Pena

Sudah semenjak kecil aku tertarik dengan pena.

Waktu kecil, pertama kali aku tahu bahwa alat tulis tak hanya pulpen dan pensil. Ada pula pena. Pamanku memperkenalkannya.

Waktu membesar \beranjak besar, maksudnya\ ada seorang kawanku sekelas membawa tinta ke mana-mana. Rupa-rupanya dia pakai pena.

Kemudian aku pun membesar dan semakin besar. Suatu hari aku melihat pena di deretan pulpen-pulpen dan pensil. Langsung aku beli pena itu. Pena murah itu kupakai beberapa waktu untuk kemudian patah di sambungan pegangan dan batangnya.

Aku kemudian membeli pena baru. Kali ini pena untuk menulis indah alias kaligrafi. Dengan pena ini aku pun sukses mengguratkan tulisan-tulisan aneh dan mencoret beberapa baju.

Hari berganti hari, bulan berubah tahun. Sebulan lalu aku pun membeli pena baru (untuk menulis). Bentuknya mirip dengan pena murah waktu itu. Aku pun lantas mulai mempelajari perihal pena. Ternyata pena itu beraneka ragam, beraneka bentuk, dan beraneka tingkat kemahalan.

Karena penasaran, maka aku pun memutuskan untuk membeli pena lagi. Akhir pekan kemarin aku pun memutuskan untuk membeli pena baru. Maka betapa sungguh beruntung aku di saat membeli pena itu karena aku mendapatkan kesempatan mengambil undian. Ternyata aku memenangkan sebuah pena lagi. Oh, oh~

Pena-penaku
Pena-penaku

Begitulah kisah pena-penaku. Bagaimana dengan penamu?

Tugas Berantai (Delapan Fakta Mengenai Farijs van Java)

//Gara-gara pembalasan dendam kawanku ini, aku disuruh menyelesaikan tugas berikut ini. Yah, dengan sangat terpaksa kuselesaikan juga. Waduhaduh™….//

Aturan pengerjaan tugas:

1. Postinglah aturan pengerjaan tugas ini di dalam blog Anda.
2. Tulis delapan kebiasaan atau fakta tentang diri Anda (pilih secara acak).
3. Di bagian akhir tulisan, tulis delapan nama teman Anda yang ingin Anda suruh untuk mengerjakan tugas ini juga.
4. Jangan lupa untuk memberitahu delapan orang tersebut agar mereka membaca blog Anda dan kemudian mengerjakan tugas ini juga.
5. Tersenyumlah dengan penuh rasa puas setelah Anda menyelesaikan tugas ini.

Delapan Fakta Mengenai Farijs van Java:

SATU

Farijs sangat suka memakai kaos kaki.

Entah kebiasaan ini berawal sejak kapan, Farijs suka memakai kaos kaki. Waktu di rumah maupun kos, kaos kaki hampir tak pernah lepas dari kedua kakinya. Baik hari sedang hujan maupun sedang panas-terik, kaos kaki selalu menemani langkahnya (di rumah maupun di kos). Bahkan sampai tidur pun kaos kaki tak pernah ia lepas.

Ketika tidur, Farijs harus memakai kaos kaki. Sudah menjadi kebiasaan yang tak tahu sedari kapan bermula, Farijs akan susah tidur jikalau tidak memakai kaos kaki. “Dingin,” jawabnya ringan sembari ngemut lolipop.

DUA

Farijs sangat suka kecap, terutama ketjap tjap poelo djawa.

Farijs memang menyukai olahan keledai, eh kedelai, yang satu ini. Makanan apa saja dikecapinya. Tempe goreng, tahu rebus, kerupuk, mi ayam, soto, bahkan sampai sayur bayam pun ia “olesi” kecap.

Dari sekian banyak merk kecap yang beredar di pasaran, Farijs paling menyukai kecap Tjap Poelo Djawa. Kecap yang made in Pekalongan ini memang paling yahud. Sudah kental, hitam, manis pula rasanya. Dijamin akan mak nyuss apabila kecap ini Anda “taburkan” pada segala macam makanan.

TIGA

Farijs sangat suka minum kopi.

Entah sejak zaman apa, Farijs sampai hari ini suka minum kopi. Awalnya sedari kecil Farijs suka minum teh. Namun entah mengapa, sejak duduk di bangku kuliah kesukaan akan teh ini menjadi beralih ke kopi.

Kopi selalu menemani harinya. Tiada hari tanpa kopi bagi Farijs, kecuali hari libur. Bahkan sewaktu penulis mengetik postingan ini Farijs sedang menikmati secangkir kopi hangat. “Srpppppp…! Enyak enyak enyak….” begitu kata si Farijs sembari menyeruput kopinya ketika ditanya apa kabarnya hari ini.

EMPAT

Farijs ingin menjadi duta besar suatu hari nanti.

Entah dari mana asal ide ini, Farijs semakin hari semakin bersemangat ingin menjadi seorang duta besar. Ya, duta besar atau yang lebih sering disingkat dengan dubes. Farijs sangat ingin menjadi wakil diplomatik tertinggi yang mewakili pemerintah Indonesia di negara lain. Terserah di negara mana. Di negara antah berantah pun okelah. Di negara Republik Mimpi juga oke.

Farijs ingin di hari tuanya ia tinggal di luar negeri, jauh dari tanah air yang semakin carut-marut ini. Bersama sang istri tercinta, ia ingin hidup secara bebas di luar sana. Tenang dan nyaman, sembari memimpin sebuah “negara dalam negara”. Nikmatnya….

LIMA

Farijs paling tidak suka pedas.

