Dijodohkan Lagi

Semenjak menikah di awal tahun ini, terhitung sudah ada tiga oknum yang berniat menjodohkanku untuk menikah dengan gadis(-gadis) pilihannya. Entahlah, Saudara. Barangkali inilah yang disebut godaan masa awal berumah tangga. Atau barangkali inilah pertanda bahwa aku harus menikah lagi? \Buk! Langsung kena hantam palu godam dari seberang lautan.\ 😀

Seingatku, aku sudah mengabarkan perihal pernikahanku Januari kemarin kepada tiga oknum tadi. Entahlah, barangkali mereka sudah lelah, atau terlalu bersemangat ingin menjadi makcomblang agar diberi rumah di surga kelak, atau memang akunya saja yang kondang dengan tampang jomblo.

Untuk kemungkinan yang terakhir itu, aku memiliki buktinya. Kejadiannya baru saja, yaitu ketika aku belum menulis postingan ini, seorang oknum terakhir memberiku foto-foto seorang gadis kawannya yang katanya siap menikah. Niat si oknum adalah untuk memperkenalkannya denganku dengan harapan kami berjodoh. Kutanyakan kepada si oknum mengapa dia menawariku hal demikian ini. Jawabannya terus saja membuatku geli sekaligus sedih karena dikatakannya bahwa aku susah cari pacar.

Terlepas dari itu, aku berterima kasih kepada ketiga oknum tadi karena telah mempercayaiku untuk mencoba memperkenalkan kawannya ke arah perjodohan. Semoga gadis-gadis itu segera mendapatkan jodoh yang baik. Amin.

Dear Doctor

Yang terhormat dokter,

Bersama tulisan ini saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas jasa Anda selama ini. Saya ingin Anda tahu bahwa usaha Anda dalam menganalisis dan mendiagnosis tubuh saya teramatlah berarti bagi hidup saya. Tanpa Anda, saya hanyalah akan menjadi seorang pasien tak berguna bagi para dukun dan paranormal.

Ada beberapa hal yang sebenarnya ingin saya tanyakan kepada Anda sejak lama. Apakah Anda mempunyai anak gadis? Kalaulah iya, bagaimana kabarnya? Apa yang dilakukannya? Masihkah ia sekolah atau sedang kuliah? Lanjutkan membaca “Dear Doctor”

Gadis vs Pemuda: Kado Koi

Alkisah di sebuah negeri antah berantah yang tanahnya gemah ripah loh jinawi namun masih banyak musibah, hiduplah seorang pemuda yang seganteng pangeran. Si Pemuda tidaklah hidup sendirian di negeri itu, karena selain dia hiduplah pula seorang gadis nan elok rupawan bagai tuan puteri di negeri dongeng. Selain mereka, hidup pula para tukang bakso, tukang kerupuk, tukang mi ayam, tukang nasi goreng, tukang sate, dan pengamen jalanan, sehingga mereka berdua tidak pernah kesepian dan kelaparan.

Hatta pada suatu pagi yang cerah, duduklah Sang Gadis sejarak satu meter di samping kanan Si Pemuda pada sebuah bangku di taman. Mereka berdua sedang terhanyut dalam perbincangan mengenai persiapan pesta ulang tahun ibu Sang Gadis.

Sang Gadis: “Udah, beliin itu aja buat kadonya.”

Si Pemuda: “Emangnya ikan koi bisa dipitain gitu ya, Neng?”

Sang Gadis: “Bungkusnya kan bisa, Mas.”

Si Pemuda: “Iya juga, yak. Trus enaknya ntar kertas kadonya yang motif apaan, dong?”

Sang Gadis: “Motifnya sih terserah Mas. Tapi koinya yang warna putih, ya. Ibu pasti heboh tuh.”

Demikianlah sebuah kisah di negeri antah berantah pada pagi hari. Di sini gunung, di sana gunung. Di tengah-tengahnya Pulau Jawa. Yang baca bingung, yang nulis juga bingung. Yang paling ganteng Farijs van Java.

Gadis vs Pemuda: InsyaAllah Hari Ini

Malam kelam tanpa bintang. Suara dedaunan tertiup angin terdengar sampai ke dalam sebuah kamar. Di situlah berdiam seorang pemuda sedang menekuri secarik kertas. Mulut Sang Pemuda komat-kamit merapal tulisan yang tertera di atasnya.

Hai, Gadis. Ada sesuatu hal serius yang ingin kusampaikan kepadamu. Menyangkut aku, kau, dan masa depan.

