Jadi?

Jadi barusan aku berniat hendak memberitahukan sebuah kabar atau sesuatu hal kepada kalian. Akan tetapi, berhubung lupa, maka bolehlah foto cemeng alias kucing anakan berikut:

Anakan Kucing #1
Anakan Kucing #1

Aku kasih bonus satu, nih:

Anakan Kucing #2
Anakan Kucing #2

Setelah memajang foto kucing kasihan ini, jadilah aku ingat kelupaanku tadi. Aku ingin mengabarkan kepada kalian bahwa tepat satu bulan ke depan adalah hari baik untuk melangsungkan segala acara, karena bertepatan dengan tanggal sepuluh bulan sebelas tahun dua belas. Kan?

Sekian.

Klem Kertas

Klem Kertas (Binder Clip)
Klem Kertas (Binder Clip)

Klem kertas (binder clip) sering dianggap sebagai benda remeh-cemeh karena tersedia banyak di kantor. Padahal fungsinya sebagai pemersatu lembar demi lembar kertas tidak dapat digantikan oleh benda lain. Apabila lembaran kertas tidak begitu banyak, boleh saja menggunakan klip kertas (paper clip). Akan tetapi kalau ingin menyatukan lembaran kertas bertumpuk-tumpuk sehingga tebal, tentulah klip kertas tak sanggup mengerjakannya. Kan begitu?

Klem kertas sering digunakan untuk menggabungkan lembaran-lembaran naskah kontrak atau dokumen lainnya sebelum kemudian dijilid atau dikokot (staple). Bisa juga digunakan untuk menjepit kertas atau tumpukan kertas pada sebuah papan landasan menulis (writing pad) sehingga bisa dibawa ke mana-mana dan mudah untuk ditulisi. Apabila sedang tidak dibawa bepergian, boleh juga disimpan dengan cara digantung di dinding karena klem kertas memiliki dua buah tangkai berlubang sebagai kaitannya. Demikianlah sehingga fungsi klem kertas dapat dikatakan semipermanen.

Akan tetapi, fungsi klem kertas dapat menjadi permanen apabila tidak ada keinginan dari pemakainya untuk menjilid atau mengokot naskah kontrak atau dokumen tersebut. Atau bisa jadi apabila pemakainya sedang menghemat dana penjilidan atau sekadar malas. Dengan begitu klem kertas kemudian menjadi satu bagian dengan naskah kontrak atau dokumen tersebut. Harap baca tulisan selanjutnya agar tidak tersesat!

Apa Pentingnya Mandi?

Sebenarnya, apa sih pentingnya mandi? Toh seharian ini tidak ada satu orang pun di kantor yang menyadari kalau pagi ini aku tidak mandi. 😀

Jadi tadi malam itu aku pulang larut malam. Niatnya sih langsung tidur sesampainya di rumah. Karena gigi sedang bermasalah, mengingat pula hal itu sangat dianjurkan oleh dokter, jadilah aku gosok gigi dahulu. Kepalang basah \ketika menggosok gigi tak sengaja gayung penuh air jatuh menumpahi baju\ jadilah aku mandi sekalian. Sesekali mandi malam tak ada salahnya, kan?

Maka aku pun langsung tertidur. Pulas, sih. Tapi beberapa kali terbangun. Sekitar pukul satu dini hari aku terbangun. Pada saat itu rasa-rasanya aku seperti ketika habis mabok perjalanan, eh kejatuhan buah kelapa. Ternyata kepalaku ketika itu sudah ada di lantai sementara anggota badan lainnya masih di atas kasur.

Kemudian sekitar pukul tiga aku terbangun. Bukannya salat malam, eh aku malah loncat-loncat. Sepertinya sih terbawa mimpi. Cuma aku tidak ingat mimpi apa. Bisa jadi aku mimpi bermain trampolin. Atau mungkin pula aku sedang bermimpi main lompat tali. Lanjutkan membaca “Apa Pentingnya Mandi?”

