Selamat Idulfitri 1435 H

Subuh ini ayam tidak berkokok
Matari tidak mengintip malu dari balik cakrawala timur
Hanya hujan yang bergemerencik
Mengiringi gema takbir bertalu-talu

Aku terbangun mendapati kasur dan kakiku basah. Barangkali aku memang harus mulai memakai diaper. Atau genting kamarku saja yang harus disusun ulang.

Dalam keadaan demikian aku patut bersyukur. Sebab barangkali aku mendapati kemenangan sebagaimana orang-orang lain melewati Ramadan. Maka aku pun berucap syukur Alhamdulillah, bahwa segala puji adalah milik Allah, Tuhan pencipta jagad raya.

"Selamat Idulfitri 1435 Hijriah"
Taqabbal Allahu Minna Wa Minkum
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Gadis vs Pemuda: SMS Salam Lebaran

Sang mentari mulai mengintip dari balik cakrawala. Sementara suara-suara takbir dari surau-surau masih menggema di seantero kampung. Sedari semalam suara-suara takbir beriringan dengan alunan bedug bertalu-talu, menggema di seluruh jagad raya. Agaknya pagi ini adalah pagi yang istimewa.

Ah, segarnya udara subuh ini. Seorang pemuda telah bangun sejak sebelum azan subuh berkumandang. Pagi ini memang istimewa. Bukan hanya bagi sang pemuda, melainkan bagi umat Islam di seluruh dunia. Tak lain tak bukan adalah karena pagi ini segenap umat Islam merayakan hari kemenangannya. Kemenangan setelah genap sebulan lamanya berperang melawan hawa nafsu dunia. Setelah berpuasa satu bulan lamanya, kini tibalah saatnya umat Islam bergembira. Pada satu hari setelah berakhirnya bulan Ramadhan ini umat Islam diharamkan berpuasa. Tuhan memerintahkan kepada hamba-Nya untuk berbuka pada hari ini, karena hari ini adalah hari raya.

Setelah shalat subuh sang pemuda sibuk menerima dan mengirim SMS salam lebaran. Sebuah kesibukan yang rutin ia lakukan setiap lebaran. Dari kemarin sang pemuda telah banyak menerima SMS salam lebaran dari kaum kerabat dan kawan-kawannya. Ia pun berbalas mengirimkan SMS salam lebaran kepada mereka. Ada kalanya sang pemuda mendahului mengirimkan salam lebaran, namun tak jarang pula ia keduluan dikirimi salam lebaran. Salah satu SMS salam lebarannya itu ia tujukan kepada seorang gadis yang dikenalnya:

sang_pemuda:
Sehubungan dgn adanya kerusakan pd HP saya, dgn ini diberitahukan bahwa lebaran kali ini saya hanya bs mengucapkan:
Selamat Idul Fitri.
Mohon maaf lahir-batin.

si_gadis:
Rusak beneran lho kak!

sang_pemuda:
emang rusak, kali dek… buhuhu. TT

si_gadis:
Ini statement jebakan bukan?
Maksudnya rusak gimana?
Trus apa hubungannya dgn sms-mu?

sang_pemuda:
ga sopan! dikasih salam lebaran bknnya ksh balasan malah nanya2 ga sopan! hp yg baru rusak, dek. jadinya ga da kreasi dlm menciptakan salam lebaran yg lbh inovatif. gitu..

si_gadis:
yo udah. cuma mo bilang, kasihan deh lo…

sang_pemuda:
(>_<)

Begitulah pagi hari pertama bulan Syawwalnya sang pemuda. Tragis. Si gadis tidak membalas salam lebarannya. Apa kata dunia??

(^_^)v

===

Episode-episode sebelumnya:

Idul Fitri 1428 H

> setelah berpuasa satu bulan lamanya
> berzakat serta menurut perintah agama
> kini kita beridul fitri berbahagia
> mari kita berlebaran bersuka gembira
>
> berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan
> hilang dendam hapus marah di hari lebaran
> berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan
> hilang dendam hapus marah di hari lebaran
>
> minal aidin fal faidzin
> maafkan lahir dan batin
> selamat para pemimpin
> rakyatnya makmur terjamin

Begitulah kirakira lagu idul fitri nyanyian Tasya yang kuperdengarkan sedari semalam. Tak terasa sudah sebulan berlalu aku berpuasa ramadhan. Sebenarnya sedih juga melihat ramadhan berakhir. Segala daya upaya kulakukan untuk memperbaiki diri selama sebulan penuh itu, namun ada saja agenda ataupun amalan ataupun “hasil” yang belum terlaksana di ramadhan tahun ini. Yah, semoga aku bisa berjumpa kembali dengan ramadhan di tahun depan….

