Walakin

image

Inilah mengapa aku masih lebih menyukai koran dibandingkan dengan situs berita internet: masih sering muncul kosakata yang masih asing dalam pergaulan.

Sekadar informasi, “walakin” dapat diartikan sebagai ‘walapun begitu’ atau ‘akan tetapi’.

(Gambar difoto dari koran Media Indonesia edisi 5 Agustus 2015 halaman 17)

Tidur Dini

Mari kita kutip rubrik “Sela” koran Media Indonesia edisi hari ini:

“Penelitian yang dilakukan selama 10 tahun terakhir menunjukkan orang dewasa yang tidur kurang dari 6 jam atau lebih dari 8 jam sehari berisiko mengalami kematian dini bila dibandingkan dengan mereka yang tidur antara 6 dan 8 jam. …”

Sudahkah kalian tidur dalam durasi yang tidak berisiko seperti itu?

Kebiasaanku tidur akhir-akhir ini:
Mulai tidur sekitar pukul delapan malam. Lalu bangun tengah malam. Kemudian tidur lagi mulai sekitar pukul tiga dini hari. Sekitar pukul lima pagi barulah aku bangun lagi.

Kalau dijumlahkan, berarti kira-kira 6 jam aku tidur dalam sehari. Wah, berarti masih ada slot kosong untukku tidur (di kantor?) hampir 2 jam. Wow! Kalau demikian, mari kita laksanakan. 😀

Zona Waktu Indonesia Akan Disatukan?

Dari Masjek, aku beroleh kabar bahwasanya zona waktu Indonesia akan disatukan!

Wilayah Waktu Indonesia Akan Disatukan – KOMPAS.com

Kabarnya Pemerintah berencana menetapkan penyatuan tersebut pada tanggal 17 Agustus. Entah ini sudah menjadi keputusan atau masih berupa wacana yang belum terlalu matang. Yang jelas, disebutkan di situ bahwa zona waktu yang menjadi patokan adalah WITA.

Pikiran yang muncul dariku selaku penduduk Jakarta dan makhluk asal Pekalongan yang berzona WIB tengah adalah:

PERTAMA. Tentu tidak akan mudah mengubah kebiasaan masyarakat. Terutama bagi yang beragama Islam, tentu tidak akan mudah menyesuaikan jadwal waktu salat (yang sudah terbiasa menggunakan patokan jam) dengan waktu yang baru.

Misalkan saja, biasanya di sini istirahat siang itu bisa dipergunakan sekaligus untuk salat Zuhur berjamaah di masjid karena memang waktunya bersamaan. Kemudian untuk hari Jumat, waktu istirahat bagi kami sebagaimana diatur oleh Menteri, rentangnya lebih panjang karena menyesuaikan dengan pegawai laki-laki yang beragama Islam agar dapat menjalankan ibadah salat Jumat. Lanjutkan membaca “Zona Waktu Indonesia Akan Disatukan?”

Kotoran Kertas

Pagi tadi ada secuplik berita di surat kabar yang berhasil mencuri mataku:

Screenshot Koran: Kotoran Gajah Pun Diolah Menjadi Kertas
Screenshot Koran: Kotoran Gajah Pun Diolah Menjadi Kertas

Di sebuah tempat di Gianyar, Bali, kotoran gajah pun diolah menjadi kertas. Begitu kabarnya. Silakan simak artikel berikut ini pula. Kira-kira peredaksiannya sama dengan yang tertulis di surat kabar.

Pengolahan kotoran gajah menjadi kertas ini katanya sudah lebih dahulu dikembangkan di Thailand sana. Di Indonesia, baru kotoran kuda yang pengolahannya menjadi kertas dikembangkan, yaitu oleh siswa sebuah SMA di Lamongan.

Mendengar kabar demikian, Saudara, bagaimanakah reaksi pertama kalian? Lanjutkan membaca “Kotoran Kertas”

Belajar dari Cina

Sesungguhnya tidak perlu khawatir terhadap FTA kalau tercipta fanatisme produksi dalam negeri. Tetapi, kita tidak pernah sukses mencintai produksi sendiri.

KEGAGAPAN. Itulah kata yang bisa mewakili cara kita menghadapi implementasi perdagangan bebas ASEAN-China atau ASEAN-China Free Trade Agreement (FTA) yang mulai berlaku 1 Januari 2010.

