Otak Si Rambut Panjang

Entahlah. Otakku barangkali sedang bertingkah aneh hari ini. Ia tidak tepat dalam menautkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Seperti misalnya tadi pagi aku meminta dibelikan pisang ambon kepada seorang berbatik ungu. Maka yang kudapatkan adalah tidak hanya enam buah pisang ambon yang ranum melainkan juga setengah porsi mi ayam dan dua bungkus kerupuk. Kusisihkan dua buah pisang untuk kumakan nanti siangnya karena yang selainnya habis pagi itu juga kumakan dan kubagi-bagikan.

Hatta, selesailah aku makan siang. Dari tempat makan itu aku membawa pulang dua buah apel yang cukup matang. Yang satu kuberikan sedangkan yang satunya kumakan. Tidak lupa sebelum kumakan kukuliti terlebih dahulu. Hal inilah yang menjadi pertanda ada sesuatu yang salah dengan otakku. Lanjutkan membaca “Otak Si Rambut Panjang”

Tetap Berlatih

Seorang guru olahraga pernah mengatakan hal ini kepadaku. Katanya, sekali dalam satu kurun waktu seorang atlet yang sedang rehat dalam karier profesionalnya harus berlatih agar dapat menjaga kebisaannya dalam olahraga yang ditekuninya. Perkataannya itu mendatangi ingatanku kemarin malam, yaitu pada saat aku menatap bulan sabit untuk kali pertamanya dalam bulan ini.

Benar juga. Badan manusia relatif lebih mudah pikun daripada hatinya. Barangkali seseorang akan mudah melupakan betapa sakit kakinya ketika terjatuh di jalan. Akan tetapi hatinya tetap akan ingat betapa sakit sekali hatinya mengetahui bahwa orang terkasihnyalah yang telah mendorongnya dengan sengaja sehingga ia terjatuh.

Tetapi bukan hal itu yang ingin aku tekankan. Seorang pemain sepak bola yang dilarang bermain sepak bola untuk sementara waktu karena cedera kaki yang dialaminya, akan membutuhkan waktu untuk setidaknya mengingatkan kakinya kepada teknik-teknik mengolah bola ketika dia sudah sembuh. Ia tidak akan bisa langsung melakukan tendangan ajaibnya seperti sedia kala. Memori kakinya tidak serta merta kembali seperti sedia kala. Katanya.

Maka mulai sekarang aku pun bertekad untuk melakukan hal yang menjadi kejagoanku minimal sebulan sekali. Aku tahu sudah lama aku tidak mempraktikkannya. Sudah hampir setahun ini, barangkali. Tentu aku tidak ingin kehilangan keahlianku ini.

Aku memang tidak berniat untuk kembali lagi menekuni dan berkarier secara profesional di bidang ini. Sudah lama aku memutuskan untuk keluar malahan. Tetapi aku merasa sayang untuk menghilangkan kebisaan ini secara total.

Maka inilah aku sekarang, berbahagia dalam keadaan perut kepenuhan makanan. Sampai berjumpa lagi di lain kesempatan, barangkali dalam satu bulan ke depan. 😀

Fakta Asyik OpenTTD #1

Masih ingatkah kalian dengan permainan yang membuatku kecanduan beberapa waktu lalu yaitu OpenTTD? Sekarang aku kecanduan permainan itu lagi. Dari “belajar kembali” mengenai bermain OpenTTD, aku menemukan beberapa fakta mengasyikkan seputar permainan ini. Berikut adalah salah satunya.

Terkadang pemerintah daerah di suatu kota tidak mengizinkan kita mendirikan terminal bus, stasiun kereta api, bandara, atau fasilitas lainnya. Hal ini bisa dikarenakan pemerintah kota tersebut memang terkenal galak, pelit, dan tidak permisif, atau bisa dikarenakan kita telah membuat marah si pemerintah kota dengan menghancurkan bangunan, dsb.

Untuk melunakkan hati si pemerintah kota ini sehingga menjadi lebih permisif dengan kita dan bermurah hati mengizinkan kita membangun prasarana perusahaan transportasi kita, caranya mudah sekali. Tanam saja sebanyak-banyaknya pohon di dalam dan sekitar kota tersebut. Niscaya dengan demikian pemerintahnya akan melunak hatinya. Bagaimana? Mengasyikkan, bukan?