Sudah berlangsung sedari lama aku memendam rasa ini. Kupendam rasa ini, dan tak kusampaikan kepadamu. Maka pada kesempatan ini akan kuutarakan kepadamu, bahwa aku telah lama jatuh hati kepadamu, dan aku menghendaki dirimu.

Kupikir sekarang sudah waktunya kau tahu akan hal ini. Bagaimana, Gadis? Sesungguhnya aku bukanlah orang pemaksa dan bukan pula peminta-minta.

Maka jikalau engkau tidak menghendaki, biarkanlah perasaan ini pudar lalu mati. Namun jikalau hal sebaliknyalah yang engkau kehendaki, maka biarkanlah perasaan ini berkembang dalam wadah syar’i.

Mari kita berlari. Aku yakin larimu sanggup aku imbangi. InsyaAllah aku bisa memimpin lantas mengarahkanmu menuju jannah ilahi.

“Semoga besok dapat kulancarkan rencana ini. Kuinginkan segala yang terbaik, ya Allah,” Sang Pemuda berkata dalam hati sebelum kemudian menuju tempat tidur lantas melingkupi tubuhnya dengan selimut bergambar Doraemon kesayangan. Malam itu memang terasa amat dingin.

===

Lain ladang lain belalang, lain kamar lain penghuninya. Maka di dalam sebuah kamar yang dihuni oleh seorang gadis keadaannya begitu terang karena lampu belajar sedang dinyalakan. Si Gadis itu tampak sedang melihat sebuah buku kecil Spongebobs-nya. Itulah buku agenda. Lanjutkan membaca “Gadis vs Pemuda: InsyaAllah Hari Ini”

Gadis vs Pemuda: Gokil

Hujan turun dengan derasnya secara tiba-tiba dari langit kota megapolitan Jakarta Raya pagi ini. Tampaknya memang benar, tanda-tanda musim penghujan datang sudah kian jelas. Seorang pemuda dengan cemas tergambar jelas di wajahnya berdiri di depan sebuah rumah sambil sesekali melihat ke layar ponsel: menengok penunjuk waktu. Dengan cekatan ia menghentikan sebuah taksi yang melintas di depannya. Bergegas sang pemuda menerobos rinai hujan demi taksi berhenti, demi segera berteduh di dalam taksi.

“Ancol, Pak.”

“Hujan-hujan gini kok ke Ancol, Mas?”

“Gak papa, Pak. Ke Sea World.”

“Oh, kalo ke situ mah hujan juga gak papa.”

“Iya. Indoor.”

“Ini mudah-mudahan aja jalan gak banjir, nih.”

“Semoga aja, Pak.”

Sang pemuda membuka sebuah kontak di ponsel Sonia-nya. Sebuah kontak itu agaknya baru beberapa hari tersimpan di dalam ponselnya. Kemudian ia menekan tombol Call. Tak ada jawaban. Kemudian ia ulangi lagi menekan tombol Call. Masih saja tak ada yang mengangkat. Semakin teranglah guratan kecemasan pada wajah sang pemuda. Dan taksi berikut argonya terus melaju….

Ada apa? SMS aja. Hujan. Ga ada payung. Nunggu reda.

Sebuah SMS datang dari kontak itu. Seorang gadis rupanya.

Kau dimana? Aku jemput. Naik taksi.

Sedikit khawatir, sang pemuda meng-SMS si gadis. Kemudian datanglah balasannya:

Gak usah. Terima kasih. Aku bareng busway aja.

Ya sudah, pikir sang pemuda. Sang pemuda sepertinya mangkel. Menurutnya hujan takkan mereda sepanjang hari ini. Meski sedikit gusar, ia berdoa semoga si gadis dapat segera berangkat dan kemudian tiba dengan selamat di tempat mereka akan bertemu kawan-kawan mereka.

Sudah dari jauh hari pertemuan ini direncanakan. Sepasang suami-istri berikut bayinya yang sudah genap berusia setengah tahun mengajak sang pemuda jauh hari sebelumnya untuk berpiknik bersama. Sang pemuda pun berjanji akan ikut serta. Tak dinyana, ternyata keluarga itu juga mengajak si gadis turut serta. Jadilah pertemuan kali ini adalah yang pertama bagi sang pemuda dan si gadis semenjak perseteruan terakhir mereka. Lanjutkan membaca “Gadis vs Pemuda: Gokil”

Ais!

Hujan belakangan ini kembali mendera jalanan Jakarta, seakan-akan tumpah ruah begitu saja setelah kira-kira dua bulan lamanya tertahan di angkasa. Agaknya musim penghujan yang datang terlambat ini telah membawa serta kumpulan uap air dari lautan dimana-mana untuk sekonyong-konyong dikucurkan semua ke atas kota megapolitan ini.