Gagap karena banyak yang cemas bahwa perdagangan bebas itu akan kian menyuburkan masuknya barang murah dari China. Kenyataan yang amat pahit karena barang produksi dalam negeri akan tergusur dan industri kita pun bakal hancur.

Sebelum era perdagangan bebas ASEAN-China diberlakukan pun, kita sudah tak berdaya menghadapi gempuran barang impor ilegal dari China. Neraca perdagangan Indonesia dengan China juga berapor merah dalam lima tahun terakhir. Impor dari China lebih besar daripada ekspor kita ke “Negeri Tirai Bambu” itu.

Pada 2005, selisih antara impor dan ekspor ke China masih sebesar US$0,59 miliar. Namun, pada 2008, selisihnya membengkak karena impor kita dari China lebih besar US$7,16 miliar ketimbang ekspor.

Kegagapan menjadi kian lengkap setelah pemerintah pun belum memiliki strategi besar menyongsong perdagangan bebas dengan China itu. Padahal, FTA ASEAN-China sudah disepakati sejak 2001.

Itu berarti dalam kurun delapan tahun nyaris tidak banyak yang diperbuat pemerintah untuk mempersiapkan benteng bagi produk domestik. Akibatnya, perdagangan bebas dengan China seolah-olah datang secara tiba-tiba.

Banyak instrumen teknis yang kedodoran dalam menghadapi serbuan produk China. Bakal makin kedodoran lagi setelah instrumen tarif yang sebelumnya masih bisa mendampingi instrumen teknis untuk membendung produk China akan tidak ada lagi atau 0%.

Sudah begitu, daya saing Sudah begitu, daya saing industri kita juga amat lemah akibat absennya strategi. Kalangan usaha dalam negeri selama ini berhadapan dengan banyak ketidakpastian, tingginya suku bunga kredit, mahalnya listrik, hingga mengguritanya upeti dari birokrasi.

Negeri ini punya gas dan batu bara yang melimpah sebagai penggerak industri, tetapi sebagian besar gas dan batu bara itu diekspor. Pengusaha batu bara pun sekadar berburu keuntungan melimpah, tapi kemudian alpa membayar royalti dan pajak.

Mari kita bandingkan dengan cara China menggerakkan industri dalam negeri mereka. Pemerintah China memberikan listrik yang murah, yang dibiayai dari batu bara impor. Bukan karena China tidak memiliki batu bara, melainkan mereka sengaja menyimpannya untuk kemandirian energi dalam jangka panjang.

Pemerintah China juga membentengi negerinya dengan sejumlah instrumen teknis yang berfungsi menahan laju kencang masuknya barang-barang dari luar ke negeri mereka. Standardisasi barang impor amat ketat sehingga tidak sembarang produk bisa melenggang bebas.

Sebaliknya, di Indonesia, standardisasi barang yang masuk kelewat longgar. Akibatnya, barang-barang yang berbahaya bagi kesehatan bisa masuk tanpa kesulitan yang berarti.

Tetapi, mengutuki terus-menerus perdagangan bebas dengan China bukanlah langkah yang bijak. Walau terlambat, tidak usah ragu-ragu untuk menyusun strategi dagang dengan dua cara, yakni defensif dan ofensif.

Cara defensif dilakukan dengan membuat standar yang makin ketat bagi masuknya produk China. Cara ofensif dilakukan dengan melindungi industri dalam negeri melalui sejumlah insentif dan menghilangkan aturan-aturan yang menghambat industri.

Sesungguhnya tidak perlu khawatir terhadap FTA kalau tercipta fanatisme produksi dalam negeri. Tetapi, kita tidak pernah sukses mencintai produksi sendiri.

(Editorial Media Indonesia Edisi Senin, 4 Januari 2010)

===

Menarik.

Aku hanya ingin menyoroti bagaimana pemerintah Cina menyimpan batu baranya demi kemandirian energi dalam jangka panjang. Inilah menurutku yang patut kita teladani dari pemerintah Cina. Atau pemerintah kita sudah mempunyai rencana lain perihal energi ini? Penciptaan energi alternatif, semisal blue energy atau banyu geni? Atau nuklir, yang mempunyai efek samping?

Ah, kita memang harus banyak belajar meski itu sampai ke negeri Cina.

Sedikit sentilan, yang baku kan Cina, bukan China. Bagaimana sih editornya?

Apa yang ditakutkan dari JK?

ANGKET CENTURY MENCEKAL JK…?

