It’s Alright, Boy

Sudah kalian ketahui, barangkali, kalau perutku ini sedikit sensitif. Diberi susu sapi kebanyakan dikit saja atau diberi makanan sedikit pedas saja perutku ini langsung bereaksi dengan memuntahkan lahar encernya.

Setiap kali perutku demikian, entah mengapa aku selalu teringat sebuah lagu berikut ini yang kutemukan di Youtube beberapa tahun silam. Lagunya sangat menghibur, terutama pada masa-masa sulitku beberapa tahun lalu.

Berikut penggalan liriknya:

It’s alright, boy
I’m right here beside you
Take your time
And get her out of your mind
Hope you realize
She wasn’t right for you
Trust us, boy
We’re on this all day, oh hey

Lagu dengan nada-nada nan indah ini sungguhlah cocok bagi kita, kaum laki-laki, yang sedang sakit terutama sakit perut. Saat mendengarkan lagu ini, seakan-akan kita sedang dinasihati oleh ayah kita, bahwa beliau selalu di samping kita ketika kita sedang menderita dan dirundung duka. Seperti ayahku ketika itu, barangkali.

It’s alright, boy
You can cry it all out
Wash your memories
Allow the time to intrude
You were hungry
You had a terrible fruit
Trust us, boy
So she’ll be flushed from your life

Begitulah. Barangkali nanti, ketika anak lelakiku sudah sedikit besar… ketika ia sudah cukup umur untuk sekadar makan buah… dan dia makan buah yang hampir busuk, mungkin… lalu dia sakit perut… aku akan berkata kepadanya:

“Tak apa, boi. Menangislah. Engkau lapar, lalu oleh Mama diberi makan buah. Buahnya tidak cocok dengan perutmu. Percayailah Papa. Biarkan waktu berjalan, maka seketika ia akan lenyap dari hidupmu. Jangan lupa di-flush, ya.”

Entahlah. Itu nanti. Sekarang, dalam penantianku akan keberangkatan pesawatku, aku hanya bisa berbisik dan seolah-olah berkata kepada anak lelaki yang sedang berbaring lucu menanti dioperasi:

Hang in there, boy…

Balonku Bernyanyi

balonku ada lima..
rupa-rupa warnanya..
hijau pirus kelabu..
merah muda dan ungu..
meletus balon ungu, dor!
hatiku sangat galau..
balonku tinggal empat..
kuikat erat-erat..

.
.
.

NB.
Di sini dilarang berkomentar bahwa aku sedang gila, eh, sakit, lantas butuh istri untuk meruwat, eh, merawat.

Mengocehi Udara

Sebagai permulaan, izinkan aku untuk menyenandungkan sebait lagunya Jikustik “Saat Kau Tak Di Sini” berikut ini:

seperti bintang-bintang
hilang ditelan malam
bagai harus melangkah
tanpa kutahu arah
lepaskan aku dari
diare tak bertepi
saat kau tak di sini

Semenjak sembuh dari diare akut beberapa hari lalu, aku pun tidak mengonsumsi kopi lagi. Maka kuseduhlah teh “Bandulan” sebagai pengganti segelas kopi besar yang biasanya kunikmati di pagi hari. Penggantian ini bukannya tanpa harga, Saudara. Tanganku terbakar sebagai bayarannya.

Jadi kutuangkan teh yang fenomenal ini ke dalam saringan. Kemudian saringan kuletakkan di atas besar kesayanganku. Karena tidak ada cerek atau semacamnya, jadilah kujadikan cangkir kecil sebagai alat pengambil air panas dari tabung pemanas air. Air panas tersebut kutuangkan dari cangkir kecil tadi ke atas saringan yang berisi teh.

Setiap kali kulakukan hal itu tadi, setiap kali itu pula tangan kiriku terciprat air panas. Setiap kali! Bayangkan. Betapa konyol pagiku terisi.

“Banyak jalan menuju Roma”, begitu kata Bang Rhoma dalam sebuah lagunya. Begitu pula banyak cara untuk menyeduh teh. Caraku yang tadi adalah salah satu cara yang tidak sederhana dan cenderung berisiko tinggi. Tetapi cara itulah yang saat ini kunikmati dalam melakukannya. Bagaimana cara kalian dalam menyeduh teh?

Oke. Kata-kata yang terngiang-ngiang di benakku sepanjang hari ini adalah: cortana, scratch, elementaryos, @, dan persnickety. Bukan apa-apa, hanya ingin mendokumentasikan apa yang ada di pikiran. Sekian.

