Suasana Hati

Suasana hati bisa saja diartikan sebagai keadaan perasaan seseorang pada suatu waktu tertentu. Bisa pula diartikan sebagai keadaan jiwa seseorang.

Hmm… Ada banyak hal yang dapat membuat suasana hati menjadi baik, salah satunya adalah semerbak harum dari secangkir teh lemon hangat seperti yang ada di meja kerjaku pagi ini. Sementara hal-hal yang dapat membuat suasana hati menjadi buruk jumlahnya jauh lebih banyak.

Adakalanya suasana hati menjadi buruk apabila kita sedang duduk (atau jongkok) di sudut sebuah ruangan sempit lantas ada seseorang di luar sana yang menggedor-gedor pintu; membuat kita tidak bisa berkonsentrasi dengan apa yang sedang kita lakukan di dalam situ. Seorang kawan yang tiba-tiba marah kepada sekelompok kawan yang lain tanpa alasan yang dapat kita mengerti juga merupakan salah satu penyebab suasana hati kita menjadi buruk.

Maka berhati-hatilah manakala kita sedang harus berkonsentrasi dalam duduk (atau jongkok) kita di sudut sebuah ruangan sempit itu. Kalau perlu tempelkanlah secarik kertas bertuliskan “Harap Tenang, Ada Ujian” atau “Don’t Disturb” di pintu bagian luar. Untuk menjaga agar tidak terjadi seorang kawan tiba-tiba marah itu, kirimkanlah pos-el kepada semua kawan kita yang isinya adalah jadwal untuk marah-marah. Jangan lupa cantumkan pula formulir pendaftaran untuk marah-marah. Diharapkan dengan demikian ketika ada yang ingin marah-marah, maka kemarahannya dapat dikoordinasikan dengan baik dan benar.

Suasana hati yang baik dapat menyegarkan badan, melancarkan peredaran darah, air seni, dan BAB, serta menjadikan kita bersemangat dalam bekerja. Sebaliknya, suasana hati yang buruk dapat menyebabkan hal-hal negatif terjadi pada diri kita. Badan kita akan menjadi layu, pegal-pegal, dan gampang kesemutan. Peredaran darah pun menjadi mampat, terutama di bagian kepala. Adapun air seni dan BAB tidak akan lancar lagi melainkan tersendat dan tidak rutin.

Yang paling jelek dari akibat suasana hati yang buruk adalah hilangnya segala semangat dalam diri sehingga kita menjadi malas bekerja, susah berpikir, dan tingkat amarah yang meningkat mendekati titik klimaks.

Maka kepada kalian wahai Saudaraku yang baik dan budiman, hindarilah segala apa yang dapat menyebabkan suasana hati menjadi buruk. Itu apabila kalian tidak menghendaki terhambatnya BAB hingga menyebabkan sembelit dan kaki kesemutan. 😀

NB.
Tadinya ingin menulis hal-hal yang negatif. Tapi gara-gara secangkir teh lemon hangat ini, jadilah segala sesuatu yang kulihat dan kupikirkan menjadi menyenangkan.

Get Away!

Merah padam mukaku. Tensi bertambah tinggi, sepertinya. Bukan karena kebanyakan makan kebab, apalagi bakpao. Entah mengapa, oh entah mengapa. Malam ini dia kembali menggodai hidupku. Pangsit!

Apa pula urusanmu mengatur-atur tingkahku, cerewet!? Gi dah!

===

Maaf, Saudara-saudara. Terpaksa kulampiaskan marahku di sini. Wudhu tak mempan lagi. Daripada mukaku makin merah, kek orang Indian, dong? Hwehe…

Btw, keren juga aku, yak. Marah pun masih teringat makanan: “Pangsit!”

v(^_^)

Maramaramarah! Ramah!

Project Pop – Maramaramara

Ape lo??
Ape lo??
Ape lo??
Eh, Ape??
Ape lo??
Ape??

Lo kalo mencak-mencak mencak kayak kocak
Lo kalo mencak-mencak mencak kayak cicak
Maca githu aja kamu kok bolo kokok
Kamu yang gitu aku jadi bolo kokok

Napa mesti nyolot melotot nge nge nge eh biasa aja dong
Ga usah pake otot
Napa mesti nyolot melotot wee wee wee biasa aja tahu
Ga usah pake otot

Reff:
Maramaramara itu ga perlu
Udahan marahnya
Cepetan dong cepetan dong…
Maramaramara itu ga perlu
Udahan marahnya
Cepetan dong cepetan dong…

Salahmu!
Salahmu!
Enak aja salahmu!
Enak aja salahmu!
Enak aja salahmu!

