Ngendat

Malam tak lagi purnama. Angin pesisir pun hijrah dari kota. Aku duduk seorang diri di sebuah bangku peron. Pengeras suara stasiun mempermaklumkan keterlambatan datangnya kereta apiku. Dalam keadaan demikian telingaku menyimak senandung radio:

Telah putus cinta kini patah hati ♪
Mau bunuh diri di rel kereta api ♫

\Haha! Ha yo kok bisa pas begitu, ya? Lagi nyawang rel, eladalah lagunya beginian.\

Itulah Rabu malam kemarin, Saudara, kelakuanku ketika hendak beranjak dari tanah kelahiran kembali ke Jakarta.

Kalau disimak-simak, ternyata nada lagunya Jaja Miharja berjudul Putus Cinta tadi mirip dengan lagu zaman kanak-kanakku dulu:

Aduh duh, aduh duh, sakit sekali ♪
Kesandung, kesandung, kesandung batu ♫

Kalian tahu lagu itu?

Ngendat. Artinya bunuh diri, Saudara. Pertama kali tahu kata ini ketika masih SMP, kalau tak salah ingat. “Ngendat” waktu itu adalah judul sebuah cerpen di Majalah Krida. Barangkali karena anggota KORPRI, Bapakku berlangganan majalah ini. Tiap kali beliau pulang kantor bawa majalah ini, langsung kubaca-baca. Pas itu kan lagi zaman-zamannya krismon. Jadi semua isinya hampir bersinggungan dengan krisis moneter itu. Ya beritanya, ya komik Kang Dakri-nya, ya cerpennya. Lanjutkan membaca “Ngendat”

Berita Hari Ini

Hujan tampaknya kembali akan menyambangi memetuki menghadiri acara jamuan makan malam di sini, Saudara. Tepat nanti malam adalah malam Jumat Kamis, merupakan awal Tahun Baru 1434 Hijriah. Malam ini pula berbarengan dengan malam Satu Sura (Suro), menandai bergantinya tarikh penanggalan Jawa (dari tahun 1945 menuju 1946). Dengan demikian hari ini sampai senja nanti adalah akhir tahun. Maka perlulah kita untuk mengucapkan doa penutup tahun.

Hari ini aku memperoleh beberapa informasi penting di samping mengetahui kenyataan pahit bahwa kebohongan masih merajalela di atas bumi. Orang Jepang, Saudara, telah berhasil mewujudkan khayalanku beberapa tahun lalu dengan menciptakan ‘celana dalam penghilang bau kentut’. Bahkan tidak ada benda ajaib ini di kantongnya Doraemon!

Celana Dalam Penghilang Bau Kentut
Celana Dalam Penghilang Bau Kentut (tangkapan layar pada hariandetik.com)

Mari kita kembali ke musim kemarau delapan tahun lalu, Saudara. Pada saat itu aku sedang terbaring sakit ketika tiba-tiba saja menyadari bahwa kentutku sangatlah bau sehingga membuatku berharap Doraemon memiliki celana ajaib penghilang bau kentut. Dengan terciptanya celana dalam penghilang bau kentut tersebut di atas maka pengharapanku pada saat musim kemarau delapan tahun lalu itu tinggallah satu untuk diwujudkan, yaitu celana ajaib pengecil suara kentut! 😀 Lanjutkan membaca “Berita Hari Ini”

Klem Kertas

Klem Kertas (Binder Clip)
Klem Kertas (Binder Clip)

Klem kertas (binder clip) sering dianggap sebagai benda remeh-cemeh karena tersedia banyak di kantor. Padahal fungsinya sebagai pemersatu lembar demi lembar kertas tidak dapat digantikan oleh benda lain. Apabila lembaran kertas tidak begitu banyak, boleh saja menggunakan klip kertas (paper clip). Akan tetapi kalau ingin menyatukan lembaran kertas bertumpuk-tumpuk sehingga tebal, tentulah klip kertas tak sanggup mengerjakannya. Kan begitu?

Klem kertas sering digunakan untuk menggabungkan lembaran-lembaran naskah kontrak atau dokumen lainnya sebelum kemudian dijilid atau dikokot (staple). Bisa juga digunakan untuk menjepit kertas atau tumpukan kertas pada sebuah papan landasan menulis (writing pad) sehingga bisa dibawa ke mana-mana dan mudah untuk ditulisi. Apabila sedang tidak dibawa bepergian, boleh juga disimpan dengan cara digantung di dinding karena klem kertas memiliki dua buah tangkai berlubang sebagai kaitannya. Demikianlah sehingga fungsi klem kertas dapat dikatakan semipermanen.

Akan tetapi, fungsi klem kertas dapat menjadi permanen apabila tidak ada keinginan dari pemakainya untuk menjilid atau mengokot naskah kontrak atau dokumen tersebut. Atau bisa jadi apabila pemakainya sedang menghemat dana penjilidan atau sekadar malas. Dengan begitu klem kertas kemudian menjadi satu bagian dengan naskah kontrak atau dokumen tersebut. Harap baca tulisan selanjutnya agar tidak tersesat!

