I’ll banter. I’ll brag. I’ll gawk.

Kutuliskan postingan ini dalam keadaan selangkangan menahan beban air kecil. Sementara di luar sana hujan turun tak berkesudahan seperti kasih ibu kepada beta, karena tak terhingga sepanjang siang ini. Telingaku tidak saja khusyuk mendengarkan orkestra alam ini melainkan juga Simfoni Nomor 7-nya Beethoven (Beethoven’s Symphony No. 7, Opus 92 opening). Adapun teh tubruk di gelas sudah pada masanya mendekati satu tegukan terakhir.

Di hadapanku tergeletak satu buah salak sehingga aroma segarnya terhidu dengan sedapnya. Di sampingnya terdapat buku catatan tempatku mencatatkan kata-kata arkais dan segala hal mengenai Org Mode dan LaTeX. Itulah sejatinya rencanaku dari semula. Sehingga apabila di lain hari buku catatan itu tiada lagi mencatat hal-hal tersebut melainkan hal-hal lain, maka jangan salahkan anjing menggonggong.

Semenjak hari pertama aku memiliki buku catatan itu, semenjak itu pula aku kecewa. Buku catatan semahal itu seharusnya menyenangkan untuk ditulisi, bukan? Akan tetapi kenyataan telah berkata lain, Saudara. Buku catatan tersebut tidak menyenangkan apalagi mengasyikkan karena kertasnya gampang berdarah (bleed-through) alias tertembusi oleh tinta merahku. Haruskah aku menderita karenanya? Oh, tentu saja tidak perlu.

Kertas Tertembus Tinta
Kertas Tertembus Tinta

Lanjutkan membaca “I’ll banter. I’ll brag. I’ll gawk.”

Buncit Dulu, Buncit Kemudian

Memiliki perut buncit membuatku berpikir maju ke depan. Seperti misalnya ketika sedang rapat di pagi hari ini, aku memikirkan kira-kira makan siang apa hendaknya harus kusantap nanti agar aku bisa berkonsentrasi dalam rapat ini. Kalian begitu juga, bukan?

Sini aku kabarkan kepada kalian. Berperut buncit itu memiliki banyak sekali kelemahan, Saudara. Kalian akan kesulitan untuk memotong kuku jari-jari kaki seorang diri. Kalian akan kesusahan duduk tahiyat akhir dengan baik dan benar. Kalian akan kerepotan mencari celana pendek maupun celana panjang. Kalian pun tidak akan gampang jongkok di pojokan toilet lagi.

Apapun itu, Saudara, mari kutunjukkan kepada kalian satu rahasia penting. Betapapun banyaknya kelemahan berperut buncit, tetapi semua itu akanlah sirna karena satu saja kelebihannya. Ingin tahu apa itu kelebihannya? Yaitu kalian akan senantiasa tampil seksi. 😀

Cadangan dan Inovasi

Kan kalian sudah tahu kalau aku sering mendaulatkan diri didaulat menjadi Cadangan Mempelai Pria?

Nah, aku pun selalu berusaha menjalankan peranku tersebut dengan baik dan benar serta penuh dengan penjiwaan. Maka tak heran kalian sering menjumpaiku selalu siap dan hadir terlebih dahulu di tempat penyelenggaraan akad nikah. \Apakah ini terlalu berlebihan, Saudara?\

Maka jantungku pun akan berdegup kencang manakala si mempelai perempuan datang beserta rombongan. Jantungku pun berdegup makin tak keruan setelah kudapati ternyata sang mempelai laki-laki lama tak datang-datang. Barangkali ia terlambat, maka apabila si mempelai perempuan sudah tidak sabar cadangan pun terpaksa dipergunakan. Kan?

Kebahagiaan memang dapat muncul secara sebentar digantikan dengan kekecewaan. Maka aku sedikit kecewa begitu rombongan datang membawa serta sang mempelai laki-laki. Harapanku untuk menjadi cadangan berguna pun sirna, Saudara.

Ada satu hal ini dapat menjadi obat kecewa hatiku. Inilah apa maksudku dalam “Tahu?“. Bukan ucapan ijab apalagi qabul. Karena ucapan-ucapan itu sudahlah baku kiranya.

Saya nikahkan engkau dengan anak saya Fulanah binti Saya dengan mas kawin Bisa-Perhiasan-Bisa-Rumah-Bisa-Mobil-Bisa-Mukena dibayar tunai.

Saya terima nikahnya Fulanah binti Situ dengan mas kawin tersebut dibayar ngangsur tunai.

Ya paling tak jauh-jauh dari ucapan itu. Kalau pun berimprovisasi, tak jauh-jauh dari sekadar perubahan bahasa. Lanjutkan membaca “Cadangan dan Inovasi”

What’s in a name…

Salah satu inti kalimatku sewaktu berbincang-bincang dengan seorang kawan adalah begini, Saudara: memangnya jikalau dia mempunyai anak dia akan merelakan aku menjadi pemilih nama untuk anaknya itu.

