Hujan dan Filosofi Kehidupan

Malam pun mulai hujan ketika aku beranjak ke kamar mandi. Maka dalam hujan aku pun mandi. Dalam mandiku, aku mulai memenuhi kepalaku dengan beragam pikiran. Mandi dalam hujan itu seperti keadaan menangis dalam hujan. Tangis akan tertutupi oleh hujan dan orang tiada akan tahu bahwa kita menangis dalam hujan.

Pikiran yang sama ternyata telah memenuhi otakku waktu dahulu aku punya pemikiran bahwa mandi ketika berenang tak ubahnya seperti hanya berenang meski sebenarnya kita juga mandi. Maka kencing dalam berenang pun akan sama halnya seperti kita hanya berenang padahal sebenarnya kita mandi dengan air seni kita sendiri.

Seiring dengan penuhnya kepalaku akan pemikiran-pemikiran absurd itu, kamar mandi pun terisi oleh kegelapan. Maka aku pun mandi dalam gelap. Meski gelaplah segala yang dapat kupandang, aku tak bisa terlelap, karena aku sedang mandi dalam gelap. Lanjutkan membaca “Hujan dan Filosofi Kehidupan”

Seribu Detik

Seribu detik yang akan datang setelah detik ini
Tak sedetik pun aku akan memikirkanmu

Seribu detik yang akan datang setelah detik ini
Takkan kubiarkan kau membuyarkan konsentrasiku

Seribu detik yang akan datang setelah detik ini
Jangan harap kau bisa masuk ke dalam otak kiriku

Seribu detik yang akan datang setelah detik ini
Selama itu aku takkan pernah ragu untuk melenyapkanmu

Berbekal tekad membaja untuk mengakhiri kekuasaanmu atas benakku
Berharap kemerdekaan itu akan segera datang menyapaku
Hingga seribu detik yang akan datang setelah detik ini
Aku takkan gentar sedikit pun untuk melawanmu

Seribu detik yang akan datang setelah detik ini
Dan aku akan dengan sukses melupakanmu

Bye bye lapar!

v(^_^)

My belly is dancing in this rainy day

Titik-titik hujan masih membasahi
Kala kau menyapa pelangiku

Ingin kuberlari jumpa bidadari
Bawalah aku pergi bersamamu

(Sherina – Pelangiku)

Hwehe. Rawamangun baru saja terguyur hujan rintik-rintik, Saudara-saudara. Setelah beberapa hari ini Jakarta panas membara. Terasa segar sekali tatkala aku berlarian ke arah kantor dari masjid. Bau semerbak aspal berdebu yang diguyur hujan yang menusuk menjadikanku kembali merasakan lapar. Ya, aku lapar. My belly is dancing in the rainy day. Perutku keroncongan.

Tadi pagi sudah sarapan, sih. Lontong Pecel. Lumayan. Makan siang? Malas aku. Beberapa hari ini malas makan siang. Malas, malas membeli makanan di luar sana. Karena panas? Mungkin. Yah, malas makan ini berlanjut sampai malam. Malas makan malam karena warteg langgananku nyaris habis makanannya ketika waktu makan malam tiba. Sepertinya dampak krisis keuangan global yang bermula dari Amerika Serikat itu sudah sampai ke sini. Mungkin karena kehabisan modal, warteg itupun berganti kepemilikan. Membuat bisnis warteg tak lagi langgeng sampai malam. Yah, dunia kapitalis….

Lapaaaaaaaaar! Adakah yang ingin mengirimkan makanan kepadaku? Would you like to lunch with me?

(^_^)v

Sate Kambing vs Mbok-mbok Tukang Jamu Alang-alang di antara Para Bidadari Menyambut Purnama

Sejak zaman dahulu kala akar alang-alang telah terbukti khasiatnya dalam mengobati panas dalam. Menurut penelitian para ahli botani masa kini, akar alang-alang dapat menurunkan panas tubuh dengan cara melancarkan air seni, dapat memperlancar peredaran darah, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Akar alang-alang juga memiliki kandungan Cylindol A sebagai antiradang dan penghilang rasa sakit sehingga sangat baik sebagai obat sariawan dan radang tenggorokan.

Anda kepanasan mendengar lantunan Quran? Segeralah makan alang-alang!

Hwehe. Sedang panas dalam nih, Saudara-saudara. Sedang kelaparan pula. Tapi juga sedang ngidam sate kambing. Duh, bagaimana dong? Bagaimana kalau setelah makan kambing yang disate tadi panas dalamnya makin menjadi-jadi? Adakah sate kambing rasa alang-alang? Atau alang-alang rasa sate kambing? Rasanya aku harus cepat-cepat menghubungi Pak Bondan Winarno, nih.

(^_^)v

Eh, coba keluar, deh. Tengoklah langit timur. Bulannya makin cantik saja. Purnama sempurna! Bidadari yang sedang turun kira-kira jumlahnya berapa ya, Saudara-saudara?

Sungguhpun Jakarta Panas, Namun Demikian…

//Halah, judul yang aneh….//

Jakarta is extremely hot today! Hot! Hot markohot! Apalagi akhir pekan kemarin. Sungguh terasa puanasnya. Membuat balok-balok es keimanan pun nyaris meleleh. Buhuhu….

Farijs punya cerita. Farijs punya curhatan. Ialah begini, Saudara-saudara. //Halah, apa pula ini?//

Sepertinya tingkatan puasaku tahun ini balik kembali kepada tingkatan puasa beberapa tahun silam ketika aku masih kanak-kanak. Ya, tingkatan puasa anak-anak yang masih hanya menahan lapar dan dahaga. Sebuah kemunduran besar mengingat lamanya pengamalan dan pengalamanku dalam hal berpuasa. Sungguh tragis, Saudara-saudara. Hampir aku tak bisa menahan diri tatkala kutengok para penjaja makanan di tepi jalan. Hampir tak bisa kutahan ludah ini tertelan ketika kulihat iklan minuman segar di tivi. Hampir. Hampir hilang kesadaranku. Hampir kubuka botol minuman di kulkas itu. Nyaris…!

T-T

Dibalik kemunduran itu, ternyata Allâh tampakkan pula kemajuan-kemajuan pada diriku. Dalam puasaku, semangatku semakin meningkat. Gairah kerjaku meninggi. Amarahku semakin bisa terkendali. Suaraku semakin dapat kutahan untuk hanya keluar saat dibutuhkan //tapi sepertinya masih perlu banyak belajar untuk urusan yang satu ini//. Hasratku untuk berbuat kejahilan semakin berkurang. Alhamdulillâh…. Semoga kemajuan-kemajuan ini dapat terus kupertahankan dan kutingkatkan, Yâ Allâh!

Tapi aku tak habis pikir, Saudara-saudara. Entah mengapa, seiring dengan semakin bertumbuh dan berkembangnya badanku //berkembang aja, kaleee…secara tumbuh itu ke atas, bukan ke samping…// hasrat kebinatanganku semakin besar. Hasrat ngemil, hasrat ngunyah, hasrat memamah biak, hasrat minumku semakin bertambah. Apakah ini efek samping dari memelihara seonggok lemak? Adakah cara-cara untuk mengatasinya, Saudara-saudara?

Sungguhpun Jakarta panas, namun demikian puasa harus tetap jalan.

Semangat!

(^_^)v