Kawan Masa Kini

Katanya, kawan itu sudah lama saling kenal.
Katanya, kawan itu sering berhubungan.
Lantas, apakah yang sudah lama saling kenal tetapi tidak lagi sering berhubungan?
Sebuah dilema masa kini: ketika perkawanan menjadi pudar lantaran perbedaan haluan dalam memilih layanan jejaring sosial.

Haha. Nasib ya nasib. Kalau ingin meneruskan perkawanan, apakah harus mengaktifkan semua layanan jejaring sosial? Dari Fa-cebok, Tuiter, Nge-pet, Lain, Wacap, Wecat, In-sakgram, Piber, Pelurek, Bebem, dan lain-lain, haruskah kita punya semua akunnya?

Ah, alangkah indahnya masa yang sudah lampau, yaitu masa ketika kawan hanya memiliki satu alamat pos, satu nomor telepon rumah, satu alamat pos-el, satu nomor SMS, satu profil ACS, dan satu muka.

Kawan gelak tiada,
Kawan menangis jarang bersua.

+-+-+
Berdasarkan maraknya permintaan, maka dengan ini kujelaskan bahwa dua baris terakhir di atas adalah plesetan sebuah peribahasa yang bunyi aslinya yaitu “Kawan gelak banyak, kawan menangis jarang bersua”. Adapun arti peribahasa asli tersebut adalah kira-kira seperti ini: kawan di saat senang banyak, kawan di saat sedih sedikit.

Kawan Berjalan: A Self Reflection

Alangkah beruntungnya mereka yang menemukan kawan berjalan yang panjang langkahnya sama. Lebih beruntung lagi apabila langkah keduanya seirama.

Postingan yang kutulis pada 30 November 2014 di atas adalah yang paling berkesan karena barangkali bisa menjadi refleksi atas segala perasaan hati dan pemikiranku selama setahun belakangan ini. Memanglah benar betapa susah mendapatkan kawan berjalan yang semacam itu. Dengan cara yang keras/ susah kusadari hal demikian; memang benar pula bahwa kita baru akan menyadari arti pentingnya keberadaan seseorang bagi kita setelah kita kehilangan dia.

Tadi malam aku menonton lagi film “Doraemon: Stand By Me” untuk kedua kalinya. Lalu kusadari kembali akan satu hal: bahwa barangkali aku seperti Nobita, yang baik sadar maupun tak sadar menyabotase diri sendiri karena beranggapan bahwa seseorang bisa jadi akan lebih baik dan bahagia ketika kita tidak bersamanya. Rasa-rasanya aku ingin menangis pada saat adegan itu, kawan, tetapi…

♪ Malu sama kucing.. ♪ Meong ♪ meong ♪ meoong.. ♪

Andai saja sudah sejak lama aku mengikuti serial Modern Family, barangkali kutipan dari salah satu episodenya bisa membuatku bertindak lain: Lanjutkan membaca “Kawan Berjalan: A Self Reflection”

Jawab Cahaya – Bahagia Sederhana

Menindaklanjuti pertanyaan-pertanyaan dari Mbak Nur, kali ini aku akan jawab satu pertanyaan berikutnya. Secara acak, tentu saja. Kena apa? Karena aku suka acak. 😀

Pertanyaan nomor 9 adalah pertanyaan yang akan kujawab pada kesempatan siang yang dingin \karena AC dua-duanya disetel pada suhu 16 derajat dan kaos kakiku basah kena tumpahan air minum\ ini.

9. Apa 3 hal sederhana yang bikin kamu bahagia?

Sesungguhnya sangatlah mudah bagiku menjawab pertanyaan ini. Karena pertanyaannya sederhana, maka jawabanku pun menjadi sederhana:

  1. Menghidu aroma \darah\ rumput sehabis dipangkas.
  2. Menghirup segarnya aroma debu tatkala hujan tiba-tiba mengguyur terik jalanan.
  3. Menatap purnama.

Maka bukanlah aku yang baik hati ini berlaku apabila tidak memberi bonus. Adapun bonusnya adalah:

3,5. Sebagaimana yang pernah kutuliskan dalam postingan “Bahagia Sederhana”.

Itulah bahagia sederhanaku. Bagaimana dengan kalian?

