Seratus Tiada Serupa

Sesungguhnya karangan ini merupakan jawaban dari tantangan Bang Arman tempo hari. Rangkaian kalimat di sini terdiri atas seratus kata tanpa kesamaan. Adapun apabila terdapat hal serupa, mohon dimaklumi saja.

Hatta, Senin siang begini aku tidak merasakan tubuhku mengandung semangat barang sejengkal. Barangkali karena sampai sekarang belum kusesap kopi setetes pun. Bisa jadi oleh sebab kekosongan dalam perutku akibat tiada sarapan pagi tadi. Atau ketika berangkat ke kantor, saking terburu-burunya hingga kakiku sakit tersandung batu.

Semoga saat sore nanti gairahku sudah kembali, sehingga dapat pulang dengan hati nyaman dan senang, serta berjalan menyusuri trotoar sambil menyenandungkan lagu-lagu riang. Selamat makan.

Sekian.

Kalimat Ampuh

Selamat pagi, anak-anak. Bapak selakunya pengawas di sini dalam hal ujian ini akan memberikan soal-soal ujian dan juga menerangkannya. Yang pertama adalah soal BS. BS itu adalah tulislah B jika akan menulis Bebek, dan tulislah S jika akan menulis Sapi. Yang kedua adalah menjodohkan kalimat. Di pinggirnya sudah ada jodohnya Kak Limat, kira-kiranya siapa. Ada Kak Reni, ada Kak Andin, ada Kak Tika, juga ada Ka’ redok. Karedok leuncak. … (P Project – Mencontek)

Hoho. P Project selalu menjadi idolaku. Terutama Deny. 😀

Karedok @ Wikipedia
Karedok @ Wikipedia

Topik Post a Day hari ini berhubungan dengan kalimat. Yaitu:

Grab the nearest book (or website) to you right now. Jump to paragraph 3, second Sentence. Write it in a post.

Bonus: Make up a sentence to follow the first one, but make it go in an entirely different direction that the actual book or website does.

Maka aku baru saja mencomot sebuah buku milik rekan kerja seruanganku yang mejanya ada di sebelah mejaku. Asal mengambil saja, dan ternyata buku yang kuambil adalah buku “Filsafat Hukum Ekonomi” karangan Erman Rajagukguk. Wow! Aku salah mengambil buku, pemirsa.

Segera saja kubuku, asal saja, kubuka langsung di halaman 40. Sesuai petunjuk di atas, maka segera kutemukan paragraf ketiga. Dan berikut adalah bunyi kalimat kedua pada paragraf ketiga halaman 40 buku tersebut:

Artinya, kehidupan dianggap mulai saat sel telur dan sperma bertemu.

Wow! Terus terang halaman itu asal saja kubuka, lho. Tiada pemilihan atau pengaturan sebelumnya.

Setelah kubaca paragraf-paragraf sebelum maupun sesudah kalimat tersebut, ternyata Bapak Erman sedang menjelaskan perihal hukum mengenai aborsi. Lantas kalimat-kalimat apa kira-kira yang harus kubuat untuk meneruskan kalimat tersebut? Hmmm….

Maka perihal sel telur dan sperma ini bertemu, tiadalah orang yang memilikinya melihat miliknya bertemu dengan milik orang lain. Hal itu menjadi maklum adanya manakala biasanya kedua barang tersebut bertemu dalam tempat yang gelap.

Baiklah, kuakui aku tidak mahir dalam mengarang kalimat. 😦

Aduh, melihat foto karedok di atas, rasanya perut laparku semakin melapar saja. Mari kita sarapan!