Otak Si Rambut Panjang

Entahlah. Otakku barangkali sedang bertingkah aneh hari ini. Ia tidak tepat dalam menautkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Seperti misalnya tadi pagi aku meminta dibelikan pisang ambon kepada seorang berbatik ungu. Maka yang kudapatkan adalah tidak hanya enam buah pisang ambon yang ranum melainkan juga setengah porsi mi ayam dan dua bungkus kerupuk. Kusisihkan dua buah pisang untuk kumakan nanti siangnya karena yang selainnya habis pagi itu juga kumakan dan kubagi-bagikan.

Hatta, selesailah aku makan siang. Dari tempat makan itu aku membawa pulang dua buah apel yang cukup matang. Yang satu kuberikan sedangkan yang satunya kumakan. Tidak lupa sebelum kumakan kukuliti terlebih dahulu. Hal inilah yang menjadi pertanda ada sesuatu yang salah dengan otakku. Lanjutkan membaca “Otak Si Rambut Panjang”

Leap of Faith

Belakangan ini aku beberapa kali mendengar frasa “leap of faith“. Apa pula itu maknanya? Bahkan mendengarnya dari mana saja aku sudah lupa.

Memang kuakui kalau belakangan ini aku sedang bermasalah dengan kepercayaan: tidak terlalu percaya dengan kebaikan orang, tidak terlalu percaya bahwa kebaikan pada akhirnya akan datang. Jadi mendengar frasa tadi seolah bagaikan menampar pipi sendiri; tidak sakit tetapi lebam-lebam itu pipi.

Kemudian sekarang aku mencoba untuk kembali percaya. Terlebih setelah mendengarkan Neng Najwa Latif menyanyikan “Cinta Muka Buku” sebagai berikut ini:

Banyak soalan banyak juga jawabannya
Kata hati dan rasa tak dibiar saja
Setiap yang berlaku ada kebaikannya
Harus pejam mata dan cuba apa saja

Percaya saja. Melompat saja, karena barangkali kita memang melompat ke tempat yang kita tuju. Jangan lupa memakai sepatu. Tak perlulah khawatir melompat ke tempat yang salah, karena setiap kejadian pasti ada sisi baiknya. Kan?

Berandai-andai Lumut

Ada banyak kejadian yang (bisa) terjadi pada saat kita menyantap nasi goreng di sebuah warung tenda pinggir jalan. Seperti misalnya yang kualami tempo hari, ketika tiba-tiba saja pengamen waria muncul lantas berjoged di hadapanku; membuat nafsu makanku hilang seketika.

Atau misalnya kejadian setahun yang lalu yang membuat tiga malam berturut-turutku dilimpahi mimpi buruk, yaitu karena dua orang pengamen waria mencubit pipiku dengan genitnya pada saat aku hendak menambahkan potongan wortel (mentah yang direndam dalam larutan cuka bersama cabe rawit dan potongan timun, yang seseorang kemudian mengingatkanku bahwa "acar"-lah namanya) pada piring nasgorku.

Pada malam ini lain lagi kejadiannya, Saudara. Pada saat baru saja kuselesaikan santapku, datanglah seorang pengamen waria menghampiriku sembari menembangkan lagu "Ndang baliyo Sri". Demi mendengarkan ia bernyanyi itu, tiba-tiba saja aku teringat sepenggal kisah masa SD-ku.

Waktu kelas 6 SD itu aku menjadi pemimpin barisan pramuka perwakilan sekolah yang turut serta dalam kegiatan perkemahan anak-anak SD sekecamatan. Setiap perwakilan sekolah diharuskan menampilkan pementasan kelompok, sehingga kelompok kami menampilkan semacam drama musikal Ande Ande Lumut. Dan peranku dalam pementasan ini teramatlah penting, tentu seperti yang kalian duga, bukan? Yaitu sebagai penonton penggembira di bawah panggung yang menyemangati para penampil di atas pentas.

Nyanyian pengamen waria tadi mengingatkanku akan lagu dalam pementasan itu. Kira-kira begini liriknya:

Putraku si Ande Ande Lumut
Tumuruno ono putri kang unggah-unggahi
Putrine kang ayu rupane
Klething Ijo iku kang dadi asmane

Duh Ibu, kulo dereng purun
Duh Ibu, kulo mboten mudun
Nadyan ayu, sisane si Yuyu Kangkang

dst

Jadi ada seorang lelaki bernama Ande Ande Lumut yang didatangi berturut-turut oleh tiga (kalau tidak salah) gadis (kakak-beradik) yang hendak melamarnya. Dua gadis pertama, yaitu Klething Abang dan Klething Ijo, meskipun cantik-cantik, ditolaknya. Malah gadis terakhir yang sungguh buruk rupalah, yaitu Klething Kuning, yang diterimanya lantas diperistri olehnya. Tentu tidak sesederhana ini ceritanya. Si gadis buruk rupa ini sesungguhnya berhati baik sementara dua gadis cantik sebelumnya sungguh buruk kelakuannya. Tidaklah perlu berlarut-larut memikirkan cerita itu karena pada malam pementasan itu hatiku sungguh gembira karena nama "Tyas" yang kebetulan juga bermakna hati telah terpateri dalam hati. Barangkali untuk selama-lamanya. 😀

Demikianlah, Saudara. Siapa yang bisa menduga akan mengalami kejadian begitu rupa pada saat sedang menyantap nasi goreng di sebuah warung tenta pibggir jalan, bukan? Semoga saja malam ini, demikian pula malam-malam sesudahnya, tidurku tidak dilimpahi mimpi buruk gara-gara kejadian-di-warung-tenda-pinggir-jalan-pada-saat-menyantap-nasi-goreng tadi. Amin.

