Kawan Berjalan: A Self Reflection

Alangkah beruntungnya mereka yang menemukan kawan berjalan yang panjang langkahnya sama. Lebih beruntung lagi apabila langkah keduanya seirama.

Postingan yang kutulis pada 30 November 2014 di atas adalah yang paling berkesan karena barangkali bisa menjadi refleksi atas segala perasaan hati dan pemikiranku selama setahun belakangan ini. Memanglah benar betapa susah mendapatkan kawan berjalan yang semacam itu. Dengan cara yang keras/ susah kusadari hal demikian; memang benar pula bahwa kita baru akan menyadari arti pentingnya keberadaan seseorang bagi kita setelah kita kehilangan dia.

Tadi malam aku menonton lagi film “Doraemon: Stand By Me” untuk kedua kalinya. Lalu kusadari kembali akan satu hal: bahwa barangkali aku seperti Nobita, yang baik sadar maupun tak sadar menyabotase diri sendiri karena beranggapan bahwa seseorang bisa jadi akan lebih baik dan bahagia ketika kita tidak bersamanya. Rasa-rasanya aku ingin menangis pada saat adegan itu, kawan, tetapi…

♪ Malu sama kucing.. ♪ Meong ♪ meong ♪ meoong.. ♪

Andai saja sudah sejak lama aku mengikuti serial Modern Family, barangkali kutipan dari salah satu episodenya bisa membuatku bertindak lain: Lanjutkan membaca “Kawan Berjalan: A Self Reflection”

Purnama Ramadan

Kalian tahu kan kalau malam ini sudah mulai masuk purnama? Itu pertanda apa, Saudara? Pertanda Ramadan sudah hampir setengah jalan. Yah, tak terasa kan? Berasa kurang saja rasanya.

Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, apabila malam ‘lah purnama, kusempatkan memandang ke langit kalau tidak mendung apalagi hujan. Kupuaskan menatap indahnya bulan yang merupakan ratu malam, sambil menanti-nanti jadwal turunnya para bidadari khayangan turun ke bumi untuk sekadar mandi.

Kalau kita cermati betul-betul, bulan tidaklah memancarkan cahayanya sendiri. Ia mengambil sedikit saja sinar matari untuk kemudiannya dipendarkannya demi menerangi bumi. Barangkali Sang Pencipta sengaja menciptakan malam di bumi agar manusia mengambil contoh darinya: bahwa bermanfaat tidaklah harus dengan berkreasi melainkan apabila tak mampu dapat pula dengan hanya meneruskan kreasi yang dibuat oleh makhluk lainnya kepada sesama.

Barangkali contoh ini pula yang ditiru oleh para penyalur berita baik itu pembangun orang sahur hingga penyiar berita di radio. Meskipun barangkali banyak orang yang lantas latah menjadi bulan yang memantulkan sinar penyebab gosong badan, antara lain dengan secara sembarangan meneruskan berita hoax yang kurang dapat dipercaya tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Dengan mengambil contoh bulan ini, aku kemudian berkeinginan membuat rambu-rambu petunjuk jalan ke arah danau atau sendang berada agar para bidadari khayangan ini tidak kesasar untuk ke sana dalam rangka mandi. Ayo, siapa yang ikut ke dalam barisanku? 😀

Rumah Pohon

Sarang Lebah
Sarang Lebah

Waktu SD, gara-gara keseringan nonton film Barat, aku jadi ingin memiliki rumah pohon. Malah dulu pernah membuat desain rumah pohon yang rencananya akan dibangun di atas pohon jambu air depan rumah.

Eh, gambar tinggallah gambar. Ternyata membuat rumah pohon tidak semudah ngupil pakai jempol. Membuat rumah pohon itu harus memperhitungkan pula kekokohan pohon yang akan menopang rumah pohon. Harus pula memperhitungkan kekuatan hembusan angin.

Demikian pula dengan kondisi tanah tempat tumbuh pohon, apakah sudah stabil betul dan bebas dari gempa atau tidak. Tentu saja harus pula mempertimbangkan mengenai pengurusan IMB-nya. Jangan sampai nanti sudah bersusah payah membangun rumah pohon, eh pohonnya digusur karena tidak memiliki akta resmi.

Betapa hebatnya lebah atau tawon yang dapat membuat sarang yang hanya menempel di ranting pohon. Subhanallah!