Idul fitri tahun ini terasa kurang ramai. Setidaknya itulah yang kurasakan. Bagaimana tidak, di indonesia ini ada dua hari (setidaknya dua yang paling banyak pengikutnya) idul fitri. Muhammadiyah sudah jauh hari menentukan 1 syawal jatuh pada 12 Oktober 2007, sementara dari pihak pemerintah beserta nu kemudian menetapkan bahwa 1 syawal jatuh pada 13 Oktober 2007. Yah, tak perlulah kita memperdebatkan tentang perbedaan ini. dalam islam kan memang diperbolehkan untuk berbeda pendapat, sepanjang tetap berpedoman kepada Quran dan Hadits.

Di lingkungan rumahku, ada yang beridul fitri tanggal 12 dan ada pula yang tanggal 13-nya. Yah, lucu saja pikirku melihat para tetangga yang sudah berlebaran sementara tetangga yang lain masih berpuasa. Jadi terasa kurang kompaknya. yang merayakan tanggal 12 tetap saja terlihat “nyantai” alias tidak berkeliling silaturahim ke rumah-rumah tetangga; menunggu esok harinya. Untungnya….

Sabtu, 13 Oktober 2007, aku bangun pukul 04:25, garagara ponselku berdering. SMS masuk. Sebelumnya aku terbangun entah berapa kian kali karena ada SMS masuk. Biasa, SMS dari temanteman yang mengucapkan ucapan selamat idul fitri. Karena hal ini, alarm yang kusetel pukul 03:30 sampai tidak terdengar.

Seisi rumah masih tidur; cuma aku yang sudah bangun waktu itu. Semalam kami tidur larut malam soalnya. Kebiasaan waktu puasa yang belum hilang. Ya sudah, kubangunkan ummi-abi. Terus sholat subuh. Selesai sholat, berniat tidur sebentar karena kepala terasa berat; masih pusing. Bangunbangun sudah pukul lima. Alhamdulillâh kepala sudah tak terasa berat.

Ummi-abi sedang di kamar mandi (disebut “sumur”), mencuci baju. Anehaneh saja, lebaran begini masih mencuci baju. Yah, itulah ummiku, tak mau menunda untuk hal cucimencuci baju. Kedua adik lakilakiku masih tidur. Sepertinya setelah sholat tadi mereka juga tidur lagi. Kedua adik perempuanku juga masih tidur. Sampai pukul setengah enam lebih sedikit, kami sekeluarga baru bersiapsiap untuk pergi ke masjid, sholat id. Ya, ke masjid. Bukan ke tanah lapang. Tak jadi soal, lah….

Takbir berkumandang seantero kelurahan (bukan kampung!). Dalam perjalanan menuju tempat sholat id hatiku merasa teramat damai. Kutakbirkan penuh kemenangan lafadzlafadz:

> Allâhu akbar, Allâhu akbar Allâhu akbar
> Lâilâha illallâhu wallâhu akbar
> Allâhu akbar, walillâhil hamd

Selesai sholat id, kami ke musholla. Sudah menjadi adat di daerah kami, setiap selesai sholat id-fitri maupun id-adha, kami semua berkumpul di mushollamusholla dan masjidmasjid. Tiaptiap keluarga jamaah dari tiaptiap musholla atau masjid membawa senampan makanan; biasanya berisi nasi berikut lauk dan sayurnya, lontong-ketupat sayur, ketan, roti, atau buahbuahan. Nampannampan tersebut kemudian diletakkan di tengahtengah musholla, sementara kami semua bersila mengitarinya. Setelah bapak ustadz berceramah sebentar, kemudian beliau memimpin doa. Sesudahnya, beliau memberikan abaaba kalau hidangan sudah boleh “diserbu”. Ya, diserbu! Anakanak dan para remaja tentunya paling gesit berebut hidangan, sementara para orang dewasa mengambil hidangan dengan santai. Semua kebagian. Para wanita juga. Mereka mendapatkan bagiannya sendiri, dan memakan hidangan di tempat yang terpisah dengan para pria. Begitulah keakraban yang terjalin di lingkungan tempat tinggalku.

Setelah selesai makan, aku pun pulang. Sembari ganti baju, kunyalakan komputerku. Kusetel keraskeras mp3 lagunya Tasya lagi. Kali ini, sesuai dengan semangat berlebarannya, kupilih yang berjudul “Ketupat Lebaran”.

> ketupat lebaran dengan sayur opor ayam
> disantap sepulang dari sholat idul fitri
> untuk kakek dan nenek, tetangga, sahabat
> senangnya, subhanallah, sungguh nikmat
>
> ketupat lebaran dengan sambal goreng ati
> tersedia di meja sepulang dari sholat
> memang sedap dan nikmat dan gurih
> cobalah ketupat, alhamdulillah, sungguh nikmat

Yah, jadi lapar lagi. Ketupat lebaran di rumah sudah siap, tuh. Makan lagi dulu, ah….

(^_^)v

Selamat Idul Fitri 1428 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin