Kawan Masa Kini

Katanya, kawan itu sudah lama saling kenal.
Katanya, kawan itu sering berhubungan.
Lantas, apakah yang sudah lama saling kenal tetapi tidak lagi sering berhubungan?
Sebuah dilema masa kini: ketika perkawanan menjadi pudar lantaran perbedaan haluan dalam memilih layanan jejaring sosial.

Haha. Nasib ya nasib. Kalau ingin meneruskan perkawanan, apakah harus mengaktifkan semua layanan jejaring sosial? Dari Fa-cebok, Tuiter, Nge-pet, Lain, Wacap, Wecat, In-sakgram, Piber, Pelurek, Bebem, dan lain-lain, haruskah kita punya semua akunnya?

Ah, alangkah indahnya masa yang sudah lampau, yaitu masa ketika kawan hanya memiliki satu alamat pos, satu nomor telepon rumah, satu alamat pos-el, satu nomor SMS, satu profil ACS, dan satu muka.

Kawan gelak tiada,
Kawan menangis jarang bersua.

+-+-+
Berdasarkan maraknya permintaan, maka dengan ini kujelaskan bahwa dua baris terakhir di atas adalah plesetan sebuah peribahasa yang bunyi aslinya yaitu “Kawan gelak banyak, kawan menangis jarang bersua”. Adapun arti peribahasa asli tersebut adalah kira-kira seperti ini: kawan di saat senang banyak, kawan di saat sedih sedikit.

Purnama Kawan

Purnama Ramadan 1433 H
Purnama Ramadan 1433 H

Sejatinya ingin berpuisi. Namun lalu saja puisiku tak berbunyi.

Ternyata tak banyak orang yang antusias melihat purnama, Saudara. Terlebih bulan-bulan biasa. Padahal tahukah kalian bahwa purnama itu kawan sejati orang yang sepi sendiri?

Jika malam ini kalian tak berkawan, Saudara, tataplah purnama maka kalian takkan lagi merasa kesepian.

Hidup Menghidupi

Aku adalah orangnya yang tidak sependapat dengan kalian yang:

  1. menjadi anggota Gerombolan Penumpas Kebajikan; dan atau
  2. memiliki pemikiran bahwa kehidupan di dunia maya terlepas sama sekali dari dunia nyata.

Kan kalian tidak membuka Facebook di dunia mimpi? Kan si Pocong itu tidak lantas membuka Twitter di dunia kubur?

Seperti topeng, karakter orang itu bisa dibuka-pasang berkali-kali, berulang kali berganti. Seperti bunglon pula terkadang, tabiat orang bisa berubah tergantung lingkungannya.

Kawan pun demikian: di taman berbaikan, di lapangan menjadi lawan. Mereka itu datang dan pergi silih berganti, seperti musim layangan yang sebentar lagi tampaknya akan digeser oleh musim gundu. Persahabatan sejati, itulah yang kurindu.

Ada kalanya aku terlalu berusaha keras membangun sebuah persahabatan. Apakah ia sewujud dengan permen karet yang makin sering dikunyah makin keras jadinya?

“Hidup itu harus menghidupi,” begitu kata seorang kawanku almarhum.

Kawan Kawin

Ahad kembali hadir di bulan Januari. Matahari bersinar dengan irit. Menggugah hasrat makanku yang kian menggebu. Syukur alhamdulillah hari ini dijadwalkan menghadiri kondangan kawinan. Hasratku tersalurkan dengan aman.

Topik PostADay hari ini memang bukan kawinan, melainkan kawan. Tetapi aku berhasrat untuk mengawinkan kedua topik itu hingga menjadi sesuatu yang sepadan.

How do you define the word friend?

Kawan adalah orang yang kita kenal, yang dengan baiknya hingga ia rela mengorbankan segala sumber dayanya untuk menyaksikan satu titik tolak perjalanan hidup kita, yaitu ketika kita melangsungkan akad perkawinan. Bukan kawan adalah orang yang kita kenal, dengan baik ataupun tidak, yang ketika kita melangsungkan akad perkawinan, dia hanya datang ketika makanan resepsi perkawinan telah terhidang.

Hari ini aku adalah kawan, yang dengan rela bangun pukul 3 dini hari untuk kemudian bersiap lalu pergi ke sini, ke tempat berlangsungnya akad perkawinan. Sejauh aku berjalan, sejauh itu pula aku kawan baginya.

Sekarang aku sedang rehat makan. Maka duduk merenunglah aku di salah satu sudut dalam sebuah ruangan sempit demi mendengarkan suara alam. Preeeeeeet!