Sesal Tiada Gondrong

Manusia itu makhluk visual yang aneh. Kan? Fenomena ini baru-baru ini aku alami, Saudara.

Tentulah kalian sudah tahu dari postingan Can’t Stand Me kalau aku sudah memangkas rambut gondrongku. Pujian pun berdatangan. Tentu sudah banyak yang mengatakan bahwa aku tampan. Ketika masih gondrong kemarin, satu demi satu dari mereka ini yang mengundurkan diri. Akan tetapi demi hilangnya rambut gondrongku ini, malah bertambah lagi orang-orang yang mengutarakan ketampananku itu.

Aku tetaplah aku, bilamana pun rupa rambutku. Kegondrongan tidaklah mengubahku menjadi lebih jahat atau lebih baik. Memang hanya mengubahku menjadi lebih keren sedikit, tetapi itu pun tidak semua orang bersepakat.

Sesal tiada gondrong
Sesal tiada gondrong

Aku menyengaja untuk memperlama masa kegondronganku kemarin agar tercipta citra gondrong di mata masyarakat. Setelah kurasa cukup lama kuendapkan citra tersebut, maka aku pun memutuskan untuk mengakhirinya agar bisa kulihat bagaimana sesungguhnya perilaku manusia visual terhadap perubahan citraku yang drastis ini. Lanjutkan membaca “Sesal Tiada Gondrong”

Mandi Luas dan Lebar

Sore tadi ketika mandi, tiba-tiba saja terbersit dalam ingatan betapa hematnya aku menggunakan air. Awal mulanya sekujur badan dibasahi cukup dengan dua gayung. Lantas sabun mandi dibusakan ke sebadan-badan. Air satu gayung diguyurkan dari kepala. Badan digosok-gosok. Kemudian badan dibilas dengan air empat sampai lima gayung. Jadi seluruhnya butuh sekitar tujuh sampai dengan delapan gayung.untukku mandi.

ITU DULU~!

Sekarang empat gayung air saja rasanya tidak cukup untuk membasahi sekujur badanku. Apakah ini pertanda bahwa gayung dari waktu ke waktu dibuat semakin mengecil? Ataukah gayungnya menyusut akibat terlalu lama terendam air? Ataukah semakin luas saja penampang badanku?

Memang perlu kita berlindung kepada Sang Kuasa dari setan lelaki maupun setan perempuan ketika hendak memasuki kamar mandi. Memang tidak boleh kita berlama-lama di dalamnya rupanya. Sehingga pikiran kita tidak melebar ke mana-mana. Kan?

Hujan dan Filosofi Kehidupan

Malam pun mulai hujan ketika aku beranjak ke kamar mandi. Maka dalam hujan aku pun mandi. Dalam mandiku, aku mulai memenuhi kepalaku dengan beragam pikiran. Mandi dalam hujan itu seperti keadaan menangis dalam hujan. Tangis akan tertutupi oleh hujan dan orang tiada akan tahu bahwa kita menangis dalam hujan.

Pikiran yang sama ternyata telah memenuhi otakku waktu dahulu aku punya pemikiran bahwa mandi ketika berenang tak ubahnya seperti hanya berenang meski sebenarnya kita juga mandi. Maka kencing dalam berenang pun akan sama halnya seperti kita hanya berenang padahal sebenarnya kita mandi dengan air seni kita sendiri.

Seiring dengan penuhnya kepalaku akan pemikiran-pemikiran absurd itu, kamar mandi pun terisi oleh kegelapan. Maka aku pun mandi dalam gelap. Meski gelaplah segala yang dapat kupandang, aku tak bisa terlelap, karena aku sedang mandi dalam gelap. Lanjutkan membaca “Hujan dan Filosofi Kehidupan”

Apa Pentingnya Mandi?

Sebenarnya, apa sih pentingnya mandi? Toh seharian ini tidak ada satu orang pun di kantor yang menyadari kalau pagi ini aku tidak mandi. 😀

Jadi tadi malam itu aku pulang larut malam. Niatnya sih langsung tidur sesampainya di rumah. Karena gigi sedang bermasalah, mengingat pula hal itu sangat dianjurkan oleh dokter, jadilah aku gosok gigi dahulu. Kepalang basah \ketika menggosok gigi tak sengaja gayung penuh air jatuh menumpahi baju\ jadilah aku mandi sekalian. Sesekali mandi malam tak ada salahnya, kan?

Maka aku pun langsung tertidur. Pulas, sih. Tapi beberapa kali terbangun. Sekitar pukul satu dini hari aku terbangun. Pada saat itu rasa-rasanya aku seperti ketika habis mabok perjalanan, eh kejatuhan buah kelapa. Ternyata kepalaku ketika itu sudah ada di lantai sementara anggota badan lainnya masih di atas kasur.

Kemudian sekitar pukul tiga aku terbangun. Bukannya salat malam, eh aku malah loncat-loncat. Sepertinya sih terbawa mimpi. Cuma aku tidak ingat mimpi apa. Bisa jadi aku mimpi bermain trampolin. Atau mungkin pula aku sedang bermimpi main lompat tali. Lanjutkan membaca “Apa Pentingnya Mandi?”

Tak Perlu Judul

Selamat pagi, Saudara-saudara seperjuangan. Bagaimana kabar di sana? Di sini matari masih malu-malu untuk muncul dari balik mega. Walau begitu, agaknya hari ini akan cerah secara sederhana.

Masih sejuk di sini, meski sinar matari mulai menghangatkan dedaunan. Tentu itu menjadikan pucuk merah semakin memerah pucuknya; dan putih suci bunga melati semakin putih berseri.

