Batik

Barangkali hari ini hari-hariku penuh dengan batik. Serba batik.

1. Pakai baju batik:

Pulpen Parker Frontier-ku tersangkut di saku kemeja batik. Kalian lihat, kan, ujung klipnya masuk ke dalam jahitan di saku. Ujung anak panah yang menjadi khas pulpen Parker menusuk ke situ.

2. Membasahi map batik dengan tumpahan kopi:

Aku sedang asyik memotong dan menempel kertas motif bunga-bunga di suatu bidang balok tadi pagi. Tak sengaja siku kiriku menyenggol gelas besar penuh kopi panas. Tumpahlah itu kopi. Haha.

3. Ke kota penghasil batik?

Kalau tak ada aral melintang dan gendala menghadang, malam ini aku berangkat ke salah satu kota penghasil batik. Sampai jumpa di sana, Saudara!

Kopi Purnama Rasa Dracula

Harum aroma kopi menyerebak. Angin malam yang hangat bersemilir memasuki kamar. Bukankah di langit kelam ada purnama, Saudara?

Kubalik-balik halaman Sang Sejarawan. Masih menceritakan seorang perempuan muda yang bercerita tentang kisah pengalaman yang diceritakan ayahnya dalam upaya pengejaran riwayat Dracula dimana kisah tersebut ternyata merupakan kisah yang diceritakan oleh perempuan tersebut pada waktu sudah tua.

Setiap pagi berseri-seri… Nusantara
Sepanjang siang bergembira… Nusantara
Malam bulan bersinar terang
Semua bernyanyi riang
Bersahut-sahutan

(Koes Plus – Nusantara II)

Dalam naungan cahaya surya yang dipantulkan sang purnama, kusimak sajian siaran radio yang khusus memutarkan lagu-lagu yang malam ini bertemakan nusantara. Sementara Kyoko, komputerku, sedang meminum obatnya agar lekas sembuh hingga aku dapat kembali memukul-mukul babi dan berlari menghindari kejaran Creepers yang adalah pelaku bom bunuh diri dalam permainan Minecraft yang seru.

Malam yang syahdu ini memang waktu yang baik untuk dapat menuliskan kalimat-kalimat panjang demi mengarungi malam nan gemilang yang sepertinya akan berlangsung panjang pula ini. Maka adakah kiranya seorang-dua orang dari kalian yang akan merenggut nikmatnya insomnia seperti diriku saat ini dan menanti datangnya waktu sahur nanti?

Ahad Muffin

Kalau kata Wikipedia, muffin itu ada dua. Pertama menurut Amerika, yang adalah muffin yang bentuknya semacam bolu kukus itu. Kedua, menurut Inggris, yang adalah muffin berbentuk semacam CD tetapi itu adalah roti yang bisa dimakan (tanpa bolongan di tengahnya tapi ya).

Kalau kataku, muffin itu adalah teman meminum kopi di kala sore di hari Ahad yang sangat baik. Betapa tidak, kunyahan-kunyahan muffin begitu lezat bercampur dengan seduhan kopi di mulutku.

Baiklah, silakan kalian menuduhku melancarkan hoax karena tidak memasang foto muffin di sini. Tapi ketahuilah bahwa aku semanis muffin cokelat ini, Saudara.

Hari ini begitu terik di sini; membuat isi kepalaku seakan mendidih. Mungkin karena panasnya itu maka oksigennya kabur hingga mengakibatkan aku terserang kantuk. Untuk itulah aku meminum kopi panas yang nikmat dan menyantap muffin nan lezat ini.

Terlintas tiba-tiba dalam benakku. Masih bisakah Ahad depan aku menikmati secangkir kopi dan semangkuk muffin seperti sekarang ini, ya?

Ada apa dengan Ahad di tempat kalian?

Kopi Pencabut Nyawa

Cuuuurrr…

Air panas dari dispenser mengalir ke dalam cangkir, membuat bubuk kopi kesukaanku kegirangan hingga meneriakkan keharuman-keharuman yang khas. Enak sekali.

Kuaduk kemudian agar gula pasir terlarut dengan cairan kopi.

Secangkir kopi hitam yang manis ada di atas meja kerjaku. Wangi aromanya semerbak menusuk hidung. Inilah satu-satunya harapan terakhirku agar kantuk tidak mengkhatamkan riwayatku.

Jam burung hantu di sebelah tumpukan berkas itu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Sementara monitor masih saja menampilkan angka-angka dalam kotak-kotak tabel; banyak sekali. Lanjutkan membaca “Kopi Pencabut Nyawa”

Makassar Lekker

Sedang berada di Bandar Udara Internasional Hasanuddin Makassar (UPG). Rehat sejenak menanti jemputan dari para pramugari berkaki jenjang sembari menikmati segelas panas kopi kalosi.

Nanti-nanti sajalah kuceritakan perjalanan panjangku. Tenang, sudah kusiapkan buah tangan untuk kalian.

Baiklah, aku datang ke Jakartamu. Tunggulah aku di bawah pohon kamboja.

Punya Banyak. Mau?

Aku punya banyak muntah, nih. Hayo, siapa mau? (doh)

Andai saja theme ini sudah mendukung Post Format-nya WordPress, bisa jadi aku akan sering-sering memosting Status atau Aside semacam baris di atas. Hoho.

Sedang tidak enak badan. Entah maag entah masuk angin. Oke, sudah banyak orang yang menyuruhku berhenti meminum kopi sementara ini. Aku termasuk ke dalam golongan orang yang tidak tahan terhadap serangannya. Begitu kata mereka.

Ada banyak orang di luar sana yang kuat minum kopi. Sehari bisa belasan gelas kopi dia minum. Tapi badannya sehat-sehat saja. Lambungnya tidak mengapa-mengapa.

Kuharap ini hanyalah masuk angin biasa. Penyakit maag tidak boleh diderita oleh Agen Penyelamat Makanan sepertiku. Lambungku laksana mobil hitamnya Batman. Lambungku bagaikan celana dalam merahnya Superman. Jadi tidak boleh rusak.

Baiklah. Sekarang kuoleskan saja minyak angin ini secara merata ke seluruh bagian perutku. Dadaku boleh juga kuolesi agar tidak cemburu.

Selamat malam, Saudara. Bermimpilah tentang si Indah. 😀