Juwita Malam

engkau gemilang malam cemerlang
bagaikan bintang timur sedang mengembang
tak jemu-jemu mata memandang
aku namakan dikau juwita malam

sinar matamu menari-nari
masuk menembus ke dalam jantung kalbu
aku terpikat masuk perangkap
apa daya asmara sudah melekat

juwita malam, siapakah gerangan tuan?
juwita malam, dari bulankah tuan?

kereta kita segera tiba
di Jatinegara kita ‘kan berpisah
berilah nama, alamat serta
esok lusa boleh kita jumpa pula

Hoho. Sedari kemarin aku begitu getol mendendangkan lagu ini. Lagu “JUWITA MALAM” yang ternyata adalah gubahan Ismail Marzuki yang hebat itu.

Ternyata ada bermacam-macam versi, loh. Ada Senno yang membawakan versi jazz. Ada pula Toto Salmon & Sam Saimun yang versi keroncongnya. Kemudian ada SLANK yang membawakan versi blues dan juga versi punk-nya. Hoho. Benar-benar lagu yang asyik!

 

Juwita Malam
Juwita Malam

 

 

Ayo Saudara-saudara, mari kita menyanyi bersama-sama:

juwita malam, siapakah gerangan tuan?
juwita malam, dari bulankah tuan?

kereta kita segera tiba
di Jatinegara kita ‘kan berpisah
berilah nama, alamat serta
esok lusa boleh kita jumpa pula

esok lusa boleh kita jumpa pula

Glosarium:

  • JUWITA = JUITA = kekasih, buah hati

Cinta Tanah Air: Indonesia Tanah Air Beta

Assalâmu’alaykum. Bagaimana kabar iman saudara-saudara? Semoga masih tetap Alhamdulillâh-Luar Biasa-Allâhu Akbar!

Hubbul wathân minal îmân. Cinta tanah air sebagian dari iman. Entah hadits tersebut itu hadits palsu atau bagaimana, saya tidak tahu. Yang jelas, mencintai tanah air itu suatu kebaikan. Islam mengajarkan kita untuk patuh kepada pemimpin kita. Bisa pemimpin suatu perkumpulan, bisa pemimpin negara. Dan Islam memang melampaui batas negara. Seiman berarti saudara. Jadi… Jadi apa, ya? Kok malah tidak nyambung.

Yah, yang jelas bulan ini adalah bulan Agustus. Itu artinya? Bulan Kemerdekaan. So? So…so apa? Soto betawi? Itu artinya kita akan merayakan Dirgahayu Republik Indonesia! Ya, bulan ini genap bangsa kita merdeka selama 63 tahun. Yah, kalau Nabi Muhammad SAW usia segitu meninggal dunia tuh. Tapi Indonesia? Sedang tumbuh-tumbuhnya. Hoho. Ya, meski tumbuhnya tidak atau belum teratur. Tapi kita harus optimis, dong. Bahwa bangsa ini nantinya akan menjadi bangsa yang besar dan disegani di seantero jagad ini. Semangat!

===

Saudara pendengar, masih di 100.20.2.1 FM, Radio PEDANSA, Penjaga Kedaulatan Bangsa, bersama penyiar kesayangan Anda, Farijs van Java. Senin siang ini rupa-rupanya cuaca di Rawamangun City dan sekitarnya adem-adem saja. Tidak seterik sebagaimana hari-hari belakangan ini. Dan nampaknya lagu berikut ini sesuai dengan suasana pada siang hari ini. Sebuah lagu gubahan dari Ismail Marzuki yang menggambarkan betapa kita cinta akan tanah air Indonesia ini. Sesuai juga dengan perasaan kebangsaan yang begitu menggelora di dada pada bulan Agustus ini. Langsung saja mari kita simak bersama lagu bertajuk “Indonesia Pusaka” berikut ini….

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
S’lalu dipuja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Indonesiaku yang tercinta. Tempat ‘ku dilahirkan dan dibesarkan. Sejak dahulu kala telah menjadi pesohor di dunia. Oh, Indonesia tumpah darahku….

Saudara pendengar sekalian, cintailah tanah air kita ini. Pertaruhkan segenap jiwa dan raga kita untuk mempertahankan kemerdekaannya. Ayo kita simak kembali lanjutan dari lagu “Indonesia Pusaka” berikut ini….

Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya

Indonesia Ibu Pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi

Oh, Indonesiaku. Segenap kepulauan nan indah permai ini adalah mahakarya sang Pencipta. Tiada bandingnya di dunia. Oh, Indonesiaku. Kucintai dirimu dengan segenap jiwaku. ‘Ku akan berbakti-setia kepadamu. Indonesiaku…merdeka!