Alasan

Topik PostADay hari ini adalah:

Do you believe everything happens for a reason? Why or why not?

Sejak kecil saya percaya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki maksud dan tujuan. Tuhan tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Dia menciptakan seisi alam ini untuk manusia.

Pernah ada kawan yang bertanya tentang mengapa Tuhan menciptakan nyamuk yang mengganggu tidur dan membuat gatal dan bentol-bentol. Dengan pelan saya menjawab:

“Justru karena itu. Karena nyamuk bikin gatel dan bentol, gangguin orang itu makanya ia diciptakan. Agar orang membuat acun nyamuk. Menyerap banyak tenaga kerja. Dan kamu keliru kalau gunanya cuma itu. Kamu tahu kan ada nyamuk penyebar penyakit? Ada malaria, demam berdarah. Bisa jadi Tuhan nyiptain nyamuk sebagai salah satu alat-Nya menyebarkan wabah, menghardik kaum-kaum yang lalai akan nikmat-Nya. Tanpa adanya penyakit, mana mungkin kita bisa bilang kalau kita sehat. Bukan cuma sekadar itu juga. Masih banyak kegunaan-kegunaan lain. Misalnya membantu penyerbukan bunga, dan lain-lain. Masih ingat film Jurasic Park kan? Nah, semacam itulah. Oh ya, ada lagi gunanya nyamuk. biar aku bisa ngegaplok kamu kayak gini….”

Jawaban saya kuakhiri dengan bunyi telapak tangan saya menabrak pipinya. Di sela-sela kulit kami yang menempel itu terdapat mayat seekor nyamuk tak berdosa.

===

Saya juga percaya akan siklus sebab-akibat. Ada asap ada api. Adanya rasa lapar karena kita belum makan. Sudah makan tapi masih lapar? Oh itu bisa jadi karena kita makannya sedikit. Sudah makan banyak tapi masih lapar juga? Oh, dasar gemblung! Perut karet! 😀

Para ilmuwan katanya sedang mencoba membuat obat antimati. Secara teori manusia tidak akan mati kalau sebab-sebab kematiannya dihilangkan. Banyak orang mati karena organ vitalnya menua. Dicarilah obat antipenuaan. Banyak orang mati karena kecelakan lalu lintas. Dicarilah sistem dan alat transportasi yang antikecelakaan. Banyak orang yang mati karena perang. Dicarilah solusi-solusi untuk meredam pertikaian dan memakmurkan perdamaian.

Semua orang mati karena sudah menjadi ketetapan Tuhan. Ya sudah, terima saja. 😀

Kupu-kupuku yang Cupu

Sayap Kupu-kupu
Kupu-kupu di Taman Kantor (matadrjt.wordpress.com)

 

Pada suatu senja, tertangkap oleh lensa mataku seekor kupu-kupu yang tengah meregang nyawa. Usianya yang nyaris tiga pekan itu tidaklah lagi belia. Bertengger diam di dedaunan ia pun siap ditelan zaman.

Kupu-kupu itu tidaklah berduka. Karena ia tahu, telur-telur yang ia tanam di sela-sela dedaunan itu akan dapat meneruskan cita-citanya. Sebuah cita-cita nan mulia: menyemai bunga-bunga.

Darinya aku kemudian beroleh pelajaran. Kupu-kupu bersayap indah itu berasal dari ulat yang menjijikan. Namun berkat kesabaran memikul kehina-dinaannya, ulat pun bisa berubah menjadi makhluk yang memesona. Atas upayanya berpuasa pulalah ia dapat mengepak-kepakkan sayap-sayap eloknya untuk kemudian terbang mengitari taman, menyemai bunga-bunga.

Hanya sekejap sang kupu-kupu memiliki bentuk indahnya. Sekejap itu pulalah ia melakukan pekerjaan mulianya. Ia kemudian menemui ajal dalam bentuknya yang paling sempurna.

