Deel Twee)”

Farijs van Java Gaat Naar de Dierentuin (Deel Een)

//Saudara-saudara, tau ga tuh arti judul di atas? Sekadar inpormasi aje ye, judulnye entu pake bahasa Londo alias bahasa Belanda. Artinye kalo menurut kamus Oxford (loh?) yaitu “Faris yang cakep pergi ke kebun binatang”.//

The Penampakanz @ Ragunan

Alkisah di sebuah negeri dongeng, hiduplah segerombolan manusia dari dunia demitz (Semandadumitz). //Glosarium: “Demitz” adalah manusia tak kasatmata yang bisa kasatmata.// Mereka suka sekali nongkrong di dunia saiber untuk sekadar kongkow-kongkow dan saling mencela. //Glosarium: “Saiber” adalah tak kasatmata alias halusinasi alias maya.// Pada suatu ketika Semandadumitz sepakat untuk menampakkan diri, melancong ke dunia binatang. Tepatnya di sebuah daerah yang dikenal dengan nama Ragunan. Semandadumitz pun mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh para demitz agar bisa menampakkan diri ke sana. Dari hasil musyawarah untuk mufakat, tersebutlah syarat-syarat tersebut sebagai berikut:

  1. Memakai batik; //Glosarium: “Batik” adalah kain tradisional aseli dari sebuah negeri nun jauh di sana bernama Endonesiya.//
  2. Memasang tampang cupu; //Glosarium: “Cupu” adalah kependekan dari culun punya.//
  3. Bertingkah aneh bin gila;
  4. Membawa cemilan atawa kudapan. //Glosarium: “Kudapan” adalah sejenis makanan kuda yang berprotein tinggi dan kaya akan serat.//

Dikisahkan bahwa dari Semandadumitz ini terdapat seorang lelaki tampan bernama Farijs van Java. //Glosarium: “Tampan” adalah tempat untuk menyajikan makanan atau minuman, terbuat dari kayu, logam, dsb, ada yang berkaki dan ada yang bertelinga; baki; talam; dulang.// Adapun Farijs van Java merasa bimbang dan gelisah atas ajakan para kawannya sesama Semandadumitz untuk melakukan penampakan. Di hadapannya terdapat empat pilihan: Lanjutkan membaca “Farijs van Java Gaat Naar de Dierentuin (Deel Een)”

Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 3¾

Dalam ¾ episode sebelumnya telah dikisahkan kehidupan karier AANK, BNGKY, dan KRISNAAA sebagai musisi jalanan. Kemudian bergabunglah IRRR ke dalam grup pengamen mereka tersebut. Pada episode kali ini, akan diceritakan bagaimana kelima calon personil The-Penampakanz Band memulai kariernya dari bawah. Bagaimana keempat grup pengamen cikal bakal The-Penampakanz Band yang beranggotakan BNGKY, AANK, KRISNAAA, dan IRRR menjalani hari-harinya. Juga dikisahkan bagaimana FARIJS menjalani kehidupannya di pengungsian. Dalam episode ini juga akan dikisahkan … //Ah, kelamaan nih intronya. Buru atuh, Bang Penulis. Sok masuk ke ceritanya.//

Oke. Sekarang mari kita mulai episode kali ini. Sebelum kita lanjutkan, terlebih dahulu penulis informasikan bahwa ini adalah episode 3¾ dari total 4 episode “Perjalanan The-Penampakanz Band”. Harap pembaca catat bahwa penulis tidak bermaksud ikut-ikutan Bang Andrea Hirata dengan tetralogi “Laskar Pelangi”-nya yang sangat terkenal itu. Penulis memang membuat kisah ini menjadi empat episode karena memang sudah tidak ada ide lagi dalam meneruskan kisah perjalanan mereka. Dan harap pembaca catat juga bahwasanya setelah episode ini masih ada sekitar ¼ episode lagi untuk menggenapkan tetralogi Perjalanan The-Penampakanz Band.

