Puisi Ketimus

Jadi ceritanya aku sedang menganggut-anggut sendiri, membenarkan bahwa sekarang ide-ide sportif kreatif dalam hal berpuisi sudah banyak terkikis dari otak.

Lantas seorang kawan yang tidak perlu kita sebut namanya dan tunjuk batang hidungnya pun berkata bahwa menulis (puisi) adalah sebentuk cara untuk meluapkan emosi dan perasaan, dan apabila tidak punya emosi serta perasaan lebih baik tidak menulis (puisi) karena hasilnya akan jelek.

Karena pada siang tadi perasaanku adalah lapar dan emosi karena kelaparan, jadilah puisi ini:

View this post on Instagram

Puisi ketimus #poem

A post shared by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Tertulis seribu pesan untukmu
Aku menuliskannya pada daun pisang
Lalu kubungkus dan kukukus
Maka jadilah ketimus

Bagi yang belum tahu makhluk apakah gerangan ketimus itu, silakan penasaran. Seingatku ketimus adalah penganan yang dibungkus oleh daun pisang seperti halnya lemper. Hanya saja ketimus tidak terbuat dari ketan melainkan parutan singkong.

Cara membuatnya aku kira gampang, Saudara. Pertama-tama, carilah terlebih dahulu kebun singkong. Lantas pilih kira-kira mana yang singkongnya sudah matang. Kemudian cabut, ambil singkongnya, bersihkan. Setelah itu kupaslah hingga telanjang. Baru setelah itu singkong bisa diparut menggunakan parutan. Lanjutkan membaca “Puisi Ketimus”

Bermain dengan Sugesti

Aku pikir sudah banyak orang yang menyatakan bahwa sembuhnya seseorang dari suatu penyakit pada hakikatnya hanyalah sebuah permainan sugesti. Walaupun sudah diobati segala macam rupa, apabila si sakit tidak tersugesti atau menyugesti dirinya sendiri untuk segera sembuh dari penyakitnya, kecil sekali kemungkinan untuk si sakit ini sembuh.

Ketidakdoyanan seseorang akan suatu makanan barangkali pula demikian. Ia tergolong sebagai permainan sugesti. Tentu kalian sudah pernah kuberi tahu bahwa aku terkejut sekali kala mudik lebaran kemarin tatkala aku diberi tahu bahwa tatkala masih kecil aku begitu suka dengan keju. Maka aku pun paham bahwa “bahwa” dan “tatkala” terkadang memang mengganggu.

Bermain dengan Sugesti
Bermain dengan Sugesti

Aku pun terheran-heran menjalani sebuah kenyataan bahwa ketika aku sudah beranjak tua dewasa begini aku lupa akan kesukaanku akan keju dan malah beralih tidak menyukainya. Maka aku pun kembali bermain dengan sugesti, yaitu bahwa mulai dari sekarang aku akan, kalaupun tidak bisa kembali suka, setidaknya bisa makan keju.

Metafora Sambal: Taubat as-Sambalu

Izinkanlah aku untuk sejenak bercerita, Saudara. Dalam rehatku bolak-balik ke toilet, Saudara.

Kalian tahu bukan kalau aku tidak tahan dengan makanan pedas? Sejak kecil, kalau menyantap makanan pedas, maka aku akan bereaksi begini: mulut megap-megap menggumamkan “huah huah” sambil lidah sedikit dijulur-julurkan, mata merem-melek-melotot, lalu kedua tangan menutup kedua telinga.

Karena menderita semacam itu, aku pun menolak makan makanan pedas. Tentunya dengan sedikit pengecualian. Sesungguhnya aku adalah pencinta sambal kacang. Maka segala makanan bersambal kacang, betapapun pedasnya, aku tak menolak. Lanjutkan membaca “Metafora Sambal: Taubat as-Sambalu”

Satu Warsa Lalu

Setelah aku cari-cari, ternyata tidak ada foto dari peristiwa persis satu tahun lalu.

Jadi begini saja, Saudara. Berikut ini adalah foto-foto tidak persis satu tahun lalu tetapi mendekati. Setuju, kan?

Foto pertama adalah foto meja penuh makanan dan senter.

Meja Penuh Makanan dan Senter
Meja Penuh Makanan dan Senter

Foto kedua adalah foto meja dengan kek stroberi dan lilin.

Kue Kek dengan Stroberi dan Lilin
Kue Kek dengan Stroberi dan Lilin

Baiklah. Akan segera kupotret mejaku hari ini sebagai sarana mengenang satu tahun mendatang.