Malam Acak

Mengaku.. bujangan.. kepada.. setiap wanita..
Ternyata.. sudah om-om tua..

Tak sengaja.. lewat.. depan rumahmu..
Kumelihat.. ada tenda biru..
Dihiasi.. bendera warna kuning..
Hati bertanya.. syapa meninggal dunya..

Malem minggu.. aye pergi.. ke bioskop..
Bergandengan.. ame koboi.. nonton pacar..
Beli karcis.. tahu-tahu.. kebanyakan..
Jage gengsi.. kepakse buka lapakan.. (dijual lagi)

Kukatakan dengan indah.. dengan terbuka..
Toplesku hampa.. sepertinya lupa.. menghampirinya..
Kau beri rasa yang berbeda.. mungkin kusalah.. mengisikannya.. yang kurasa nastar..

Dinda.. dimanakah kau berada..
Rindu aku ingin jumpa.. meski lewat janda..

Cicak-cicak di dinding.. diam-diam merayap..
Datang bayangan mantan.. Hap! Lalu diratap..

Malam Purnama, Mari Berdendang

Terima kasih kepada siapa saja yang telah mengingatkanku untuk menyanyikan lagunya Evie Tamala yang berjudul Rembulan Malam. Beberapa waktu lalu aku memang sengaja memosting sebuah tulisan agar siapa saja mengingatkanku untuk demikian.

Tak disangka ternyata malam ini purnama sudah nyaris bundar sempurna. Perhitunganku salah, Saudara. Aku pikir Sabtu malam besok barulah purnama sempurna akan terjadi. Sekarang aku belum bersiap apa-apa dalam menanti datangnya bidadari-bidadari khayangan yang turun ke bumi hendak mandi.

Dan tidaklah disengaja bahwa malam ini ada serombongan pengamen perempuan yang berkeliling kompleks mendendangkan lagu sendu tersebut. Turutlah aku terhanyut dalam musik yang mereka mainkan dan bersama-sama menyanyikan lagu ini:

Dirimu bagaikan rembulan
Di malam yang sepi
Purnama bersinar menerangi hati

Aku damba engkau bersemayam di hati
Walau dalam mimpi
Tetapi mungkinkah rembulan malam
Berpijak di bumi berdebu

Sungguh diriku tak kuasa
Menahan gejolak di hatiku
Yang semakin lama
Semakin menjadi

Begitu ingin kusampaikan
Rasa cinta ini yang mendalam
Tetapi tak mampu bibirku berkata
Mengharap kasih yang tak sampai

Dirimu bagaikan rembulan
Di malam yang sepi
Purnama bersinar menerangi hati

Bagaimana? Kalian bisa turut menyanyikannya?

Pembuat Tawa Sore Ini: Wanita

Sore ini pun rupa-rupanya ada saja yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal.

The Panasdalam Bank – Wanita

Wanita.. wanita.. karenamu lahirlah manusia
Wanita.. wanita.. menirumu jadilah waria
Wanita.. wanita.. karenamu lahir majalah dewasa
Wanita.. wanita.. tidak semua pakai mukena

Tetapi tanpa wanita Adam hidupnya sunyi
Tetapi karena wanita aku ada di bumi

Wanita.. wanita.. tidak semua aktif PKK
Wanita.. wanita.. pahlawanmu harum namanya
Wanita.. wanita.. tidak semua Dharma Wanita
Wanita.. wanita.. punya toilet khusus wanita

Tetapi tanpa wanita Adam hidupnya sunyi
Tetapi karena wanita aku ada di bumi

Wanita.. wanita.. tahu banyak soal tetangga
Wanita.. wanita.. atur-atur soal belanja
Wanita.. wanita.. ibuku juga seorang wanita
Wanita.. wanita.. istriku juga seorang wanita

Tetapi tanpa wanita Adam hidupnya sunyi
Tetapi karena wanita aku ada di bumi

Ada pula sore ini membuatku senang. Tiba-tiba saja terdapat sepucuk surat, yang katanya dari Kantor Pos Kotagede Yogyakarta, ini di atas meja kerjaku. Wanita, terima kasih atas sore yang menyenangkan.