Dalam episode terakhir tersebut nantinya akan diceritakan kehidupan pribadi masing-masing personil The-Penampakanz Band. Mulai bagaimana pertobatan FARIJS, apakah tobat yang sungguh-sungguh. Bagaimana juga kisah percintaan antara AANK dengan ITEMZ. Tentang KRISNAAA dengan sepeda kuntet kesayangannya, apakah akan dipertemukan kembali, tentang…. //Ah, kelamaan! Udah dong. Penonton udah nggak sabar, nih!//

Ya sudah kalau begitu. Akan kita lanjutkan kisah “Perjalanan The-Penampakanz Band” ini, tentunya setelah kita saksikan pesan-pesan berikut ini. //Huuuu! Penonton kecewa! Kembalikan uang kami! Kembalikan uang kami! [nimpuk-nimpukin telor mata sapi ke penulis]// Lanjutkan membaca “Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 3¾”

Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 3

Pada setengah episode sebelumnya, diceritakan bahwa AANK telah terlepas dari keputusasaannya dan bertekad akan menjadi pengamen yang terkenal. Yah, setidaknya itulah yang sekarang ini menjadi obsesinya, menjadi pengamen terkenal. Mengapa tidak sekalian menjadi penyanyi terkenal? Penulis pun tidak bisa menjelaskan. Suka-suka dia, lah. Terserah AANK sendiri, lah. AANK-lah yang paling berhak menentukan jalan hidupnya.

BNGKY-lah yang waktu itu memberikan semangat kepada AANK. BNGKY-lah yang meyakinkan AANK bahwa dirinya bisa menjadi pengamen terkenal. Dengan tepukan-tepukannya ke punggung AANK, BNGKY berusaha membuktikan bahwa dirinya care kepada AANK. AANK pun merasa nyaman akan tepukan-tepukannya itu. Sebenarnya BNGKY tidak tulus melakukannya. BNGKY berbuat demikian tak lain agar AANK menurunkan suku bunga pinjamannya sewaktu membeli tiket masuk Monas sebagaimana diceritakan dalam setengah episode sebelumnya. //Di Jakarta, mana ada nyang gratis!?//

“Ayo BNG. Kita beraksi. Ayo kita mengamen. Kita tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa. Kita tunjukkan pada ITEMZ bahwa inyong bisa jadi artis. Meski hanya sekadar artis dalam bis.”

“Ayo, ANK. Kita segera turun. Kita cari bus yang kosong, trus kita ngamen di dalamnya.”

“Loh, kok bus kosong?”

“Iya, agar kita lebih leluasa mengembangkan bakat bermusik kita.”

“Ah, bilang aja kowe malu, BNG.”

“Yah, ketahuan deh. Iya sih, ambo malu. Emang dikau tidak malu?”

“Sebeneré inyong juga malu kalo musti ngamen di depan khalayak rame.”

Sementara percakapan kedua pemuda tersebut masih berlangsung, KRISNAAA yang sedari tadi mengikuti BNGKY dan AANK kecewa akan keputusan AANK yang tidak jadi bunuh diri.

Krisnaaa di Puncak Monas

Namun demikian, KRISNAAA kemudian mendapatkan gagasan baru. Gagasan untuk bergabung dengan grup pengamen BNGKY dan AANK yang baru saja terbentuk.

“Keknya gw musti gabung ama ni orang bedua. Sebab kata Aa’ Jimmy, apabila ada dua orang bukan mahram berkumpul, yang ketiga adalah setan. Loh, gw nyang jadi setannya, dong. Ah, sebodo teuing. Yang penting gw bisa dapat pekerjaan yang lebih bermartabat dibandingkan menjadi pengemis. Meskipun Ustadz Ucup Manjur sering menganjurkan ama orang-orang untuk bersedekah kepada para pengemis kek gw, tapi Ustadz UYe juga pernah bilang bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan kalo tidak salah, maksud perkataan Ustadz UYe adalah bahwa kita hendaknya mengamen daripada mengemis. Tapi setelah dipikir-pikir, keknya kesimpulanku itu salah deh. Ah, bodo amat. Amat aja ga bodo. Pokoknya gw musti bisa gabung ama ni orang bedua. Gw juga pengen jadi pengamen terkenal! Biar emak gw bangga punya anak kek gw. He he he….”

Sejurus kemudian, KRISNAAA pun menghampiri AANK dan BNGKY.

“Sori nih. Gw dari tadi ga sengaja dengerin obrolan lo lo pade. Lo bedua pade mo bikin grup ngamen, ye? Gimane kalo gw gabung?”

