Dua Purnama

Aku lihat dua purnama
Satu di timur satu di utara
Keduanya besarnya sama
Sama-sama merah pula

Aku bimbang memilih
Purnama manakah yang asli
Keduanya kelihatan sejati
Sama-sama bocel di sana-sini

Tak bisakah keduanya milikku
Hatiku sering merasa sendu
Terang bulan bisa pengobat rindu
Barangkali saja begitu

Purnama Kawan

Purnama Ramadan 1433 H
Purnama Ramadan 1433 H

Sejatinya ingin berpuisi. Namun lalu saja puisiku tak berbunyi.

Ternyata tak banyak orang yang antusias melihat purnama, Saudara. Terlebih bulan-bulan biasa. Padahal tahukah kalian bahwa purnama itu kawan sejati orang yang sepi sendiri?

Jika malam ini kalian tak berkawan, Saudara, tataplah purnama maka kalian takkan lagi merasa kesepian.

Purnama Ramadan

Kalian tahu kan kalau malam ini sudah mulai masuk purnama? Itu pertanda apa, Saudara? Pertanda Ramadan sudah hampir setengah jalan. Yah, tak terasa kan? Berasa kurang saja rasanya.

Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, apabila malam ‘lah purnama, kusempatkan memandang ke langit kalau tidak mendung apalagi hujan. Kupuaskan menatap indahnya bulan yang merupakan ratu malam, sambil menanti-nanti jadwal turunnya para bidadari khayangan turun ke bumi untuk sekadar mandi.

Kalau kita cermati betul-betul, bulan tidaklah memancarkan cahayanya sendiri. Ia mengambil sedikit saja sinar matari untuk kemudiannya dipendarkannya demi menerangi bumi. Barangkali Sang Pencipta sengaja menciptakan malam di bumi agar manusia mengambil contoh darinya: bahwa bermanfaat tidaklah harus dengan berkreasi melainkan apabila tak mampu dapat pula dengan hanya meneruskan kreasi yang dibuat oleh makhluk lainnya kepada sesama.

Barangkali contoh ini pula yang ditiru oleh para penyalur berita baik itu pembangun orang sahur hingga penyiar berita di radio. Meskipun barangkali banyak orang yang lantas latah menjadi bulan yang memantulkan sinar penyebab gosong badan, antara lain dengan secara sembarangan meneruskan berita hoax yang kurang dapat dipercaya tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Dengan mengambil contoh bulan ini, aku kemudian berkeinginan membuat rambu-rambu petunjuk jalan ke arah danau atau sendang berada agar para bidadari khayangan ini tidak kesasar untuk ke sana dalam rangka mandi. Ayo, siapa yang ikut ke dalam barisanku? 😀

Rindu Itu Lindu Pakai R

Tidakkah kalian memesonakan cahaya purnama di langit sana?

Aku rindu pada ketertarikan-ketertarikanku dulu. Terlalu banyak rasa ingin tahuku dahulu hingga menyebabkan aku tak sempat memikirkan hal-hal remeh seperti ‘mengapa aku masih saja mengompol bahkan ketika sudah masuk SD’. Yang aku pikirkan adalah ‘mengapa langit kadang berwarna biru, kadang kala merah, dan kadang kala hitam’, ‘mengapa bulan bisa purnama padahal dahulu kala ia pernah terbelah’, ‘apakah kita sewujudnya benar-benar diciptakan di dunia’, dan lain sebagainya.

Sekarang, dalam terpaan angin jalanan, paparan polusi malam, dan ketakjuban akan indahnya cahaya bulan, aku hanya bisa bertanya ‘mengapa produk minyak anginnya Agnes Monica tak ada layanan konsumennya’. Duhai si cantik Agnes Monica, yang gelas minumnya sedang ramai diperbincangkan dan dibenci orang banyak, mengapakah produk yang engkai bintangi itu tidak mencantumkan nomor telepon atau alamat email sebagai sarana berkomunikasi dengan pengguna? Aku yang konsumen ini ingin berkeluh kesah tentang betapa mudah lepasnya bola roll-on itu terlepas dari sarangnya. Mengapa oh mengapa?

Ketertarikan itu menyesuaikan zaman. Rasa ingin tahu dapat bergeser mengikuti bertambahnya usia seseorang. Kan begitu?

ttd
Farijsvanjava, Ahad malam, duduk di sebelah hydrant di emperan jalan, menghadap persis ke arah purnama, menantikan bidadari-bidadari khayangan turun ke bumi untuk mandi.

Orang Sirkus?

Kan kalian tahu siapa itu orang sirkus? Adalah mereka orang-orang ahli dan terlatih yang melakukan hal-hal yang meskipun berbahaya tetap saja menakjubkan di depan para menontonnya? Kalau kalian sepakat dengan itu, tentu kalian akan mampu menjawab apakah gadis kecil yang baru saja kulihat termasuk golongan orang sirkus ataukah tidak.