Beberapa kawan sering menggantungkan keputusannya menggunakan sesuatu pada preferensiku. Misalnya ketika hendak menamai kucing-baru-lahir-nya, si kawan menanyakan apa warna kesukaanku. Maka apabila jawabanku adalah merah jambu, si kawan tadi akan menamakan kucing-baru-lahirnya dengan Pinky.

Misalnya lagi ketika hendak membuat blog pada layanan WordPress.com, si kawan menanyakan apa makanan kesukaanku. Ketika kujawab dengan kebab, aku pikir dia akan membelikanku seporsi besar kebab atau paling tidak membuatkannya. Maka aku pun kecewa ketika kemudian dia melanjutkan dengan memintaku memilihkan tema untuk blog-baru-akan-dibuat-nya.

Tulisan ini sejatinya bukan untuk mengabarkan bahwa aku menyukai warna merah jambu dan makanan kebab, akan tetapi mengenai penyandaran preferensiku dalam menentukan pilihan seseorang. Sejujurnya aku tidak berkeberatan terhadap hal tersebut \toh karena badanku sendiri sudah sedemikian berat\.

Aku hanya sedikit terbebani manakala preferensiku akan menjadi pengaruh besar bagi kehidupan seseorang. Lagi pula, bukanlah seseorang akan merasa lebih puas bilamana keputusannya dalam hal tertentu tidak dipengaruhi oleh preferensi apalagi tekanan dari luar dirinya?

Kepada si kawan sebagaimana kusebutkan di alinea awal, aku menekankan bahwa membuat blog di WordPress.com jauh lebih keren daripada sekadar membuat tulisan-tulisan aneh di titik-titik lain. Sekian.

Seandainya…

Seandainya sahabatku ♪

Dari luar angkasa ♫

Apa **** terjadi ♪

Oh, mungkinkah ♫

Ah, seandainya.

Tulisan ini adalah seri pengandaian.

Pertama, seandainya aku punya sahabat dari angkasapura. Aku suruh dia membangun bandar udara di Pekalongan agar aku enak untuk pulang ke kampung halaman.

Kedua, seandainya aku punya sahabat dari dunia perfilman. Akan kusuruh dia membuat film kolosal tentang pengisahan Pendekar Tanpa Nama seperti dalam buku Nagabumi.

Ketiga, seandainya aku punya sahabat tukang batagor. Aku perintahkan saja padanya untuk membikinkanku sepiring batagor setiap Jumat sore.

Keempat, seandainya aku punya sahabat sehidup semati. Akan kuminta dia untuk membuatkanku makanan lezat setiap hari.

Maka sahabat-sahabatku ini akan gembira memiliki sahabat sepertiku.

Holol Tanpa R

Hujan deras sekali sejak sore. Gubuk ini pun seakan hampir runtuh.

“Brug! Brug! Brugg!”

Aku tidak bisa tidur. Hatiku gelisah. Oleh suara-suara gemuruh hujan. Oleh suara-suara gaduh dari gesekan pohon-pohon bambu di kebun belakang. Angin bertiup kencang sekali, wahai engkau.

Bodoh sekali. Seharusnya aku tidak langsung kabur. Seharusnya aku sarapan dulu banyak-banyak. Mama baru saja masak nasi goreng tadi. Seharusnya aku menahan diri dulu, makan setidaknya tiga piring nasi goreng dan lima potong telur dadar, minum dua gelas susu, baru kemudian kabur.

Salah Mama juga mengapa tadi aku diajaknya bertengkar sebelum sempat ia menghidangkan masakannya ke meja makan.

Aku kelaparan.

Oh, betapa lagi aku bodoh sekali. Seharusnya aku kabur ke pasar atau warteg, bukannya ke hutan macam begini. Di hutan ini rumput pun tak enak rasanya.

Aku menyesal.

Oh, Mamaku si jahat buruk rupa. Betapa engkau kejam melarangku memakai rokmu. Bukankah engkau punya rok dua lemari? Kalau tidak ingin aku memakai rokmu, setidaknya belikanlah aku satu atau tiga potong saja. Warna merah, warna ungu, dan warna krem. Aku rasa aku takkan menuntutmu lebih daripada itu.

“Kreuuuk! Kreuuuukk!”

Aduh, suara menyeramkan apa pula itu? Aku tidak siap menghadapi hantu dalam keadaan perut lapar begini.

Orang-orang kampung punya cerita menyeramkan tentang gubuk di tepi hutan ini. Dulu pas zaman Jepang, anak gadis pak lurah waktu itu meregang nyawa dengan tragis di sini. Waktu itu, begitu ceritanya, si Mirah baru saja dilamar oleh pemuda tanggung bernama Pola. Lamaran itu ditolak mentah-mentah oleh Pak Lurah karena orang tua Pola adalah musuh bebuyutannya. Padahal si Mirah dan Pola adalah dua sejoli terikat asmara. Maka mereka berdua pun memutuskan hendak mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di gubuk ini. Lanjutkan membaca “Holol Tanpa R”

Kecewa, Bahagia, dan Jerawat

Kecewa adalah keadaan ketika penghasilan berada di atas garis pengharapan. Keadaan serupa ini bisa dikarenakan penghasilan nyungsep terlalu dalam, bisa pula dikarenakan pengharapan melambung terlampau tinggi.