Ide Besar

Menemukan ide besar barangkali bukanlah perkara susah bagi para kreatif. Hal berikutnya adalah lebih susah, yaitu membuat ide besar tersebut menjadi sebuah karya nyata, lebih-lebih membuatnya menjadi karya besar juga. Kan begitu?

Memanggil Mas-Mas

Untung aku orang Jawa. Mengapa?

Ternyata ada, loh, beberapa orang di sekitarku yang merasa tidak suka atau sekadar segan atau justru tersinggung ketika dipanggil dengan sebutan “mas”. Antara lain beberapa putra Sunda yang memberi saran untuk memanggilnya dengan sebutan “aa'” saja. Juga beberapa putra Melayu Medan yang menginginkan dia dipanggil dengan sebutan “abang”. Juga di antaranya berupa mbak-mbak yang tidak suka disamakan dengan Omaswati.

Maka begitulah kiranya aku paham mengapa bapak-bapak tentara di kantor memanggilku dengan sebutan “om”. Tak lain tak bukan tentunya karena bapak-bapak ini tidak atau belum mengetahui dari mana asalku sehingga demi keamanan memanggilku dengan sebutan demikian. Kira-kira bisa kalian terima?

Jadi, Saudara, demi menyambut si Ramadan yang entah datang Jumat atau Sabtu nanti, tadi aku pergi ke aa’ tukang cukur rambut. Tentu saja tujuanku adalah untuk bersilaturahmi sekalian meminta dipangkas rambutku agar kepalaku terlihat lebih ganteng dari biasanya. Lanjutkan membaca “Memanggil Mas-Mas”

Ide Sidik Jari

Aku bertanya-tanya, bagaimanakah asal-usul istilah “sidik jari” hingga menjadi alih bahasa dari istilah “finger print”?

Pada beberapa model komputer jinjing zaman sekarang, tertanamlah sebuah alat yang dapat membaca sidik jari. Fungsinya adalah sebagai fitur keamanan komputer jinjing tersebut. Tidak adakah yang memiliki ide untuk menggunakannya sebagai salah satu alat pintasan? Misalnya dengan menggosokkan sidik jari telunjuk tangan kiri ke alat pembaca sidik jari tersebut maka akan terbuka program pengolah kata. Kan bagus kalau begitu? Atau fitur semacam ini sebenarnya sudah ada tetapi aku tidak/ belum tahu saja?

Mengagumkan betapa Tuhan menciptakan segenap umat manusia dengan sidik jari yang berbeda-beda. Kan begitu?

 

Cetakan Matari

Kalau melihat tayangan video berikut di bawah ini, pikiranku bisa melayang ke mana-mana. Bisa pula jadinya berhalusinasi tentang beragam hal.

Salah satu ranah di mana pikiranku melayang-layang di atasnya seperti capung itu adalah undangan/ surat. Dengan segenap jiwa usilku yang tersohor, ingin rasanya aku mengerjai para kaum kerabat dan handai tolan dengan menuliskan ini secara besar-besar di amplop undangan/ surat:

“BACALAH BAIK-BAIK UNDANGAN/ SURAT INI HANYA DI BAWAH TERIK SINAR MATARI. NIKMATILAH DAN RASAKAN ANUGERAH YANG TELAH DIBERIKAN TUHAN KEPADA KITA.

SELAMAT GOSONG.”

NB.
Bagi kalian yang tidak bisa melihat tayangan video di atas, bayangkan saja bahwa kalian telah menyaksikan di sebuah lembaran kertas akan timbul tulisan berwarna-warni apabila terkena sinar matari. Sekian.

Ide Lagi

Dari sekian banyak ide yang bergentayangan di hari ini, ide inilah satu-satunya yang dapat kuingat untuk lantas kudokumentasikan di sini.

Ada dari kalian yang ingin tahu?

Adalah sebuah nama, atau merek dagang, atau apapun, apabila berbisnis martabak manis atau terang bulan, namakanlah dengan “MARTABAK BANGSA”. Niscaya ia akan tenar setenar martabak bangka sekaligus mengangkat harkat bangsa kita di mata dunia kuliner.

Sekian.

Ide: Jam Dinding

Ide ini tercetus begitu saja, Saudara.

Adalah jam dinding berbentuk piringan bundar, seperti standarnya jam dinding zaman sekarang. Tidak ada angka. Hanya ada satu jarum, yaitu jarum penunjuk hitungan jam. Tidak ada jarum penunjuk menit maupun detik.

Papan bundar sebagai latar belakang satu-satunya jarum yang ada tersebutlah yang dapat menunjukkan menit. Papan akan berubah warna tergantung menit keberapa pada saat itu. Warna merah adalah penunjuk menit pertama, demikian seterusnya warna berubah mengikuti spektrum hingga warna biru sebagai penunjuk menit keenam puluh atau kenol.

Sekian. Selamat berimajinasi.