Akankah kita demikian nanti?

v(^_^)

Mengatasi Kesedihan

Berikut ini kutipan artikel dari koran pagi ini:

BELAJAR DARI AL KINDI
Lina M.
( dalam Rubrik HIKMAH harian REPUBLIKA edisi Jumat, 8 Agustus 2008 )

Dalam buku kecilnya yang berjudul Fi Al Hilah li Daf’i Al Ahzan (Kiat Melawan Kesedihan), Al Kindi mendefinisikan kesedihan sebagai gangguan psikis (neurosis) yang terjadi karena kehilangan hal-hal yang dicintai dan sangat diinginkan. Orang yang menjadikan kecintaan dan keinginan yang bersifat indriawi, maka ia akan menjadi sedih jika kecintaan dan keinginan yang bersifat indriawi itu hancur, hilang, atau musnah. Termasuk dalam hal itu adalah kecintaan akan kekasih, orang tua, anak, keluarga, warisan, harta benda, jabatan, dan sebagainya.

Manusia akan selalu mengalami kehilangan sesuatu yang dicintainya. Oleh karena itu, kita tidak boleh bersedih karena kehilangan sesuatu atau kehilangan yang kita cintai. Sebaliknya, kita harus membiasakan diri dengan kebiasaan yang mulia dan rela terhadap segala keadaan agar selalu bahagia.

Karena kesedihan adalah gangguan psikis, maka kita harus mencegah gangguan psikis ini sebagaimana kita mencegah gangguan fisik. Menurut Al Kindi, menyembuhkan gangguan psikis lebih penting karena kita memiliki jiwa, sedangkan fisik hanyalah alat bagi jiwa. Tindakan fisik menjadi suci karena tindakan jiwa. Maka, intinya lebih baik memperbaiki jati diri kita dibanding memperbaiki alat (fisik) kita.

Kemudian, ia mengatakan, “Kita harus sabar dalam memperbaiki diri melebihi kesabaran kita dalam menyembuhkan gangguan fisik.” Apalagi, penyembuhan jiwa lebih ringan dari segi biaya dan ketidaknyamanan dibanding gangguan fisik. Perbaikan diri hanya dapat dilakukan dengan kekuatan tekad atas orang yang memperbaiki diri kita bukan dengan obat yang diminum, bukan dengan deraan besi ataupun api, bukan pula dengan uang. Tetapi, lakukan dengan disiplin diri dan kebiasaan yang terpuji dari hal-hal kecil dan sepele. Kemudian, meningkat pada tahap pembiasaan pada hal-hal yang lebih besar.

Sesungguhnya, manusia cenderung ingin memiliki banyak hal yang tidak primer dalam menegakkan jati dirinya dan kebaikan hidupnya. Semua itu membuatnya menderita dalam mencarinya, bersedih karena kehilangannya, dan menyesal karena berlalunya.

Padahal, apa yang kita klaim sebagai ‘milik’ adalah titipan Allah dan Allah bisa mengambil titipan itu kapan saja jika Dia mau. Kita tidak boleh bersedih karena kehilangannya. Mahabenar firman Allah SWT dalam surat Albaqarah (2) ayat 155-156, “Dan, sesungguhnya akan Kami beri cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kita itu milik Allah dan kepada Allah-lah kita kembali.”

Kesedihan adalah gangguan psikis. Sedih, karena kehilangan sesuatu yang dicintai atau diingini. Hoho. Mengapa pula kita bersedih hati?

Buat apa susah, buat apa susah
Susah itu tak ada gunanya
Buat apa susah, buat apa susah
Lebih baik kita bergembira

(^_^)v

Makanya, sudah kukatakan kepadamu, kawan. Janganlah berlebihan dalam mencintai atau mengingini sesuatu.

Selama kita senantiasa ikhlas dan berpikir positif, di mana pun, kapan pun, bagaimana pun, apa pun, kita pasti survive. Uang gaji dicopet orang? Jangan bersedih, masih ada gaji bulan depan. Hwehe. Yah, pada intinya segala sesuatu itu milik Allâh SWT. Kita hanya “dipinjamkan” mobil, rumah, istri (suami), anak, iMac //uh, aku lagi ngidam ini nih//, dan lain-lain sesuatu yang kita cintai dan inginkan, oleh Allâh. Kalau-kalau Allâh selaku si pemilik hendak mengambilnya, ya silakan. Kita berdoa saja semoga lain kali Allâh menggantikan “pinjaman” yang diambil-Nya itu dengan “pinjaman” lain yang lebih baik. Oke? Sip, lah. //Yah, mau posting serius tapi bawaannya santai saja. Payah nih Farijs.//

(^_^)v

Semangat!