Hujan di bulan November ini agaknya memang perlu diwaspadai karena kehadiran hujan yang serentak di kota-kota sekeliling Jakarta sungguh mungkin akan membawa ancaman banjir kiriman. Beberapa hari belakangan ini hampir tiap malam hujan deras mengguyur sebagian besar wilayah, membawa ancaman datangnya banjir karena sistem saluran air yang belum tertata dengan baik.

Begitu pula yang terjadi pada malam hari ini. Langit malam begitu hitam, tidak saja karena bulan mati, tetapi mega mendung yang sudah sedari sore berkumpul tak jua beranjak pergi, seolah-olah ingin mencurahkan segala air yang dikandungnya sampai habis meski itu berarti akan membutuhkan waktu hingga esok pagi.

Di saat malam kelam lebam tanpa bintang maupun sinar rembulan ini, seorang pemuda mulai menangis. Suara rintik hujan di luaran seolah-olah menelan rintih tangisnya. Kutahu ia bukanlah orang yang dengan gampangnya meneteskan airmata. Ia dibesarkan di dalam lingkungan yang tidak memperbolehkan anak laki-laki manapun membasahi pipinya dengan airmata, bahkan jikalau orangtua terkasihnya meninggal sekalipun. Namun entah mengapa, malam ini begitu gampang airmata pemuda itu meleleh, meski sudah belasan tahun lamanya airmata tak sekalipun merembes ke luar dari matanya. Malahan ia sendiri mengira kantung airmatanya telah kering dengan sendirinya sedari lama.

Apa yang membuat seorang pemuda yang telah lama tidak menangis itu lantas tiba-tiba menangis? Sudah pasti karena perkara yang sedang menimpanya teramatlah berat untuk ia tanggung; suatu perkara yang telah menggoyahkan kekokohan hatinya begitu rupa. Bagaimanapun tegarnya pemuda itu, toh airmatanya keluar juga.

Ternyata pemuda itu sedang menangisi dirinya sendiri, menangisi betapa kelemahan hatinya telah membuat ia sebegitu merana. Ia merasa hatinya tidak mampu memendam cukup dalam sebuah rasa. Rasa apakah gerangan?

Rasa ini telah hinggap di hati sang pemuda cukup lama. Sudah enam tahun lamanya rasa ini mendiami hatinya dan kemudian berkembang. Adalah semacam rasa rindu yang bergelora yang telah tertambat dalam hati sanubarinya itu.

Enam tahun yang lalu pemuda itu berjumpa dengan sesosok gadis belia. Pada perjumpaan pertama dengan gadis itu, sang pemuda begitu terpesona. Dalam kenangnya, gadis itu begitu anggun penuh daya tarik yang memikat. Tak ayal sepertinya kalau ia kemudian jatuh hati kepada si gadis.

Ia mencintai seorang gadis yang hanya pernah ia temui sekali dalam mimpinya itu! Ya, gadis itu hanya muncul dalam mimpinya, muncul dengan begitu saja dengan begitu rupa pada suatu malam saat ia masih duduk di bangku SMA. Kalau hanya dalam mimpi, bukankah gadis itu sebenarnya tidaklah nyata? Bahkan, tidak pantas kiranya kalau sesosok dalam mimpinya itu disebut sebagai seorang gadis. Karena segala sesuatu yang terjadi di dalam mimpi seseorang bukanlah kejadian nyata yang senyata-nyatanya benar-benar terjadi. Pemuda itu pun tahu akan hal ini. Namun toh ia menganggap gadis itu ada pada dunia nyata, hidup entah di belahan bumi bagian mana, dan pasti akan ia jumpai kembali dalam kehidupannya di masa depannya. Kupikir pemuda itu sudah nyaris gila!

Begitulah selama enam tahun sang pemuda menjalani kehidupan sebagaimana biasa. Setelah lulus dari SMA, ia pun melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi, sama seperti halnya teman-temannya yang lain. Setelah menamatkan pendidikannya, ia kemudian bekerja. Tak banyak beda jalan kehidupannya dengan orang-orang kebanyakan. Namun dalam kehidupannya selama enam tahun ini ia masih memendam rasa itu. Dengan penuh sungguh ia berharap menemui si gadis yang ia temui di dalam mimpinya terdahulu. Sebenarnya ia bahkan telah lupa akan rupa gadis itu, namun rasa itu tidak begitu mudah ia lupakan juga. Dengan rasa rindu yang membuncah itu, penuh harap ia berdoa agar dipertemukan “kembali” dengan si gadis pujaan. Atau mungkin lebih tepat bisa disebut sebagai gadis impian, karena si gadis tercipta dalam mimpinya.

