Kawan Berjalan: A Self Reflection

Alangkah beruntungnya mereka yang menemukan kawan berjalan yang panjang langkahnya sama. Lebih beruntung lagi apabila langkah keduanya seirama.

Postingan yang kutulis pada 30 November 2014 di atas adalah yang paling berkesan karena barangkali bisa menjadi refleksi atas segala perasaan hati dan pemikiranku selama setahun belakangan ini. Memanglah benar betapa susah mendapatkan kawan berjalan yang semacam itu. Dengan cara yang keras/ susah kusadari hal demikian; memang benar pula bahwa kita baru akan menyadari arti pentingnya keberadaan seseorang bagi kita setelah kita kehilangan dia.

Tadi malam aku menonton lagi film “Doraemon: Stand By Me” untuk kedua kalinya. Lalu kusadari kembali akan satu hal: bahwa barangkali aku seperti Nobita, yang baik sadar maupun tak sadar menyabotase diri sendiri karena beranggapan bahwa seseorang bisa jadi akan lebih baik dan bahagia ketika kita tidak bersamanya. Rasa-rasanya aku ingin menangis pada saat adegan itu, kawan, tetapi…

♪ Malu sama kucing.. ♪ Meong ♪ meong ♪ meoong.. ♪

Andai saja sudah sejak lama aku mengikuti serial Modern Family, barangkali kutipan dari salah satu episodenya bisa membuatku bertindak lain: Lanjutkan membaca “Kawan Berjalan: A Self Reflection”

Anomali

Di dunia ini ada banyak makhluk aneh, yang karena keanehannya, maka terciptalah istilah anomali. Coba mari kita renungkan:
Ayam adalah omnivora, karena mereka bisa menyantap segala makanan, mulai butiran beras, daun pisang, pasir, cacing, bahkan daging bangsanya sendiri. Manusia, adalah pula omnivora, sama seperti halnya ayam. Kita bisa menyantap butiran beras, daun pisang, pasir, cacing, dan bahkan beraneka rupa kue basah. Tetapi manusia yang menyantap daging manusia lainnya dikatakan sebagai sebuah anomali. Manusia semacam itu akan dicap sebagai kanibal yang jahat dan tidak berperikemanusiaan. Lazimnya memang begitu.

Di era pemanasan global ini ada pula ayam yang beranomali dengan menjadi herbivora tulen. Mereka hanya menyantap biji-bijian, dedaunan, dan sesekali kerikil atau pasir. Tetapi begitupun tetap digolongkan sebagai herbivora, karena mereka tidak makan daging. Ayam inilah cikal bakal dari apa yang sekarang disebut sebagai ayam organik. Ayam yang semacam ini konon dihargai lebih tinggi di kalangan manusia dibandingkan dengan ayam-ayam “normal”. Tetapi sempat berpikirkah kita, para manusia, bahwa ayam anomali ini dicap sebagai golongan aneh dan dijauhi di kalangan ayam itu sendiri?

Tentu kita tidak menampik kenyataan bahwa fenomena semacam ini pun ada di kalangan manusia. Semakin banyak saja manusia yang organik semacam itu. Mereka hanya mau menyantap produk-produk nabati yang suci. Bukankah ini pula sebuah anomali? Tetapi khusus anomali yang ini, entah mengapa kita para manusia menganggap mereka yang herbivora organik ini jauh lebih terhormat dibandingkan dengan manusia kanibal. Lanjutkan membaca “Anomali”

Bermain dengan Sugesti

Aku pikir sudah banyak orang yang menyatakan bahwa sembuhnya seseorang dari suatu penyakit pada hakikatnya hanyalah sebuah permainan sugesti. Walaupun sudah diobati segala macam rupa, apabila si sakit tidak tersugesti atau menyugesti dirinya sendiri untuk segera sembuh dari penyakitnya, kecil sekali kemungkinan untuk si sakit ini sembuh.

