Rambut Doraemon

Dikarenakan banyaknya rikues alias permintaan untuk menampilkan foto rambut baruku yang sudah tidak Chrisye lagi, maka dengan malu-malu kucing bangga kupersembahkan foto berikut ini:

Farijsvanjava dan Kantong Doraemon
Farijsvanjava dan Kantong Doraemon

Bagaimana, Saudara? Semakin ganteng, bukan? 😀 Jadilah aku sekarang tidak perlu sisiran lagi. Hwehe.

Siang ini aku dikejutkan akan sebuah amplop cokelat besar di atas meja kerjaku. Tentu saja aku senang tak terkira, karena aku mendapatkan tambahan koleksi berupa dua prangko berikut ini:

View this post on Instagram

Tambah koleksi #prangko #stamp

A post shared by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Isi amplop tersebut tak lain tak bukan ialah tas kecil berbentuk Doraemon sebagaimana kutunjukkan dalam foto paling atas. Bagus sekali, bukan? Jadi di depannya berbentuk serupa perut Doraemon yang berkantong \kantongnya beneran kantong loh ya\ sementara di bagian belakang bergambar kepala Doraemon yang lucu.

Kepada pengirimnya, aku ucapkan terima kasih banyak. Semoga Tuhan membalas amal kebaikanmu. Dan tidak kekanak-kanakan kok mengirim barang semacam ini. Apapun barang pemberian, terlebih bertema Doraemon, tidaklah terlalu kekanak-kanakan dan akan kuterima dengan hati riang.

Batik

Barangkali hari ini hari-hariku penuh dengan batik. Serba batik.

1. Pakai baju batik:

Pulpen Parker Frontier-ku tersangkut di saku kemeja batik. Kalian lihat, kan, ujung klipnya masuk ke dalam jahitan di saku. Ujung anak panah yang menjadi khas pulpen Parker menusuk ke situ.

2. Membasahi map batik dengan tumpahan kopi:

Aku sedang asyik memotong dan menempel kertas motif bunga-bunga di suatu bidang balok tadi pagi. Tak sengaja siku kiriku menyenggol gelas besar penuh kopi panas. Tumpahlah itu kopi. Haha.

3. Ke kota penghasil batik?

Kalau tak ada aral melintang dan gendala menghadang, malam ini aku berangkat ke salah satu kota penghasil batik. Sampai jumpa di sana, Saudara!

Puisi Ketimus

Jadi ceritanya aku sedang menganggut-anggut sendiri, membenarkan bahwa sekarang ide-ide sportif kreatif dalam hal berpuisi sudah banyak terkikis dari otak.

Lantas seorang kawan yang tidak perlu kita sebut namanya dan tunjuk batang hidungnya pun berkata bahwa menulis (puisi) adalah sebentuk cara untuk meluapkan emosi dan perasaan, dan apabila tidak punya emosi serta perasaan lebih baik tidak menulis (puisi) karena hasilnya akan jelek.

Karena pada siang tadi perasaanku adalah lapar dan emosi karena kelaparan, jadilah puisi ini:

View this post on Instagram

Puisi ketimus #poem

A post shared by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Tertulis seribu pesan untukmu
Aku menuliskannya pada daun pisang
Lalu kubungkus dan kukukus
Maka jadilah ketimus

Bagi yang belum tahu makhluk apakah gerangan ketimus itu, silakan penasaran. Seingatku ketimus adalah penganan yang dibungkus oleh daun pisang seperti halnya lemper. Hanya saja ketimus tidak terbuat dari ketan melainkan parutan singkong.

Cara membuatnya aku kira gampang, Saudara. Pertama-tama, carilah terlebih dahulu kebun singkong. Lantas pilih kira-kira mana yang singkongnya sudah matang. Kemudian cabut, ambil singkongnya, bersihkan. Setelah itu kupaslah hingga telanjang. Baru setelah itu singkong bisa diparut menggunakan parutan. Lanjutkan membaca “Puisi Ketimus” →

Pelikano

Jadi Sabtu kemarin itu aku pergi ke sebuah mal. Sebut saja Mall Kelapa Gading. Barangkali memang karena ada di kawasan Kelapa Gading maka mal tersebut diberi nama demikian. Apa yang menjadi tujuanku datang ke situ tidaklah kujumpai. Akan tetapi beruntunglah aku karena ketika aku iseng memasuki toko buku berlogo klip kertas di situ aku menemukan pulpen Pelikan Pelikano ini! Yey!

Pelikan Pelikano di toko alat tulis
Pelikan Pelikano di toko alat tulis

Barangkali aku terkejut karena kupikir tidak akan ada pulpen-pulpen semacam ini di sini (Indonesia). Aku sudah cukup terkejut ketika pergi ke toko alat tulis di Malang beberapa pekan lalu kudapati tinta botol Pelikan 4001 di situ.

Pulpen Pelikan Pelikano yang kutemukan Sabtu kemarin ini barangkali adalah model lama. Karena di situs resminya Pelikan Pelikano tidaklah berbentuk demikian.