Meski telah lupa akan rupa gadis impian itu, sang pemuda takkan pernah lupa akan namanya. Dalam mimpinya waktu itu, ia berulang kali memanggil-manggil si gadis: “Ais! Ais!”

Gadis vs Pemuda: Sebal-Sebal Sambal

Seharian ini sang_pemuda terlihat gusar. Jantungnya berdegup tak beraturan. Duduk tak nyaman, makan pun tak kenyang. Ada apakah gerangan?

sang_pemuda: “Gadis…”

si_gadis: “Apa?”

sang_pemuda: “Gimana kerja di situ?”

si_gadis: “Bosen.”

sang_pemuda: “Bosen gak ada kerja?”

Dua puluh menit pun berlalu.

sang_pemuda: “Bosen juga, nih.”

Sepuluh menit kemudian…

sang_pemuda: “Gadis…”

si_gadis: “Apa?”

sang_pemuda: “Kenapa kau hapus aku dari Bukumuka-mu?”

si_gadis: “Kenapa emangnya?”

sang_pemuda: “Terkejut.”

si_gadis: “Lha, bukannya memang sudah ada insting?”

sang_pemuda: “Insting apa?”

si_gadis: “Di-delete dari Mukabuku.”

sang_pemuda: “Padahal kan aku pengen nge-delete duluan.”

si_gadis: “Ya udah.”

sang_pemuda: “Ulangi. Add dulu, trus nanti aku hapus kau.”

Setelah lima menit berlalu…

sang_pemuda: “Emang kau sebel banget sama aku, ya?”

si_gadis: “Iya.”

sang_pemuda: “Gimana biar kau gak sebel ma aku lagi?”

si_gadis: “Setiap aku berusaha untuk gak sebel, kau buat aku tambah sebel lagi.”

sang_pemuda: “O gitu? Terus gimana biar benar-benar gak sebel lagi?”

si_gadis: “Berubah aja, operasi plastik, berubah kepribadian!”

sang_pemuda: “Berubah jadi apa?”

si_gadis: “Jangan jadi sang_pemuda!”

sang_pemuda: “Kan gak boleh, dosa.”

si_gadis: “Ya udah, berarti gak ada caranya.”

sang_pemuda: “Sekarang aku kan udah jadi sang_pria, Dis.”

Tiga puluh menit pun berlalu setelah itu.

sang_pemuda: “Gadis, ayo berusaha lagi. Berusaha buat gak sebel denganku lagi. Ayolah!”

sang_pemuda: “Aku juga akan berusaha gak buat kau sebel lagi. Mari kita berusaha bersama.”

Sepuluh menit kemudian…

sang_pemuda: “Gadis…”

si_gadis: “Ya?”

sang_pemuda: “Ayo mari kita berusaha. Please!”

si_gadis: “Apaan?”

si_gadis: “Aku gak suka orang yang banyak bicara. Bla bla bla. Apalagi gak ada yang penting!

sang_pemuda: “Iyadeh, gak banyak bicara.”

si_gadis: “Gak suka dinasehatin terus. Gak suka!”

sang_pemuda: “Kau juga, jangan banyak bicara, apalagi gak penting. Kau nasehati, mustinya introspeksi juga.”

si_gadis: “Ya udah terserah lo!”

sang_pemuda: “Picik! Pas mo berusaha ga sebel ma kau, eh kau bikin nambah sebel.”

si_gadis: “Ya udah terserah lo aja!”

sang_pemuda: “Perasaan aku pernah bilang gitu ke kamu. Kenapa kau niruin?”

sang_pemuda: “Ah, kenapa sih kita gak bisa akur?”

Sebulan berlalu setelah kejadian itu. Kini sang_pemuda pun sadar. Bahwa dirinya sendirilah yang menyebalkan. Bahwa mereka berdua benar-benar sebal-sebal sambal!

