Baru Tahu: Sinestesia

Hai, pesemangat!

Kuberi kalian tahu akan sesuatu bernama sinestesia: bukan majas atau gaya bermetafora; bukan makanan apalagi mainan, melainkan sebuah fenomena bercampurnya dua rasa yang ditangkap oleh satu indra seakan-akan satu indra yang lain ikut pula merasakannya.

Apabila dengan anestesi/a/ kita mati rasa, maka dengan sinestesia kita mendengar suara sekaligus melihat warna. Terkadang dengannya kita menghidu suara, atau malah melihat aroma.

Kata sinestesia, angka itu berona dan aksara itu penuh warna. Tak ayal lagi, baginya musik serupa nyala kembang api di malam tanpa purnama.

Bahan bacaan:

2100

Hari Saba, 22 Oktober 2100

Hari ini begitu panas. Padahal baru Oktober, tetapi musim kemangin sudah tiba. Agaknya memang dunia sedang berproses ke perubahan iklim.

Apa kabar negara? Negara baik-baik saja. Bahkan tanpo keberadaan presiden ketua pun kehidupan rakyat akan terus berjaya. Aku rasa parlemen telah memikirkan setahap-tahap untuk mengatasi keemtian pemerintahan sementara ini. Adapun para jenderal di ABRIS aku rasa dapat menyentosakan kita. Aku optimis kekuatan militer kita masih cukup tangguh untuk menangkal serangan pasukan Manusia Semut. Bukankah kita baru saja membeli ribuan supertank dari Uni Afrika?

Apa kabar primata? Mereka pun baik-baik saja tentu. KPP telah melakukan tugasnya dengan begitu sempurna. Kabarnya tahun depan akan dibangun penangkaran di selatan Bandung Baru. Semoga tercapai cita-cita KPP untuk membangun sedikitnya satu item penangkaran di tiap-tiap negara pecahan.

Rencana hari ini apakah? Akan berbaring seharian saja di rumah: menonton teletron, atau sekadar bermain pingpong. Aku sudah undang kawan-kawan untuk berkunjung. Barangkali kami akan bermain api dan membuat jagung setrum yang lezat. Siapa mau?

Barangkali sedikit terlambat, tetapi itulah yang beberapa hari lalu diminta oleh Daily Post:

The language of the future: what will it be like? Write an experimental post using some imagined vocabulary — abbreviations, slang, new terms.

Mencipta Istilah

Belakangan ini sedang terjadi kehebohan di ranah maya. Barangkali ranah nyata pula.  Apa hal? Mengenai penciptaan istilah!

Dulu ada istilah “sesuatu”. Sekarang ada istilah “statusisasi kemakmuran”, “labil ekonomi”, “konspirasi kemakmuran”, dan lain-lain.

Bukankah aku juga secara serampangan sering mencipta istilah yang aneh-aneh semacam “layar jawil” dan lain-lain? Ah, jadi takut aku mencipta istilah lagi.

Lingkungan Sekitar

Teruntuk para ahli bahasa di mana pun berdiam dan berdikari, adakah yang bisa menjelaskan kepadaku perihal istilah “lingkungan sekitar” atau “lingkungan dan sekitarnya“?

Menurutku istilah-istilah itu rancu saja. Berlebihan. Lingkungan itu bukankah sudah sekitar? Atau adakah penjelasan lain mengapa istilah-istilah ini benar demi hukum? Terima kasih. Sekian.

Remaja

Adalah seorang James T. Siegel (yang entah memiliki hubungan kekerabatan dengan Steven Siegel atau tidak) yang mengatakan bahwa seseorang tidak serta merta menjadi remaja karena berusia muda, tetapi karena memiliki selera dan aspirasi yang menandakan bahwa dirinya seorang remaja.

Maka remaja masjid adalah mereka yang hati dan jiwanya selalu terpaut dengan masjid; senantiasa meramaikan toilet masjid, mengadakan rapat di beranda masjid, memarkir sepedanya di pelataran masjid, dan melaksanakan salat Jumat di dalam masjid.

Sedangkan remaja masa kini adalah mereka yang hati dan jiwanya selalu terpaut dengan masa kini; senantiasa menutupi masa lalu, tidak pernah memikirkan masa depan, dan menjalani kehidupannya di masa kini, karena toh kita selalu berada di masa kini yang hari sebelum ini selalu disebut sebagai kemarin dan hari sesudah ini selalu disebut sebagai esok hari.

Farijsvanjava,
Dalam upaya rehat ketika membaca buku “Dilarang Gondrong!: Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an” buah karya Aria Wiratman Yudhistira yang diterbitkan oleh Marjin Kiri.

Garis Tangan

Sekadar bertanya-tanya, mengapa orang-orang mengistilahkan takdir atau nasib seseorang dengan “garis tangan”, ya? Misalnya dengan berkata, “Ah, garis tangan kita kan lain ama dia.” Apakah orang-orang itu memercayai kalau garis-garis yang ada pada telapak tangan tiap-tiap orang yang berbeda-beda itu menunjukkan nasibnya di dunia?

Bagiku yang tidak memercayai hal itu, istilah semacam itu sebaiknya diturunkan dari peristilahan. Tinggal langsung katakan saja menggunakan kata “nasib”. Menurutku itu lebih jujur. Hwehe. 😀

Catatan kesehatan:
Setelah kemarin-kemarin sering mual-mual dan muntah-muntah, sekarang giliran mulas-mulas yang menyerangku. (doh)