Rambut yang Melelahkan

Sudah dari kemarin-kemarin ingin kutunjukkan video ini kepada kalian. Tahu Alaa Wardi, kan? Nah, di video ini dia curhat mengenai rambut gondrongnya. Haha!

Seandainya aku lebih kreatif, barangkali aku pun ingin membuat semacam lagu tentang rambutku begitu, Saudara. Haha!

Si Alaa Wardi ini katanya sering dikata-katai seperti kera atau seperti manusia gua gara-gara rambutnya yang “begitu”. Haha. Sejatinya aku ingin rambutku gondrong seperti rambutnya. Tetapi kata si Alaa rambutnya yang begitu itu sungguh melelahkan. Meski begitu, tetapi dia tidak ingin mencukur rambutnya. Haha!

Jadi lewat video itu si Alaa meminta kita mencari solusi perkara rambutnya yang sering mengganggunya itu. Haha. Bagaimana? Kalian ada ide?

Balonku Bernyanyi

balonku ada lima..
rupa-rupa warnanya..
hijau pirus kelabu..
merah muda dan ungu..
meletus balon ungu, dor!
hatiku sangat galau..
balonku tinggal empat..
kuikat erat-erat..

.
.
.

NB.
Di sini dilarang berkomentar bahwa aku sedang gila, eh, sakit, lantas butuh istri untuk meruwat, eh, merawat.

Mengocehi Udara

Sebagai permulaan, izinkan aku untuk menyenandungkan sebait lagunya Jikustik “Saat Kau Tak Di Sini” berikut ini:

seperti bintang-bintang
hilang ditelan malam
bagai harus melangkah
tanpa kutahu arah
lepaskan aku dari
diare tak bertepi
saat kau tak di sini

Semenjak sembuh dari diare akut beberapa hari lalu, aku pun tidak mengonsumsi kopi lagi. Maka kuseduhlah teh “Bandulan” sebagai pengganti segelas kopi besar yang biasanya kunikmati di pagi hari. Penggantian ini bukannya tanpa harga, Saudara. Tanganku terbakar sebagai bayarannya.

Jadi kutuangkan teh yang fenomenal ini ke dalam saringan. Kemudian saringan kuletakkan di atas besar kesayanganku. Karena tidak ada cerek atau semacamnya, jadilah kujadikan cangkir kecil sebagai alat pengambil air panas dari tabung pemanas air. Air panas tersebut kutuangkan dari cangkir kecil tadi ke atas saringan yang berisi teh.

Setiap kali kulakukan hal itu tadi, setiap kali itu pula tangan kiriku terciprat air panas. Setiap kali! Bayangkan. Betapa konyol pagiku terisi.

“Banyak jalan menuju Roma”, begitu kata Bang Rhoma dalam sebuah lagunya. Begitu pula banyak cara untuk menyeduh teh. Caraku yang tadi adalah salah satu cara yang tidak sederhana dan cenderung berisiko tinggi. Tetapi cara itulah yang saat ini kunikmati dalam melakukannya. Bagaimana cara kalian dalam menyeduh teh?

Oke. Kata-kata yang terngiang-ngiang di benakku sepanjang hari ini adalah: cortana, scratch, elementaryos, @, dan persnickety. Bukan apa-apa, hanya ingin mendokumentasikan apa yang ada di pikiran. Sekian.

Otak Si Rambut Panjang

Entahlah. Otakku barangkali sedang bertingkah aneh hari ini. Ia tidak tepat dalam menautkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Seperti misalnya tadi pagi aku meminta dibelikan pisang ambon kepada seorang berbatik ungu. Maka yang kudapatkan adalah tidak hanya enam buah pisang ambon yang ranum melainkan juga setengah porsi mi ayam dan dua bungkus kerupuk. Kusisihkan dua buah pisang untuk kumakan nanti siangnya karena yang selainnya habis pagi itu juga kumakan dan kubagi-bagikan.

Hatta, selesailah aku makan siang. Dari tempat makan itu aku membawa pulang dua buah apel yang cukup matang. Yang satu kuberikan sedangkan yang satunya kumakan. Tidak lupa sebelum kumakan kukuliti terlebih dahulu. Hal inilah yang menjadi pertanda ada sesuatu yang salah dengan otakku. Lanjutkan membaca “Otak Si Rambut Panjang”

Malam Acak

Mengaku.. bujangan.. kepada.. setiap wanita..
Ternyata.. sudah om-om tua..

Tak sengaja.. lewat.. depan rumahmu..
Kumelihat.. ada tenda biru..
Dihiasi.. bendera warna kuning..
Hati bertanya.. syapa meninggal dunya..