===

Episode-episode yang lalu:

Gadis vs Pemuda: Kanibal

Dari balik jendela sebuah kamar terlihat purnama yang indah bertengger di langit malam nan cerah. Malam begitu hening hingga bunyi-bunyi jangkrik terdengar sampai ke dalam kamar. Di kamar tersebut terdapatlah seorang pemuda sedang berbaring sembari memegang sebuah ponsel. Ah, hawa Pekalongan yang sejuk memang sungguh melenakan.

sang_pemuda: meoong

si gadis: moo

sang_pemuda: lagi dimana? di rumah?

si_gadis: iya, kak. ga di rumah sih. di rumah temennya ibu
si_gadis: udah bunuh berapa orang, kak?

sang_pemuda: hmm? dua. ni mau tiga.

si_gadis: besar-besar, ga? nanti aku yang masakin, ya

sang_pemuda: boleh.

si_gadis: enaknya dimasak apa, ya?

sang_pemuda: mmm… digoreng ato disate juga boleh

si_gadis: oke
si_gadis: eh, kak. perjalananku mudik seru banget!

sang_pemuda: seru? tapi ga pake jatoh, kan?

si_gadis: mau denger, ga?

sang_pemuda: mau

si_gadis: perhatiin, ya

sang_pemuda: oke

si_gadis: tangannya di meja, pandangan ke depan

sang_pemuda: baik, bu guru

si_gadis: dimulai dengan aku mengorbankan 1,25% TC (PSW //pulang sebelum waktunya//)
si_gadis: tujuan, terminal pulogadung

sang_pemuda: terus? Lanjutkan membaca “Gadis vs Pemuda: Kanibal”

Gadis vs Pemuda: Kentut Nakal

Malam telah tiba. Lapar pun menyapa. Di sebuah restoran seorang gadis dan seorang pemuda terlihat sedang bersantap bersama.

Gadis: “Film tadi menarik sekali, ya.”
Pemuda: “Iya, benar. Bagus.”
Gadis: (Sekonyong-konyong) “Kau kentut?”
Pemuda: “Tidak. Kau mungkin yang kentut.”
Gadis: “Bukan. Karena kentutku tak seperti ini.”
Pemuda: (Tersontak) “Apa? Memang bagaimana kentutmu?”
Gadis: “Karena kentutku indah.”
Pemuda: “Hah? Kentut indah bagaimana?”
Gadis: “Seperti pelangi….”
Pemuda: “Tak ada kentut seperti itu.”
Gadis: “Atau seperti burung cendrawasih.”
Pemuda: (Mulai kesal) “Kentutmu itu bukan dongeng. Kentut macam apa itu?”
Gadis: (Menyentak) “Hei! Bisakah kita berhenti membahas soal kentut saat makan malam?”
Pemuda: “Kau sendiri yang memulai topik itu.”
Gadis: (Berdiri sambil tetap memegang pisau dan garpu) “Aku tidak memulainya!”
Pemuda: (Ikut berdiri) “Kau tadi banyak mengatakan kentut!”
Gadis & Pemuda: (Saling memelotot, kemudian melihat ke belakang, menyapu-pandang orang-orang di restoran yang tercengang melihat pertengkaran mereka)
Gadis & Pemuda: (Merasa malu, kemudian duduk kembali, melanjutkan makan)
Gadis: (Membetulkan kain)
Pemuda: (Minum)
Gadis: “Menjengkelkan. Ternyata kau sangat egois!”
Pemuda: “Apa? Apa?? Apa maksudnya??”
Gadis: (Melotot) “Apa?”
Pemuda: “Menjengkelkan sekali. Seakan ada jerapah yang mengatakan kalau leherku panjang.”
Gadis: “Apa maksudmu?”
Pemuda: “Atau gajah yang mengatakan hidungku panjang.”
Gadis: (?)
Pemuda: “Atau gorila yang mengatakan kalau aku kuat.”
Gadis: (Mengacungkan pisau) “Kau berani?!”
Pemuda: (Menodongkan garpu) “Siapa takut!”
Gadis: (Berdiri sambil tetap mengacungkan pisau) “Kau mau mati?!”
Pemuda: (Berdiri) “Kalau kau mau membunuhku, lakukan saja!”
Gadis: “Akan kubunuh kau!”
Pemuda: “Bunuh saja!”
(Hening sejenak)
Gadis & Pemuda: (Memandang ke sekeliling)
(Pramusaji menjatuhkan nampan berisi gelas: “Pyar!”)
(Semua terpaku)
Gadis & Pemuda: (Kembali duduk)
Gadis: (Melanjutkan makan) “Sungguh menyebalkan!”
Pemuda: (Memandang si Gadis kemudian tersenyum. Bukannya marah tapi malah terlihat bahagia. Bahagia melihat si Gadis kembali lagi seperti sedia kala, tidak sedih lagi.)

//Ryokiteki no Kanojo!//

v(^_^)

===

Lihat juga: