Bersalah karena Bodoh

Hari ini aku mengenakan kaos berkerah yang kubeli 5 tahun yang lalu. Tidak kekecilan, malah semakin pas saja di badan. Sementara itu aku mengenakan celana panjang yang kubeli persis 5 bulan yang lalu. Celananya kedodoran. Pertanda bahwa aku semakin kurus menuju keadaan tubuhku 5 tahunan lalu.

Dari rumah aku berjalan kaki menuju toko donat langganan yang menjajakan kopi. AKu memesan menu yang seperti biasanya, tetapi kali ini aku tidak mengatakan untuk tidak pakai keju. Setelah duduk di kursi di tempat yang juga seperti biasanya, kuseruput kopinya lalu kumakan roti tumpuknya. Hampir saja aku muntah karena keju di dalamnya. Kupikir aku sudah mulai bisa makan keju, karena seperti yang kusebutkan dalam postingan Bermain dengan Sugesti. Rupa-rupanya masih saja. Aku tak tahu apakah itu berarti teori mengenai bermain dengan sugesti tersebut salah ataukah aku yang masih salah dalam menerapkan teori itu.

Beberapa keadaan di atas mengajarkan aku bahwa tak ada yang abadi betapa pun kehidupan di bumi senantiasa berubah, tetapi ada beberapa hal yang tidak mudah untuk berubah/ diubah. Berat badanku semakin turun, dan dikhawatirkan akan semakin terus turun, mengingat aku akhir-akhir ini seringkali tidak memiliki nafsu makan. Bahkan sekarang ini roti tumpukku tidak kuhabiskan. Bahkan muffin cokelat nan lezat ini pun tidak kusentuh sama sekali.

View this post on Instagram

Choco-chips muffin #food

A post shared by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Barangkali perasaan bersalahlah yang menggerogoti lemak-lemak dalam tubuhku. Barangkali perasaan itulah yang mencuri nafsu makanku. Lanjutkan membaca “Bersalah karena Bodoh”

Niat Baik yang Tulus

Aku pikir niat baik itu cukup segera dilaksanakan. Ternyata tidak boleh hanya itu, Saudara. Kita harus banyak-banyak mempertimbangkan apakah niat baik kita itu harus benar-benar kita laksanakan ataukah tidak perlu.

Kasusnya begini. Kita niat baik secara tulus untuk membantu seseorang yang kita pikir membutuhkan bantuan itu. Dia memang membutuhkan bantuan tersebut, tetapi ternyata dia tidak membutuhkannya dari kita. Dia membutuhkan bantuan itu tetapi lebih baik orang lainlah yang memberikannya.

Barangkali memang susah mengerem niat baik begini. Kita ngotot melaksanakannya, tetapi hasilnya sungguh di luar dugaan karena niat baik kita bisa ditafsirkan tidak baik.

Sebenarnya batasan antara peduli dan ikut mencampuri hidup orang lain itu apa, sih? Menurutku kita tidak cukup peduli kalau tidak sampai mencampuri. Tinggal bagaimana mencampurinya, sampai sebatas mana kita boleh dan tidak boleh mencampuri kehidupan orang lain. Barangkali itu yang harus kita tahu sebelum melaksanakan niat baik yang tulus kita itu tadi.

Asing

Sekitar dua hari lalu aku pernah berkicau demikian:

غرباء و لغير الله لا نحني الجباه
غرباء و ارتضيناها شعارا في الحياة

Lagu ini barangkali terinspirasi oleh sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang seingatku mengatakan bahwa Islam pada mulanya datang sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali menjadi asing seperti kedatangannya itu.

Entah hadis ini ada kaitannya dengan paham anti-mainstream yang belakangan ini sering digalakkan oleh para generasi muda ataukah tidak ada kaitannya sama sekali. Yang jelas aku tidak ingin membicarakan dua hal itu, Saudara. Sudah cukuplah para pakar di bidangnya mengupasnya secara tuntas.

Aku hanya ingin berujar bahwa pada mulanya apabila dua orang insan bertemu, keduanya sama-sama dalam keadaan asing. Kemudian mereka mengenal satu dengan lainnya sehingga sirnalah keasingan di antara mereka. Apabila keduanya kemudian berpisah, tidaklah keduanya akan menjadi asing sebagaimana mulanya. Karena sesungguhnya manusia adalah makhluk pengenang dan makhluk perasa.

Tentu saja semua itu akan berbeda hukumnya manakala satu atau keduanya menderita insomnia amnesia. 😀

Lontong Helep

S.O.S.
S.O.S.

SOS itu bukan Selamatkan Orang Susah, melainkan pengaksaraan sandi.

Dalam kehidupan, kita dapat belajar banyak dengan mengamati hal-hal di sekeliling kita. Kita tahu bagaimana tukang cendol meramu cendol pesanan kita dengan melihatnya mencentongi santan, kinco, dan sebagainya.

Maka sedikit banyak aku mempelajari hal ini. Bahwa orang yang tadinya susah kemudian sudah tidak susah memiliki kecenderungan tinggi untuk membantu kawannya yang masih dalam tahap susah.

Begitulah, Saudara, tidak banyak orang yang susah membantu kawannya yang susah pula. Tidak banyak orang bujang yang membantu mengentaskan kawannya dari kebujangan.

Purnama Ramadan

Kalian tahu kan kalau malam ini sudah mulai masuk purnama? Itu pertanda apa, Saudara? Pertanda Ramadan sudah hampir setengah jalan. Yah, tak terasa kan? Berasa kurang saja rasanya.

Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, apabila malam ‘lah purnama, kusempatkan memandang ke langit kalau tidak mendung apalagi hujan. Kupuaskan menatap indahnya bulan yang merupakan ratu malam, sambil menanti-nanti jadwal turunnya para bidadari khayangan turun ke bumi untuk sekadar mandi.

Kalau kita cermati betul-betul, bulan tidaklah memancarkan cahayanya sendiri. Ia mengambil sedikit saja sinar matari untuk kemudiannya dipendarkannya demi menerangi bumi. Barangkali Sang Pencipta sengaja menciptakan malam di bumi agar manusia mengambil contoh darinya: bahwa bermanfaat tidaklah harus dengan berkreasi melainkan apabila tak mampu dapat pula dengan hanya meneruskan kreasi yang dibuat oleh makhluk lainnya kepada sesama.

Barangkali contoh ini pula yang ditiru oleh para penyalur berita baik itu pembangun orang sahur hingga penyiar berita di radio. Meskipun barangkali banyak orang yang lantas latah menjadi bulan yang memantulkan sinar penyebab gosong badan, antara lain dengan secara sembarangan meneruskan berita hoax yang kurang dapat dipercaya tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Dengan mengambil contoh bulan ini, aku kemudian berkeinginan membuat rambu-rambu petunjuk jalan ke arah danau atau sendang berada agar para bidadari khayangan ini tidak kesasar untuk ke sana dalam rangka mandi. Ayo, siapa yang ikut ke dalam barisanku? 😀

Masa Depan yang Aneh

Banyak orang memikirkan dan membayangkan bagaimana teknologi menguasai kehidupan manusia di masa depan. Ada yang membayangkan kelak kita akan tinggal di gedung-gedung yang melayang, ada yang membayangkan kelak kita punya peliharaan berupa robot, ada pula yang membayangkan kelak kita mandi tidak pakai air lagi.

Sah-sah saja memikirkan masa depan semacam itu. Mengapa?

Lantas bagaimana halnya dengan masa depan yang penuh dengan augmented reality? Barangkali pemikiran ini yang belakangan tenar karena kedatangan Kacamata Google.

Berikut ini adalah sebuah video dari Sight Systems yang dapat memudahkan pembayangan kita bagaimana kelak masa depan umat manusia apabila konsep aplikasi, permainan video, dan augmented reality yang menjadi primadona:

Kalau demikian yang benar-benar terjadi di masa depan, dunia ini bukanlah lagi sandiwara seperti yang dilagukan Nike Ardila melainkan adalah permainan.

Baca juga tulisan yang berkaitan berikut ini:

Memanggil Mas-Mas

Untung aku orang Jawa. Mengapa?

Ternyata ada, loh, beberapa orang di sekitarku yang merasa tidak suka atau sekadar segan atau justru tersinggung ketika dipanggil dengan sebutan “mas”. Antara lain beberapa putra Sunda yang memberi saran untuk memanggilnya dengan sebutan “aa'” saja. Juga beberapa putra Melayu Medan yang menginginkan dia dipanggil dengan sebutan “abang”. Juga di antaranya berupa mbak-mbak yang tidak suka disamakan dengan Omaswati.

Maka begitulah kiranya aku paham mengapa bapak-bapak tentara di kantor memanggilku dengan sebutan “om”. Tak lain tak bukan tentunya karena bapak-bapak ini tidak atau belum mengetahui dari mana asalku sehingga demi keamanan memanggilku dengan sebutan demikian. Kira-kira bisa kalian terima?

Jadi, Saudara, demi menyambut si Ramadan yang entah datang Jumat atau Sabtu nanti, tadi aku pergi ke aa’ tukang cukur rambut. Tentu saja tujuanku adalah untuk bersilaturahmi sekalian meminta dipangkas rambutku agar kepalaku terlihat lebih ganteng dari biasanya. Lanjutkan membaca “Memanggil Mas-Mas”

Terakhir Tak Selamanya

Ahad pagi menjelang siang.
Cuaca sedikit terik meski langit berawan.
Aku duduk sendirian.
Kunikmati secangkir kopi sembari mengetik sebuah tulisan.
Tulisan ini tentu saja, kawan.
Memangnya tulisan yang mana lagi, ‘kan?

Duduk santai pada Ahad pagi menjelang siang di toko donat seperti sekarang ini sepertinya tidak bisa lagi aku lakukan. Karena bulan ini telah pun hampir habis dan segera digantikan oleh Ramadan. Kemudian Syawal yang mana di situ terdapat lebaran.

Selama Sya’ban ini banyak sekali yang kupikirkan. Barangkali itulah mengapa postingan di blog ini menjadi jarang-jarang. Adakah dari kalian yang keberatan?

Aku tersadar bahwa selama setahun ini banyak sekali mengalami penurunan. Mulai penurunan daya ingat hingga pengharapan. Terkecuali berat badan.

Tentu saja hari demi hari semakin bertambahlah pengalaman. Namun apa arti pengalaman jikalau tidak tahu bagaimana ia diterapkan? Begitu, bukan?

Melarikan Diri

Setelah mencoba memainkan permainan video Canabalt, aku jadi menyadari akan sesuatu, Saudara. Apakah itu?

Canabalt
Canabalt

Yang kusadari adalah bahwa ternyata melarikan diri pun tidaklah mudah. Banyak aral gendala yang menghadang; banyak onak dan paku tersebar di jalan; banyak tembok dan papan halang rintang.

Kalau demikian, bukankah lebih baik kita melanjutkan kehidupan dan menghadapi segala masalahnya dengan tegar?