Alis dan Kumis

Kalian tahu apa guna alis?
Yaitu untuk mencegah aliran air dari dahi langsung mengarah ke mata. Selain itu agar kita tidak seram.

Kalian tahu apa guna kumis?
Yaitu untuk mencegah aliran bau dari mulut langsung mengarah ke hidung. Selain itu agar aku tetap tampan.

Maka tanpa kumis mulutku bau. Maka tanpa kumis aku wagu.

Kumis Tidur

Selamat berhari Kamis, para pria berkumis!

Pagi ini kuawali dengan bangun terlambat, sehingga subuhan kesiangan. Setelah menoto dan melaksanakan falsafah “Diam Itu Emas“, aku mandi dengan menggunakan sabun wangi. Adalah sabun mandi beraroma rumput dan jeruk nipis yang membuatku serasa bagaikan piring kotor berminyak yang sedang dicuci.

Setelah mandi, kucukur-rapikan kumisku yang sudah mulai kusut dan tidak beraturan. Hal itu membuat rasa percaya diriku terbang melayang-layang di awan. Pikirku, “Beginilah rupa seorang pria yang menawan.”

Hari ini aku sedikit kecewa dengan WordPress. Aku tidak mendapatkan pos-el Daily Post yang biasanya dikirim setiap tengah malam. Tapi tidaklah mengapa, toh aku sekarang tahu topik Post a Day hari ini apa.

Topik Post a Day hari ini adalah:

What’s the longest you’ve been without sleep?

If your blog is about work, tell the story of an all-nighter you have pulled. If your blog is about an area of interest, tell a story of the last time you missed sleep, or got up extra early, do to something you enjoy.

Mengenai ketidaktiduranku, sepertinya sudah beberapa kali kubahas dalam blog ini. Terakhir adalah postingan beberapa hari lalu mengenai insomnia. Beberapa hari kemarin aku berkomentar dalam postingan Mbak Fauziah mengenai berapa lamakah takaran ideal seseorang itu tidur.

Seingatku, aku pernah tidak tidur dua hari dua malam. Kalau tidak salah ingat, tahun 2009 yang lampau. Kala itu, insomnia menyerangku dengan ganas. Membuat seluruh badanku rontok.

Oke, sekarang mari kita bekerja dahulu. Tiada rotan, akar pun jadi.

Dewasa

Pagi ini aku lebih lama menatap cermin kamar mandi; tidak seperti biasa. Kuamati bayangan diriku di dalam sana. Rambutku masih acak-acakan. Bulu mataku tidak bertambah panjang meski sudah lewat tiga tahun sejak terakhir kupangkas. Hidungku pun masih besar. Di atas bibirku tampak kulit bekas cukuran. Kumisku menghilang. Jenggot lebatku masih menempel di dagu, sedikit terlihat indah setelah kemarin kugunting dan kurapikan.

Kutatap lekat-lekat bayangan wajahku di cermin. Benar juga dia yang berkata bahwa aku lebih tampan dengan kumis. Ibuku juga benar, bahwa aku akan terlihat lebih muda tanpa kumis dan jenggot. Lagi-lagi ibukulah yang paling benar dan aku tidak akan pernah memotong jenggot agar membuatnya lebih merasa benar.

Kerutan di dahi antara dua alis membuatku makin garang. Lingkaran di sekitar mata menghitam akibat ulah insomnia. Bulu hidungku tampak semakin lebat dan panjang. Pipi bakpao berusia empat tahun itu semakin tirus dimakan zaman. Membuat tulang pipiku terlihat lebih seksi dan menawan.

Perubahan-perubahan ini baru kusadari. Tak terasa sudah hampir tiga windu lamanya mukaku eksis di bumi. Namun aku tahu bahwa di dunia ini tak ada yang abadi. Maka sampai kapankah aku akan setampan ini? Lanjutkan membaca “Dewasa”