Jawab Cahaya – Tempat Berkesan

Tak ada petir tak ada badai, tiba-tiba aku diharuskan menjawab beberapa pertanyaan dari Mbak Nur) sebagai berikut:

  1. Apa arti nama lengkap kamu?
  2. Apa yang paling ingin kau makan tapi sampe sekarang belum keturutan?
  3. Siapa penulis favoritmu dan apa bukunya yang paling kau sukai?
  4. Adakah buku, film, atau lagu yang pernah merubah hidupmu? Cerita donk…
  5. Selain dompet dan HP, benda apakah yang selalu ada di dalam tasmu?
  6. Apa pendapatmu tentang cinta pertama? 😀
  7. Pernahkah kamu trauma? Cerita ya…
  8. Apakah kamu punya phobia?
  9. Apa 3 hal sederhana yang bikin kamu bahagia?
  10. Sebutkan 3 tempat/kota yang paling berkesan buatmu dan kenapa?
  11. Pernahkah kamu stalking blog orang? Apa pendapatmu terhadap stalker? (oiya, stalking disini bukan silent reader ya… stalking yang kumaksud misal “ini blog istrinya temen” atau “pacarnya temen” dan yang semacamnya

Berhubung karena aku adalah aku dan aku suka acak acak acak acak, maka aku akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara acak satu per satu. Untuk sekarang, barangkali aku akan menjawab pertanyaan nomor 10.

1. Pondok Laras

Tempat pertama yang paling berkesan bagiku adalah ini. Yaitu nama kosan tempat aku tinggal selama tiga tahun “mengotori” pikiran dengan ilmu tentang keuangan negara. Tempat dimana aku secara iseng mencoret-coret dinding kamar dengan kaligrafi arab untuk kemudian tersadar bahwa kemungkinan besar aku akan dimarahi oleh ibu kos. Tempat dimana aku dijuluki “Mbah DJ” saking berisiknya aku menyenandungkan lagu asal-asalan atau sekadar memukul-mukuli tepian ranjang di kamar hingga mengganggu seisi kosan.

Salah satu tempat dimana aku pernah merasakan sangat kesepian untuk kemudian tiba-tiba merasa sangat berkeramaian. Tempat pertama kali aku merasa merantau dan merindukan kampung halaman. Tempat pertama kali aku mencuci pakaian sendiri, menjahit celana robek sendiri, dan memiliki cermin besar sendiri. Tempat dimana pertama kali aku menyadari bahwa cinta sejati tak harus memiliki melainkan cukup saling merindui. Lanjutkan membaca “Jawab Cahaya – Tempat Berkesan”

Handuk Biru Dongker

Tahukah kalian? Baru saja aku membuang sebuah handuk biru dongker.

Aku mendapatkan handuk berwarna biru dongker ini pada awal tahun tahun lalu. Jadi usianya sekarang sudah melewati angka satu tahun. Dalam satu tahun lebih ini ia telah melayaniku dengan baik: mengeringkan badanku yang kebasahan sehabis mandi.

Beberapa pekan lalu aku menyadari bahwa handuk biru dongker kesayanganku ini memiliki beberapa lubang. Semakin hari semakin banyak saja lubang yang ada; semakin membesar pula.

Lubang-lubang ini tidak menyebar di sepanjang penampang handuk melainkan berkelompok hanya di salah satu sisi. Pengalaman yang sebelum-sebelumnya tentu akan menganggap lubang-lubang yang demikian ini tidaklah mengganggu dan aku akan tetap menggunakan handuk itu.

Akan tetapi handuk biru dongker ini adalah handuk spesial. Aku merasa perlu untuk menggantinya meski baru memiliki kerusakan yang ringan semacam ini. Karena beberapa hari lalu aku mendapatkan sebuah nasihat yang sangat berharga dari seseorang. Kurang lebih katanya begini: “Kau tidak akan mendapatkan handuk bagus yang sesungguhnya apabila kau masih menyimpan handuk rusak-lamamu.”

Maka, selamat jalan handuk biru dongker. Barangkali setelah ini aku akan mendapatkan handuk merah marun atau handuk hijau lumut. Atau barangkali pula aku akan mendapatkan handuk biru dongker yang
sama. Siapa yang tahu, kan?

Belajar Ulang

Aku berpikir, Saudara, bahwa dalam hidup tidak semua hal sesuai dengan falsafah naik sepeda. Falsafah yang bagaimana? Apabila kita sudah bisa naik sepeda, kemudian selama beberapa waktu kita tidak naik sepeda, begitu kita harus naik sepeda lagi maka dengan sendirinya kita akan teringat keahlian kita bersepeda dan bisa mengendarainya tanpa kesulitan.

Aku bahkan sampai lulus SMA ke mana-mana naik sepeda. Karena kupikir sepeda tidak merugikan lingkungan, tidak menambah polusi udara, dan menyehatkan pula. Di samping memang tak punya sepeda motor pun. 😀 Kemudian selepas lulus SMA aku pun mengembara merantau. Tidak naik sepeda pun selama di tanah rantau. Tetapi ketika pulang ke kampung halaman, aku langsung bisa saja mengendarai sepedaku. Tentunya detik-detik pertama badanku membutuhkan sedikit pengingatan. Tetapi hanya itu, sebentar saja.

Lain halnya dengan pengalamanku mengendarai sepeda motor. Suatu pagi di hari Ahad, ketika masih duduk di kelas 1 SMA, untuk pertama kalinya aku mengendarai sepeda motor. Saking penasarannya mengendarai motor, aku nekad pagi itu diam-diam, setelah diam-diam pula mengambil kuncinya, kukeluarkan sepeda motor 2-tak milik ayah. Kunyalakan, lalu pelan-pelan bisa dengan serta-merta aku mengendarainya. Kuajak si motor keliling kampung. Lanjutkan membaca “Belajar Ulang”

Kabur

Yang kumaksudkan adalah kabar dalam artian melarikan diri. Flee. Escape. Atau apalah.

Kusadari bahwa dalam menjalani kehidupan ini aku banyak melarikan diri. Dulu, yang aku ingat adalah melarikan diri dari tugas membantu Ibu bersih-bersih rumah. Hwehe. Kemudian melarikan diri dari lingkungan main yang kurang kondusif. Melarikan diri dari anjing galak. Dan banyak lagi yang lainnya.

Yang baru-baru ini aku masih sering melakukannya adalah melarikan diri dari kawasan  tertentu; melarikan diri dari menonton anime (semisal Space Brother) dan serial televisi (semisal Person of Interest) tertentu; melarikan diri dari mobil tertentu; melarikan diri dari toko alat tulis tertentu; melarikan diri dari kenangan tentang orang tertentu; melarikan diri dari makanan tertentu; dan melarikan diri dari kekecewaan tertentu (semisal “dikaretin” dan dibohongi).

Pada tingkat-tingkat tertentu, aku pikir melarikan diri adalah mutlak harus dilakukan. Seperti misalnya kalau kita masuk ke dalam ruangan penuh dengan kucing, lebih baik kita melarikan diri dari ruangan itu alih-alih mengusir semua kucing keluar ruangan. Kan?

Akan tetapi pada hal-hal tertentu, aku pikir melarikan diri seharusnya dihindari. Seperti misalnya ketika terhidang sepotong besar cheese cake di atas meja sementara kita kelaparan, lebih baik kita memakan cheese cake itu tadi alih-alih membiarkan cacing di usus kelaparan. Kan?

Pintu Kemana Saja

Sudah sejak bulan lalu sejatinya aku ingin memosting perihal ini, Saudara. \Karena puasa, barangkali sebagian orang akan sedikit ofensifisasi kurang berkenan.\

Kan kalian tahu aku adalah penggemar Doraemon? Kalian tahu pula kalau malam ini tepat di langit akan ada bulan (moon) yang berbentuk persis seperti kantong ajaib 4-matranya? Maka ingin kusampaikan pula kepada seorang gadis di luar sana, bahwa kita tidak bisa selalu bergantung pada Pintu Kemana Saja.

Apapun perkara kalian, cobalah hadapi sesekali. Jangan kabur terus-terusan. Haha. Aku akan ingat postingan ini pada Jumat depan. 😀

Jadi video di atas adalah PV-nya Doko Demo World-nya Ken Tanaka Band. Kalian tahu Ken Tanaka? \Bukan yang di Glee, woi!\ Dia adalah makhluk nyentrik yang mengarang buku “Everybody Dies: A Children’s Book for Grown Ups“. Buku itu sungguh menyentuh sekali, Saudara. Betapa semua makhluk akan meninggal. Di buku itu dikatakan beberapa orang berusaha menghindari kematian. Beberapa orang malah mencoba “bermain” dengan kematian. Sedangkan yang lain justru tak bisa menunggu kematiannya sendiri \bunuh diri\.

doko demo dowa ga attari, nakattari suru kara yo
(kita tidak bisa selalu mengandalkan Pintu Kemana Saja)

Sebuah lagu yang ringan didengar, ringan pula dilagukan. Tetapi memiliki makna filosofis yang teramat mendalam. Halah. Ini dia versi lain:

Selamat berak hir pekan!