Sampai saat ini pulpen inilah yang menjadi pulpen (fountain pen) yang paling murah yang kupunyai. “Cuma” Rp65k. Sudah termasuk 6 tinta “peluru”.

Di toko alat tulis ini aku pun menemukan mata pena berikut:

View this post on Instagram

Mata pena baru. Nikko Pen. G. Made in Japan.

A post shared by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Senangnya akhir pekan lalu…

Bersalah karena Bodoh

Hari ini aku mengenakan kaos berkerah yang kubeli 5 tahun yang lalu. Tidak kekecilan, malah semakin pas saja di badan. Sementara itu aku mengenakan celana panjang yang kubeli persis 5 bulan yang lalu. Celananya kedodoran. Pertanda bahwa aku semakin kurus menuju keadaan tubuhku 5 tahunan lalu.

Dari rumah aku berjalan kaki menuju toko donat langganan yang menjajakan kopi. AKu memesan menu yang seperti biasanya, tetapi kali ini aku tidak mengatakan untuk tidak pakai keju. Setelah duduk di kursi di tempat yang juga seperti biasanya, kuseruput kopinya lalu kumakan roti tumpuknya. Hampir saja aku muntah karena keju di dalamnya. Kupikir aku sudah mulai bisa makan keju, karena seperti yang kusebutkan dalam postingan Bermain dengan Sugesti. Rupa-rupanya masih saja. Aku tak tahu apakah itu berarti teori mengenai bermain dengan sugesti tersebut salah ataukah aku yang masih salah dalam menerapkan teori itu.

Beberapa keadaan di atas mengajarkan aku bahwa tak ada yang abadi betapa pun kehidupan di bumi senantiasa berubah, tetapi ada beberapa hal yang tidak mudah untuk berubah/ diubah. Berat badanku semakin turun, dan dikhawatirkan akan semakin terus turun, mengingat aku akhir-akhir ini seringkali tidak memiliki nafsu makan. Bahkan sekarang ini roti tumpukku tidak kuhabiskan. Bahkan muffin cokelat nan lezat ini pun tidak kusentuh sama sekali.

View this post on Instagram

Choco-chips muffin #food

A post shared by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Barangkali perasaan bersalahlah yang menggerogoti lemak-lemak dalam tubuhku. Barangkali perasaan itulah yang mencuri nafsu makanku. Lanjutkan membaca “Bersalah karena Bodoh” →

Foto Tersisa Malang

Baiklah, Saudara. Akan kuperlihatkan kepada kalian dua buah foto pada hari ini.

Foto pertama kuambil pada suatu pagi dari jendela kamar hotel tempatku menginap di Malang pekan lalu. Indah, bukan?

Pemandangan dari Jendela Kamar Hotel di Malang
Pemandangan dari Jendela Kamar Hotel di Malang

Foto kedua kuambil beberapa saat sebelum aku memasuki pesawat yang akan menerbangkanku kembali ke Jakarta, dari Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Bagus, bukan?

Pemandangan dari Bandara Abdul Rachman Saleh Malang
Pemandangan dari Bandara Abdul Rachman Saleh Malang

Merindu Pulang

Barangkali ini hanya pengalamanku saja, Saudara. Ketika hendak pergi ke suatu tempat, biasanya aku gelisah. Hal ini karena aku akan meninggalkan sesuatu atau sesiapa yang akan kurindukan di kala bepergian. Tetapi dalam suatu waktu aku pun akan merasa gembira dan penuh kegairahan sehingga tidak sabar untuk segera berangkat karena di tempat tujuanku pergi tersebut ada sesuatu atau sesiapa yang sudah kurindukan. Bisa jadi perasaan yang begitu bercampur tersebut membuatku enggan dan malas untuk berkemas.

Kemarin, sesampainya aku di Jakarta setelah enam hari berada di Malang, barangkali karena aku tak punya sesuatu atau sesiapa yang kurindukan di sini, atau barangkali sesuatu atau sesiapa itu tidak pagi atau tidak bisa segera aku jumpai, maka wajarlah jikalau ternyata sesampainya aku di Jakarta sini hatiku hampa.

image

Nalub Amanrup

Purnama di balik dedaunan di Malang
Purnama di balik dedaunan di Malang

Relung Semeru mengintip dari balik semak. Dilihatnya Purnama berpilu. Rona wajahnya memucat dan semakin berjerawat.

Berkatalah Relung Semeru kepada Pohon Angsana di atasnya: “Apatah hal kiranya penyebab Sang Purnama gundah gulana demikian, wahai Angsana?”

Angsana menjawab sembari menyibak-nyibak rambutnya yang tertiup angin: “Kukira adalah kesepian gerangan penyebabnya, duhai Relung Semeru.”

“Bagaimana kesepian, kiranya ia sudah dikelilingi banyak bintang?”

“Kurasa Purnama merindu bidadarinya.”

\Pengennya mau bikin narasi puitis-puitis gitu, kok dapetnya malah dialog beginian. Hadeuh~\

Nuansa malam di Malang saat purnama
Nuansa malam di Malang saat purnama