Niat Baik yang Tulus

Aku pikir niat baik itu cukup segera dilaksanakan. Ternyata tidak boleh hanya itu, Saudara. Kita harus banyak-banyak mempertimbangkan apakah niat baik kita itu harus benar-benar kita laksanakan ataukah tidak perlu.

Kasusnya begini. Kita niat baik secara tulus untuk membantu seseorang yang kita pikir membutuhkan bantuan itu. Dia memang membutuhkan bantuan tersebut, tetapi ternyata dia tidak membutuhkannya dari kita. Dia membutuhkan bantuan itu tetapi lebih baik orang lainlah yang memberikannya.

Barangkali memang susah mengerem niat baik begini. Kita ngotot melaksanakannya, tetapi hasilnya sungguh di luar dugaan karena niat baik kita bisa ditafsirkan tidak baik.

Sebenarnya batasan antara peduli dan ikut mencampuri hidup orang lain itu apa, sih? Menurutku kita tidak cukup peduli kalau tidak sampai mencampuri. Tinggal bagaimana mencampurinya, sampai sebatas mana kita boleh dan tidak boleh mencampuri kehidupan orang lain. Barangkali itu yang harus kita tahu sebelum melaksanakan niat baik yang tulus kita itu tadi.

Asing

Sekitar dua hari lalu aku pernah berkicau demikian:

غرباء و لغير الله لا نحني الجباه
غرباء و ارتضيناها شعارا في الحياة

Lagu ini barangkali terinspirasi oleh sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang seingatku mengatakan bahwa Islam pada mulanya datang sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali menjadi asing seperti kedatangannya itu.

Entah hadis ini ada kaitannya dengan paham anti-mainstream yang belakangan ini sering digalakkan oleh para generasi muda ataukah tidak ada kaitannya sama sekali. Yang jelas aku tidak ingin membicarakan dua hal itu, Saudara. Sudah cukuplah para pakar di bidangnya mengupasnya secara tuntas.

Aku hanya ingin berujar bahwa pada mulanya apabila dua orang insan bertemu, keduanya sama-sama dalam keadaan asing. Kemudian mereka mengenal satu dengan lainnya sehingga sirnalah keasingan di antara mereka. Apabila keduanya kemudian berpisah, tidaklah keduanya akan menjadi asing sebagaimana mulanya. Karena sesungguhnya manusia adalah makhluk pengenang dan makhluk perasa.

Tentu saja semua itu akan berbeda hukumnya manakala satu atau keduanya menderita insomnia amnesia. 😀

Komitmen

Seorang pemudi mengadakan sebuah perjanjian untuk bertemu dengan seorang pemuda. Mereka berdua sepakat untuk bertemu pada waktu dan tempat tertentu.

Pada waktu yang disepakati tersebut, si pemuda sudah berada di tempat yang disepakati. Karena khawatir, si pemuda ini menelepon sang pemudi menanyakan keberadaannya. Sang pemudi dengan enteng menjawab bahwa ia masih berada di rumah, hendak mandi.

Bagi kalian, apabila kalian menjadi si pemuda, bagaimanakah sikap kalian? Bisa jadi sebagian dari kalian menjawab tidaklah mengapa. Kalian yang menjawab itu bisa jadi beralasan bahwa wajar seorang laki-laki menanti dengan sabar kedatangan seorang perempuan. Sebagai laki-laki, kalian pikir sudah menjadi keharusan untuk berkorban apa saja demi seorang perempuan, termasuk perkara menanti ini.

Nah, bagi sebagian kalian yang tidak sependapat dengan sebagian yang lain di atas, bisa jadi akan sependapat denganku. Menurutku, janji untuk bertemu semacam itu adalah sebuah komitmen bagi si pemuda dan sang pemudi berdua. Kedudukan mereka dalam hal ini adalah setara.

Bahkan negara pun (menteri dan presiden sekalipun) apabila sebagai entitas privat melakukan perjanjian dengan seorang rakyat, misalnya pimpinan sebuah perusahaan kecil sekalipun, kedudukannya adalah setara. Tidak ada yang satu mengungguli yang lain.

Begitu pula dengan si pemuda dan sang pemudi kita ini. Masing-masing pihak memiliki keharusan mempertahankan dan menjalankan komitmen yang telah disepakatinya bersama itu. Tidak boleh ada pihak yang merasa harus diberi keistimewaan untuk sedikit pun melanggar komitmen.

Begitulah prinsip-prinsip berkomitmen menurutku. Bagi kalian yang ingin berkomentar, silakan berkomentar. Minimal berkomentarlah di dalam hati. 😀