Apabila dunia ini hanyalah rangkaian sebab dan akibat secara beruntun, maka nyungsepnya penghasilan bisa jadi akibat dari kerja keras tidak terhargai secara patut. Demikian halnya apabila ini diselisik lebih dalam akan menghasilkan banyak-banyak rangkaian sebab dan akibat berikutnya.

Dalam keadaan pergi ke tukang jahit untuk mengecilkan celana, apabila berpenghasilan rendah karena tidak ramahnya tukang jahit, misalnya, maka akan tercipta kekecewaan. Karena sebagai manusia tentunya kita berpengharapan bahwa manusia lainnya akan ramah terhadap kita, terlebih apabila kita memiliki bakat terpendam untuk memberinya uang.

Sudah banyak kutuliskan kekecewaan dalam blog ini. Maka tulisan ini tentunya menambah jumlah tersebut. Bukannya bangga melainkan aku merasa kecewa karena kekecewaan. Pun begitu aku menyadari bahwa bangsa ini memang bukanlah bangsa pelayan dalam artian masih kurang memiliki kebanggaan apabila ternyata bisa melayani sepenuh hati.

Di dekat kecewa rupa-rupanya terletaklah bahagia. Betapa tidak, Saudara. Tak jauh dari tempat tukang jahit menjalankan roda mesin jahitnya, berdirilah beraneka tenda beraroma menggiurkan. Tak lain tak bukan adalah tenda tempat dibakarnya ayam-ayam kampungan dan ditusuknya kambing-kambing untuk kemudian pula dibakar.

Dalam pada itu, tersembullah sebutir jerawat di pipi kiriku. Aku artikan ini sebagai pengingat untuk tidak terlena akan kenikmatan dunia dan kembali rajin menulisi blog ini. Maka dari itu, aku ucapkan selamat kepada kalian apabila tidak memiliki jerawat baik di pipi kiri, pipi kanan, maupun jidat.

Hanyut Rasa

Sebagai manusia, tentu kita punya perasa. Tanpa kita sadari, segala kelakuan kita tersaring oleh perasa tersebut. Suatu ketika kita merasa tidak ingin bangun tidur, maka terjadilah istilah sebutan bangun kesiangan. Begitulah, seperti tadi pagi tadi aku alami.

Terkadang pula kita merasa tidak ingin tidur, maka terjadilah istilah amnesia insomnia. Kalau ini sudah sering aku alami. Kalian?

Gambar apakah ini?
Gambar apakah ini?

Aku menyebutnya dengan istilah terhanyut perasa. Itulah keadaan di mana kita, baik sadar maupun tak sadar, seolah-olah, merasa tidak ingin menjadi bagian ataupun melakukan sesuatu. Alasannya? Cari tahulah sendiri!

Geli-geli Basah

Jika kalian mengorek lubang hidung dengan pentol kapas \\cotton bud, maksudnya\\ ketika kalian sedang pilek, maka terjadilah geli-geli basah. Dengan demikian kalian akan merasakan sebuah sensasi kenikmatan sekaligus penderitaan.

Lain lagi jikalau kalian terlalu banyak minum kopi. Bisa jadi jantung kalian akan berdetak semakin kencang. Maka kalian pun menjadi penderita geli-geli basah.

Geli-geli basah, atau dapat kita singkat sebagai gelisah, adalah perasaan sedikit tidak tenteram karena sesuatu cairan. Bagi diriku sekarang, misalnya, perasaan gelisah ini adalah akibat menahan air seni di bagian tertentu.

Jika kalian mengalami ketidakenakan geli-geli basah, hendaklah kurangi segala kebasahan terkait. Apabila akibat terlalu banyak minum kopi, maka kurangilah kadar kopinya dengan cara minum air putih sebanyak-banyaknya sehingga dapat dikeluarkan menjadi air seni.

Mungkin di antara kalian kemudian akan menanyakan, “Bagaimana apabila geli-geli basah akibat menanti ketidakpastian?” Aku akui pertanyaan tersebut adalah bagus. Maka jawabanku tetaplah sama, yakni kurangilah kadar kebasahan terkaitnya.

Gelisah akibat menanti ketidakpastian adalah diakibatkan oleh meningkatnya kelembaban di sekitar paru-paru dan jantung. Itulah sebabnya apabila kalian mengalami hal demikian maka kalian akan pula mengalami sesak napas. Lantas bagaimana mengurangi tingkat kelembaban di area ini?

Kalian tahu gas oksigen, bukan? Ialah nama lain dari udara api, unsur penting dalam proses pembakaran. Nah, segala kebasahan apabila dibakar akan menjadi uap panas sehingga dapat dikatakan menghilang.

Jadi, apabila kalian mengalami geli-geli basah akibat menanti ketidakpastian tadi, perbanyaklah bernapas. Sekian.