Sofa Ketinggalan

Seharusnya postingan Sabtu Malam Puisi ini disertai dengan foto berikut ini:

Sofaku Sayang
Sofaku Sayang

Aku suka sofa ini. Sofa milik kantor ini aku yang turut mencarikan, aku yang turut membelikan. Kantor punya beberapa set sofa ini. Ada dua macam warnanya: biru keabu-abuan dan cokelat muda seperti foto di atas.

Sudah beberapa kali aku tidur di atas sofa ini kalau piket malam. Empuk. Sandarannya bisa dilepas yang lantas kujadikan bantal guling. Hwehe. 😛

Ada dari kalian yang punya sofa favorit?

Jadwal Pemadaman

Hari ini wilayah kantor terkena jadwal pemadaman listrik oleh PLN mulai pukul 12.00 s.d. 16.00. Bisa saja pemadaman itu tidak sesuai jadwal. Bisa berkurang, bisa bertambah. Jadi seharusnya pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan komputerisasi dan internet harus segera diselesaikan sebelum itu. Masalah kembali muncul ketika belum semua data terkumpul bahkan sampai sekarang ini (pukul 12.00 kurang beberapa menit). Jadi? Apa yang harus kuperbuat, Saudara? 😀

Sedang Sial Karena Sinyal

Hari-hari belakangan ini kurang begitu “great” bagiku. Mentahlah. Mungkin karena aku kurang “great” juga jadi orang.

Tadinya aku ingin menceritakan bagaimana seminar di kantor hari ini. Bagaimana si Imam Prasodjo berdiskusi dengan kami mengenai transformasional birokrasi. Dan, hei, ternyata beliau orang yang hebat. Entah mungkin karena beliau seorang sosiolog makanya berjiwa sosial, tetapi beliau tampaknya tidak pernah sial. Tadi beliau telah membuktikan bahwa dirinya adalah seorang yang “great” dengan melakukan tindak-tindak sosial, seperti menolong orang yang akan menolong orang-orang, dan sebagainya.

Berbicara mengenai “great”, sepertinya hari ini aku telah menyantap makanan dengan porsi yang cukup “great”. Dan, hei, berbicara mengenai sial, sepertinya aku sedang mengalami kesialan karena (lagi-lagi) perkara kehilangan sinyal.

Sekian.

Berpikir di Luar Kotak

Sekarang makin banyak orang berbisnis rumahan. Bukan berarti mereka menjual dan membeli rumah. Maksudnya adalah menjadi apa yang disebut sebagai penjual daring alias online reseller.

Mereka \atau barangkali juga kalian\ ini gencar melakukan upaya pemasaran melalui media-media jejaring sosial. Yang paling sederhana adalah memasarkan barang dagangan mereka kepada tetangga ketika sedang bergosip dengan tukang sayur keliling.

Tentu saja karena hampir semua penjual daring yang kuperbincangkan di sini adalah para ibu rumah tangga tangguh penjaga keuangan keluarga. Mereka bahkan bangga dengan status mereka. Kata-kata mantra mereka adalah bekerja mencari uang sambil bermain dengan anak-anak dan sambil meng-update status di Facebook.

Kita kembali lagi ke dalam pembahasan upaya-upaya pemasaran yang dilakukan oleh para penjual daring. Cara lebih canggih adalah dengan mengirimkan SMS atau BBM berisi propaganda. Selain langsung menawarkan barang dagangannya, biasanya mereka pula mencoba menggaet sebanyak mungkin anak buah.

Kalian pasti sudah paham, bukan?

Bagi yang gigih dalam berusaha, sudah pasti mereka mengunggah foto-foto barang dagangan mereka di Facebook. Jadilah itu timeline penuh dengan foto-foto barang yang entah dari mana mereka dapatkan, hingga menjadi semacam etalase digital khas dunia maya. Kemudian bagi yang lebih gigih lagi mereka pergunakan pula layanan-layanan media maya lain yang dapat dipakai, misalnya Multiply dan Twitter.

Sampai sini kiranya sudah pahamkah kalian dengan arah pembicaraanku? Lanjutkan membaca “Berpikir di Luar Kotak”