2100

Hari Saba, 22 Oktober 2100

Hari ini begitu panas. Padahal baru Oktober, tetapi musim kemangin sudah tiba. Agaknya memang dunia sedang berproses ke perubahan iklim.

Apa kabar negara? Negara baik-baik saja. Bahkan tanpo keberadaan presiden ketua pun kehidupan rakyat akan terus berjaya. Aku rasa parlemen telah memikirkan setahap-tahap untuk mengatasi keemtian pemerintahan sementara ini. Adapun para jenderal di ABRIS aku rasa dapat menyentosakan kita. Aku optimis kekuatan militer kita masih cukup tangguh untuk menangkal serangan pasukan Manusia Semut. Bukankah kita baru saja membeli ribuan supertank dari Uni Afrika?

Apa kabar primata? Mereka pun baik-baik saja tentu. KPP telah melakukan tugasnya dengan begitu sempurna. Kabarnya tahun depan akan dibangun penangkaran di selatan Bandung Baru. Semoga tercapai cita-cita KPP untuk membangun sedikitnya satu item penangkaran di tiap-tiap negara pecahan.

Rencana hari ini apakah? Akan berbaring seharian saja di rumah: menonton teletron, atau sekadar bermain pingpong. Aku sudah undang kawan-kawan untuk berkunjung. Barangkali kami akan bermain api dan membuat jagung setrum yang lezat. Siapa mau?

Barangkali sedikit terlambat, tetapi itulah yang beberapa hari lalu diminta oleh Daily Post:

The language of the future: what will it be like? Write an experimental post using some imagined vocabulary — abbreviations, slang, new terms.

Menjawil Layar Jawil

Apabila kalian adalah pengikut sesat setia blog semangat ini sejak semula, tentunya mafhum bahwa aku telah beberapa kali menyinggung perihal teknologi hubungan. Seperti halnya pernah kutuliskan dalam “Tangan = Masa Depan Kita“, “Teknologi Visual Semakin Maju“, maupun “Interaksi Digital“, aku berpikiran bahwa masa depan dunia ini akan semakin aneh.

Berkaitan dengan perihal di atas, semenjak ulen-ulen \yaitu istilahku untuk menyebutkan bagian trackpad\ pada BeriBeri-ku rusak sehingga dengan demikian menyebabkanku dengan sangat terpaksa menggunakan layar jawilnya untuk melakukan pengarahan alias navigasi, maka aku pun kembali memikirkan bahwa masa depan akan semakin aneh.

Betapa tidak, segala perangkat komunikasi, dekak-dekak modern alias komputer, perangkat hiburan penglihatan, hampir memang akan tetapi mesti, segala pengembangannya lebih banyak diarahkan untuk melatih keterampilan jari-jari kita dalam menjawil. Kan?

Padahal aku tahu dengan pasti \karena aku mengalaminya sendiri\ bahwa menggunakan ulen-ulen untuk melakukan pengarahan sudah jelas-jelas lebih mudah dan lebih menghemat tenaga dibandingkan dengan menggunakan keseluruhan bidang luas pada layar jawil. Dengan ulen-ulen maka seluruh pelosok layar dapat “kujawil” dengan jauh lebih sedikit pergerakan jempol dibandingkan dengan menjawil seluruh pelosok layar tersebut secara nyata.

Aku memang pencinta kemudahan. Siapa tidak menyukai kemudahan dan keindahan, coba? Bagiku, berdiam diri jauh lebih menghemat energi daripada bergerak. Kan?

Itulah sebabnya, alih-alih menggunakan landasan jawil pada Nova, aku lebih suka menggunakan jendol-jendol merah di tengah-tengah papan ketiknya. Karena bagiku hal itulah pangkal “kedayagunaan adalah cermin penghematan.” Lagipula, bukankah hemat pangkal kaya?

Penampang Papan Ketik pada Nova
Penampang Papan Ketik pada Nova

dd

Masa Depan yang Aneh

Banyak orang memikirkan dan membayangkan bagaimana teknologi menguasai kehidupan manusia di masa depan. Ada yang membayangkan kelak kita akan tinggal di gedung-gedung yang melayang, ada yang membayangkan kelak kita punya peliharaan berupa robot, ada pula yang membayangkan kelak kita mandi tidak pakai air lagi.

Sah-sah saja memikirkan masa depan semacam itu. Mengapa?