“Anda ingin bergabung dengan grup pengamen kami? Coba tolong sebutkan apa saja kemampuan dan kelebihan Anda.”

“Kelebihan saya antara lain muka yang besar dan lebar serta rata seperti tembok, sehingga tidak akan habis malu saya. Tampang saya juga menyedihkan, sehingga dapat mendatangkan iba dari orang-orang yang menjadi target amenan kita. Saya juga mempunyai suara yang nge-bass. Grup pengamen kita nantinya bisa menjadi grup pengamen yang fenomenal sekaligus pioner dalam hal penggunaan bass sebagai instrumen mengamennya. Sekarang ini, sudah tidak zaman lagi penggunaan drum mini sebagai instrumen mengamen.”

“Selain kelebihan tadi, Anda sepertinya mempunyai kelebihan yang lain, yaitu pintar ngomong dan omong besar. Baiklah, Anda kami terima sebagai karyawan tetap kami. Anda ingin gaji berapa?”

“Sesuai dengan beban kerja saya, saya ingin gaji sebesar sepuluh juta rupiah per bulan. Selain itu, saya ingin fasilitas berupa mobil mewah, rumah dinas, dan laptop.”

“Dasar cah edan! Gemblung! Pengamen kok fasilitasnya sudah seperti anggota DPR saja!”

“Hehe. Sori, bos. Keseringan ngehayal soalnye. Gimane kalo kita betiga masing-masing dapet 30 persen dari penghasilan mengamen?”

“Ah, ambo satuju-duabelas. Tapi jangan lupo kita sebagai warga negara yang baik, kita membayar PPh Pasal 21 sesuai ketentuan yang berlaku.”

“Dan ojo klalen, dua setengah persennya buat zakat penghasilan. Ingat apa kata Pak Ustadz JAIMuddin Emjet, sebagian dari harta kita terdapat harta para fakir-miskin, orang-orang jompo, janda-janda yang tidak mampu, dan anak yatim.”

“Jangan lupe juge buat infak ma sedekah, coy. Ingat ape nyang suka dibilang Ustadz Ucup Manjur tentang dahsyatnya sedekah.”

Begitulah asal-muasal mereka bertiga bergabung membentuk sebuah grup pengamen. Grup pengamen yang merupakan cikal-bakal The-Penampakanz Band. Meski kini mereka mengamen, cita-cita mereka untuk menjadi tenar tak terpatahkan. Walau ada aral melintang, banyak duri bertebaran di muka jalan, ribuan rintangan menghadang, jalanan yang terjal, semangat mereka tak tergoyahkan. Tanpa mereka sadari, sebuah masa depan yang cerah telah menanti mereka di hadapan. Buah manis dari perjuangan pahit yang kini mereka jalani. //Dan kini BNGKY tidak perlu lagi malu tampil mengamen di dalam bus yang ramai, karena sekarang ia didampingi oleh dua sosok makhluk yang lebih memalukan. Pis!//

Bngky, Krisnaaa, dan Aank sewaktu rehat mengamen

AANK, BNGKY, dan KRISNAAA kini menjadi tiga sekawan //Loh, bukannya sekawan itu artinya empat?//. Kemana-mana tak terpisahkan. Bahkan untuk ke toilet pun mereka bersama. Alasannya adalah agar membayar uang kepada penjaga toiletnya cukup untuk ongkos satu orang. “Ini namanya penghematan,” sangkal mereka bertiga membela diri.

Dalam menekuni pekerjaan mengamennya, mereka memegang satu prinsip yaitu “rawe-rawe rantas, malang-malang putung.” Yang artinya kalau tidak salah adalah “korupsi diberantas, pengamen jadi untung.” //Betul tidak ya? Pembaca, betul nggak tuh artinya?// Ketiga pemuda ini rupanya memiliki idealisme yang tinggi. Bahkan lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh para mahasiswa saat ini yang doyannya nge-drugs dan cuma hepi-hepi. Mereka memiliki semangat empat lima enam dalam memberangus tindak pidana korupsi. Mereka bertiga mendukung tindakan-tindakan Bapak Antasari Azhar dalam memusnahkan korupsi di negara kita ini. Karena itu, dalam salah satu session mengamen mereka, diselipkan iklan layanan masyarakat sebagai berikut:

Korupsi… (auw!) meracuni keimanan….
Korupsi… (auw!) merusakkan masa depan….