Lo klo mencak-mencak mencak kayak kocak
Lo klo mencak-mencak mencak kayak cicak
Maca githu aja kamu kok bolo kokok
Kamu yang gitu aku jadi bolo kokok

Napa mesti nyolot melotot nge nge nge biasa aja dong gemuke
Ga usah pake otot
Napa mestinya lotot lotot wee wee wee nyante aja lagi
Ga usah pake otot

/Reff/

Lo dulu minta maaf…
Lo dulu minta maaf…
Lo dulu minta maaf…
Lo dulu minta maaf…
Lo dulu minta maaf…
Lo dulu minta maaf…

Napa mesti nyolot melotot nge nge nge biasa aja deh
Ga usah pake otot
Napa mesti nyolot melotot wee wee wee lo yang biasa aja
Ga usah pake otot

/Reff/

Hoho. Saudara-saudara, tahukah kalian kalau ternyata marah-marah itu mempunyai efek samping? Sini kuberi tahu. Marah-marah itu, Saudara-saudara, dapat membuat badan pegal-pegal! Percayalah. Sudah kualami sendiri.

Ketika koneksi internet* terputus-putus di saat sedang terjadi perbincangan yang teramat penting dengan sejawat, yang dapat mengguncangkan alam sejagad. Ketika layar ponsel mengalami hidup segan mati tak mau alias nyala-padam-nyala-padam byar-tep-byar-tep selagi mendapatkan sebuah SMS yang teramat penting karena menyangkut masalah yang sedang genting. Ketika lagi-lagi harus membatalkan pulang kampung lantaran ponselku “lagi-lagi” rusak dan harus segera diperbaiki. (doh)

Ketika-ketika itu, uh, ingin rasanya kutendang monitor komputerku dan kubanting ponselku. Kala itu benar-benar terasa pegalnya sekujur badanku mulai dari ubun-ubun kepala menjalar sampai ke ujung kaki. Sakit sekali. Entah itu karena apa. Darah yang mengalir tidak lancar? Darah mengalir tersendat-sendat? Ada suatu “zat” yang menyumbat aliran darah tersebut? Yah, agaknya para ahli fisika** harus meneliti tentang ini. Atau sudah pernah ada yang meneliti?

Sebagaimana yang telah kuceritakan pada zaman baheula di blog ini, bahwa menahan kencing dapat membuat tingkat amarah menjadi semakin tinggi. Daya tahan kita untuk tidak meluapkan kemarahan menjadi rendah. Nah, untuk hal ini agaknya para ahli harus kembali meneliti. Atau sudah pernah ada yang meneliti juga?

Ingatlah ajaran Rasulullâh SAW mengenai marah. Apabila marah, segeralah mengucapkan ta’awudz, mohon perlindungan dari Allâh SWT. Dan ubahlah posisi: Kalau kita marah ketika kita sedang duduk, segeralah berdiri. Kalau kita marahnya ketika sedang berdiri, segeralah duduk. Dan ingat, lebih baik diam. Niscaya ini dapat meredam amarah kita. Oke, Saudara-saudara?

 

===

* Koneksi XL-HSDPA-ku terkadang mengalami putus-sambung-putus-sambung seperti lagu barunya BBB. Meski ketika tengah malam koneksinya kencang, namun kalau diselingi dengan putus-sambung ya ndak asek tho?

** Kok sepertinya nggak nyambung, ya?

Sarapan Itu Penting

Sarapan itu penting. Ya, sarapan itu ternyata penting. Sudah kualami sendiri. Hari ini dan beberapa hari yang lalu, nekad tidak sarapan. Alhasil, perut keroncongan tidak keruan sejak tadi. Bawaannya ingin marah melulu. Kerja tak bisa konsentrasi. Wah, pokoknya nggak enak banget.

Karena bawaannya ingin marah terus, teman-teman yang jadi korban. Dibecandain sedikit, ngambek. Ditanya-tanya, marah. Yah, sudah kek anak perempuan yang lagi PMS (premenstrual syndrome) aja.

Mengenai tiba-tiba bawaannya pengen marah ini sebenarnya tak hanya ketika lagi lapar, ketika kebelet pipis pun iya. Kalau misalnya sedang ber-HIV (HIV = hasrat ingin vivis) sementara kerjaan lagi nanggung, jadinya ya pengen marah-marah aja. Keganggu sedikit, langsung ngomel. Ngomongnya pakai nada tinggi. Bahkan sampai kesenggol sedikit pun langsung naik tensi. Waduhaduh™….

Makanya, sebaiknya ketika akan shalât pipis dulu. Nggak lucu kan menghadap Tuhan dengan kondisi marah-marah melulu. Juga kalau misalnya lagi lapar banget, ya makan dulu secukupnya. Jangan sampai kekenyangan tapi, nanti malah malas shalât jadinya.

(^_^)v

“Bukanlah orang yang kuat itu orang yang kuat dalam berkelahi, tetapi orang yang kuat adalah yang bisa menguasai hawa nafsunya ketika marah.” <HR. Muslim>