Lantas bagaimana halnya dengan masa depan yang penuh dengan augmented reality? Barangkali pemikiran ini yang belakangan tenar karena kedatangan Kacamata Google.

Berikut ini adalah sebuah video dari Sight Systems yang dapat memudahkan pembayangan kita bagaimana kelak masa depan umat manusia apabila konsep aplikasi, permainan video, dan augmented reality yang menjadi primadona:

Kalau demikian yang benar-benar terjadi di masa depan, dunia ini bukanlah lagi sandiwara seperti yang dilagukan Nike Ardila melainkan adalah permainan.

Baca juga tulisan yang berkaitan berikut ini:

Interaksi Digital

Kalian punya tangan, kepala, dan perangkat komputer, Saudara?

Senada dengan postinganku beberapa waktu lalu mengenai Tangan = Masa Depan Kita dan Teknologi Visual Semakin Maju, berikut ini aku beritakan kepada kalian bahwa telah ada cara baru untuk berinteraksi.

Disebut sebagai Leap, alat ini dikatakan sebagai alat untuk berinteraksi dengan komputer secara benar-benar baru, tidak perlu lagi menggunakan tetikus, papan tik, bahkan layar sentuh. Silakan menyaksikan video berikut untuk melihat demonstrasinya, atau untuk mengetahui lebih lanjut, hubungi saja situs resminya.

Setelah melihat video di atas, yang kubayangkan adalah layar-layar transparan dalam film The Avengers atau Iron Man. Bisa jadi alat ini adalah sebuah awalan menuju ke arah sana. Kan begitu?

Akan tetapi, Saudara, tetap saja aku masih saja berpikir bahwa cara berinteraksi semacam itu sungguh akan melelahkan tangan. Kan lebih mudah mengetik atau bermain sebuah permainan menggunakan tetikus dan papan tik sehingga lengan dapat disandarkan di atas meja?

Nah, satu lagi yang ingin aku beritakan kepada kalian, Saudara. Lanjutkan membaca “Interaksi Digital”

Kompromi

Kulihat di aplikasi kamus di Mac (New Oxford American Dictionary), kata “compromise” berasal dari:

ORIGIN: late Middle English (denoting mutual consent to arbitration): from Old French compromis, from late Latin compromissum ‘a consent to arbitration,’ neuter past participle of compromittere, from com- ‘together’ + promittere (see promise)

Kemudian kulihat pada lema “promise”, tersebutlah bahwa ia berasal dari:

ORIGIN: late Middle English : from Latin promissum ‘something promised,’ neuter past participle of promittere ‘put forth, promise,’ from pro- ‘forward’ + mittere ‘send.’

Apakah kesimpulanku ini tepat mengenai asal-usul kata kompromi, Saudara?

Kompromi itu bisa jadi berarti bersama-sama melakukan pengiriman menuju masa depan.

Jadi, apabila ingin melangkah menuju masa depan bersama-sama, yang mana itu berarti tidak sendirian, kita harus mengamalkan apa yang disebut sebagai kompromi. Kan begitu?

Kutipan Pekan Ini: Waktu

Beginilah pendapat Pidi Baiq yang menjawab semaunya perihal masa:

Lantas bagaimanakah konsep waktu menurut Pidi Baiq ini jika dipersandingkan dengan konsep waktu menurut Doraemon?

Teknologi Visual Semakin Maju

Menyambung postingan mengenai tangan adalah masa depan kita, berikut kutampilkan sebuah video menarik ini:

Lagi-lagi teknologi visual semakin melangkah ke depan.

Sebenarnya hal ini merupakan sebuah kabar baik bagi umat manusia. Peradaban sudah semakin maju, dan selayaknya memang harus terus maju. Demi kesejahteraan seluruh umat manusia di segenap penjuru dunia. \Yah, meski memang teknologi sedemikian maju ini tidak pernah bisa dinikmati oleh seluruh umat manusia yang tersisa.\

Waktu masih kurus dahulu, zaman-zaman SMA, aku dan beberapa kawan sering menghayalkan teknologi masa depan. “Ah, kira-kira apa ya teknologi canggih yang akan tercipta kelak di masa depan? Ah, bagaimana kalau kita punya kemampuan membuat teknologi itu, apa yang kira-kira akan kita ciptakan?” Pemikiran-pemikiran semacam itulah dorongan terkuat bagiku dulu untuk gemar mempelajari fisika. Lanjutkan membaca “Teknologi Visual Semakin Maju”