Perkenalkan

Perkenalkan! Nama saya Seno.
Ketika tulisan ini dipublikasikan usia saya empat bulan kurang beberapa hari. Hari ini saya ingin menceritakan seluk beluk perjalanan hidup saya yang sudah cukup lama ini.

Oke, saya harus jujur. Nama saya di akta adalah Sena. Seperti nama perempuan? Terus kenapa?! Entahlah, barangkali karena Papa dan Mama saya waktu itu menginginkan anak perempuan tetapi ternyata yang lahir laki-laki. Atau barangkali Papa ingin balas dendam karena namanya pun seperti nama perempuan. Tetapi kata Papa saya diberi nama Sena agar lebih Indonesia-wi. Lihat saja di KBBI, adanya lema Sena tidak ada lema Seno. Meski begitu Papa tetap memanggil saya ‘Seno’ agar lebih Jawa-wi.

Nama: Seno, Umur: 4 bulan kurang beberapa hari
Nama: Seno, Umur: 4 bulan kurang beberapa hari

Sudah lihat lema nama saya di KBBI? Berarti sudah tahu, kan, kalau artinya adalah ‘tentara’? Mungkin dengan memberi saya nama itu Papa berharap kalau anaknya ini tangguh seperti tentara, kuat seperti prajurit. Tahu sendiri, kan, waktu lahir berat saya cuma satu kilo lebih lima ratus gram. Ringkih seperti ranting patah yang sudah kering, Papa bilang. Jadilah malam sebelum saya lahir Papa akhirnya semacam mendapatkan ilham untuk memberi saya nama itu.

Jadi tidak benar, ya, kalau ada yang mengatakan bahwa Papa memberi saya nama itu karena waktu saya lahir Papa sedang getol-getolnya menonton OK-JEK di televisi. Atau karena waktu itu sudah bertahun-tahun lamanya Papa menanti lanjutan kisah Pendekar Tanpa Nama dalam seri Nagabumi dari penulis kesukaannya. Lanjutkan membaca “Perkenalkan” →

Inflasi Lebar Lebaran

Adalah sesuatu yang lazim, barangkali, apabila sehabis lebaran (Idulfitri) warung-warung makanan seakan berlomba-lomba menaikkan harga.

hatta, soekarno, buzz lightyear
Hatta, Soekarno dan Buzz Lightyear

Warung nasi goreng langgananku, misalnya, menaikkan harga seporsi nasi goreng ayam dari Rp11.000,00 menjadi Rp13.000,00 (naik 15% lebih). Warung gado-gado, menaikkan harga sebungkus gado-gado dari Rp10.000,00 menjadi Rp12.000,00 atau naik persis 20%.

Belum lagi warung padang yang menaikkan harga sebungkus nasi padang dengan lauk ayam goreng dan terong balado dari Rp13.000,00 menjadi Rp15.000,00. Itu artinya apa, Saudara? Kenaikannya lebih dari 13%!

Lain lagi dengan warteg alias warung tegal. Semua menunya dinaikkan rata-rata Rp1.000,00. Dari yang biasanya aku membeli seporsi nasi bungkus di situ seharga Rp10.000,00, maka sekarang untuk menu yang persis sama aku harus mengeluarkan tambahan uang dua ribu rupiah. Apa hal?!

Warung pecel lele? Sepiring nasi uduk dengan ayam goreng dan lalapan dari yang tadinya Rp12.000,00 menjadi Rp15.000,00! Belum berani saja aku mencoba ke warung mi aceh, barangkali naiknya harga lebih gila lagi mengingat ia pakai daging sapi yang mana pada beberapa hari belakangan daging sapi langka di pasaran, pembatasan impor, harganya melonjak tajam, para pedagangnya mogok, dsb.

Di Pekalongan, tempat kujalani masa kecilku, ada dikenal “harga lebaran”. Yaitu harga makanan memang sengaja dinaikkan berhubung hari raya. Beberapa hari sesudah hari raya, harga kembali normal. Tetapi di Jakarta ini, barangkali hanya di sini ini, harga naik sesudah lebaran adalah sebuah kemutlakan. Ia tidak akan pernah turun.

Tetapi janganlah kelamaan berkeluh kesah. Semangatlah, karena dengan begitu kita akan bekerja lebih giat hingga menaikkan jumlah rupiah yang kita dapat. 😀

Sesal Tiada Gondrong

Manusia itu makhluk visual yang aneh. Kan? Fenomena ini baru-baru ini aku alami, Saudara.

Tentulah kalian sudah tahu dari postingan Can’t Stand Me kalau aku sudah memangkas rambut gondrongku. Pujian pun berdatangan. Tentu sudah banyak yang mengatakan bahwa aku tampan. Ketika masih gondrong kemarin, satu demi satu dari mereka ini yang mengundurkan diri. Akan tetapi demi hilangnya rambut gondrongku ini, malah bertambah lagi orang-orang yang mengutarakan ketampananku itu.

Aku tetaplah aku, bilamana pun rupa rambutku. Kegondrongan tidaklah mengubahku menjadi lebih jahat atau lebih baik. Memang hanya mengubahku menjadi lebih keren sedikit, tetapi itu pun tidak semua orang bersepakat.

Sesal tiada gondrong
Sesal tiada gondrong

Aku menyengaja untuk memperlama masa kegondronganku kemarin agar tercipta citra gondrong di mata masyarakat. Setelah kurasa cukup lama kuendapkan citra tersebut, maka aku pun memutuskan untuk mengakhirinya agar bisa kulihat bagaimana sesungguhnya perilaku manusia visual terhadap perubahan citraku yang drastis ini. Lanjutkan membaca “Sesal Tiada Gondrong” →

Gondrong

Aku sudah pernah menceritakan betapa rambutku ini memiliki kualitas yang bagus di tulisan Teori Kepribadian dan Rambut Chrisye. Dan aku pun sudah pernah memperlihatkan potongan rambutku yang rapi di tulisan Rambut Doraemon. Maka sekarang aku ingin menceritakan kepada kalian bahwa telah beberapa waktu rambutku ini tidak aku potong sehingga menjadi seperti ini:

Rambut Gondrong Ala Ahmad Albar
Rambut Gondrong Ala Ahmad Albar

Sudah banyak orang yang mengeluhkan potongan rambutku yang katanya berantakan ini. Sudah banyak pula yang nyaris muntah hanya dengan menatapnya lama-lama. Sudah banyak yang menyuruhku mencukurnya, bahkan ada yang mengiminginya dengan imbalan tertentu. Akan tetapi aku tetap bertahan. Aku inginkan kebebasan. Aku inginkan kemekaran. Maka, barangkali, rambutku akan bertahan seperti ini setidaknya sampai bulan depan. Semangat! 😀

NB.
Beberapa orang mengatakan rambutku mirip rambut Ahmad Albar, Bang Haji, atau bahkan Giring Nidji. Akan tetapi, aku tetap berkomitmen bahwa aku mirip Mr. Satan!

Mr. Satan
Mister Satan (http://universaldragonball.wikia.com/wiki/Mr._Satan)