Amat mencurigakan, ketika tersebar berita bahwa Angket Pansus tidak-bahkan sengaja mengeblok–agar JK tidak dipanggil untuk dimintai keterangan.

PANITIA Khusus Angket Bank Century–selanjutnya disebut dengan Angket Century–hadir di tengah publik yang sedang dilanda bara ketidakpercayaan. Tidak percaya karena belum pernah sebuah angket di tangan DPR, dalam enam tahun terakhir, berhasil.

Angket-angket DPR selama ini dirampok oleh pragmatisme DPR sendiri. DPR disumbat mulut dan hatinya sehingga mengkhianati kebenaran yang sedang dicari publik.

Angket Century yang diketuai Idrus Marham, politikus Partai Golkar, juga sedang dilanda ketidakpercayaan. Tidak semata karena Idrus orang lama di DPR, tetapi juga karena Idrus dianggap tokoh yang mau menjadi muara dari berbagai kepentingan yang sedang dicurigai.

Salah satu tugas berat yang diemban Angket Century adalah membongkar setuntasnya aliran dana Rp6,7 triliun ke Bank Century. Uang yang sangat banyak itu tidak cuma dipersoalkan ke mana larinya, tetapi dasar kebijakannya pun dipertanyakan. Karena melabrak banyak rambu kepatutan dan kehati-hatian.

Angket Century harus merangkai aliran dana yang terputus-putus–baik karena kesengajaan untuk menghilangkan jejak maupun tidak–untuk diketahui benang merahnya. Ke mana dan kepada siapa uang itu pergi.

Salah satu yang dianggap sebagai saksi mahkota adalah Jusuf Kalla. Mantan wakil presiden itu tidak saja sentral karena kewenangan, tetapi juga sentral karena dia penjabat presiden ketika keputusan tentang bailout Bank Century diputuskan Komite Stabilitas Sektor Keuangan. Dia penjabat presiden karena Presiden Susilo Bambang Yu- dhoyono ketika itu sedang berada di Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan Metro TV beberapa saat lalu, JK mengatakan dia sebagai penjabat presiden waktu itu tidak diberi tahu tentang keputusan bailout Bank Century. Ketika kemudian dia diberi tahu, reaksinya waktu itu adalah memerintahkan penangkapan Robert Tantular. Karena menurut logika seorang wakil presiden ketika itu, kasus Century adalah jelas perampokan bank oleh pemiliknya sendiri.

Bila situasi krisis ekonomi dunia waktu itu dianggap menjadi pemicu keputusan bailout, JK adalah wakil presiden yang menilai Bank Century tidak memiliki potensi dampak sistemik. Dengan demikian, bank ini tidak pantas menerima kucuran dana Rp6,7 triliun.

Artinya, kucuran dana itu dipaksakan oleh tangan yang tidak kelihatan–invisible hand. Tangan yang tidak terlihat itulah yang menyebabkan orang seperti Boediono yang waktu itu menjadi Gubernur Bank Indonesia kehilangan kehati-hatian sehingga menyetujui bailout. Tangan yang tidak terlihat itu juga yang menyebabkan orang seperti Sri Mulyani merasa tidak memiliki pilihan lain kecuali menggelontorkan dana Rp6,7 triliun.

Sebagai wakil presiden yang menangani bidang ekonomi dan sebagai orang yang memiliki pengalaman dan naluri perdagangan, JK mungkin tahu tentang permainan tangan yang tidak terlihat itu.

Adalah amat mencurigakan, ketika tersebar berita bahwa Angket Pansus tidak–bahkan sengaja mengeblok–agar JK tidak dipanggil untuk dimintai keterangan. Blok terhadap JK berhembus kencang bersamaan dengan menguatnya peluang Idrus memimpin Angket Century.

Apa yang ditakutkan dari JK? Ini pertanyaan yang menggelitik.

(EDITORIAL MEDIA INDONESIA EDISI SELASA, 8 DESEMBER 2009)

===

Seperti tak ada habisnya kisah-kasih perekayasaan di negeri ini.

Nggak tahu-menahu aku soal kasus ini. Nggak berhak bicara banyak sebenarnya. Cuman aneh aja kejadian-kejadian di negeri ini belakangan ini. Kasus Antasari, Kasus Bibit-Chandra, Kasus Century, selanjutnya kasus apa lagi?

Invisible hand… Sepertinya ada istilah baru selain invisible hand-nya Adam Smith, nih.