Malem minggu.. aye pergi.. ke bioskop..
Bergandengan.. ame koboi.. nonton pacar..
Beli karcis.. tahu-tahu.. kebanyakan..
Jage gengsi.. kepakse buka lapakan.. (dijual lagi)

Kukatakan dengan indah.. dengan terbuka..
Toplesku hampa.. sepertinya lupa.. menghampirinya..
Kau beri rasa yang berbeda.. mungkin kusalah.. mengisikannya.. yang kurasa nastar..

Dinda.. dimanakah kau berada..
Rindu aku ingin jumpa.. meski lewat janda..

Cicak-cicak di dinding.. diam-diam merayap..
Datang bayangan mantan.. Hap! Lalu diratap..

Malam Purnama, Mari Berdendang

Terima kasih kepada siapa saja yang telah mengingatkanku untuk menyanyikan lagunya Evie Tamala yang berjudul Rembulan Malam. Beberapa waktu lalu aku memang sengaja memosting sebuah tulisan agar siapa saja mengingatkanku untuk demikian.

Tak disangka ternyata malam ini purnama sudah nyaris bundar sempurna. Perhitunganku salah, Saudara. Aku pikir Sabtu malam besok barulah purnama sempurna akan terjadi. Sekarang aku belum bersiap apa-apa dalam menanti datangnya bidadari-bidadari khayangan yang turun ke bumi hendak mandi.

Dan tidaklah disengaja bahwa malam ini ada serombongan pengamen perempuan yang berkeliling kompleks mendendangkan lagu sendu tersebut. Turutlah aku terhanyut dalam musik yang mereka mainkan dan bersama-sama menyanyikan lagu ini:

Dirimu bagaikan rembulan
Di malam yang sepi
Purnama bersinar menerangi hati

Aku damba engkau bersemayam di hati
Walau dalam mimpi
Tetapi mungkinkah rembulan malam
Berpijak di bumi berdebu

Sungguh diriku tak kuasa
Menahan gejolak di hatiku
Yang semakin lama
Semakin menjadi

Begitu ingin kusampaikan
Rasa cinta ini yang mendalam
Tetapi tak mampu bibirku berkata
Mengharap kasih yang tak sampai

Dirimu bagaikan rembulan
Di malam yang sepi
Purnama bersinar menerangi hati

Bagaimana? Kalian bisa turut menyanyikannya?

Pembuat Tawa Sore Ini: Wanita

Sore ini pun rupa-rupanya ada saja yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal.

The Panasdalam Bank – Wanita

Wanita.. wanita.. karenamu lahirlah manusia
Wanita.. wanita.. menirumu jadilah waria
Wanita.. wanita.. karenamu lahir majalah dewasa
Wanita.. wanita.. tidak semua pakai mukena

Tetapi tanpa wanita Adam hidupnya sunyi
Tetapi karena wanita aku ada di bumi

Wanita.. wanita.. tidak semua aktif PKK
Wanita.. wanita.. pahlawanmu harum namanya
Wanita.. wanita.. tidak semua Dharma Wanita
Wanita.. wanita.. punya toilet khusus wanita

Tetapi tanpa wanita Adam hidupnya sunyi
Tetapi karena wanita aku ada di bumi

Wanita.. wanita.. tahu banyak soal tetangga
Wanita.. wanita.. atur-atur soal belanja
Wanita.. wanita.. ibuku juga seorang wanita
Wanita.. wanita.. istriku juga seorang wanita

Tetapi tanpa wanita Adam hidupnya sunyi
Tetapi karena wanita aku ada di bumi

Ada pula sore ini membuatku senang. Tiba-tiba saja terdapat sepucuk surat, yang katanya dari Kantor Pos Kotagede Yogyakarta, ini di atas meja kerjaku. Wanita, terima kasih atas sore yang menyenangkan.

Doraemon, Membuat Mimpi Jadi Nyata

Kalian sudah tahu lagu tema Doraemon ini?

Iseng-iseng aku terjemahkan lagu ini ke dalam bahasa Indonesia:

Selalu selalu kugambar kugambar di dalam hati
Sebuah peta dunia milikku sendiri membawa mimpi
(Baling-baling bambu!)

Terbang di angkasa, melintasi waktu, bahkan ke negeri jauh
Ayo kita pergi sekarang tinggal kita membuka pintu
(Pintu ke mana saja!)

Ketika ‘ku dewasa akankah kulupa semua
Saat itu terjadi, mari kita ingat-ingat

Syalalala, di dalam hatiku
Ada mimpi y*ng bersinar selalu
Doraemon, membuat jadi nyata dengan kantong ajaib

Syalalala, mari kita bernyanyi
Ayo semua bergandengan tangan
Doraemon, memenuhi seluruh dunia dengan mimpi-mimpi

** Lanjutkan membaca “Doraemon, Membuat Mimpi Jadi Nyata”