Ketidakdoyanan seseorang akan suatu makanan barangkali pula demikian. Ia tergolong sebagai permainan sugesti. Tentu kalian sudah pernah kuberi tahu bahwa aku terkejut sekali kala mudik lebaran kemarin tatkala aku diberi tahu bahwa tatkala masih kecil aku begitu suka dengan keju. Maka aku pun paham bahwa “bahwa” dan “tatkala” terkadang memang mengganggu.

Bermain dengan Sugesti
Bermain dengan Sugesti

Aku pun terheran-heran menjalani sebuah kenyataan bahwa ketika aku sudah beranjak tua dewasa begini aku lupa akan kesukaanku akan keju dan malah beralih tidak menyukainya. Maka aku pun kembali bermain dengan sugesti, yaitu bahwa mulai dari sekarang aku akan, kalaupun tidak bisa kembali suka, setidaknya bisa makan keju.

Asing

Sekitar dua hari lalu aku pernah berkicau demikian:

غرباء و لغير الله لا نحني الجباه
غرباء و ارتضيناها شعارا في الحياة

Lagu ini barangkali terinspirasi oleh sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang seingatku mengatakan bahwa Islam pada mulanya datang sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali menjadi asing seperti kedatangannya itu.

Entah hadis ini ada kaitannya dengan paham anti-mainstream yang belakangan ini sering digalakkan oleh para generasi muda ataukah tidak ada kaitannya sama sekali. Yang jelas aku tidak ingin membicarakan dua hal itu, Saudara. Sudah cukuplah para pakar di bidangnya mengupasnya secara tuntas.

Aku hanya ingin berujar bahwa pada mulanya apabila dua orang insan bertemu, keduanya sama-sama dalam keadaan asing. Kemudian mereka mengenal satu dengan lainnya sehingga sirnalah keasingan di antara mereka. Apabila keduanya kemudian berpisah, tidaklah keduanya akan menjadi asing sebagaimana mulanya. Karena sesungguhnya manusia adalah makhluk pengenang dan makhluk perasa.

Tentu saja semua itu akan berbeda hukumnya manakala satu atau keduanya menderita insomnia amnesia. 😀

Lontong Helep

S.O.S.
S.O.S.

SOS itu bukan Selamatkan Orang Susah, melainkan pengaksaraan sandi.

Dalam kehidupan, kita dapat belajar banyak dengan mengamati hal-hal di sekeliling kita. Kita tahu bagaimana tukang cendol meramu cendol pesanan kita dengan melihatnya mencentongi santan, kinco, dan sebagainya.

Maka sedikit banyak aku mempelajari hal ini. Bahwa orang yang tadinya susah kemudian sudah tidak susah memiliki kecenderungan tinggi untuk membantu kawannya yang masih dalam tahap susah.

Begitulah, Saudara, tidak banyak orang yang susah membantu kawannya yang susah pula. Tidak banyak orang bujang yang membantu mengentaskan kawannya dari kebujangan.

TODO: Buy, Watch?

Dari The Take Out-nya saluran Sony Xperia, aku jadi tahu bahwa tahun ini akan diluncurkan film terbarunya Sandra Bullock. Aku pun jadi tahu bahwa tahun ini akan ada film terbarunya George Clooney. Aku pun jadi tahu bahwa tahun ini akan ada film mengenai luar angkasa. Aku pun jadi tahu bahwa tahun ini akan ada film mengenai astronot!

Gravity!

Jadi katanya, si Sandra dan George, karena kecelakaan, melayang-layang di luar angkasa. Mengenakan pakaian astronot, tentu saja.