Baca juga:

Takut Mati vs Senang Mati
Cobaan
Sakit Hati? Bacalah Quran

Takut Mati vs Senang Mati

Sebuah pelajaran dari khotbah Jumat tadi. Semoga dapat memberikan semangat kepada kita semua. Tiada hari tanpa semangat!

(^_^)v

Banyak orang yang takut mati. Sebagian besar orang. Ya, bahkan barangkali beberapa dari saudara-saudara sekalian. Mengapa takut mati? Padahal sebagai muslim, kita meyakini bahwa “innâ lillâhi wa innâ ilayhi râji’ûn”. Kita ini berasal dari Allâh dan akan kembali kepada-Nya jua. Jadi, mengapa kita harus takut?

Sama saja seperti kita pulang kampung. Saat lebaran tiba, betapa senangnya kita pulang kampung. Berbondong-bondong para perantau meninggalkan tanah rantau, pulang ke kampung halaman, tanah kelahiran. Tak jarang ada yang sampai tidak tidur malamnya saking senangnya. Ya, pernah kualami itu; beberapa waktu yang lalu.

Kata Pak Khotib ada dua sebab mengapa manusia takut akan kematian. PERTAMA, karena tidak memiliki cukup bekal. Sebagaimana orang yang pulang kampung dari rantauan, pastinya akan merasa cemas jikalau sepulang merantau tersebut tidak membawa cukup banyak uang. Orang-orang pastilah beranggapan bahwa sepulang dari rantauan harus membawa banyak harta. Berlaku juga untuk orang yang pulang dari pondok pesantren. Pastilah ia cemas kalau-kalau ilmunya belum cukup banyak karena orang-orang beranggapan bahwa sepulang dari pondok pesantren sudah tentu pengetahuan akan agamanya sangat luas.

Nah, sudahkah kita mempunyai cukup bekal untuk dibawa menghadap Allâh? Kita tanyakan kepada diri kita masing-masing. Dan mulai sekarang, perbanyaklah “bekal kematian” kita, dengan memperbanyak amal ibadah. Ya, mari kita semangat beribadah!

p(^ ^)q

KEDUA, karena ada hal-hal yang kita cintai secara berlebihan di dunia. Sebagaimana ilustrasi pulang kampung, akan sangat berat meninggalkan tanah rantau kembali ke kampung jikalau ada sesuatu di tanah rantau yang kita cintai. Misalkan kita menyukai seseorang di rantauan, menggemari suasana di rantauan, maupun sekadar mencintai tempat tinggal di rantauan. Kita akan berat meninggalkan hal-hal yang kita cintai, berlebihan atas cinta yang lain. Saat meninggalkan pondok pesantren, kita akan sedih jikalau kita menyukai anak gadis Pak Kyai, misalnya. //Hwehe, akhirnya ke sini juga arahnya.//

Begitu juga pemikiran takut akan mati. Mengapa? Coba kita tanyakan pada hati kita. Apakah kita mencintai sesuatu yang ada di dunia ini dengan berlebihan? Orang tua kita, mungkin. Adik-adik kita, bisa jadi. Sahabat-sahabat kita, barangkali. Anak gadis orang, mungkin juga. //Yah, ke sini lagi….// Pekerjaan, jabatan, rumah, arloji, dsb, misalnya. Dengan mencintai secara berlebihan hal-hal di dunia semacam ini, kita akan memikirkan “perpisahan” yang menyedihkan jikalau mati nanti.

Nah, sekarang mulailah mencoba mengurangi rasa cinta berlebihan semacam itu. Cinta tertinggi kita hanyalah kepada Allâh, Tuhan kita, “tempat” kita kembali. Karena dengan begitu, kita malah akan semakin senang jikalau kita mati. Senang karena akan segera berjumpa kepada sang kekasih tercinta kita yang abadi.

Kisah di Akhir Tahun

Hari ini kembali jalan-jalan, keluyuran tak tentu arah. Tak jelas. Berjalan ke ujung Jalan Sunan Giri. Bingung memutuskan untuk naik bus biasa atau bus transjakarta. Akhirnya kaki melangkah juga ke halte busway. Naik bus transjakarta ke Dukuh Atas. Penuh. Berdiri sampai Halimun. Sampai di Dukuh Atas, segera pindah bus tujuan Kota. Alhamdulillâh lengang. Bisa duduk sampai halte Kota. Dari Kota menuju ke M2M. Niatan: mencari mouse lagi. “Kali ini harus dapat,” begitu tekad di hati.