Di jalan yang ramai ini seorang lelaki yang gampang saja kutebak dia itu adalah ayah si gadis kecil tokoh pengalamanku ini mengendarai sepeda motornya mengikuti rayapan kendaraan lain. Dimana si gadis kecil itu? Dia berada di jok belakang: BERDIRI!

Sudah jamak aku lihat anak-anak kecil berdiri di jok semacam itu dengan dipegangi oleh ibunya yang duduk di belakangnya. Kan tentu kalian sepakat hal semacam itu berbahaya? Apa lagi kalau tidak dipegangi! MasyaAllah.

Gadis kecil tokoh kita ini tidak dipegangi oleh siapa pun, Saudara-saudara. Tidak ada pula yang duduk di belakangnya. Murni hanya dia dan bapaknya berdua di atas motor. Memang dia berpegangan pada pundak bapaknya. Tetapi seberapa terlatihkah dia untuk memesonakan aku yang menontonnya? Orang sirkuskah dia?

Lain lada, lain pula garamnya. Mari kita bicarakan perihal lain. Kan kalian tahu ini malam minggu? Malam yang panjang buat pacaran bergadang? Orang berkata malam yang romantis untuk dilewatkan dengan orang terkasih, sepanjang tempat dan suasana memenuhi kualifikasi? Lanjutkan membaca “Orang Sirkus?”

Black Out

Kalian tahu apa yang baru saja kualami?

Listrik entah mengapa sekonyong-konyong padam. Dalam gelap aku ketakutan. Maka aku keluar rumah karena aku tahu sekarang tanggal 13. Bulan nyaris purnama pasti ada di atas sana.

Yang kulihat hanya kelabu. Langit mendung. Ke mana bulanku? Dimana dia disembunyikan?!

Ibu cuci menyalakan lampu tempel. Beberapa. Aku tahu aku takut gelap. Akan tetapi aku lebih takut lampu tempel! Tidakkah kalian takut jelaganya mengotori wajah kalian? Tidakkah kalian takut tikus menyenggolnya hingga ia jatuh dan menumpahkan minyaknya ke seluruh ruangan?

Dalam pada itu aku menyesal telah merusakkan senter besarku. Aku pun memutuskan untuk keluar rumah, pergi mencari keterangan. Barangkali aku akan ke rumah sakit yang sudah pasti punya listrik cadangan: generator listrik sendiri. Atau aku akan mencari mesin ATM 24 jam yang kutahu ia punya sumber listrik sendiri. Lampu pada papan namanya sudah pasti cukup terang untuk mengusir kegalauan. Lanjutkan membaca “Black Out”

Bin Tang

Kalian tahu aku sedang berada di mana, Saudara?

Aku sedang berada di sudut gelap di samping rumah. Gelap, karena lampu sekeliling sengaja kumatikan. Tebak apa yang baru saja kulakukan?

Baru saja aku mengangkat bangku ke sini, di tengah beraneka ragam tanaman di dalam pot. Kalian bisa menebak apa yang sedang kulakukan saat ini selain duduk di atas bangku dan mengetik ponsel?

Aku sedang menatap langit penuh bintang!

Kebab Kucing

Kucing Aneh

Kucing Aneh

Itu adalah foto kucing aneh yang menjumpaiku tadi siang. Saat itu aku baru saja bangun dari tidur siang dan perutku merasa lapar. Kucing ini mendatangiku, seolah-olah mengatakan dirinya juga memiliki nasib yang serupa: baru bangun dari tidur siang dan perutnya merasa kelaparan.

Saat ini? Sedang kutatap malam kelam dengan sedikit bintang di warung kebab depan supermarket langganan. Purnama malam ini tak jua muncul. Tak apalah, semoga kebab ukuran ekstrabesar pesananku dapat mengobati kecewaku tidak bertemu dengan bidadari khayangan.

Bagaimana kabar kalian?

Awecek

Beberapa jam yang lalu aku sempat berujar begini:

Semoga ayam goreng ini dapat mengusir rasa laparku, juga rasa kecewaku atas tertutupnya purnama oleh mega mendung sehingga bidadari khayangan tidak jadi turun untuk mandi.

Sekarang, aku hanya ingin memutakhirkannya sedikit ujaran tadi menjadi begini:

Semoga kopi tubruk ini dapat mengusir rasa kantukku, juga rasa kecewaku atas tertutupnya purnama oleh mega mendung sehingga bidadari khayangan tidak jadi turun untuk mandi.

Ah, entahlah. Sepertinya perjodohanku dengan para bidadari khayangan tidak ada di bulan ini. Selain ketiduran seperti yang terjadi kemarin malam, selalu saja purnama tertutupi oleh awan mendung. Apa yang sejatinya sedang terjadi di negeri atas langit sana, Saudara?