Farijs paling anti dengan makanan yang pedas. Lidah serta bibirnya sangat tidak bisa menerima asupan-asupan makanan (maupun minuman) yang berasa pedas. Seolah-olah terbakar bibir maupun lidah Farijs apabila ia memakan (atau meminum) sesuatu yang pedas. Yah, sepertinya Farijs ini tidak akan betah berlama-lama di neraka.

Selain makanan atau minuman yang pedas, Farijs juga tidak menyukai perkataan yang pedas. Apabila makan atau minum yang pedas-pedas lidah dan bibirnya terasa terbakar, maka kalau mendengar perkataan yang pedas, hatinya akan terbakar.

Berkebalikan dengan itu, Farijs ternyata menyukai perempuan yang pedas (hot). Apabila ia melihat perempuan yang pedas, matanya langsung terbakar. Syahwatnya langsung membara, membakar seluruh urat nadinya. Makanya meskipun menyukai perempuan yang pedas, namun Farijs tidak kuat betah berlama-lama melihat perempuan yang pedas. Repotnya jadi Farijs….

ENAM

Farijs paling tidak suka ditarik lengan bajunya.

Sejak zaman dahulu kala, hiduplah seorang pemuda tampan bernama Farijs van Java yang sangat tidak menyukai lengan bajunya tertarik. Apabila ada orang lain yang sengaja maupun tidak sengaja menarik lengan bajunya, pastilah orang tersebut babak belur keesokan harinya.

Yah, tanpa memiliki alasan yang masuk akal dengan tanpa pembuktian secara ilmiah, Farijs tidak menyukai lengan bajunya ditarik orang. Kalau ditarik monyet sih sudah pasti Farijs tidak akan marah. Farijs akan sangat memakluminya, secara monyet pastilah iri karena tidak memakai baju seperti yang ia pakai. “Monyet sirik tanda tak mampu,” tukas si Farijs sambil nyengir.

TUJUH

Farijs jarang sekali menghitung uang kembalian.

Tanpa bermaksud menyamai ataupun mencontek hasil kerjaan tugasnya si Pe, penulis nyatakan bahwa Farijs memang paling malas menghitung uang kembalian. Mau bagaimana lagi, Farijs kan orangnya memang terlalu suka percayaan. Segalanya dijalankan atas dasar sistem kepercayaan yang berlebihan. Makanya, Farijs berpotensi tinggi untuk terjangkit penyakit kecewa.

Setiap kali membeli sesuatu, entah itu di warteg, swalayan, atau di emperan jalan, Farijs selalu percaya kepada yang memberikan uang kembalian. Langsung saja uang kembaliannya ia masukkan ke dalam kantong celananya. Yah, berisiko sekali. Berisiko kena tipu. Berisiko terbohongi (terbohongi = dibohongi secara tidak sengaja). Berisiko pula mengambil sesuatu yang bukan haknya. Yang terakhir inilah yang Farijs khawatirkan. Makanya, mulai sekarang Farijs bertekad untuk menghitung uang kembalian terlebih dahulu sebelum meninggalkan kasir atau penjual yang bersangkutan.

DELAPAN

Farijs sedang ingin membuat font.

Sejak mengenal dan mulai menyukai dunia tipografi, Farijs bercita-cita ingin membuat sebuah (atau beberapa buah) font buatan sendiri. Apalagi setelah mengetahui ada opensource software untuk membuat font, yaitu FontForge. Namun impian itu kemudian berhamburan setelah Farijs tidak mengerti bagaimana cara menginstal software tersebut. Ditambah lagi sekarang komputer kesayangan Farijs sudah meninggal dunia. Sungguh malang….

Sekarang lain lagi, Farijs kembali bersemangat ingin meraih cita-citanya tersebut setelah mengetahui bahwa aplikasi yang sudah dimilikinya, CorelDRAW, bisa digunakan untuk membuat font. Yah, meski tidak terlalu lengkap fiturnya sebagaimana yang dimiliki aplikasi yang memang khusus untuk membuat font. Ayo semangat, Farijs!

Font pertama yang ingin Farijs buat adalah bertema huruf Jawa Hanacaraka. Nama font-nya malah sudah ia siapkan: DR Van Java. Ya, Farijs ingin membuat font latin yang mirip dengan aksara Jawa tersebut. Meski sekarang sudah ada orang yang membuat produk tersebut, namun font yang ingin Farijs buat itu berbeda dari yang sudah ada. Karena desain huruf-huruf yang mirip dengan aksara Jawa tersebut sudah ia peroleh sejak SD. Semoga saja Farijs dapat membuat font tersebut. “InsyaAllâh, segera setelah aku mendapat rapelan dan membeli komputer baru,” kata Farijs sambil terisak, terharu, sedih.

Untuk selanjutnya, Farijs ingin membuat berbagai font untuk media cetak. Font serif, maupun sans-serif, yang beberapa desainnya sudah ia buat. Yah, ada kemungkinan Farijs ingin beralih profesi menjadi ahli tipografi profesional. Kita doakan saja….

Begitulah kiranya delapan fakta mengenai Farijs van Java. Demikian daripada itu, penulis ingin memberi komando kepada orang-orang yang tertera dalam senarai berikut di bawah ini untuk mengerjakan tugas seperti ini. Orang-orang yang sial tersebut antara lain:

1. IRRRR (PR terselesaikan!)
2. NAIA (PR terselesaikan!)
3. NEK WINDA (PR terselesaikan!)
4. PAKDHE DHIMAS
5. GARING
6. BENGKY (PR terselesaikan!)
7. ART87
8. ANTHO HIU (PR terselesaikan!)

Semoga kedelapan orang ini dapat mengamalkan apa yang penulis perintahkan. Dan ingat, jangan menyontek!

(^_^)v