Setelah hampir dua setengah jam mondar-mandir di M2M, dapatlah mouse yang unik. Rp45k. Cocok, Alhamdulillâh. Segera keluar dari M2M, naik angkot ke Kota. Naik bus transjakarta lagi ke Dukuh Atas. Niatan: ke Pulogadung, terus ke PIK untuk cari tas. Menunggu lama di halte Kota karena lampu merah. Masuk bus, dapat juga tempat duduk di pojok belakang karena penumpang lengang. Capek mondar-mandir tadi, tertidur pulas juga di bus. Bangun-bangun sudah sampai di halte Dukuh Atas. Bergegas menuju pintu, tapi…ah, apa daya pintu sudah ditutup kembali. Terpaksa turun di halte selanjutnya, kemudian naik bus ke arah sebaliknya, kembali ke Dukuh Atas. Yah, akhirnya mengalami juga pengalaman yang seperti ini.

Tidak seperti biasa, tak banyak orang yang mengantri untuk naik bus jurusan Pulogadung. Dari halte ke halte, penumpang malah semakin berkurang karena turun di halte-halte yang disinggahi. Tak ada juga penumpang yang naik. Sampai di Pulogadung, hanya tersisa dua penumpang. Macet sekali sewaktu bus akan masuk ke terminal Pulogadung. Setelah hampir setengah jam, akhirnya bus masuk juga ke terminal Pulogadung. Lama juga menunggu untuk masuk ke halte busway Pulogadung karena di depan ada beberapa bus transjakarta yang mengantri panjang. Akhirnya kami (dua penumpang tersisa) turun lewat pintu di samping kiri supir setelah dipersilakan turun oleh abang penjaga bus (kurang tahu apa nama jabatannya).

Segera berlari mencari metromini 42. Naik ke metro yang ternyata juga lengang. Duduk di bangku kedua di belakang supir. Menahan kantuk agar tidak kebablasan lagi. Akhirnya sampai juga di PIK. Segera bergegas ke masjid untuk menunaikan shalât Dzuhur (jam di ponsel menunjukkan pukul 14.14!).

Usai shalât, berkeliling dari satu kios ke kios yang lain. Masuk ke kios-kios yang memajang tas. Lihat-lihat, pindai, tak ada yang menarik perhatian, pindah ke kios yang lain. Capek, penat, lelah. Begitu seterusnya sampai menemukan tas yang dirasa cocok. Bagus. Besar dan elegan. Unik. Rp140k. Aoking. Setelah berpikir memeras otak mendebat logika mengusik nurani, akhirnya memutuskan tidak jadi membeli. Bukan hanya untuk tas itu, tapi tidak jadi membeli tas baru. Segera beranjak dari PIK, pulang menuju Pulogadung. Naik 42 lagi.

Dalam perjalanan pulang: berpikir tentang hikmah kali ini. Segala sesuatu Allâh ciptakan tidak sia-sia. Segalanya pasti ada hikmahnya. Demikian menurut Islam. Hari ini, hikmahnya adalah belum memerlukan tas yang baru. Belum begitu bermanfaat. Tas yang hendak dibeli tadi terdapat sekat untuk menyimpan laptop, barang yang belum dimiliki. Toh akan sia-sia nantinya kalau dibeli.

Tas yang lama masih laik pakai meski sudah butut sekalipun. Meski usianya sudah 4 tahun jalan. Tas yang dibeli sesaat sebelum mulai menjalani hidup sebagai mahasiswa. Tas yang sudah menemani hidup yang berat namun menyenangkan selama kuliah. Alangkah tak elok untuk mengusangkan tas yang sudah usang. Baiklah, keputusannya adalah menunda untuk membeli tas baru.

Pesan moral yang dapat diambil dari kisah di atas:
1. Jangan keluar rumah tanpa tujuan yang jelas.
2. Jangan tidur sewaktu naik bus.
3. Berpikir masak-masak sebelum membeli sesuatu. Bandingkan antara manfaat dengan mudharatnya. Pertimbangkan manfaatnya untuk jangka pendek, menengah, dan panjang.
4. Sayangilah barang-barang milik kita. Jangan sia-siakan pemberian dari Allâh.
5. “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS 3: 191)
6. “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan sia-sia. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS 38: 27)

Wallâhu a’lam.