Ayam Jago di Pagi Hari
Ayam Jago di Pagi Hari

Pagi ini tentu akan semakin lengkap dengan harum aroma secangkir kopi. Tetapi mengingat perutku belum kemasukan barang sesuap nasi, ada baiknya kuhindari dulu kopi. Toh aroma menusuk yang menyegarkan tak hanya dari kopi. Ada pula dari ketek sendiri yaitu pada waktu subuh ketika baru saja terbangun dari mimpi.

Baiklah, karena hari sudah semakin siang, akan kusampaikan saja sebuah pesan singkat ini. Sebuah nasehat dari seorang pengelana kehidupan sepertiku tentu saja akan berguna sekali. Maka dengarkanlah wahai Saudara sekalian apa yang kusampaikan berikut ini:

Mandilah di pagi hari meski hari disebut libur. Maka dengan mandi di pagi hari niscaya kita akan mendapatkan energi dan kita tidak akan bau ketek lagi.

Sekian. Terima kasih.

Mandi Air

Melanjutkan bahasan dan atau menjawab beberapa komentar pada postingan Penemuan Hari Ini: Bak terdahulu, dengan ini aku sampaikan hal-hal sebagai berikut kepada Saudara sekalian:

Mandi adalah perkara remeh temeh bagi sebagian orang. Yaitu bagi mereka yang hidup dengan persediaan air melimpah. Yaitu bagi mereka yang tinggal di apartemen mewah. Yaitu bagi mereka yang tinggal di hotel berbintang lima. Yaitu bagi mereka yang tinggal di dekat sumber air zamzam.

Bagi mereka, kapan pun dapat menjadi waktu mandi. Yaitu dengan berendam berjam-jam di jacuzzi. Yaitu dengan mengucurkan air shower berhari-hari. Yaitu dengan masuk ke dalam kamar uap lantas berdiam diri. Yaitu dengan ‘byar byur’ seperti hendak menguras bak mandi. Lanjutkan membaca “Mandi Air”

Obrolan Pekan Ini: Budayakan!

?: Terakhir mandi adalah kemarin pagi. Maka apakah aku harus mandi sore ini?

A: Oh, tidak perlu. Berhematlah dalam menggunakan air. Niscaya dikau telah berperan secara aktif dalam gerakan “go green”.

B: Gak usah. Kambing aja kagak pernah mandi dagingnya enak. Nyam nyam.

C: Jangan. Ikan di air terus saja malah amis.

D: Mandinya ntar aja sekalian mandi sunah sebelum salat Idul Fitri.

Mandi Disemprot Air

Aku berjalan menuju kantor dengan bermandikan sinar mentari pagi. Itulah yang memberiku energi.

man·di v 1 membersihkan tubuh dng air dan sabun (dng cara menyiramkan, merendamkan diri dl air, dsb): hari libur banyak orang — di laut; 2 ki bermandi; 3 ki dipenuhi oleh (cahaya, uang, dsb): kota yg — cahaya;

Aku tidak terlalu mengerti mengenai topik Post a Day hari ini, apakah membahas mengenai mandi sebagaimana umumnya pengertian mandi di Indonesia, atau hanya khusus mengenai mandi disemprot air.

How long do you think you could go without a shower?

Did you know: The modern domestic shower was invented in the early 1800s( via wikipedia). For hundreds of years before that, in most of the world, people went their entire lives without ever taking a shower (and even today some of your coworkers probably still don’t shower enough).

Kalau yang dimaksudkan adalah mandi disemprot air, maka jawabanku tentu saja bisa seumur hidup. Tidaklah mengapa seumur hidup tidak pernah mandi disemprot air. Mengapa? Karena kalau kita menuruti apa kata Joshua, apabila muka terkena semprotan air, maka kita haruslah mandi lagi. 😀


Disemprot-semprot airnya disemprot-semprot
Kena mukaku aku jadi mandi lagi

Joshua Suherman – Air

Adalah seorang kawanku yang membuat GERAKAN SATU JUTA FACEBOOKERS UNTUK MANDI SEHARI SEKALI. Menurutku ia dan gerakannya ini sangatlah jorok dan tidak manusiawi. Betapapun aku hidup di Indonesia yang beriklim tropis, terlebih tinggal di Jakarta yang penuh dengan polusi dan juga polisi. Tentu aku akan merasa sangat tidak nyaman apabila mandi hanya sekali sehari. Lanjutkan membaca “Mandi Disemprot Air”

Air

Diobok-obok airnya diobok-obok
Ada ikannya kecil-kecil pada mabok
Disemprot-semprot airnya disemprot-semprot
Kena mukaku aku jadi mandi lagi
Dingin-dingin dimandiin
Nanti masuk angin

Ada air hujan (rasanya tawar)
Ada air laut (rasanya asin)
Ada air susu (rasanya manis)
Itu untuk mimik mimik mimik mimik mimik

(Joshua – Air)

Saudara-saudara, masih inget kan sama lagu di atas? Lagu zamannya Joshua masih cilik itu, lho. Waktu dia masih imut-imutnya. Waktu dulu itu masih banyak lagu anak-anak yang wuenak kayak gini. Wah, kalau zaman sekarang, mana ada lagu begituan. Mana ada lagu anak-anak? Anak-anak zaman sekarang malah nyanyinya lagu “Keong Racun” . Miris sekali melihat nasib anak-anak zaman sekarang, gak bisa nyanyiin lagu yang sesuai usianya. Welehweleh….

Ngomong-ngomong soal dingin-dingin dimandiin, ternyata teori yang menyatakan bahwa mandi menggunakan shower alias air pancuran dapat menghemat air daripada mandi menggunakan gayung tidaklah sepenuhnya benar. Lanjutkan membaca “Air”