Korupsi dapat menyebabkan insomnia //bagi pelakunya//, kelaparan //bagi rakyat Indonesia//, kerugian negara, bibir pecah-pecah, dan susah buang air besar.

Korupsi tidak menyebabkan kantuk. Baca aturan pakai. Jika sakit berlanjut, hubungi dokter.

Seperti biasa, pagi-pagi mereka sudah rapi-jali. Setelah mandi dan menggosok gigi, mereka bertiga bergegas ke terminal Blok M untuk memulai aksi mengamennya. Terminal Blok M pagi itu masih lengang. Masih sedikit orang dan kendaraan yang berlalu-lalang. Hasil survei membuktikan bahwa dari seratus orang yang memberikan polling, terdapat 5 orang yang mengaku sebagai penumpang betulan, 18 orang pengamen, 23 pedagang asongan, dan sisanya copet. //Wuih, kok banyakan copetnya, yak?//

Sementara menunggu bus yang ramai penumpang //ye…sekarang dah waras// AANK, BNGKY, dan KRISNAAA memakan sepotong roti untuk sarapan pagi. //Sepotong roti bertiga? Mana kenyang, bo’….// Sedang enak-enaknya menikmati santapan pagi, tiba-tiba tangan KRISNAAA yang sedang memegang roti ditabrak oleh orang bertopeng yang berlari sangat kencang. Secara otomatis rotinya pun terlempar kemudian jatuh tepat di atas eek kucing. Sontak sang KRISNAAA pun mewek, menangis meraung-raung laksana bayi macan yang sakit gigi.

Sementara itu, ada seorang pemuda yang berlari pelan sekali searah dengan larinya orang bertopeng tadi. Seiring dengan gerakannya yang slow motion, pemuda tersebut berteriak dengan pelan sekali, nyaris tak terdengar. Persis seperti ARJUNA saat berperang melawan RAHWANA memperebutkan SHINTA. //Loh, kok campur-campur ceritanya?//

“Jambreeeeet…. Ealah tolong…. Tas kulo dijambreeeeet…. Dasar tukang jambreeeeet…. Yen mlayu mbok yo ojo rikat-rikat…. Alon-alon wae tho yo…. Alon-alon asal klakon, mas….”
<Translation: “Dasar jambret sialan! Kampret! Kutu busuk! Kalo berani, jangan lari! Seenaknya aja ngambil tas orang! Kagak punya tas, ya? Beli sendiri, dong! Dasar babi ngepet! Kutu kupret! Sejuta topan badai! Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu! Kucing dalam karung!”>
//Wah, sepertinya ber-le-bih-han ini tukang penerjemahnya. Ter-la-lu….//

Pemuda yang belakangan diketahui bahwa ia adalah IRRR tersebut rupanya sedang mengejar seseorang yang telah menjambret tas berisi obat panu dagangannya. Karena memang sejak dari leluhurnya menerapkan kaidah “alon-alon asal kelakon”, tak ayal IRRR tak mampu mengejar si penjambret. Ia hanya bisa meratapi nasibnya.

“Ya Alloh, Gusti Pengeran ingkang Mohoagung…. Opo salah kulo dumatheng Panjenengan? Sampung kapirang-pirang kulo dijambret, dicopet, dikepret. Nopo salah kulo, Pengeran??”

Sudah seperti adegan dalam wayang saja melihat tingkah laku IRRR tersebut. Kemudian karena mengetahui bahasa ghaib yang diucapkan oleh IRRR, AANK mengerti keputusasaan yang sedang dialami IRRR. Untuk menghibur hati IRRR, kemudian AANK berkata:

“Wis, tha. Sira aja kayak kuwèk. Sira mustiné istigpar. Astaghfirullohal ajim…. Sira mustiné inspèksi //maksudnya introspeksi//. Gusti Alloh lagi nguji ira. Gusti Alloh tidak bakal menguji hamba-Nya melebihi kemampuan hamba-Nya tersebut. Lâ tahzan. Inna ma’al ‘usri yusrâ…. Jangan bersedih. Sesungguhnya dibalik batu itu ada udang. Eh, salah. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Begitulah nasihat AANK, mengutip apa yang sering didengarnya di pengajian-pengajian sewaktu masih di kampung dulu. Berbakat juga rupanya si AANK menjadi dai.