Aku suka Sandra Bullock. Aku suka film tentang astronot. Tetapi, apakah aku akan suka dengan film Gravity ini? Karena aku lihat, terlalu banyak kegelapan luar angkasa yang ditampilkan. \Oke, mulai kemarin lusa aku sudah menggunakan kata “yang” kembali. Rekor terhenti.\

Apabila tadi kukatakan kegelapan, yang kumaksudkan adalah kegelapan, bukan kejahatan atau lainnya. Banyak orang katanya ingin bepergian ke luar angkasa. Apa bagusnya di sana? Terlalu banyak kegelapan yang akan tampak. Terlalu seram. Terlebih, tak ada udara.

Kalian bagaimana? Ingin ikut bepergian ke sana? Dalam rangka apa?

Yang jelas, aku ingin sekali menonton film ini. Siapa mau ikut? Lanjutkan membaca “TODO: Buy, Watch?”

Iklan Sesat atau Iklan Tidak Ajek?

Tadi pagi aku mendapatkan sebuah SMS, Saudara. Dari operator selular langgananku. Apa hal? Ia mempromosikan programnya, yaitu program tukar-tambah ponsel lama dengan ponsel baru, kemudian disertakan tautan ke situs resminya untuk informasi lebih lanjut.

Setelah kubuka tautan tersebut, ternyata angka Rupiahnya berbeda antara di situs dengan di SMS. Bagaimana bisa? Iklan sesatkah atau memang tidak ajek dalam mempromosikan sesuatu?

Lesehan Meja Makan

Barangkali sudah semenjak remaja \sekarang aku sudah tua\ aku memikirkan bagaimana mengoptimalkan ruang makan di rumah sempit agar bisa dihuni oleh meja makan tetapi dapat pula digunakan untuk bersantap secara lesehan. Apakah kalian juga memikirkan hal ini, Saudara?

Pemikiran sejak lama ini ternyata menemui pencerahannya ketika aku beranjak duha. Jadi aku memikirkan sebuah panggung dan metode lipat. Secara sederhana atas panggung difungsikan sebagai tempat lesehan dan penyimpan meja. Meja dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dilipat menjadi lantai lesehan dan dapat diangkat menjadi meja makan. Bangkunya bisa berupa lantai panggung (tak bergerak), dengan demikian panggungnya harus tinggi. Bisa juga bangku dan meja menyatu dengan mekanisme sedemikian-rupa-sehingga itu tadi.

Kalian paham maksudku? Kalau ada waktu, barangkali aku bisa mengunggah gambar rancangan kasarnya di sini. Sekian. Selamat mamam!

Ngendat

Malam tak lagi purnama. Angin pesisir pun hijrah dari kota. Aku duduk seorang diri di sebuah bangku peron. Pengeras suara stasiun mempermaklumkan keterlambatan datangnya kereta apiku. Dalam keadaan demikian telingaku menyimak senandung radio:

Telah putus cinta kini patah hati ♪
Mau bunuh diri di rel kereta api ♫

\Haha! Ha yo kok bisa pas begitu, ya? Lagi nyawang rel, eladalah lagunya beginian.\

Itulah Rabu malam kemarin, Saudara, kelakuanku ketika hendak beranjak dari tanah kelahiran kembali ke Jakarta.

Kalau disimak-simak, ternyata nada lagunya Jaja Miharja berjudul Putus Cinta tadi mirip dengan lagu zaman kanak-kanakku dulu:

Aduh duh, aduh duh, sakit sekali ♪
Kesandung, kesandung, kesandung batu ♫

Kalian tahu lagu itu?

Ngendat. Artinya bunuh diri, Saudara. Pertama kali tahu kata ini ketika masih SMP, kalau tak salah ingat. “Ngendat” waktu itu adalah judul sebuah cerpen di Majalah Krida. Barangkali karena anggota KORPRI, Bapakku berlangganan majalah ini. Tiap kali beliau pulang kantor bawa majalah ini, langsung kubaca-baca. Pas itu kan lagi zaman-zamannya krismon. Jadi semua isinya hampir bersinggungan dengan krisis moneter itu. Ya beritanya, ya komik Kang Dakri-nya, ya cerpennya. Lanjutkan membaca “Ngendat”