Kecenderungan tersebut mengajarkan kepada kita bahwa dari permainan komputer pun kita bisa mengambil pelajaran kehidupan. Yakni bahwa gerakan penghijauan dan penanaman pohon membawa banyak keuntungan bagi kita semua. Jadi, mulai sekarang tanamlah pohon sebanyak-banyaknya di lingkungan sekitar. Semampunya saja, lah. Tak perlu langsung menanam pohon yang besar semacam cemara atau beringin, Saudara. Mulailah saja dengan menanam pohon taoge di pekarangan rumah. Bagaimana?

Tapi Bohong

Tahukah kalian bahwa di dunia ini ada hal semacam jagung rasa ayam panggang? Seperti itu pulalah bahwa pagi ini terdapat pujul Tujuh rasa pukul Lima.

Tahukah pula kalian bahwa sesungguhnya hujan membebaskan pohon-pohon besar dari kepesingan? Seperti itu pulalah cipratan becek membebaskan celanaku dari kebersihan.

Malam Acak

Mengaku.. bujangan.. kepada.. setiap wanita..
Ternyata.. sudah om-om tua..

Tak sengaja.. lewat.. depan rumahmu..
Kumelihat.. ada tenda biru..
Dihiasi.. bendera warna kuning..
Hati bertanya.. syapa meninggal dunya..

Malem minggu.. aye pergi.. ke bioskop..
Bergandengan.. ame koboi.. nonton pacar..
Beli karcis.. tahu-tahu.. kebanyakan..
Jage gengsi.. kepakse buka lapakan.. (dijual lagi)

Kukatakan dengan indah.. dengan terbuka..
Toplesku hampa.. sepertinya lupa.. menghampirinya..
Kau beri rasa yang berbeda.. mungkin kusalah.. mengisikannya.. yang kurasa nastar..

Dinda.. dimanakah kau berada..
Rindu aku ingin jumpa.. meski lewat janda..

Cicak-cicak di dinding.. diam-diam merayap..
Datang bayangan mantan.. Hap! Lalu diratap..

Anomali

Di dunia ini ada banyak makhluk aneh, yang karena keanehannya, maka terciptalah istilah anomali. Coba mari kita renungkan:
Ayam adalah omnivora, karena mereka bisa menyantap segala makanan, mulai butiran beras, daun pisang, pasir, cacing, bahkan daging bangsanya sendiri. Manusia, adalah pula omnivora, sama seperti halnya ayam. Kita bisa menyantap butiran beras, daun pisang, pasir, cacing, dan bahkan beraneka rupa kue basah. Tetapi manusia yang menyantap daging manusia lainnya dikatakan sebagai sebuah anomali. Manusia semacam itu akan dicap sebagai kanibal yang jahat dan tidak berperikemanusiaan. Lazimnya memang begitu.

Di era pemanasan global ini ada pula ayam yang beranomali dengan menjadi herbivora tulen. Mereka hanya menyantap biji-bijian, dedaunan, dan sesekali kerikil atau pasir. Tetapi begitupun tetap digolongkan sebagai herbivora, karena mereka tidak makan daging. Ayam inilah cikal bakal dari apa yang sekarang disebut sebagai ayam organik. Ayam yang semacam ini konon dihargai lebih tinggi di kalangan manusia dibandingkan dengan ayam-ayam “normal”. Tetapi sempat berpikirkah kita, para manusia, bahwa ayam anomali ini dicap sebagai golongan aneh dan dijauhi di kalangan ayam itu sendiri?

Tentu kita tidak menampik kenyataan bahwa fenomena semacam ini pun ada di kalangan manusia. Semakin banyak saja manusia yang organik semacam itu. Mereka hanya mau menyantap produk-produk nabati yang suci. Bukankah ini pula sebuah anomali? Tetapi khusus anomali yang ini, entah mengapa kita para manusia menganggap mereka yang herbivora organik ini jauh lebih terhormat dibandingkan dengan manusia kanibal. Lanjutkan membaca “Anomali”