Memanggil Mas-Mas

Untung aku orang Jawa. Mengapa?

Ternyata ada, loh, beberapa orang di sekitarku yang merasa tidak suka atau sekadar segan atau justru tersinggung ketika dipanggil dengan sebutan “mas”. Antara lain beberapa putra Sunda yang memberi saran untuk memanggilnya dengan sebutan “aa'” saja. Juga beberapa putra Melayu Medan yang menginginkan dia dipanggil dengan sebutan “abang”. Juga di antaranya berupa mbak-mbak yang tidak suka disamakan dengan Omaswati.

Maka begitulah kiranya aku paham mengapa bapak-bapak tentara di kantor memanggilku dengan sebutan “om”. Tak lain tak bukan tentunya karena bapak-bapak ini tidak atau belum mengetahui dari mana asalku sehingga demi keamanan memanggilku dengan sebutan demikian. Kira-kira bisa kalian terima?

Jadi, Saudara, demi menyambut si Ramadan yang entah datang Jumat atau Sabtu nanti, tadi aku pergi ke aa’ tukang cukur rambut. Tentu saja tujuanku adalah untuk bersilaturahmi sekalian meminta dipangkas rambutku agar kepalaku terlihat lebih ganteng dari biasanya. Lanjutkan membaca “Memanggil Mas-Mas”

Kemanjon vs Insomnia

Kemanjon aku ki, Cah. Ra iso turu.

Ada yang tahu “kemanjon”? Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu tahu arti yang sebenarnya. Hanya sering kudengar dari perkataan orang-orang tua ketika menyebutkan anak bayinya yang belum juga tidur meski sudah larut malam. Mungkin penjelasan berikut dapat membantu menggambarkan:

Akhir-akhir ini tidurku tidak teratur, Saudara. Selepas Isya sudah mengantuk; tidur. Kadang terbangun lagi tengah malam. Kadang bisa tidur lagi selepas Subuh. Kadang malah tidak tidur lagi. Kadang pula tertidur di meja kantor. Maksudku cuma kepala yang ada di atas meja.\

Ada apa, ya? Apakah ada hubungannya dengan kedutan mata kananku?

Akhir-akhir ini pula gairahku untuk membaca dan menulis menurun drastis. Bahkan tak ada hasrat untuk sekadar bersenda gurau. Ada apa ini? Apakah karena bulan akan mati? Lantas aku akan kembali bersemangat ketika purnama datang kembali? Kita lihat saja nanti. \Berima!\