farijsvanjava pikir sepertinya ada yang salah dengan kaki kirinya…

//Hwehe. Ketahuan deh kecanduan nge-plurk-nya.//

Rusak lagi, rusak lagi. Rusak sekali lagi. Sekali lagi rusak. Lagi-lagi rusak sekali. Begitulah, Saudara-saudara. Sepatuku kembali rusak. Selama setahun ini sudah terhitung empat kali aku berganti sepatu. Beli sepatu baru, beli sepatu baru lagi. Boros sekali. Semuanya gara-gara sepatu-sepatu itu cepat rusak.

Sepatu pertama kulitnya terlepas dari sol. Sudah kujahitkan pada tukang sol sebenarnya. Tapi setelah beberapa waktu kupakai, kulitnya ternyata tidak kuat menahan benang jahitan tadi: kulitnya sobek! Akhirnya aku takut memakai sepatu itu. Takut kalau-kalau solnya tertinggal sewaktu aku berlari di koridor kantor. Kurumahkanlah ia.

Sepatu kedua kupensiunkan dini karena ia sudah berubah menjadi semacam buaya: menganga! Antara dasar sepatu dengan sol tidak lagi menyatu. Karenanya sepatu “buaya” itu sudah tidak nyaman kupakai. Sudah tak sedap pula dipandang mata. Mengerikan!

Sepatu ketiga harus menjadi penghuni sudut kamarku ketika kulitnya sudah banyak terkelupas. Yang lebih parah adalah pada bagian tekukan jari-jari kaki, kulit tersebut nyaris sobek dan berlubang. Khawatir akan menjatuhkan harkat dan martabat serta pamor instansi kantorku, karena tak ada pula tukang tambal ban kulit sepatu, sepatu itu pun kuganti dengan sepasang sepatu baru. //Halah, lebay capcay dicampurcabay!//

Sepatu keempat ini, apakah harus ku-PHK juga, Saudara-saudara? Sekarang sepatu itu dalam kondisi kritis. Sol sepatu pada bagian tekukan jari-jari kaki sudah terbelah. Sol tersebut nyaris bercerai menjadi dua bagian! Nah, apakah harus kubeli lagi sepatu baru atau kulem saja sol tersebut, Saudara-saudara? Perlu Saudara-saudara ketahui, ini adalah kali pertama aku membeli sepatu “dinas” dengan alas karet seperti pada sepatu olahraga.

Hanya dalam kurun waktu satu tahun lebih beberapa bulan keempat sepatu itu “hancur” kuinjak-injak, Saudara-saudara. Dan yang lebih mengejutkan, Saudara-saudara! Keempat pasang sepatuku itu hanya rusak di sepatu sebelah kiri! Kena apa?! Ada apa dengan kaki kiriku, Saudara-saudara? Apakah ia terkena kutukan? Ataukah memang semua sepatu sebelah kiri lebih jelek mutunya daripada sebelah kanan?

Kuakui dalam memakai sepatu aku termasuk tipe barbar yang semena-mena terhadap sepatu. Sudah beruntung mereka rela kuinjak-injak sepanjang hari, masih saja suka kupakai untuk menendang batu atau kaleng di tepi jalan. Belum lagi sepatu yang semestinya dipakai di ruangan berlantai mengkilap atau berkarpet empuk itu malah kupakai untuk berjalan di tepi jalan tak beraspal tak bertrotoar. Ditambah sering pula kupakai untuk skipping /meloncat-loncat/, jogging /lari-lari kecil/, running /lari-lari besar/, breaking /mengerem setelah lari besar/, kicking /menendang sepatu yang sebelah alias tersandung/, hingga kencing /pipis, karena ke toilet kantor pun harus tetap memakai sepatu/.

Ah, tak habis pikir aku. Kena apa dengan sepatu kiriku?

Rawamangun
Ahad malam, 11 Januari 1430
Pukul 23 kurang beberapa menit

ttd

Farijs van Java,
Di sela-sela menuntaskan tugas kantor yang deadline-nya adalah besok pagi.
//Oh, somebody help me! I need more coffee!//

v(^_^)

===

NOTABENE:
Sepatu-sepatu dalam kisah di atas semuanya berjenis kelamin pantofel /pantofel = sepatu yang bagian atasnya tertutup (tanpa tali), mudah dipakai dan dilepas/ dan termasuk dalam kelompok ras kulit hitam. Sepatu-sepatu semacam ini mudah kita suai di toko-toko sepatu, baik yang berada di dalam mal-mal pusat perbelanjaan atau pun ruko-ruko margin jalan.

Mudah juga kita temukan di tempat-tempat penumpangan alas kaki di masjid-masjid besar di kota ini pada hari Jumat ketika matahari tepat berada di atas ketua kita. Atau bisa juga dengan mudahnya kita tonton setiap pagi, sekira pukul 10-an, teronggok lesu di kolong meja pada kantor-kantor karena pemiliknya lebih senang berselingkuh dengan sandal hotel atau sandal jepit. Hidup send-all!!