“Iye, Bro. Yang lalu biarlah berlalu. Ibarat pepatah Sunda mengatakan ‘past gone by gone’. Itu artinye lo kudu minum baygon. Eh, salah ye. Hehe. Ibarat kate orang Betawi ‘pucuk dicinta, ulam tiba’. Tas hilang, rejeki datang. Kalo emang rejeki mah kagak kemane, Bro.”

“Ambo satuju-duabelas. Tumben dikau benar, KRISNAAA. Benar itu, Kisanad. Ibarat orang Minang bilang ‘men sana in korpore sano’. Biarlah tas itu pergi ke sana, dikau ikhlaskan sajo. InsyaAllâh nanti ada gantinyo.”

“Tapi…tapi…. Tapi kulo saiki tidak punya pekerjaan jadinya, é…. Kulo nantinya makan paké apa?”

“Kalo indak punyo sendok dan garpu, makannyo pake tangan sajo. Ato biar ambo sajo yang nyuapin. Bagaimano?”

“Huss! Ngawur baèn! Wis, tha. Sira gabung baèn bareng grup ngamen kita. Piyé?”

“Iye, Bro. Mending ngikut kita aja. Ayo gabung ama kita-kita.”

Begitulah, akhirnya IRRR pun bergabung dengan grup pengamen tersebut. Sekarang personil grup pengamen tersebut genap sudah: Empat.

BERSAMBUNG

===

Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 2½

Pada episodeepisode sebelumnya, telah dikisahkan awal-mula kelima personil The-Penampakanz Band menginjakkan kakinya di Jakarta. FARIJS van Java yang masih tinggal di pengungsian, BNGKY yang sekarang menjadi pengamen jalanan, KRISNAAA yang menjadi tukang minta-minta, IRRR yang menjadi tukang obat, serta AANK yang cintanya kandas di tengah jalan.

Sebagaimana dikisahkan dalam episode sebelumnya, AANK pupus harapan untuk meminang ITEMZ. Selanjutnya ia tidak pulang ke kampungnya, melainkan menetap di Jakarta. Bertambahlah jumlah pengangguran di Jakarta. Bertambahlah pula jumlah gelandangan di ibukota. Semakin sedikitlah jatah oksigen untuk tiap-tiap penduduk Jakarta karena harus berbagi dengan si AANK. Padahal persediaan oksigen di Jakarta sudah semakin terbatas. Ya, mau bagaimana lagi. Lha wong area hijaunya saja sedikit. Belum lagi polusi asap kendaraan bermotor ada di mana-mana. Bisa-bisa oksigen menjadi barang langka dan hampir punah. Kemudian oleh oknum-oknum penimbun sembako, oksigen akan dijadikan komoditas dagang.

Oksigen sangat mungkin akan dipasarkan dalam bentuk dibotolkan sebagaimana halnya dengan air minum. Harganya perbotol dipastikan akan jauh melebihi harga perliter bensin yang sekarang harganya sedang naik-daun. Kemudian salah satu advertising agency akan membuat iklan produk oksigen botolan tersebut:

“Apapun makanannya, nafasnya Oksigen Botol SoSlow.”

Oksigen Botol SoSlow

Lanjut!

Di bawah naungan lembayung senja AANK menyusuri jalanan Tanahabang. Sempat beberapa preman mencoba memalak AANK. Namun para preman tersebut mengurungkan niatnya setelah melihat rona kepedihan di wajah AANK. Dua preman malah sempat mengucurkan air mata melihat keharuan yang teramat sangat pada diri AANK. Salah satu preman bahkan memberikan AANK sejumlah uang, katanya:

“Kasian bener lo, Thong. Gw aje yg preman sedari orok sampe nangis ngeliat kusutnye muke lo. Nyang tabah aje, ye. Jakarta emang kejam. Nih, gw kasih duit sekadar buat jage-jage kali aje preman-preman nyang lain pade cobe-cobe malakin elo. Cup cup cup….”

Lanjutkan membaca “Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 2½”