Tak Terprediksi

Si Pepatah, yang hidup pada zaman dahulu kala itu tapi sampai sekarang pun masih tenar namanya, sekali lagi mengalahkanku. Sedia payung sebelum hujan, begitu katanya dahulu.

Tahu kalian di mana aku? Terjebak hujan!

Aku pikir tadi sebelum berangkat ke supermarket itu hujan takkan lagi turun. Setidak-tidaknya dalam beberapa jam ke depan. Sehabis hujan reda tadi memang di langit tak tampak lagi tanda-tanda akan segera hujan. Mega mendung sudah terlihat makin lama makin menipis; berarak pula. Bintang sudah mulai terlihat satu-dua. Maka aku nekad tak bawa payung.

Eh, ketika keluar dari supermarket, hujan telah dan masih turun dengan derasnya. Sial!

Payah benar aku ini memang. Selalu saja tertipu alam. Tak pernah mau belajar, tak pernah mau bersiap.

Biasanya aku ini orang yang sangat rajin bawa payung, Saudara. Ke mana-mana selalu simpan payung di dalam tas. Atau kalau pun memang tak bawa tas, dalam musim-musim penghujan, ya semacam malam inilah, pasti aku tenteng itu aku punya payung lipat.

Apa boleh buat, lah. Nasi pun telah menjadi bubur. Maka aku ingatkan kepada Saudara-saudara sekalian, ingatlah kata Pepatah yang satu ini: jikalau takut basah, janganlah main air. Artinya adalah jika kalian tak mau basah, janganlah kalian hujan-hujanan. Atau kalau ditelisik lebih mendalam lagi, apa kata Pepatah itu dimaksudkan agar janganlah kalian membuang-buang makanan jikalau takut kelaparan. Kira-kira begitulah.

Ah, sudah sedikit reda hujannya. Pulang sajalah.

Ramuan Tidur Lelap

Ramuan tidur lelap dapat dibuat dengan beragam cara dan dari beragam bahan yang berbeda-beda. Ramuan ini bisa saja terbuat dari perut kenyang dan pengangguran, dibuat dengan cara tidur siang. Bisa pula terbuat dengan cara mati listrik dari bahan bosan dan Ahad subuh.

Sejatinya sekarang ini aku sudah mendapatkan segala kombinasi bahan yang diperlukan yang sangat pas untuk menciptakan ramuan tidur lelap paling mujarab. Di sini sudah ada kepala pening, obat demam, dan hujan deras. Ah, andaikan saja aku sudah sampai di rumah….

Mendung Mistis

Langit menggelap. Bahkan sudah sangat gelap ketika aku melangkah keluar gerbang kantor tadi. Mendung menyelimuti bumi Rawamangun. Sepertinya musim penghujan sudah tiba.

Adalah aroma penuh bau kambing yang menjadikan sore ini semakin mistis dan beraura magis. Maka bau badanku yang belum mandi ini pun tersamarkan. Dalam keadaan begini, haruskah aku berucap syukur atau menyumpah serapah?

Satu langkah kakiku memasuki gerbang rumah adalah ketika hujan mendadak turun dengan derasnya. Apakah pada saat itu tanggul bengawan di khayangan sana runtuh hingga mengakibatkan air surga bertumpah ruah di sini?

Aku pun dalam hati berucap syukur tak hanya karena aku tiba tepat sesaat sebelum hujan turun, tetapi pula karena Tuhan telah merahmati bumi dengan hujannya.

Hujan Menenangkan

Akhirnya hujan mengguyur tanah Rawamangun dan sekitarnya.

Segar sekali, Saudara. Terhidu aroma debu basah. Sedap sekali.

Sejenak tadi terjebak di masjid. Setelah hujan agak mereda, bergegaslah aku menuju kantin.

Menu makan kali ini rupanya sup ayam. Tepat sekali dengan suasana sejuk segar hujan begini. Maka aku pun menyantap makan siangku dengan amat lahap. Padahal biasanya aku selalu makan dengan santai.

Mungkin karena nasinya pun lembek; menambah nikmat bersantap siang. Belum lagi sambal kecapnya yang pas sekali. Sampai-sampai tak terasa mangkuk dan piring sudah bersih tanpa sisa. 😀

Ini siangku. Bagaimana siangmu?

Kasihan sekali pohon ini, didera hujan saat kepalanya botak

Kasihan sekali pohon ini, didera hujan saat kepalanya botak

Lagi Lagi

Lagi-lagi kamu 3x
Jangan kau datang mengganggu lagi
Lagi-lagi kamu 3x
Aku bosan mendengar janjimu

Lagi-lagi kamu 3x
Berulang kali kau menyakiti
Tak usah lagi kita bertemu
Tak mungkin hati berpadu

(Koes Bersaudara 1986 – Lagi-Lagi Kamu)

Mohon maaf beribu maaf, Saudaraku sekalian. Lagi-lagi aku memajang foto bulan. Hal ini tak lain tak bukan adalah karena bulan merupakan sebentuk candra yang rembulan sehingga cukuplah bagiku untuk mengucapkan syukur Alhamdulillâh kehadirat Allah Tuhan Yang Mahakuasa. Lanjutkan membaca “Lagi Lagi”

Rainy Whistle

Ramadan hampir usai. Syawal menjelang tiba. Maka…

Saatnya mudik!

Mengiringi kepulanganku, marilah kita dengarkan lagu berikut di bawah ini sembari mendengarkan suasana hujan dengan membuka situs Rainy Mood.

Oh, betapa bunyi hujan yang menenangkan beradu dengan musik Whistle Low-nya Jonquil adalah perpaduan yang sangat menenteramkan.

Selamat tinggal, Jakarta. Lanjutkan membaca “Rainy Whistle”

My belly is dancing in this rainy day

Titik-titik hujan masih membasahi
Kala kau menyapa pelangiku

Ingin kuberlari jumpa bidadari
Bawalah aku pergi bersamamu

(Sherina – Pelangiku)

Hwehe. Rawamangun baru saja terguyur hujan rintik-rintik, Saudara-saudara. Setelah beberapa hari ini Jakarta panas membara. Terasa segar sekali tatkala aku berlarian ke arah kantor dari masjid. Bau semerbak aspal berdebu yang diguyur hujan yang menusuk menjadikanku kembali merasakan lapar. Ya, aku lapar. My belly is dancing in the rainy day. Perutku keroncongan.

Tadi pagi sudah sarapan, sih. Lontong Pecel. Lumayan. Makan siang? Malas aku. Beberapa hari ini malas makan siang. Malas, malas membeli makanan di luar sana. Karena panas? Mungkin. Yah, malas makan ini berlanjut sampai malam. Malas makan malam karena warteg langgananku nyaris habis makanannya ketika waktu makan malam tiba. Sepertinya dampak krisis keuangan global yang bermula dari Amerika Serikat itu sudah sampai ke sini. Mungkin karena kehabisan modal, warteg itupun berganti kepemilikan. Membuat bisnis warteg tak lagi langgeng sampai malam. Yah, dunia kapitalis….

Lapaaaaaaaaar! Adakah yang ingin mengirimkan makanan kepadaku? Would you like to lunch with me?

(^_^)v